
Tiba-tiba saja ponsel Sava bergetar. Ia tahu pasti itu dari suaminya. Saat getaran ponselnya berhenti Sava menghela napas.
Ponsel Sava kembali bergetar. Ia mulai panik. Kalau ia tidak menjawab telepon suaminya pasti Fariz akan marah besar dan kalau ia mengangkat telepon suaminya ia tidak tahu harus berkata apa ke sahabatnya. Akhirnya Sava lebih memilih mengangkat telepon suaminya.
"Hallo. Aku di jalan pulang"
.....
"Iya"
.....
"Aku gak tahu ini di mana. Masih daerah pegunungan"
.....
"Aku bersama sahabatku yang lain"
.....
Fariz memutus teleponnya.
"Keluarga lo nanyain?", ujar Kanaya.
"I. Iya", jawab Sava gugup.
"Bagaimana caranya aku turun. Ini di mana lagi. Hanya pepohonan yang dapat aku lihat", batin Sava.
"Ya tuhan. Lama-lama aku stress memikirkan cara menyembunyikan pernikahan ini", lanjutnya.
Beberapa menit kemudian setelah Sava melirik sahabat-sahabatnya sudah tertidur ia berkata, "Al, aku mau ke kamar mandi".
"Oke. Lihat-lihat kalau ada pemberhentian", sahut Al.
Akhirnya mereka menemukan pemberhentian di sebuah rumah makan yang lumayan cukup ramai.
Sava ke luar mobil Al dan membawa tas bawaannya.
"Kenapa bawa tas?", tanya Al
"Al pasti curiga", batin Sava.
"Hmm itu. Aku mau mengganti pembalut", jawab Sava malu-malu.
Sava akhirnya pergi dan bersembunyi di balik mobil orang yang sedang parkir. Ia pun menghubungi Fariz.
"Di mana? Kami sedang berhenti di sebuah rumah makan di pinggir jalan. Cepatlah. Aku gak bisa menung ", kalimat Sava terputus saat melihat mobil Fariz sudah mendekat.
Sava langsung masuk mobil Fariz dan memakinya, "Kau berengsek. Awas saja kalau hubungan persahabatan ku rusak karena mu".
Fariz menanggapi ocehan Sava dengan tertawa lirih.
"Kamu tertawa?", kata Sava semakin emosi.
Fariz langsung terdiam.
"Kamu sedang mempermainkan aku kan? Sepertinya kamu bersenang-senang saat mengancamku membeberkan pernikahan ini", lanjut Sava.
"Kamu takut?", tanya Fariz.
"Kan kamu yang menginginkannya", jawab Sava.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak balas mengancamku membeberkan pernikahan ini?", sahut Fariz.
"Kau", kata Sava menatap tajam Fariz.
"Sudahlah. Hubungi mereka. Kamu gak mau kan mereka mengkhawatirkan mu", ujar Fariz.
Karena tidak mau membuat yang lain menunggunya, Sava mengirimi Al pesan.
"Al, maaf. Aku pergi dengan keluargaku. Sampaikan maaf ku ke sahabatku"
///
Hubungan Sava dan Fariz kembali seperti semula. Tidak ada yang istimewa setelah kejadian setelah workshop.
Untungnya sahabat Sava tidak mencurigainya pulang terpisah. Entah apa yang dijelaskan Al pada mereka.
Hampir 1 minggu setelah workshop. Farhan datang berkunjung ke rumah mereka.
Fariz dan Farhan sedang asyik berbincang-bincang.
"Bagaimana? Ada kabar terbaru?", tanya Farhan.
"Menurut penyelidikan saat ini, Alan ke Indonesia karena ingin menjenguk nenek. Mereka mendapat kabar kalau nenek sakit jadi aku yakin mereka mengetahui berita pernikahanku", jelas Fariz.
"Artinya dia sengaja mendekati Sava?", tanya Farhan lagi.
"Menurutku begitu. Aku sudah mengawasi Sava selama workshop. Belum ada tanda-tanda dia menyakiti Sava. Kami juga sudah sempat bertemu. Aku sudah memintanya menjauhi Sava", jawab Fariz.
"Lalu? Dia menjauhinya?", sahut Farhan.
"Sampai saat ini mereka belum bertemu", jawab Fariz.
Tiba-tiba seseorang muncul dari balik pintu rumah.
"Ayah", kata Farhan.
"Farhan kamu kembali nak", ucap bunda sambil memeluk Farhan.
"Ayah yakin kamu pasti ke sini", sahut sang ayah.
