The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 118


__ADS_3

Sava dan para rekan kerjanya sudah berada di sebuah restoran yang cukup terkenal.


Salah seorang pelayan restoran menyambut mereka. Terlihat pelayan restoran itu melihat ID Card yang masih menggantung di salah satu rekan kerja Sava. Lalu pelayan itu juga menghitung jumlah mereka.


"Silahkan ikut saya," kata pelayan restoran.


Mereka diarahkan ke ruang privat. Mereka tidak merasa aneh dibawa ke ruang privat.


"Ruang privat?" gumam salah satu rekan kerja Sava.


"Mungkin karena jumlah kita lumayan banyak," sahut yang lain.


Mereka mengambil posisi duduk masing-masing. Lalu pelayan membagikan buku menu makanan.


Setelah mereka memesan makanan tak berapa lama beberapa pelayan datang membawa makanan.


"Siapa yang mesan ini?" tanya rekan kerja Sava.


"Bukan aku."


"Bukan."


"Tidak ada yang memesan? Apa mungkin mereka salah ruangan?"


Salah satu satu dari mereka pergi melaporkan tentang salah pesanan. Tak berapa lama manajer restoran datang menghampiri.


"Atas nama Bu Sava, kan?" tanya sang manajer restoran.


"Bagaimana kalian tahu Sava? Kita tidak memesan tempat sebelumnya," ucap atasan Sava.


Sava mulai curiga. Ada yang tidak beres. Ia mencari sosok Deshi tetapi tidak ditemukannya.


"Anak pemilik restoran menghubungi kami untuk menyambut tamu dari perusahaan Shinee Frameworks yang terdiri dari 10 orang. Dan mengatas namakan Sava. Sepertinya kami tidak salah orang," jelas manajer restoran.


"Sava, kamu mengenal pemilik restorannya?" tanya rekan kerja Sava.


Sava semakin curiga ini ulah Fariz. Ia mendekati manajer restoran lalu berbisik, "Apa pemilik restoran ini Monang Grup?"


Ceklek


Pintu terbuka


"Pak Hamdan? Bersama siapa? Tampan sekali," lirih salah satu rekan kerja Sava.


"Hah. Benar dugaanku. Mau apa mereka ke sini?" batin Sava.


"Itu suami Sava, kan?" sahut yang lain.


"Apa? Suami Sava?" kata beberapa rekan kerja Sava yang belum pernah melihat Fariz.


Fariz berjalan mendekati Sava lalu ia merangkul pinggang Sava.


Cup


Fariz melayangkan sebuah kecupan singkat di pipi Sava.


Pupil Sava membesar serta pipinya memerah karena perbuatan Fariz. Tak hanya Sava, para rekan kerja wanitanya juga melotot tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Kalian sudah lama datang?" ujar Fariz.


"Hallo Pak, saya tidak menyangka Bapak sampai datang sendiri ke sini." Kata manajer restoran sambil mengulurkan tangannya untuk menyalam Fariz.


"Iya. Sudah kerjakan apa yang saya minta, kan?"

__ADS_1


"Sudah Pak, tetapi mereka bingung karena tidak ada yang tahu kalau Bapak yang memesan sebelumnya."


"Apa yang terjadi di sini? Jadi suami Sava anak pemilik restoran? Dan apa hubungannya dengan pak Hamdan?" ucap rekan kerja Sava.


"Saya akan memperkenalkan diri secara resmi. Saya Fariz, suami Sava. Saya bekerja di Monang Grup," jelas Fariz.


"Oh jadi suami Sava rekan kerja pak Hamdan."


"Bukan," sahut Fariz.


"Iya," sela Sava.


Fariz dan Sava jadi saling menatap satu sama lain. Sava menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengedipkan mata. Fariz membalas dengan menatap tajam ke Sava. Sava pun menepis tangan Fariz dari pinggangnya.


"Maksud saya beda divisi," kata Fariz.


