
"Kita mau ke mana?" tanya Sava.
"Ke mana saja. Kau hanya perlu mengikutiku. Bukankah kau sangat suka berjalan-jalan? Aku yakin kau tak akan tahan berada di rumah terus" jawab Fariz.
"Apa kita akan pulang?" balas Sava.
Pertanyaan Sava membuat Fariz menatapnya tajam.
"Baiklah, baiklah. Terserah kau saja. Tapi, aku ingatkan kita jangan lebih dari seminggu di sini. Kita akan masuk kuliah. Banyak yang harus di persiapkan," ucap Sava.
"Aku mengerti. Tapi, bisakah kau jangan menyebut-nyebut kata pulang dulu? Kau merusak mood ku," tegas Fariz.
Sava menunduk, mulutnya terbungkam oleh ucapan Fariz.
Fariz membawa Sava mengelilingi Kota Medan, mereka bahkan mengunjungi salah satu tempat yang pernah mereka singgahi. Tak ada protes sama sekali dari Sava. Ia menurut ke mana pun Fariz membawanya.
"Kau ingat tempat ini?" tanya Fariz.
Sava menganggukkan kepalanya.
"Di sini tempat pertama kali aku menggenggam tanganmu, tempat di mana kau membuatku mengkhawatirkanmu, ini adalah tempat dimulainya aku terus memperhatikanmu, di tempat ini kau membuatku jatuh hati padamu," ucap Fariz sambil menggenggam tangan Sava.
Jantung Sava bergedup kencang mendengar ungkapan perasaan Fariz. Terjawab sudah apa yang selama ini ingin Sava ketahui, yaitu perasaan Fariz saat mereka baru menikah. Matanya tak bergeming menatap Fariz. Lidahnya kelu untuk membalas ungkapan perasaan Fariz.
Fariz menautkan jarinya dengan jari Sava lalu ia berkata, "Kita sudah pernah mengunjunginya. Apa kamu masih ingin mengunjunginya sekali lagi denganku? Mau masuk?"
Sava mengangguk pelan. Mereka pun berjalan beriringan sambil berpegangan tangan.
Sebelumnya mereka memang berpegangan tangan saat kunjungan mereka pertama. Namun, kali ini rasanya sangat berbeda. Ada rasa cinta di dalamnya.
Langkah kaki yang begitu lambat seolah tak ingin cepat tiba dipenghujung tempat ini. Tangan yang saling bertautan itu tak pernah lepas. Mereka berjalan sambil saling mencuri kesempatan untuk menatap satu sama lain. Sesekali mereka menyelipkan perbincangan ringan didalamnya.
Tibalah mereka di penghujung tempat ini, yang mana dalam beberapa langkah lagi membuat mereka mereka berada di luar. Fariz meremas tangan Sava dalam genggamannya. Seakan tak ingin melepasnya. Sava merasakan hal yang sama. Ia tersenyum bahagia menatap Fariz. Ia mengisyaratkan bahwa masih ada waktu untuk mereka dapat melakukan hal ini lagi.
Fariz merasa suasana saat ini sangat mendukungnya. Ia menetapkan hatinya untuk bertindak lebih jauh.
"Ayo kita pergi," kata Fariz semangat.
Fariz menuntun Sava untuk masuk ke mobil, ia membukakan pintu untuk Sava lalu ia duduk di bangku kemudi. Sebelum melajutkan mobilnya ia menghubungi seseorang. Setelah Fariz memastikan sesuatu mereka akhirnya berangkat ke tempat tujuan selanjutnya.
__ADS_1
///
Sava menatap sekelilingnya, mencoba menebak ke mana tujuan mereka. Ia membaca tulisan yang ada di atas sebuah gedung di hadapannya dalam hati. Dan benar saja, mobil yang mereka kendarai masuk ke dalam gedung itu.
"Mall?" gumam Sava.
Ia masih diam tak berkata apapun ke Fariz. Diliriknya Fariz yang masih fokus dengan menyetirnya. Ia sebenarnya ingin tahu apa tujuan mereka datang ke mall.
Begitu mobil berhenti diparkiran mall, barulah keheningan dalam mobil itu pecah.
"Aku mau membeli beberapa pakaian. Aku kan tidak membawa pakaian kemarin," ucap Fariz.
"Bukankah kamu memiliki beberapa pakaian di rumah? Lagi pula kita juga membeli pakaian di pasar berastagi kemarin," sahut Sava.
"Pakaian di rumah itu sudah tidak muat. Aku kan jarang pulang ke Medan. Lalu, pakaian yang kita beli kemarin aku tidak menyukainya," balas Fariz.
"Huh, selalu saja menghambur-hamburkan uang," gumam Sava.
Akhirnya, mereka masuk ke dalam mall. Mereka berkeliling sambil mencari pakaian untuk Fariz. Fariz terus saja melirik jam tangannya dan juga ponselnya.
Sava merasa kesal. Dari sekian toko yang mereka kunjungi tak ada yang cocok dengan selera Fariz.
