The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 87


__ADS_3

"Sore ini kami mau bertemu Al", ujar Sava.


"Di mana? Dengan siapa? Jam berapa?", sahut Fariz.


"Kami janji bertemu jam 5 di kafe dekat kantornya", jawab Sava.


"Tapi kami akan berkumpul jam 3 dan menunggu Al pulang kerja jam 5", lanjut Sava.


"Kenapa 2 jam lebih cepat? Mau apa kalian?", tanya Fariz.


"Biasa. Wanita", sahut Sava.


"Jam 4. Biarkan saja temanmu menunggu. Kamu datang jam 4. Pasti mereka hanya akan bergosip", ucap Fariz.


"Kamu jangan seperti itu pada mereka. Mereka sahabatku", jawab Sava.


"Mereka sahabatmu dan aku suamimu", sahut Fariz.


"Aku akan menemanimu", lanjut Fariz.


"Apa? Aku dengan sahabatku. Apa kamu gak percaya?", kata Sava marah.


"Aku hanya akan mengantarmu. Dan menunggu kalian sampai selesai. Lalu kita pulang", jelas Fariz.


"Gak bisa. Mereka akan tahu. Mereka sangat hapal dengan mobilmu", balas Sava.


"Aku bisa pakai mobil lain", jawab Fariz.


"Tapi. Kamu harus berjanji gak akan muncul di hadapan kami? Dan jangan membuat kekacauan", sahut Sava.


"Hmm", balas Fariz.


"Janji?", tanya Sava.


"Hmm", jawab Fariz lagi.


"Hmm apa? Iya atau gak?", ucap Sava.


"Iya", jawab Fariz menatap tajam ke Sava.


Sava membalas Fariz dengan senyum manis di wajahnya.


///


"Sava di mana? Kenapa belum datang?", tanya Tika.


Rania dan Kanaya sudah sampai lebih dulu di tempat mereka bertemu. Di kafe dekat kantor Al.


"Masih ada urusan. Dia akan menyusul", jawab Rania.


"Oh begitu. Eh kalian tahu gak?", kata Tika mengebu-gebu penuh semangat.


"Tahu apa? Ngomong langsung", sahut Rania.


"Menurut gue Fariz itu suka sama Sava", kata Tika.

__ADS_1


"Kenapa mikir begitu? Dia kan punya pacar. Gak mungkin lah", sahut Kanaya.


"Gue gak asal ngomong. Gue punya bukti", ucap Tika sambil mencari ponselnya.


"Waktu gue sakit Sava dan Fariz menjaga gue. Dan ini yang gue lihat pas gue kebangun", jelas Tika memperlihatkan isi ponselnya.


Rania dan Kanaya membulatkan mata mereka lebar melihat apa yang ada di layar ponsel Tika.


"Perhatiin tangan Fariz", kata Tika memperbesar foto.


"Ya ampun. Gak nyangka gue Fariz sampai segitunya. Ambil kesempatan dalam kesempitan lagi", ucap Rania.


"Dasar playboy. Sama saja dengan Kenzie. Sudah tahu Sava punya suami, masih mendekati Sava", sahut Kanaya.


"Sebenarnya gue juga heran sewaktu Shadiq ngomong Sava dan Fariz sedang membuat kue", ucap Rania.


"Mereka membuat kue bersama?", tanya Tika


Rania dan Kanaya kompak mengangguk.


"Sewaktu kamu sakit, kami bagi tugas siapa yang beli obat, masak bubur dan jagain lo. Jadi Sava yang masak bubur. Tapi Fariz disuruh jagain kita di rumah. Fariz yang mengantarkan bubur ke kamar. Dia gak ada bicara apa-apa. Kita juga takut mengajaknya bicara. Setelah Shadiq dan Kenzie datang, mereka mengatakan kalau Sava dan Fariz sedang membuat kue", jelas Rania.


"Waah. Sesuatu yang sangat langka. Dia memasak kue? Dan kamu bilang dia juga mengantar bubur ke kamar? Sepertinya itu suruhan Sava. Menurut gue Fariz jinak ke Sava. Hebat banget Sava", sahut Tika.


"Kalau dipikir-pikir benar juga kata lo", jawab Rania


"Eh gue baru ingat. Gue kan dapat giliran lebih dulu jagain lo dari Sava, jadi saat bergantian Sava ketiduran. Fariz datang menjemput Sava. Kalian tahu? Fariz mencubit pipi Sava, bahkan menarik lengan Sava", kata Rania penuh semangat.


