
Sava merasa risih dengan dandanannya saat ini. Ia mengambil selembar tisu. Saat akan menempelkan tisu itu ke wajahnya, tangan Sava ditahan oleh seseorang yang sudah bersusah payah mempoles wajahnya.
"Jangan dihapus. Begini sudah cantik," ucapnya.
"Ini terlalu berlebihan. Aku tidak sedang menghadiri acara. Orang-orang akan menatapku aneh," sahut Sava.
"Pacarmu sudah menunggu di bawah. Ayo ikut." Kedua orang itu menuntun Sava menuju lift dan mengantarkan Sava ke lobi mall.
Sava hendak masuk ke dalam mobil yang pintunya dibukakan oleh security. Kening Sava berkerut saat ia sadar pintu yang dibukakan adalah pintu penumpang belakang mobil. "Bukankah tadi Fariz mengendarai mobilnya sendiri?"
"Bukan ini mobil yang dikendarai Fariz tadi," gumam Sava. Ia beralih melihat siapa supir dari mobil itu. Dan benar saja, itu bukan Fariz. Sava menjauh dari mobil itu.
"Maaf, ini bukan jemputanku," ucap Sava.
"Monang Grup? Ini adalah mobil dari Monang Grup" ucap Security.
Sava menggelengkan kepalanya. Ia melangkah mundur. Tentu saja, Sava trauma akan kejadian ia diculik karena begitu saja mempercayai orang lain.
Karena Sava tak kunjung masuk mobil, sang supir turun dan menghampiri Sava. Belum sampai ia menghampiri Sava, Sava malah berlari menghindarinya.
Seketika terjadi kejar-kejaran antara Sava, supir, security dan juga salah seorang wanita yang merias Sava.
Sava panik karena orang-orang mengejarnya. Ia takut ini adalah rencana penculikan. Tak tahu harus berbuat apa, ia hanya bisa berteriak, "Tolong. Tolong aku."
Tak berapa lama, Sava dikelilingi banyak orang. Keempat orang yang mengejar Sava tadi ditatap tajam oleh pengunjung mall. Untung saja ada security di antara mereka. Kalau tidak, mungkin akan terjadi kegaduhan besar.
"Tenang ibu-ibu, ini kesalahpahaman," ucap security.
"Mereka ingin menculikku," sela Sava. Sava bersembunyi dibalik badan salah seorang ibu berbadan gemuk.
"Bukan, bukan. Nama anda Sava, kan? Ini adalah mobil jemputan yang diutus oleh suami anda, mereka dari Monang Grup," jelas security. Security mall itu terus menenangkan ibu-ibu itu agar tidak mengambil tindakan berlebihan.
"Di mana suami saya? Kenapa dia tidak memberitahu kalau akan dijemput supir? Lagi pula itu bukan mobil suami saya," kata Sava.
"Ya tuhan, nona. Monang Grup memiliki banyak mobil. Baiklah, aku akan menghubungi tuan Fariz," sahut supir.
__ADS_1
Supir yang mengaku dari Monang Grup itu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang yang katanya adalah Fariz. Karena terlihat ibu-ibu tadi terlihat semakin tidak sabaran.
"Hallo, tuan. Terjadi insiden menghebohkan di sini. Nona Sava tidak ingin saya jemput. Beliau mengatakan kalau saya akan menculiknya."
"Apa? Astaga, aku lupa dengan kejadian Sava pernah diculik. Dia pasti sulit untuk percaya dengan orang baru. Serahkan ponselnya ke dia."
(Supir menyodorkan ponselnya ke Sava, kemudian ia meraihnya)
"Hallo."
"Naiklah ke mobil itu. Dia adalah orang suruhanku."
"Kau siapa?"
"Apa? Kau tidak mengenali suamimu?"
"Bagaimana aku percaya kau suamiku?"
"Kau ingin bukti apa?"
"Terserah."
"Aku tidak percaya. Beritahu aku sesuatu yang membuktikan kau itu suamiku."
"Jangan salahkan aku mengatakan hal ini. Kau memiliki tahi lalat di dekat pusarmu."
(Sava membatu, lalu memutuskan panggilannya)
"Bagaimana? Sekarang anda percaya?" tanya supir.
