
Di sisi lainnya.
"Ha... Kenapa juga aku pakai acara menyuruh orang menjemputnya. Apa tidak ada cara lain? Tapi kalau tidak begitu bukan kejutan namanya," gumam Fariz.
"Dia tidak mempercayaiku lagi. Awas saja nanti ku habisi dia."
"Siapa suruh meninggalkan ponselnya di dalam mobil."
Entah apa yang sedang direncanakan Fariz. Semakin lama waktu berlalu ia semakin gugup. Sekarang ia sedang berjalan ke sana dan ke mari tak tentu arah. Berulang kali ia mengecek ponselnya.
Tiba-tiba seseorang menghampirinya dan berkata, "Semuanya sudah siap. Saya akan menunggu Bu Sava di lobi. Akan kami beritahu jika Bu Sava telah tiba."
"Apa ada tambahan yang lain?" tanyanya.
"Apa anda yakin istriku akan menyukainya?" tanya Fariz kembali.
"Saya yakin semua wanita menyukai kejutan. Tentang seperti apa bentuk kejutan itu, itu urusan selera. Sebenarnya, inti dari kejutan itu bukan dari bentuk wah atau apapun itu, tetapi lebih ke ungkapan perasaan pasangannya dan usahanya."
Fariz mengangguk-anggukkan kepala pertanda ia setuju dengan ucapannya.
"Baiklah. Karena semua sudah siap aku akan menunggunya di sini," sahut Fariz.
"Saya akan menunggu Bu Sava di lobi."
Fariz menghela napas kasar. Ia tak bisa mengontrol degup jantungnya yang berdetak kencang.
"Apa-apaan ini. Apa yang ku khawatirkan? Kenapa aku sangat gugup. Seolah aku akan ditolak saja. Sava itu istriku. Istriku sah. Tidak mungkin menolakku. Bukankah kemarin kami sudah saling mengungkapkan perasaan? Jadi, aku ini kenapa? Kenapa segugup ini," batin Fariz.
Fariz mengambil napas dalam lalu menghembuskannya secara perlahan, ia melakukannya berulang kali hingga suara getar ponsel menghentikan kegiatannya. Mata Fariz membesar saat membaca pesan yang masuk ke ponselnya merupakan pemberitahuan bahwa Sava telah sampai. Ia pun mengambil posisi.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. Di mana pintu itu merupakan penghubung tujuan akhir rencana hari ini, yaitu di mana Fariz berada. Inti dari rencana Fariz.
Sava telah memasuki area tempat kejadian, sedangkan Fariz berada di salah satu sudut ruangan mengamati Sava dan menunggu instruksi kapan ia harus ke luar.
Saat mendengar teriakan Sava mencarinya, Fariz ingin segera menghampiri Sava. Entah mengapa ia sangat merindukannya walau mereka terpisah hanya beberapa jam saja. Semakin lama teriakan Sava semakin membuat Fariz khawatir, ia mendengar teriakan diiringi isakan tangis Sava. Tak mau ambil pusing Fariz pun berlari menghampiri Sava.
Hati Fariz bergetar melihat sang istri menangis ketakutan. Ingin rasanya ia memutar waktu, ia tak ingin memberi kejutan seperti ini. Ia mengumpati dirinya sendiri telah melupakan kejadian yang pernah menimpa Sava.
"Tenanglah. Aku di sini." Fariz memeluk Sava dan mengelus rambutnya agar merasa lebih tenang. Lama-kelamaan tangis Sava mulai mereda.
"Dari mana saja kau? Kenapa kau meninggalkanku? Dan apa ini, hah?" tanya Sava dengan sedikit berteriak. Ia mulai menelusuri sekitarnya dan baru menyadari bahwa cahaya tempat itu sangat terang. Ia juga baru menyadari bahwa mereka sedang berada di kolam yang dihias begitu cantiknya.
Sava berdiri dan menelusuri tempat itu. Ia tak menghiraukan Fariz yang sedang mengkhawatirkannya. Ia terpaku akan pemandangan ia lihat, ia berbalik menatap Fariz dengan senyuman yang begitu indah. Begitu takjubnya ia sampai melupakan apa yang terjadi beberapa menit yang lalu, membenci tempat ini karena sangat gelap.
