
Fariz dan Farhan telah berangkat kerja. Ayah Fariz sedang menonton televisi. Bunda Fariz sedang menyiapkan keperluan untuk liburan, dan Sava ikut membantu ibu mertuanya.
"Kita berangkatnya kapan bun?" tanya Sava.
"Besok ya. Lebih cepat, lebih baik," jawab ibu mertuanya.
Sava dan ibu mertuanya sedang di kamar tidur mertuanya. Bunda Fariz mengambil beberapa potong pakaian lalu manaruhnya di atas tempat tidur. Sava merapikan lipatan pakaian yang terlihat sedikit berantakan. Ibu mertuanya mengambil 3 buah koper, lalu menyusun pakaian dalam koper.
"Bawa berapa baju, Bun? Banyak sekali," ujar Sava.
"Iya. Takutnya hujan terus di sana dan bunda malas mencuci," jawab bunda Fariz sambil nyengir.
"Oh, begitu."
"Kamu mau ikut bunda berbelanja? Bunda mau memasak lauk untuk dibawa besok. Ya lauk yang bisa tahan lama. Ayah mertuamu itu makannya suka pilih-pilih. Nanti bunda bingung mau masak apa di sana."
"Boleh bun. Sekalian Sava ikut bantu masak saja. Siapa tahu Sava bisa mencobanya kapan-kapan."
Bunda Fariz tersenyum mendengar ucapan menantunya. Iya bersyukur Sava mencoba belajar bersikap layaknya seorang istri yang baik untuk Fariz, walaupun usianya masih sangat muda.
Pakaian yang berada di atas ranjang sudah berpindah ke dalam koper. Koper berisi pakaian telah siap.
"1 koper lagi untuk apa bun? Kak Farhan?" tanya Sava.
"Bukan, ini untuk perlengkapan-perlengkapan lain. Seperti perlengkapan mandi, sepatu dan lain-lain. Nanti saja bunda yang mengisinya."
Sava mengangguk mengerti.
"Kita berangkat sekarang?" ajak ibu mertuanya.
"Ayo," sahut Sava semangat.
Sava dan ibu mertuanya berangkat menuju pasar tradisional terdekat dari komplek perumahan. Mereka diantar oleh supir.
Dalam perjalanan, Sava mengirim pesan ke Deshi kalau ia akan berangkat ke Medan besok.
"Kamu menghubungi siapa?" tanya ibu mertuanya.
"Deshi, bun. Sava selalu mengabarinya kalau Sava akan pergi," jawab Sava.
"Ajak saja dia. Deshi bisa menjadi temanmu di sana. Kalau kamu pengen jalan-jalan, Deshi bisa membawamu."
"Apa tidak memberatkan Deshi?"
"Itu sudah tugasnya. Kabari dia, katakan untuk bersiap. Besok kita berangkat."
"Baik, bun."
Sava mengirim pesan lagi ke Deshi, kalau Deshi ikut dengannya ke Medan besok.
Tak berapa lama, mereka tiba di pasar tradisional. Sava dan bunda Fariz turun dan meminta supir untuk menjemput sekitar 1 jam lagi.
"Aduh bu, lama sekali gak belanja ke sini. Ke mana saja?" kata seorang penjual tak jauh dari pintu masuk.
"Iya, suami saya sakit. Saya gak sempat ke pasar karena mengurus suami," jawab bunda Fariz.
"Sakit apa bu? Semoga cepat sembuh ya. Siapa ini? Anaknya?" tanyanya lagi.
"Bukan. Menantu saya."
"Cantik ya bu. Ibu sudah punya menantu saja. Sebentar lagi malah punya cucu ya."
__ADS_1
"Haha. Doakan segera ya." Ibu mertua Sava tertawa mendengar godaan soal meminang cucu, sedangkan Sava menunduk malu.
Mereka berjalan masuk, lalu berhenti di sebuah penjual bawang dan cabai.