Fariz mulai melihat-lihat pakaian pria. Ia mengambil beberapa potong pakaian dan membawanya ke ruang ganti. Sedangkan Sava, ia hanya mengikutinya Fariz kemana pun, kecuali ruang ganti.
Tak berapa lama Fariz ke luar dari ruang ganti, sudah ada Sava dan pelayan toko tadi menunggu di luar. Fariz memberikan semua pakaian yang ada ditangannya ke pada pelayan toko dan meminta untuk membungkusnya. Setelah itu Fariz kembali memilih pakaian yang lain. Kali ini Fariz menuju ke deretan pakaian wanita. Ia mengambil sebuah pakaian lalu menempelkannya ke tubuh Sava. Hal itu dilakukannya berulang kali dengan berbagai pakaian.
"Tolong pilihkan pakaian yang cocok untuknya," pinta Fariz ke pelayan toko tadi yang sedari tadi melayani mereka.
Sava menatap bingung ke arah Fariz. "Siapa? Aku?" tanya Sava.
"Siapa lagi? Sudah sana ikut dengannya," jawab Fariz sambil mendorong pelan tubuh Sava untuk mengikuti sipelayan toko.
"Aku tidak butuh pakaian, Fariz. Untuk apa kau membelikanku pakaian," bantah Sava.
"Tidak apa-apa. Kita sudah jauh-jauh ke mari. Aku jarang sekali membelikanmu sesuatu. Menurutlah."
Sava menurut pasrah dari pada mereka harus bertengkar di depan umum. Ia pun mencoba pakaian yang diberikan ke padanya.
Setelah mencoba pakaian ketiga, ia mengajukan protes. "Kenapa semua pakaian yang kamu berikan itu gaun? Apa tidak ada pakaian biasa yang bisaku pakai sehari-hari? Seperti pakaian yang ku pakai tadi."
__ADS_1
"Kami diperintahkan untuk memberikan gaun ke anda," sahut pelayan toko.
"Perintah? Siapa?" sahut Sava.
"Ini dua pakaian lagi. Silahkan anda pilih mana yang akan anda kenakan," kata pelayan itu tanpa menjawab pertanyaan Sava. Karena sudah jelas itu atas perintah Fariz.
"Apa pria yang bersamaku tadi yang menyuruhmu? Suruh dia ke mari. Aku akan bicara dengannya," ucap Sava.
"Baiklah, saya akan menganggap pakaian yang anda pakai sekarang adalah pilihan anda." Pelayan itu mulai merapikan pakaian yang dikenakan Sava, yaitu gaun berwarna biru abu, bagian depan pendek selutut dan bagian belakang sedikit lebih panjang berlengan sabrina yang memperlihatkan bahu mulus Sava.
"Silahkan ke mari, ikut dengan saya."
"Di mana pria bersamaku tadi? Aku ingin mengganti pakaianku tadi," ucap Sava.
"Pacar anda akan datang sebentar lagi. Anda bisa menunggunya di sana," jawab pelayan toko sambil menunjuk ke arah sebuah ruangan.
Sava berjalan perlahan dan terus mencari-cari sosok Fariz. Ia enggan untuk masuk ke dalam ruangan itu. Diintipnya ruangan apa itu sebelum memutuskan untuk masuk.
Ada dua orang wanita di depan cermin sedang berdiri menghadap pintu. Ruangan itu seperti ruang tunggu. Terdapat satu set sofa dan sebuah meja rias.
Setelah memastikan ruangan itu aman dan tidak mencurigakan, ia pun melangkah masuk. Sava disambut hangat oleh dua wanita tadi.
"Permisi, katanya saya menunggu suami saya di sini," kata Sava meminta izin.
"Silahkan duduk di sini," sahut salah seorang dari mereka menuntun Sava untuk duduk di depan meja rias.
"Sa-saya mau diapain?" tanya Sava heran.
"Ini adalah salah satu bentuk pelayanan kami karena adik telah membeli gaun mahal dari toko kami. Jadi, kami akan merias adik," jelasnya.
"Tidak perlu. Aku tidak ingin dirias," sahut Sava.
"Maaf ini sudah prosedur. Adik sudah masuk ke dalam ruangan ini. Adik harus dirias terlebih dahulu. Kalau menolak kami bisa dipecat," jelas mereka dengan raut wajah memelas.
Tak tega membuat orang kehilangan pekerjaan Sava pun menurut saja apa yang mereka katakan. Salah seorang merias wajah Sava dan satu lainnya menata rambut Sava.
Memakan waktu 1 jam untuk merias Sava. Setelah selesai Sava merasa takjub akan polesan make up di wajahnya. Ia terlihat sangat cantik dan dewasa.
"Apa ini tidak berlebihan? Aku tidak sedang ingin menghadiri acara resmi. Apa kata Fariz melihatku seperti ini. Dia di mana sih sampai sekarang belum datang juga," gumam Sava.
__ADS_1