
"Kamu mengenal kak Farhan? Kalian saling mengenal?", tanya Fariz.
Sava menggeleng.
"Aku mendengar ucapanmu barusan. Jawab aku", kata Fariz dengan menaikkan nada bicaranya.
"Fariz. Sebaiknya kita jangan bicara di sini. Cepat lepaskan aku", sahut Farhan.
"Lepaskan dia pak", ucap Fariz ke satpam.
"Kita bicara di dalam saja", lanjutnya.
Fariz dan Farhan duduk di ruang tamu sementara Sava mencari kotak obat.
"Apa yang kakak lakukan di sini sampai menyelinap begitu?", tanya Fariz.
"Sebenarnya kakak mau melihat kondisi rumah. Mau tahu kabar ayah dan bunda. Gak disangka malah dituduh penyusup", jawab Farhan sambil tertawa lirih.
Tiba-tiba Sava datang dan memberikan kotak obat.
"Kalian itu saling mengenal?", tanya Fariz lalu menatap Farhan dan Sava bergantian.
Sava hanya menggeleng kepala yang membuat Fariz mengerutkan keningnya.
"Kita pernah kebetulan bertemu", sahut Farhan.
"Sewaktu kakak berencana kabur kakak bertemu dengannya di bandara. Karena dia kakak gak jadi masuk ke dalam pesawat", jelas Farhan.
"Hei adik ipar terima kasih untuk waktu itu ya", kata Farhan ke Sava.
Sava heran tidak mengerti maksud ucapan Farhan, "Hah? Maksudnya?".
"Kenapa kamu masih di sini? Pergi masuk kamarmu", ucap Fariz.
Sava mendengus kesal lalu masuk ke kamarnya.
"Kamu hutang cerita soal pernikahanmu ke kakak", bisik Farhan ke Fariz.
"Kakak belum selesai menjelaskannya. Bagaimana kalian bertemu?", tanya Fariz
"Tadi sudah kakak jelaskan", jawab Farhan.
"Yang lengkap", sahut Fariz.
Farhan tertawa lalu menjelaskan pertemuannya dengan Sava.
"Jadi kan ada barang kakak ketinggalan di rumah Hafiz. Dia memesan ojek online untuk mengantarkan barang itu. Setelah Hafiz memberikan barang ke tukang ojek, Hafiz melihat banyak orang mengawasi rumahnya. Sepertinya suruhan ayah. Jadi dia menghubungi kakak untuk waspada. Sewaktu ojek itu menghubungi kakak memberitahu bahwa ia sudah di bandara kakak melihat istrimu ini seperti mencari-cari seseorang dengan seragam ojeknya. Langsung kakak panggil dan menerima barangnya. Eh ternyata kami salah orang. Awalnya dia mengkonfirmasi nama penerima Al. Kakak pikir sihafiz sengaja memberikan nama tengah kakak jadi kakak terima. Gak lama kemudian dia mencegat kakak meminta barangnya kembali karena dia salah orang", jelas Farhan.
"Tunggu. Nama penerimanya Al? Lalu kakak bertemu dengannya?", kata Fariz.
"Kakak hanya melihatnya sekilas saat istrimu menunjuknya. Itu juga dia sangat jauh. Jadi gak kelihatan jelas", jawab Farhan.
"Kalau dipikir-pikir dari riwayat telepon Sava hubungan mereka itu memang dimulai hampir 2 bulan sebelum pernikahan kami. Jadi ini awal pertemuan mereka? Apa benar-benar gak disengaja? Aku harus menyelidikinya", batin Fariz.
__ADS_1
"Kamu belum menceritakan tentang pernikahanmu", sahut Farhan.
"Gak ada yang mau aku ceritakan", jawab Fariz.
"Kakak akan tunggu kamu sampai mau bercerita ke kakak", ucap Farhan.
"Sepertinya kakak harus tinggal di sini sementara. Lihatlah baju kakak rusak dan sekarang turun hujan", lanjut Farhan.
"Tinggallah beberapa hari. Kakak bisa dengan leluasa pergi ke rumah. Jangan menyelinap-nyelinap lagi. Kalau kakak gak mau orang ayah tahu sebisa mungkin kakak tutupi. Oh iya, Bi Ijah akan datang besok pagi dan pulang saat pekerjaannya selesai. Sekitar jam 2 siang", jelas Fariz.
"Terimakasih banyak adikku sayang", ucap Farhan.
"Eh tapi kalau kakak lapar bagaimana?", tanyanya.
"Nanti aku akan minta Sava siapkan makanan untuk kakak", jawab Fariz.