"Bawang merahnya setengah kilo ya, bawang putih seperempat kilo dan cabainya sekilo," ujar bunda Fariz.
"Eh ibu, lama gak kelihatan. Sama siapa?" kata penjual bawang.
"Iya ini menantu saya."
"Menantu? Oalah, saya kira gadis ini masih sekolah. Saya sudah berniat kenalkan ke anak saya. Saya sering lihat berbelanja ke pasar ini. Sering belanja ke sini juga, kan?"
Sava mengangguk malu.
"Kamu sering belanja ke sini juga?" tanya ibu mertua Sava ke Sava.
"Kadang-kadang bunda, paling sekali seminggu," jawab Sava.
"Rajin ya menantu bunda. Fariz gak salah pilih ini," kata bunda Fariz sambil mencubit gemas pipi Sava.
"Ibu beruntung ya punya menantu cantik dan rajin. Jarang-jarang anak muda mau belanja ke pasar. Apalagi pasar tradisional seperti ini," kata sipedagang.
Terus saja para pedagang di pasar tradisional yang mereka datangi memuji-muji Sava. Sava hanya tersenyun kikuk mendengar berbagai pujian yang dilayangkan untuknya.
Akhirnya, selesai juga Sava menemani sang ibu mertua berbelanja. Supir sudah menunggu sedari tadi.
Keringat bercucuran membasahi wajah Sava hingga leher. Rambutnya juga sampai lepek.
Tak tahan karena kegerahan, Sava mengikat rambutnya. Membiarkan lehernya bebas merasakan hawa dingin AC mobil.
Ibi Fariz melihat ada sesuatu di leher Sava. Ia mendekatkan wajahnya untuk melihat apa yang ada di leher menantunya itu.
"Kenapa bunda?" tanya Sava heran.
"Oh, ini digigit nyamuk. Sava tadi malam menunggu Fariz di ruang tamu sampai ketiduran. Padahal tadi Fariz sudah mengompresnya" jelas Sava.
Bunda Fariz tersenyum menahan tawa mendengar penjelasan Sava. Dilihatnya sekali lagi tanda merah di leher Sava untuk memastikan kecurigaannya.
"Jadi, kamu ketiduran di ruang tamu? Sampai pagi?" selidik bunda Fariz.
"Tidak bunda. Setelah Fariz pulang, kami ke kamar. Fariz mandi. Karena Sava mengantuk, Sava tidur kembali."
"Kalian tidur sekamar?" tanya bunda ragu-ragu.
Sava membatu. Ia keceplosan. Ternyata ibu mertuanya belum tahu soal mereka tinggal sekamar.
Melihat reaksi Sava, Ibu mertuanya yakin bahwa mereka memang tinggal sekamar. Sangking senangnya akan berita ini Ibu Fariz memeluk Sava dengan erat.
"Terima kasih ya sayang sudah menerima anak bunda. Dia memang sedikit nakal, tapi Fariz anak yang baik dan penyayang. Pandai-pandailah dalam mengambil hati Fariz."
"I-iya, bun," jawab Sava gugup.
"Jadi kalian sudah melakukannya?" tanya bunda.
"Melakukan apa?" tanya Sava kembali.
"Sepertinya belum," gumam bunda Fariz.
"Tidak apa-apa pelan-pelan saja."
Sava menunduk malu setelah mengerti arah pembicaraan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Jadi kamu sadar akan tanda merah ini, maksud bunda gigitan nyamuk ini pada pagi hari? Bukan begitu kamu bangun sewaktu ruang tamu?"
"Fariz yang memberitahu Sava. Dia datang membawa handuk kecil lalu mengompres leher Sava. Katanya ada bekas gigitan nyamuk di leher Sava."
"Hahahah," Bunda Fariz tertawa.
"Kenapa bunda tertawa?" tanya Sava heran.