Sava berdehem, lalu berjalan gontai menuju mobil. Supir itu pun menggelengkan kepalanya lalu menyusul Sava.
"Maaf atas kejadian ini," ucap security ke orang-orang yang mencoba melindungi Sava tadi. Untung saja mereka cepat bubar dan tidak memperbesar masalahnya.
Supir telah melajukan mobilnya menuju tempat tujuan yang diperintahkan Fariz. Sesekali ia melirik Sava melalui kaca sipion. Sedangkan, Sava terus memalingkan wajahnya menghadap luar jendela.
__ADS_1
"Bagaimana ia bisa menyebut tahi lalat? Apa tidak ada alasan lain dapat ku percaya? Menyebalkan. Aku malu sekali," gumam Sava. Ia tak henti mengutuk dirinya sendiri.
"Harusnya dia menyebut sesuatu seperti tanggal lahir atau pernikahan. Eh, tapi bisa saja penculik mencari tahunya. Hmm... Apa ya. Oh iya, apa saja yang kami lakukan dan ke mana saja kami. Fariz bodoh, hanya tahi lalat yang ada dipikirannya."
Sava sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri, tanpa terasa mobil yang ia tumpangi berhenti membuat ia kembali sadar.
"Ini di mana?" tanya Sava dalam hati.
Ia turun dari mobil dan menatap sekelilingnya. Seorang wanita berseragam nuansa hitam abu-abu menghampiri Sava. Ia mengenakan blazer dan rok span selutut. Di dada sebelah kirinya tersemat sebuah papan nama yang menandakan ia seorang manajer. "Selamat datang, Bu Sava. Silahkan lewat sini. Saya akan mengantar anda."
Sava menurut dan mengikutinya. Ia tak ingin membuat malu Fariz lagi. Ia berjalan sambil terus menatap sekelilingnya. "Sepertinya aku pernah melihat tempat ini," gumamnya.
Mereka memasuki lift dan wanita itu menekan tombol angka 17. Tak berapa lama lift berhenti, mereka pun ke luar dari lift dan menuju sebuah pintu. Sava merasa tak ada yang aneh, tak ada protes bahkan pertanyaan Sava ke wanita itu.
Pintu terbuka, Sava masih belum mengetahui tempat apa ini, pencahayaannya sangat kurang sehingga Sava tidak dapat mengerti ia sedang ada di mana.
Sava mengikuti langkah kaki wanita di depannya. Langkah kaki wanita itu berhenti, sontak Sava pun menghentikan langkahnya dan bertanya, "Ini di mana? Untuk apa aku di sini? Di mana Fariz?"
"Tugas saya hanya mengantarkan anda sampai di sini. Silahkan anda menunggu." Wanita itu pun meninggalkan Sava. Sava mengikuti arah wanita itu pergi sampai tak terlihat olehnya karena dihadang oleh sebuah pintu.
Sava mengalihkan pandangannya dari pintu ke arah lain sambil berjalan menelusuri tempat itu.
Tiba-tiba saja lampu padam.
Langkah kaki Sava terhenti. Jantung Sava berdegup kencang. Keringat bercucuran membasahi keningnya. Ia meremas gaunnya dan mencoba sebisa mungkin mengendalikan diri. Ia menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Dilihatnya ada cahaya dari sisi berlawanan darinya. Ia berjalan sampai menyentuh dinding.
"Ini di luar? Ruangan terbuka? Apa maksudnya ini semua? Kenapa aku di sini? Apa ini benar-benar rencana Fariz? Atau orang lain?" gumam Sava.
"Fariz. Fariz. Fariz kau di mana?" teriak Sava.
Bayangan saat ia diculik terbersit dipikirannya. Sava mendadak kena serangan panik. Ia menjerit hingga menangis sejadi-jadinya sampai tubuhnya terhuyung ke lantai.
"Tolong aku. Tolong," teriak Sava.
Ia menekuk kedua lututnya sambil kedua tangannya berada di telinga. Air matanya mengalir sangat deras.
__ADS_1
Ia semakin panik saat mendengar suara langkah kaki seseorang sedang berlari. Suara langkah kaki itu semakin dekat terdengar ditelinga Sava. Ia menutup mata dan telinga rapat-rapat.
"Aaak," teriak Sava saat seseorang menyentuh bahunya.