"Kau yang menyiapkan ini semua?" tanya Sava dengan nada begitu riang.
"Iya, tapi kau sudah menggagalkan rencanaku," sahut Fariz.
Sava mendekati Fariz, ia memeluk lengan kanan Fariz sambil menggoyang-goyangkannya. "Kenapa tidak memberitahuku terlebih dahulu kalau akan ada kejutan."
"Kalau aku kasih tahu, bukan kejutan namanya. Lihatlah penempilanmu ini," sindir Fariz.
Mereka menuju sebuah meja bundar yang telah dihiasi begitu romantisnya, di mana Fariz dan Sava akan melangsungkan makan malam. Fariz meraih beberapa lembar tisu dan menghapus sisa-sisa air mata Sava. "Apa yang mereka lakukan pada wajahmu? Kenapa make up mu begitu tebal?"
"Siapa lagi kalau bukan orang suruhanmu. Semua ini rencanamu kan!" seru Sava.
Fariz memperhatikan penampilan Sava dari ujung kaki hingga kepala. Sava begitu cantik dan anggun. Untuk beberapa saat ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari Sava. Ia terpesona akan kecantikan istrinya itu.
"Sudahlah, ayo kita makan," kata Sava menyadarkan Fariz.
Sava melahap makanan yang ada di atas meja, sedangkan Fariz tak berselera menatap hidangan itu. Ia mengunyah makanan dalam mulutnya dengan malasnya.
__ADS_1
Sava sedikit kesulitan menyantap makannya karena gaunnya. Gaunnya cukup terbuka hingga ia terus menahan bagian depannya saat ia menunduk. Fariz yang sedari tadi memperhatikan Sava semakin lama semakin tak tenang, ia terus mengganti posisi duduknya.
Setelah Sava kenyang, ia membuka suaranya dan bertanya, "Mana kejutanmu yang lain? Bukan hanya ini, kan? Sini berikan."
"Aku akan memerikannya di kamar nanti. Kamu sudah selesai makan, kan? Ayo kita pergi," sahut Fariz penuh semangat.
Sava mengerutkan kening mendengar ucapan Fariz. "Kamar? Ada apa di kamar?"
"Aku tidak akan bermain kejutan lagi. Kamu akan tahu sendiri saat di kamar nanti." Fariz beranjak dari duduknya lalu menarik lengan Sava agar ikut bangun dari duduknya. Mereka pun berjalan meninggalkan tempat romantis itu.
Sava berbelok ke arah di mana lift berada, sedangkan Fariz ke arah sebaliknya. "Mau ke mana? Ikut aku," ucap Fariz.
"Bukankah lift di sebelah sini?" tanya Sava pada dirinya sendiri sampai ia menggeleng-gelang kepala karena memikirkan arah lift berada.
Fariz berhenti di depan sebuah pintu, pintu itu bertuliskan angka 1717 dan membukakan pintunya. Ia mempersilakan Sava untuk masuk. Dengan berjalan gontai Sava masuk dan berhenti setelah melihat sebuah ranjang ditaburi bunga mawar mewah.
Perlahan Sava berjalan mundur. Namun, langkahnya dihentikan oleh Fariz.
Bagi seorang pria, memamerkan kemampuannya untuk membuktikan suatu masalah tidak akan ia mengerti kecuali masalah itu dihadapkan kepadanya langsung.
Fariz tidak tahan dengan tendangan kebanggaannya yang melonjak. Jadi, ia meraih pergelangan tangan Sava dan meraih pinggangnya.
Karena tangan Sava berada dalam genggaman Fariz yang hangat, perhatian Sava saat ini beralih ke wajah gelap lelaki di hadapannya, ia terlambat menyadari benda keras apa yang ia sentuh. Sava terkejut, lalu ia mundur mendadak sambil berteriak. Seketika suasana disekitar mereka membeku karena ketegangan.
Sava mengamati wajah Fariz dengan intens, sementara di sisi lain wajah Fariz muram dengan raut tidak acuh. Secara naluri Fariz mengangkat tangannya yang ditepis Sava lalu melayangkan tatapan menuduh pada Sava.