"Hah?", sahut Tika dan Kanaya bersamaan.


"Tuh kan benar. Fariz suka Sava", ujar Tika.


"Fariz gak bisa kita dibiarin gitu saja. Dia sampai senekat itu", sahut Kanaya.


"Sebagai teman yang baik gue sudah bertindak", ucap Tika pamer.


"Maksudnya lo ngapain?", tanya Rania.


"Gue sengaja minta semobil dengan Fariz dan Sava", jawab Tika.


"Oh iya. Pantas saja lo ngotot semobil dengan Fariz kemarin", balas Rania.


"Apa yang lo lakuin di dalam mobil?", tanya Kanaya.


"Sebenarnya gue mau interogasi Fariz tapi dia bilang dia mau tidur. Jadi gue panas-panasin mereka deh. Gue tahu Fariz pasti gak bisa tidur karena gue berisik. Jadi yah biarkan saja dia pura-pura tidur", jawab Tika.


"Panas-panasin gimana?", tanya Rania.


"Gue pamerin suami Sava. Gue bangga-banggain. Terus gue sindir mereka. Eh Kenzie merasa. Ya sudah berarti mereka sadar. Setelah itu aku diam", jelas Tika.


"Bagus. Bagus. Kita harus lindungi Sava", ucap Kanaya.


"Lagian gue bingung sama suami Sava. Istri dibiarin begitu saja. Dia gak tahu banyak yang mengantri", ucap Tika.


"Iya gue juga bingung kenapa suaminya lama banget jatuh cinta ke Sava. Mau sampai kapan kita menunggu?", sahut Rania.

__ADS_1


"Kalau kita bertemu dengannya lagi akan aku coba untuk mengetesnya", kata Tika sambil tersenyum licik.


"Ide bagus", ucap Rania.


Mereka bertiga asyik bergosip.


///


"Kenapa berhenti di minimarket?", tanya Sava heran.


"Mau beli cemilan buat nungguin kalian", sahut Fariz lalu pergi meninggalkan Sava.


Sava terus melirik jam tangannya. "Dia beli apa saja sih? Kenapa lama sekali?", gumamnya.


Hampir saja Sava mau menyusul, Fariz sudah ke luar dari minimarket.


"Ya tuhan. Apa saja yang kamu beli? Kenapa banyak sekali?", ucap Sava terkejut melihat Fariz memborong cemilan sangat banyak.


"Kalau cemilanku habis, apa kamu mau aku masuk ke kafe lalu memesan makanan?", sahut Fariz.


Sava langsung menggeleng kepalanya.


"Ayo cepat berangkat", ujar Sava.


Fariz melajukan mobil dengan kecepatan sedang dan sengaja mengambil jalanan macet.


"Kenapa kita lewat sini? Apa kamu gak tahu jalanan ini selalu macet di jam pulang kerja seperti ini?", kata Sava kesal.


"Mana aku tahu", sahut Fariz santai.


Sava melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul 4 lewat.


"Awas saja kalau Al lebih dulu sampai", kata Sava mengancam.


Tak ingin sang istri marah Fariz menambah kecepatannya.


Akhirnya mereka sampai dan Al datang 10 menit setelah mereka tiba.


Sava dan sahabatnya berbicara panjang lebar dengan Al.


Tiba-tiba ponsel Sava berdering. Ada panggilan masuk dari Fariz. Sava sedikit menjauh.


"Ada apa? Kita baru tiba 30 menit yang lalu. Bagaimana bisa cepat selesai. Tunggu saja"


Sava langsung memutus panggilan telepon Fariz dan kembali bergabung dengan yang lain.


1 jam kemudian Fariz menghubungi Sava lagi tetapi tidak ditanggapi Sava karena ia sudah mengatur ponselnya dalam mode diam.


Kanaya pamit pulang lebih dulu. Tika dan Rania sedang mengantri memesan makanan.


Sava memberanikan diri untuk membahas masalah keluarga dengan Al.


"Al, jujur padaku apa kamu mengenal Fariz?", ujar Sava.


Al menghela napas kasar lalu menjawab Sava, "Aku yakin pasti Fariz sudah menceritakan tentang aku ke kamu. Apa yang dikatakannya? Masa laluku?".

__ADS_1


__ADS_2