The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 44


__ADS_3

Mereka tiba di restoran siap saji buka 24 jam.


"Kita makan di sini dulu. Keburu pingsan aku harus menunggu kamu masak nanti", ujar Fariz.


Sava mengikut saja. Ia tidak berani membantah.


Fariz sendiri yang memesan makanan mereka. Setelah makan Sava dan Fariz tidak langsung pergi. Hanya keheningan yang ada di meja mereka. Fariz asyik memainkan ponselnya. Sedangkan Sava hanya menatap ke arah luar jendela. Sava mulai bosan ia pun mulai membuka suaranya, "Kita kan sudah makan. Sebaiknya kita pulang saja. Aku ada janji. Kamu bisa memesan makanan kalau lapar".


"Makanan dari luar itu gak sehat. Kamu mau aku mati terus-terusan makan di luar? Kamu ingin cepat-cepat menjanda?", ucap Fariz.


"Ya sudah kalau gitu ayo cepat. Sepertinya mall sudah buka", ujar Sava sambil melirik jam tangannya.


///


Setelah sampai mall Fariz tidak berjalan ke arah supermarket. Mereka berhenti ke salah satu toko pakaian wanita.


"Untuk apa ke sini? Apa dia mau membeli pakaian untuk pacarnya? Haa dia membuang-buang waktuku saja", batin Sava.


Fariz mengambil beberapa pakaian lalu menyodorkannya ke Sava, "Coba".

__ADS_1


"Untuk apa lagi? Bentuk tubuhku jauh berbeda dengan pacarnya. Dia buta atau sedang menghinaku", batin Sava.


Sava menurut pasrah. Ia tidak ingin bertengkar di depan umum.


Sava mencoba satu persatu pakaiannya itu lalu memperlihatkan ke Fariz.


Setelah pakaian ketiga Fariz berdiri memanggil pegawai toko untuk membungkus semua pakaian yang dipilihnya. Serta baju yang Sava pakai dari rumah.


"Mbak kenapa dibawa semua? Pakaian saya tadi mana?", tanya Sava.


"Mas yang tadi nyuruh bungkus ini semua", jawab pegawai toko.


"Mana pakaianku tadi?", ucap Sava ke Fariz yang sedang berdiri di depan meja kasir.


"Aku gak mau. Aku mau pakaianku tadi", kata Sava dengan nada rendah seperti berbisik tapi penuh penekanan disetiap katanya.


"Kenapa membelikan ku pakaian? Aku gak mau kamu belikan apapun. Pasti ujung-ujungnya nanti kamu akan menghinaku", lanjutnya.


Tatapan mematikan Fariz berhasil membungkam mulut Sava.

__ADS_1


///


Sava sudah selesai memilih bahan makanan yang akan dimasaknya nanti.


"Sudah, ayo pulang", ucap Sava.


Fariz menatap jam tangannya lalu beralih ke troli belanja. "Cuma ini? Beli yang lain".


"Aku cuma butuh ini", balas Sava.


"Beli yang lain untuk stok", ucap Fariz lalu mengambil barang satu persatu.


Fariz masih asyik mengambili barang, Sava mengikuti Fariz sambil mendorong troli belanjanya. Sava melihat Fariz berbicara dengan orang lain. Tetapi karena jarak Fariz cukup jauh Sava tidak dapat melihat orang itu. Masih dalam keadaan mendorong troli Sava terus memperhatikan Fariz. Sava melihat Fariz dan temannya itu pergi meninggalkan supermarket bersama.


Sava kesal. Sava tidak berhasil mengejar Fariz. Fariz menghilang. Sekarang Sava harus membayar barang belanjaan itu dengan uangnya sendiri. Tidak mau rugi akhirnya Sava mengeluarkan barang yang diambil Fariz, ia hanya membawa barang yang dipilihnya ke kasir.


///


Di sisi lain Fariz asyik berjalan sambil mengambili barang dari raknya. "Aku akan terus mengulur waktu. Apa lagi barang yang diperlukan di rumah ya. Sebaiknya aku ke bagian cemilan. Di mana gadis itu. Astaga dia sudah tertinggal jauh", batin Fariz.

__ADS_1


Fariz ingin menghampiri istrinya itu tetapi tiba-tiba saja Fariz mematung melihat seseorang yang ada di hadapannya sekarang.


"Kak?".


__ADS_2