"Ada apa dengan ekspresimu itu?" tanya Fariz.
Dari tatapan Fariz, Sava bisa merasakan sebenarnya Fariz juga tidak tenang. Fariz hanya menampilkan wajah sok tenang, padahal saat itu Sava melihat secercah perasaan kalut di mata Fariz.
"Kamu tidak bisa menyalahkanku karena merasa seperti ini. Kita sudah hidup bersama selama enam bulan," kata Fariz.
Fariz tidak pernah mengira akan menghadapi tantangan pada kelaki-lakiannya sehingga ia bereaksi dengan tidak sopan.
Sava belum merencanakan hidupnya kedepan akan seperti apa dirinya menjadi seorang ibu di usia muda. Tetapi, ia harus melakukan apa yang sudah menjadi kewajibannya sebagai istri Fariz.
Dengan ragu-ragu dan tangan yang bergetar gugup di kedua sisi tubuhnya, Sava berkata, "Kau bilang akan menunggu kesiapanku."
Meski begitu, di mata Sava terlihat kebulatan tekat. "Kalau memang terjadi saat ini, kurasa aku siap," gumamnya dalam hati.
"Iya, aku pasti menunggumu. Tapi, aku harus menunggumu sampai kapan? Apa kau tidak menghargai usahaku yang berusaha membuat suasana hatimu lebih baik, walaupun tidak semulus yang ku inginkan," sahut Fariz.
"Oke, mungkin malam ini..."
Tapi, tetap saja Sava tidak bisa mengeluarkan kata-kata itu. Dengan malu, ia menutup wajah merahnya dengan kedua tangannya. Sungguh akan terdengar memalukan jika siwanitanya yang mengajak sipria ke tempat tidur terlebih dahulu.
Sesaat kemudian, Sava berkata, "Gak jadi deh. Kita tidur saja."
Sava pun membalikkan badannya dengan perlahan, tetapi saat akan berbalik lengannya ditarik dengan kuat. Hal berikutnya yang ia rasakan sentuhan lembut bibir Fariz di bibirnya sendiri.
Fariz memegang tengkuk Sava dan dengan mudah menekan bibirnya ke bibir Sava yang lembab dan mengundang. Sama sekali tak ada kelembutan. Saat celah di antara mereka benar-benar menghilang, keinginan Fariz meningkat. Ia memiringkan kepalanya untuk mendapatkan lebih banyak akses ke mulut Sava. Lidahnya yang basah menyelinap diantara bibirnya seakan ia tidak ada puasnya.
Kepala Sava tertekuk ke belakang dengan tangan Fariz yang kuat menopang lehernya. Kemudian, ia perlahan merasakan dirinya akan direbahkan di atas tempat tidur yang ada di bawah mereka. Ketika ia merasa seperti akan jatuh, ia meraih leher Fariz tanpa sadar. Dan kemudian ia merasakan kasur lembut di punggungnya.
Pada saat ini, Sava mendapati dirinya berbaring di tempat tidur dengan Fariz berada di atasnya. Rambutnya tergurai berantakan di sekitar kepalanya, dan matanya terlihat sedikit sembab karena kebutuhan yang meningkat.
"Aku akan lembut padamu," kata Fariz.
"Bagaimana jika sakit?" sahut Sava.
Fariz mengerti apa yang coba dikatakan oleh Sava terkait ini adalah saat pertama mereka.
__ADS_1
"Itu hanya sesaat," jawab Fariz dengan sok jantan. Ia mulai tidak sabaran dengan setiap detik yang berlalu.
Sava merasa Fariz berbeda dari dirinya yang biasa. Sava menginginkannya tetapi tetap ingin menjaga dirinya sendiri. Ini adalah pengalaman pertamanya dan ia tidak ingin itu menjadi mimpi buruk.
"Bersikaplah lembut atau awas saja..." ancam Sava.
"Awas apa?" sahut Fariz.
"Aku tidak akan mau mengulangi hal ini lagi," jawab Sava.
"Aku akan melakukan yang terbaik."