"Pasti kamu", ucap Farhan menunjuk Fariz dengan tatapan tajamnya.
"Ayah", rengek Fariz.
"Sudah. Sudah. Jangan bertengkar. Bukan Fariz yang memberitahu ayah. Ayah mencurigai seseorang sedang mengawasi ayah. Jadi ayah cari tahu tapi ayah diam saja karena ayah yakin kamu pasti akan kembali ke sini", jelas Moan.
"Ke mana saja kamu Farhan?", lanjut Moan.
"Hah itu yah. Hehe Farhan sedang mencoba mandiri", jawab Farhan gugup.
"Pulanglah. Bunda merindukanmu", sahut bunda.
"Tapi bun", sela Farhan.
"Kamu pulanglah. Atau mau ayah hancurkan perusahaan yang sedang kamu bangun?", ucap Moan.
"Baik yah", jawab Farhan.
"Malam ini kita makan malam bersama. Fariz ajak Sava ke rumah", ujar bunda.
"Iya bun", kata Fariz.
__ADS_1
"Ayo pulang. Kamu harus di sidang. Apa saja yang kamu lakukan selama ini", kata sang ayah ke Farhan.
Ayah, bunda dan Farhan akhirnya pergi meninggalkan rumah Fariz dan Sava.
///
Fariz mengetuk kamar Sava lalu membukanya setelah Sava menyahutnya.
"Bersiaplah. Bunda mengajak makan malam", ucap Fariz lalu menutup pintu kamar Sava kembali.
Sekitar 30 menit Sava bersiap. Sava berdandan sangat cantik, ia bahkan mengenakan dress. Sava mengira mereka akan makan malam di luar.
Fariz berjalan mendahului Sava. Sava pun heran melihat Fariz berjalan menuju rumah utama.
"Kita ke rumah ayah dan bunda?", tanya Sava.
"Iya. Mereka mengundang makan malam", jawab Fariz.
"Jadi makan di rumah? Lalu kenapa menyuruhku untuk bersiap. Ku pikir kita mau makan di luar", ucap Sava.
"Aku akan kembali. Nanti aku menyusul. Terlalu berlebihan aku memakai ini", lanjutnya.
Fariz menarik tangan Sava.
"Begini saja. Kamu bagus mengenakan ini", ucap Fariz sambil terus berjalan sambil mengenggam tangan Sava.
Ayah, bunda, kami datang", teriak Fariz begitu mereka memasuki kediaman orang tuanya.
Sava menatap isi rumah mertuanya.
"Waahh. Besar dan mewah sekali", batin Sava takjum.
Fariz duduk santai di ruang keluarga. Sedangkan Sava masih berdiri, ia merasa canggung berada di rumah mertuanya.
Sava mendekati pajangan foto dinding besar, foto keluarga suaminya.
Sedang asyik memperhatikan foto tiba-tiba Farhan menghampiri mereka. Lalu Farhan mendekati Sava dan ikut menatap foto keluarganya.
"Itu foto 5 tahun lalu", ujar Farhan.
"Ini Fariz 5 tahun lalu? Gak salah kak? Bukan lebih dari 5 tahun? Fariz kecil banget. Sava kira itu sewaktu Fariz masih kelas 5 atau 6 SD", sahut Sava.
"Gak tahu tu anak makan apaan bisa segede itu. Sekarang saja kami sama tinggi. Padahal kami hampir beda 5 tahun", jelas Farhan.
"Ngomong-ngomong Fariz dekil banget kan di situ. Hahahah", kata Farhan sambil tertawa terbahak-bahak.
Sava ikut-ikutan tertawa.
"Ada yang lebih dekil lagi gak kak?", tanya Sava.
"Ada banyak. Nanti kakak kasih lihat", jawab Farhan.
"Aku tampan kan?", tanya Farhan tiba-tiba.
"Hah haha iya kak, di situ kakak lebih tampan darinya", jawab Sava sambil tertawa lirih.
"Kalau sekarang lebih tampan siapa? Aku atau Fariz?", ucap Farhan sambil membalik tubuh Sava menghadapnya.
Fariz menatap tajam ke arah Sava dan Farhan. Fariz mendengar percakapan mereka yang sedang mengolok-oloknya. Ia mengerutkan kening saat Farhan menanyakan siapa diantara mereka yang paling tampan.
Sava tertawa mendengar pertanyaan Farhan sambil iya menurunkan tangan Farhan di bahunya lalu Sava melirik ke arah Fariz.
__ADS_1
"Sedang membicarakan apa? Kenapa kalian tertawa keras sekali?", kata Ayah tiba-tiba.