"Baiklah. Di mana kamarku? Pinjamkan aku beberapa bajumu", ucap Farhan.
Setelah Farhan masuk kamar, Fariz menghubungi Hamdan untuk memeriksa sesuatu.
///
Sava memasak untuk makan malam dan memberitahu Fariz kalau makanan sudah siap.
Sava pergi setelah Fariz dan Farhan duduk di meja makan.
"Adik ipar mau ke mana? Kamu gak makan?", ucap Farhan.
"Nanti saja kak", sahut Sava.
"Kita belum kenalankan? Nama kamu siapa? Aku Farhan kakaknya Fariz", tanya Farhan.
"Sava kak", jawab Sava.
"Umur?", tanya Farhan lagi.
"17 tahun kak", jawab Sava.
"Muda 1 tahun dari kamu?", ucap Farhan ke Fariz.
"Kita sama-sama kelas 3 SMA", balas Fariz.
"Oh tuaan Fariz sedikit gitu ya? Sekolah di mana?", ucap Farhan.
"SMK Panca Budi kak", jawab Sava.
"Loh? Satu sekolahan? Jadi kalian saling kenal?", tanya Farhan.
"Satu sekolah tapi gak saling kenal", sahut Fariz.
"Pihak sekolah tahu kalian menikah? Memangnya boleh?", tanya Farhan penasaran.
"Kakak jangan banyak tanya. Makan saja dulu", ucap Fariz.
__ADS_1
"Itu karena kamu gak mau cerita. Kakak kan penasaran", ujar Farhan.
"Besok aku ceritakan", kata Fariz.
Sava akhirnya ikut makan malam bersama Fariz dan Farhan.
Setelah Fariz selesai makan ia pamit ke kamar mengambil beberapa pakaian untuk Farhan. Sedangkan Sava langsung masuk ke kamarnya setelah ia selesai makan.
"Bukannya tadi Sava di kamar yang itu? Kenapa kamu ke luar dari kamar sebelahnya?", tanya Farhan ke Fariz setelah melihat Fariz ke luar dari kamarnya.
"Sudah ku bilang jangan banyak tanya. Besok semuanya aku jelaskan. Kakak istirahat saja. Jangan lupa obati lukanya", ucap Fariz.
///
Pagi hari keesokan harinya.
"Ajak kak", Sava tidak menyelesaikan kalimatnya setelah melihat Fariz memberikan isyarat untuk diam.
"Apa? Di mana kak Farhan?", bisik Sava.
Fariz masih memberi kode untuk diam sambil menunjuk ke arah Bi Ijah. Sava akhirnya mengerti kalau Bi Ijah tidak boleh tahu kalau Farhan ada di rumah mereka.
"Bi, Sava mau bawa bekal hari ini", pinta Sava ke bi Ijah.
Setelah memberikan bekal ke Sava bi Ijah pergi ke ruang mencuci.
"Kenapa bi Ijah gak boleh tahu kak Farhan di sini? Ini kasih ke kak Farhan. Pasti dia lapar", ucap Sava memberikan bekalnya.
"Gak usah banyak tanya", kata Fariz lalu pergi ke kamar Farhan.
Sava pun akhirnya berangkat ke sekolah.
///
Sepulang sekolah Fariz langsung pulang ke rumah untuk melihat kondisi kakaknya. Tetapi Farhan tidak ada di rumah. Fariz sudah menunggu Farhan tapi Farhan tak kunjung hadir. Mereka akhirnya bertemu keesokan harinya setelah Fariz pulang sekolah.
"Dari mana saja kak?", tanya Fariz.
"Kakak hanya mengawasi ayah dan bunda", jawab Farhan.
"Kakak akan kembali besok", lanjutnya.
"Kenapa? Tinggallah di sini", balas Fariz.
"Kakak gak bisa meninggalkan pekerjaan kakak terlalu lama", ujar Farhan.
"Kakak bisa pergi bekerja dari sini", ucap Fariz.
"Lama kelamaan ayah dan bunda tahu. Begitu?", sahut Farhan.
"Kakak akan usahakan untuk berkunjung lagi", lanjutnya.
"Terserah kakak kalau begitu", jawab Fariz.
__ADS_1
"Hmm apa gak ada yang mau kamu bicarakan? Kakak lihat seperti ada yang kamu pikirkan. Kakak juga beberapa kali mendengar kamu berbicara di telepon dengan Hamdan", kata Farhan.
"Baiklah aku akan cerita karena aku sudah berjanji kemarin. Siapa tahu kakak bisa membantuku", kata Fariz.