Mereka mengunci bibir sekali lagi. Pada awalnya, itu lembut, menenangkan dan perlahan bibir mereka menyentuh satu sama lain, lembut seperti bulu.
Entah bagaimana Sava merasa berat Fariz di atasnya terasa nyaman dan melindungi. Dia tidak percaya melakukan hubungan dengan pria yang sangat ia cintai. Ciuman Sava yang selama ini selalu malu-malu dan canggung tidak seperti saat ini. Ini adalah pertama kalinya dia berpartisipasi dalam ciuman yang dalam dengan keinginan terang-terangan untuk membalas ciuman Fariz.
Udara menjadi memanas saat pertempuran diam-diam di mulai.
Erangan ke luar dari bibir Sava selama memanasnya momen itu. Matanya tertutup rapat dan sensasi aneh perlahan-lahan menyebar dari ujung kaki menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan ia mengeliat di bawah tubuh Fariz.
Meskipun keinginan Fariz belum puas mencium Sava, tetapi Fariz mengerahkan tekad menyudahi serangannya di mulut Sava dan menarik diri. Ia menatap keadaannya saat ini, matanya membara melihat pemandangan tubuh istrinya di depannya.
Bibir Sava yang lembab dengan lembut terpisah dan pipinya memerah membuatnya terlihat seperti wanita penggoda.
Fariz menemukan dirinya tidak bisa mengalihkan dirinya dari pandangan Sava. Tetapi, terlebih lagi, dia sangat bingung dengan keadaan yang tidak terduga ini. Ketika malam tiba, ia tidak mengharapkan sesuatu yang luar biasa terjadi apalagi setelah kejadian di kolam renang yang tidak berjalan lancar.
Namun, pada titik ini sudah terlambat baginya menimbulkan kehendak untuk berhenti. Dia sudah terangsang, sampai-sampai pinggang celananya tegang di bagian bawah, ingin dibebaskan dari jebakan pakaian yang mengekangnya. Perasaan memburu yang aneh seperti badai menghancurkan akal sehatnya. Ia hanya bisa bertanya-tanya dari mana gelombang keinginan akan istrinya yang kuat ini muncul.
Pada akhirnya, keinginan Fariz menang di atas akal sehatnya. Otaknya menolak untuk memikirkan hal lain kecuali untuk memiliki wanita di hadapannya ini dalam genggamannya, untuk mengklaim sebagai miliknya.
Fariz menundukkan kepalanya dan bibirnya menekan bibir Sava lagi. Tangannya seolah-olah punya pikiran sendiri yang memulai membelai kulit Sava yang lembut.
Dengan bibirnya Fariz mulai mendaratkan ciuman di pipi Sava dan menggigit daun telinga Sava dengan lembut di antara giginya. Mulutnya kemudian bergerak turun untuk menelusuri ciuman panas di lehernya. Dan ia menyadari bahwa setiap kali bibirnya menyentuh kulit Sava, Sava akan gemetaran setiap saat. Tindakannya membuat Sava melepaskan erangan lagi dan reaksi balasan Sava seperti itu secara alami meningkatkan rasa panas yang datang dari dirinya.
"Ha, aku pasti sudah gila," adalah satu-satunya pemikiran Fariz saat ini. "Lembut dan penuh kasih sayang. Lembutttt dan penuuuh kasiiih sayaang." Kata-kata itu terus ia tanamkan dalam pikirannya agar ia dapat menjinakkan keinginan jasmaninya. Jika tidak bisa-bisa Sava tidak akan mau lagi mengizinkannya menyentuh Sava untuk kedua kalinya. Karena ancaman Sava tadi yang mengingatkannya dengan keras dan jelas memperingatinya untuk bersikap lembut. Tetapi, ia sibukkan dengan pilihan antara keinginan yang kuat dan mengikuti peringatan istrinya itu.
Ketika Fariz mengingat peringatan istrinya, ia menyadari ketakutan istrinya itu. Ia berusaha bagaimana menjadi lembut dan penuh kasih sayang. Walaupun saat ini, ia tak tahu bagaimana caranya agar istrinya itu tidak tersakiti. Jika ia mengikuti keinginannya, ia pasti sudah merentangkan kaki dan mengubur dirinya jauh di dalam diri istrinya itu segera. Namun, mengingat peringatan istrinya, ia menekan keinginannya yang memuncak dan bergerak perlahan dengan semua tekad yang ada.
