
Deshi tau Sava bertanya ke Fariz tapi Fariz mengacuhkan Sava. Tidak tega melihat atasannya diacuhkan suaminya Deshi pun angkap bicara.
"Lapangan Merdeka adalah sebuah alun-alun di Kota Medan. Letaknya di pusat kota. Lapangan Merdeka dikelilingi berbagai bangunan bersejarah dari zaman kolonial Hindia Belanda. Di sekelilingnya juga ditanami pohon trembesi yang sudah ada sejak zaman Belanda. Sore hari seperti ini banyak pengunjung bermain di taman bahkan olah raga. Dan banyak yang mencari kuliner terutama saat malam hari. Saat ini sebagian areal Lapangan Merdeka telah dialih fungsikan, di antaranya telah menjadi pusat kuliner. Jelas ada kuliner daerah. Nona bisa menikmatinya nanti", jelas Deshi.
Sava diam. Mood Sava rusak. Sava yang ceria dan penuh semangat seketika pergi entah ke mana. Sava memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela.
Hamdan menggelang kepala melihat tingkah atasannya itu. Ia pun sengaja menginjak rem dengan mendadak. Akibat tindakannya itu ponsel di tangan Fariz terjatuh.
Fariz menatap kesal Hamdan kemudian berkata, "Kamu sudah bosan nyetir? Sini aku gantiin".
"Ups. Maaf. Saya terlalu asyik berbicara dengan nona Sava", ucap Hamdan.
Fariz melirikkan matanya ke arah Sava. Ia melihat Sava menatap ke arah luar jendela.
"Apa yang mereka bicarakan? Gadis itu hanya menatap ke luar jendela", batin Fariz.
Setelah kejadian Hamdan mengerem mendadak hanya ada keheningan di dalam mobil hingga mereka sampai di tujuan.
Sava langsung membuka pintu mobil tanpa menunggu Deshi membukakannya. Lalu ia menarik Deshi jauh meninggalkan Fariz dan Hamdan. Ia bertekat tidak akan bersikap ramah lagi kepada Fariz dan tidak akan tergoda dengan sikap ramah Fariz.
__ADS_1
Fariz mencoba mengikuti Sava disusul Hamdan di belakangnya.
Fariz masih belum sadar akan sikap Sava. Ia pikir Sava terlalu semangat untuk berkeliling lapangan ini.
///
Menjelang malam hari mereka ke jajanan.
"Tuan dan nona mau makan apa agar kami pesankan", tanya Deshi.
"Aku ikut", ujar Sava.
"Kalau begitu saya dan nona Sava saja yang pesan", balas Deshi.
Mereka duduk di meja berbentuk persegi, dikedua sisi meja itu terdapat 2 buah kursi di setiap sisinya.
Fariz dan Hamdan duduk berhadapan. Tidak lama kemudian Sava dan Deshi menyusul mereka. Sava mengambil tempat duduk di samping Hamdan. Fariz melihat Sava mengambil tempat duduk di samping Hamdan mengernyitkan keningnya. Sedangkan Deshi menggeser kursi kosong ke sisi meja yang kosong di dekat Sava.
Fariz menatap tajam Hamdan. Hamdan hanya merespon dengan menggerakan bahunya.
__ADS_1
///
Makanan datang. Sava memesan banyak makanan. Rasanya ia ingin mencicipi semua makanan yang ada.
Setelah Sava mencicipi makanan yang ia pesan, matanya tertuju ke piring Deshi, Hamdan dan Fariz.
"Cicipi punya saya nona. Nona tidak memesan ini kan", ujar Deshi menyodorkan piringnya.
"Nona mau menyicipi makanan saya juga? Ambillah", tutur Hamdan.
Setelah itu Deshi dan Hamdan menatap ke arah Fariz.
Fariz menatap balik Hamdan kemudian berbisik, "Apa lagi?".
"Nona coba juga makanan tuan", ucap Hamdan.
Fariz mengerti maksud Hamdan, ia menggeser piringnya ke arah Sava. Tetapi Hamdan malah menendang pelan kakinya kemudian memberi isyarat untuk menyuapi Sava.
Fariz menurut saja dengan suruhan asistennya itu. Ia mengangkat sendok ditangannya. Saat akan mengarahkan sendok itu ke arah Sava, Sava malah mengambil sendiri makanan Fariz dari piringnya.
__ADS_1
Fariz melepaskan sendok dalam genggamannya sehingga menghasilkan bunyi yang cukup nyaring. Kemudian Fariz menendang kuat kaki Hamdan.
"Cepat habiskan makanan kalian. Kita harus segera pulang. Nanti nenek khawatir", ucap Fariz.