"Tidak apa-apa. Sepertinya rumah kalian perlu didatangkan ahli pembasmi nyamuk, serangga dan sejenisnya."
"Tidak apa-apa bun, itu karena Sava tertidur di ruang tamu. Lain kali Sava tidak akan tidur di ruang tamu lagi."
"Baiklah." Ibu mertua Sava tersenyum menahan tawa.
Sava dan ibu mertuanya telah sampai di rumah. Mereka mulai memasak lauk untuk dibawa besok.
Setelah masakannya masak Sava pamit pulang untuk berkemas. Tetapi ditahan oleh ayah mertuanya. Ayah mertua Sava mengajak untuk makan siang sebelum Sava pulang. Sava pun menyetujuinya.
"Bagaimana Fariz?" tanya ayah mertua Sava.
"Maksud ayah bagaimana apanya?" Sava balik bertanya.
"Apa dia sering membuatmu marah? Apa dia bertingkah sesukanya?"
"Ti-tidak ayah. Fariz baik. Dia perhatian ke Sava, walau kadang caranya agak aneh," jawab Sava gugup.
"Hahahah." Ayah mertua Sava tertawa mendengar jawaban Sava.
"Syukurlah kalau kamu mengerti Fariz. Setelah kunjungan ke rumah orang tuamu kemarin, apa kalian pernah berkunjung lagi?" tanya Moan.
"Keluarga Sava yang berkunjung kemarin. Sewaktu ayah di luar negeri. Mereka menemani Sava beberapa hari," jawab Sava.
"Ayah senang mendengarnya. Titip salam buat orang tuamu ya. Beritahu mereka kalau kamu akan ke medan. Siapa tahu mereka ingin ikut."
"Baik, yah."
"Kalau Fariz macam-macam, datang saja ke sini. Pintu rumah ayah terbuka untukmu."
"Ayah ini ngomong apa sih? Jangan menjelek-jelekan anaknya sendiri," sela ibu mertua Sava.
"Ayah tidak menjelek-jelekkan. Kalau ada masalah dengan Fariz, lebih baik Sava datang ke sini dari pada pulang ke rumah orang tuanya. Kalau Sava ke sini, Fariz kita kasih pelajaran. Tapi, kalau Sava ke rumah orang tuanya bisa-bisa Sava tidak diizinkan untuk kembali ke Fariz. Ayah juga tidak ingin kehilangan menantu seperti Sava," jelas Moan.
Hati Sava terunyuh mendengar ucapan ayah mertuanya. Ia bersyukur pertemukan dengan keluarga Fariz. Ia tak bisa bayangkan bagaimana nasibnya kalau orang tua Fariz tidak mencari keluarganya untuk melaksanakan perjodohan.
"Iya ayah. Maaf, bunda salah paham. Ayah sudah menyidang Savanya. Biarkan Sava menghabiskan makanannya," kata bunda Fariz.
Ayah Fariz berdehem. Sedangkan Sava tersenyum kikuk lalu menghabiskan makanannya.
Bunda Fariz membawa sebuah kotak makanan digenggamannya yang dibawanya dari belakang. Lalu diserahkannya ke Sava.
"Ini sedikit lauk yang kita masak tadi. Biarkan Fariz ikut mencicipi," kata ibu mertua Sava.
"Terimakasih, bun. Fariz pasti senang," jawab Sava.
"Dia hampir seperti ayahnya. Suka memilih makanan."
Sava tak henti-hentinya tersenyum saat nama Fariz disebut-sebut.
"Bunda, ayah. Sava pulang dulu ya," kata Sava pamit pulang.
"Iya. Besok pesawatnya pukul 2 siang. Pastikan kamu dan Deshi tiba di bandara pukul 12," sahut bunda.
__ADS_1
"Iya, bunda," jawab Sava.
Sava pulang ke rumah tempat ia dan Fariz tinggal. Ia terkejut melihat Fariz ada di rumah padahal hari masih siang.