Tangan Fariz yang besar pergi ke bawah gaun Sava untuk memegang gundukannya yang lembut. Dengan sedikit tekanan, ia membelai puncak kembarnya dengan lembut, ujungnya mengeras saat tersentuh jemarinya. Kulit Sava yang halus di tangan kepalannya terasa sangat berlawanan. Pakaian yang memisahkan mereka sekarang tampak rumit baginya dan ia dengan tidak sabar membuka resleting gaun di punggung Sava. Kain yang melekat di tubuh Sava tiba-tiba menjadi longgar dan memperlihatkan kulit Sava yang tersembunyi. Fariz menahan bernapas mendapati dirinya membeku sesaat pada pandangan di bawahnya.
Tetapi, kemudian keinginan Fariz medorongnya mengambil alih dan ia menundukkan kepalanya. Perlahan, seperti menguji ia mencium puncak lembutnya dan mengubur hidungnya serta menghirup aroma tubuhnya.
Terkejut oleh sensasi yang tiba-tiba itu, Sava melengkungkan tubuhnya tanpa sadar. Tetapi, hal itu tidak berhenti sampai di situ, Fariz bermain dengan ujungnya yang mengeras diujung lidahnya membangkitkan erangan lain dari Sava.
Pada awalnya, ada sedikit keraguan pada tindakannya. Tetapi kemudian, Fariz mulai meningkatkan belaiannya setiap detik. Ia mengambil ujungnya yang basah di antara giginya, dengan lembut dan perlahan menggigitnya.
Sava mengerang tertekuk di bawah Fariz. Ia merasa seperti terbakar seolah-olah madu panas sedang dituangkan di seluruh tubuhnya dan tubuhnya tidak bisa menahan rasa panas karena mengantisipasi sentuhan Fariz. Suara geraman Fariz yang bergetar di tubuhnya bercampur dengan erangan lembutnya. Ia tiba-tiba mendapati dirinya malu pada tindakan penyatuan mereka ini, dan wajahnya semakin terbakar.
Sebuah emosi yang tidak dikenal menggelegak dalam diri Fariz karena istrinya itu berbaring dengan napas memburu di bawahnya. Ia ingin memperlajari lebih dalam, lebih dalam lagi tentang istrinya. Matanya terkunci pada mata istrinya yang nyaris tidak terbuka. Tiba-tiba Sava membuka mata dan memandangnya seperti rusa yang terkejut. Bibirnya terangkat ke atas dalam senyum kecil dari rasa bersyukur karena sakitnya tidak separah yang ia bayangkan dan merasa malu pada saat yang sama.
Untuk menenangkan istrinya, Fariz melayangkan ciuman singkat dibibir, pipi dan hidung Sava. Ia membelai dahi Sava dan menyisir rambut Sava dengan tangannya.
Wajah Sava terlihat sangat mungil ketika tangannya tampak besar di sisi wajah Sava. Ia merasa senang bahwa ia tidak menyakiti Sava, bahkan menghancurkan kesempatan ini. Sementara keinginannya begitu besar untuk melahapnya beberapa menit yang lalu.
Sava memejamkan mata dan bernapas dengan keras. Ia bahkan tidak ingin bergerak. Ia menyukai perasaan tangan Fariz menyapu rambutnya. Akhirnya, ia menutup mata dan tertidur.
"Sava." Fariz memanggil Sava tetapi tidak mendapat jawaban. Fariz memanggil Sava lagi dan menyapu telapak tangannya ke pipi Sava dengan lembut seolah Sava adalah porselen yang berharga, ia takut hancur oleh kekuatannya yang tak terukur.
"Sava," panggil Fariz lagi. Tetap saja hanya dijawab oleh keheningan.
"Jangan-jangan pingsan." Fariz mendekatkan wajahnya ke wajah Sava.
__ADS_1
Setelah menyimpulkan wanita dilengannya sudah tertidur Fariz berbisik di telinga Sava, "Tidurlah dengan nyenyak."