"Oh, begitu. Jadi anda anak pemilik restoran ini? Terimakasih sudah menyambut kami."


"Iya. Iya. Silahkan dinikmati. Kalau ada yang kurang beritahu saya." Fariz kembali merangkul pinggang Sava.


"Awas kamu di rumah," bisik Fariz.


Sava tak menghiraukan ancaman Fariz, ia kembali duduk. Dan semua orang kembali ke posisi duduknya masing-masing, kecuali Fariz dan Hamdan yang kebingungan untuk duduk di mana. Terlihat ada 2 kursi kosong, tetapi jaraknya berjauhan. Terutama kursi di dekat Sava tidak ada yang kosong.


Fariz memberi kode Hamdan untuk membuat ia bisa duduk di samping Sava.


"Pak Hamdan dan Pak Fariz tidak bergabung? Silahkan duduk Pak," kata atasan Sava.


"Pasutri ini tidak bisa dipisahkan, Bu." Kata Hamdan sambil membawa kursi kosong ke dekat Sava.


"Aduh, iya yah. Pengantin baru emang gitu. Mau nempel-nempel terus." Semua orang tertawa mengoda Sava dan Fariz. Sava hanya menunduk malu.


"Tapi kenapa Pak Hamdan yang mengambil kursi untuk suami Sava," ucap seseorang.


"Saya hanya ingin berniat membantu. Terlihat Fariz kebingungan mau duduk di mana," balas Hamdan.


"Pembalasanku di rumah," bisik Fariz.


"Pesanannya sudah semua? Apa ada yang kurang?" tanya pelayan restoran.


"Hidangkan semua makanan," perintah Fariz.


"Tidak perlu repot-repot Pak. Segini saja sudah cukup," kata rekan kerja Sava.


"Tidak apa-apa. Silahkan dinikmati hidangannya," sahut Fariz.


"Kamu terlalu berlebihan. Kamu ngapain ke sini sih?" bisik Sava.


"Menjemputmu."


"Ada Dhesi, kan?"


"Aku mau menjemput karena ini hari terakhirmu bekerja."


"Tapi tidak perlu melakukan hal seperti ini." Sava mulai kesal, ia tak menghiraukan Fariz lagi dan malah asyik berbicara dengan rekan-rekan kerja sambil menyantap makanannya.


"Suami Sava kenapa diam saja? Maaf ya kami emang begini. Suka berisik," kata seseorang yang sejak tadi memperhatikan Fariz.


"Tidak apa-apa. Silahkan lanjutkan. Aku di sini memang untuk menemani istriku," balas Fariz.


"Sava bukannya baru tamat SMA? Cepat sekali menikahnya ya. Apa tidak apa-apa menikah terlalu dini?" lanjutnya lagi.


"Atau jangan-jangan menikah karena sesuatu," sindirnya.

__ADS_1


"Sesuatu apa?" tanya salah seorang yang cukup polos.


"Pergaulan zaman sekarang sangat bebas, kan? Kamu pasti tahu maksudku. Sava pintar juga memilih cowok. Pintar merayu lagi."


"Maksudmu Sava hamil di luar nikah?" sahut Fariz. Fariz mulai emosi.


"Aku tidak mengatakannya secara langsung. Kamu yang membeberkannya. Kalau bukan karena itu kenapa kalian menikah sangat cepat? Dan kenapa Sava mengundurkan diri begitu cepat? Pasti karena ia sedang hamil, kan?"


Buk


Kursi yang diduduki Fariz terjatuh karena ia menggesernya dengan kasar ketika ia berdiri.


"Kamu jangan asal menuduh Sava. Memangnya kenapa kalau menikah muda? Lebih baik cepat menikah dari pada menimbulkan fitnah berpacar-pacaran tidak jelas di luar sana. Asal kamu tahu saja ya kami itu menikah karena di jodohkan. Sava tidak mengenaliku, Sava tidak menggodaku. Jangan berpikir picik seperti itu tentang Sava. Bilang saja kamu cemburu kalau Sava memiliki suami tampan sepertiku." Fariz meluapkan emosinya, lalu ditariknya lengan Sava untuk meninggalkan restoran.


"Kamu kenapa? Jangan emosian begitu. Dia hanya bercanda," kata Sava menenangkan Fariz.


"Kamu lihat saja besok. Kamu akan dapat surat pemecatan!" seru Fariz lalu menarik paksa lengan Sava.


"Fariz. Fariz. Tenanglah. Ah sakit. Jangan menarikku seperti ini." Sava berusaha menahan Fariz.


Akhirnya Fariz menghentikan langkahnya.


"Ayo pulang. Jangan membantah. Atau aku akan menarikmu seperti tadi," kata Fariz.


Sava pun menurut. Mereka tiba di parkiran tetapi Hamdan belum datang menyusul mereka.


Raut wajah Fariz masih terlihat menahan emosi. Sava mendekati Fariz lalu berdiri di hadapan Fariz.


"Kamu jangan emosi lagi. Tenanglah. Lihatlah, wajahmu memerah menahan emosi seperti ini." Kata Sava menenangkan Fariz dengan menyentuh kedua pipi Fariz.


"Kamu kenapa diam saja dia berkata seperti itu? Apa mereka sering membicarakanmu? Atau bahkan berbuat kasar?"


"Tidak. Mereka semua baik. Anggap saja tadi dia hanya bercanda."


"Bercanda ada batasnya. Aku sudah berusaha menahan emosiku. Tetapi dia malah semakin melunja. Sudah ku katakan jangan pergi bekerja di sana. Tempat itu tidak bagus untukmu. Kamu tetap bersikeras."


"Ekhem. Ekhem." Tiba-tiba Hamdan datang.


Sava dan Fariz berpura-pura bersikap normal lalu masuk ke dalam mobil.


///


"Dewi! Kenapa kamu berbicara seperti itu? Itu terlalu lancang," kata salah seorang rekan kerja Sava.


"Iya benar. Aku kalau jadi Sava pasti sakit hati. Suaminya juga pasti emosi istrinya kamu katai seperti itu" sahut yang lain.


"Apa yang aku katakan itu benar, kan?" bela Dewi, wanita yang bertengkar dengan Fariz tadi.


"Kamu punya bukti? Bukankah suaminya mengatakan mereka menikah karena dijodohkan?"


"Alasan saja itu. Tidak mungkin dijodohkan bisa mesra dan perhatian begitu ke Sava."


"Bisa saja setelah dijodohkan mereka saling suka."


"Tidak. Aku tidak percaya. Pasti ada sesuatu. Mana mungkin orang tua zaman sekarang menjodoh-jodohkan anaknya masih remaja begitu. Dari mana orang tua mereka saling mengenal? Jelas-jelas kelas mereka berbeda jauh. Sava terlihat kampungan walaupun wajahnya cantik. Sedangkan suaminya sempurna. Aku yakin suaminya pasti orang berada."


"Lalu bagaimana kalau kamu sampai di pecat?" kata seseorang menakuti Dewi.


"Hah? Memangnya siapa dia bisa membuatku dipecat? Ancaman seperti itu tidak membuatku takut," sahut Dewi.


"Walau begitu kamu tidak sepantasnya berbicara seperti itu. Acara hari ini untuk perpisahan Sava. Kenapa perpisahan Sava jadi hancur begini. Belum lagi ia mendapat tuduhan kasar darimu. Kamu bereskan kekacauan ini. Saya tidak mau tahu. Acara selesai. Saya pamit dulu," kata atasan Sava.


"Bagaimana ini?" lirih seseorang.

__ADS_1


"Sudah. Kalian habiskan saja makanannya. Bawa pulang sekalian. Jangan disisain," sahut Dewi.


Atasan Sava telah pergi. Mereka menghabiskan makanan yang tersisa dengan keheningan.


__ADS_2