The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 108


__ADS_3

"Sakit?", tanya Sava.


"Tentu saja. Kenapa menarik lenganku seperti itu?", sahut Fariz.


"Kamu terluka. Makanya buka bajumu", balas Sava.


Fariz akhirnya tersadar bahwa ia juga terluka, lalu ia tertawa sudah memikirkan hal yang tidak-tidak.


"Kamu terluka tapi kamu tertawa?", tanya Sava heran.


Fariz berdehem.


Sava kembali menarik lengan Fariz.


"Akk. Sakit", rintih Fariz.


"Kamu gak mau buka baju? Aku panggil dokter saja ya", ucap Sava.


"Gak perlu. Aku gak apa-apa", balas Fariz.


Sava menarik lengan Fariz lalu berkata, "Gak apa-apa?".


"Iya. Iya. Sakit", jawab Fariz.


"Buka", ujar Sava.


Fariz memunggungi Sava lalu membuka kemejanya.


"Ah. Sudah lebam begini", ucap Sava memperhatikan bahu Fariz.


"Aku panggil dokter", kata Sava berlari ke arah pintu.


"Suster, tolong panggil dokter ya. Ada yang cidera di bahu", ucap Sava ke salah satu perawat yang lewat.


Tak berapa lama muncullah dokter wanita yang menangani Sava tadi.


"Ah dokternya wanita. Aku lupa ini dokter yang menanganiku tadi", batin Sava.


Sava mendekat ke Fariz lalu menutupi tubuh Fariz hingga hanya bahu kirinya yang terlihat. Lalu dokter memeriksa luka Fariz setelah itu membuka baju Fariz seluruhnya.


"Ke. Kenapa di buka? Hanya bahunya saja yang terluka", ucap Sava.


"Kita gak tahu apa hanya terluka dibagian bahu saja. Jadi pasien harus membuka baju agar saya dapat mengobatinya", jelas sang dokter.


Para perawat yang mendampingi berbisik-bisik. Sava semakin kesal.


"Suami saya gak apa-apa kan dok?", tanya Sava.


"Apa lukanya parah?", lanjut Sava.


Fariz tersenyum melihat tingkah Sava sejak tadi.


"Suami?", tanya salah satu perawat.


"Iya. Gak percaya?", sahut Sava.


Perawat itu saling menatap ke perawat lainnya.


"Sayang, sepertinya kita harus bawa buku nikah ke mana-mana", ucap Sava sambil memeluk pinggang Fariz.

__ADS_1


Fariz tersenyum menahan tawa.


"Sekarang kamu rasain yang apa aku rasakan sewaktu dituduh anak alay", batin Fariz.


Seketika hening.


Sava mencubit perut Fariz. Lalu Sava memberi isyarat ke Fariz.


"Sudah mengobati saya dok? Saya gak apa-apa kan?", ucap Fariz.


"Eh iya. Ini harus di gips. Jangan menggunakan tangan kiri kamu untuk sementara", jelas dokter.


Wajah Sava berubah cemas.


"Sampai kapan dok? Apa parah?", tanya Sava.


"3 hari akan kita lihat hasilnya. Kita akan cek setelah memakai gips selama 3 hari", jawab sang dokter.


Setelah pengobatan selesai, Sava dan Fariz kembali hanya tinggal berdua.


"Kamu cemburu?", ujar Fariz.


Wajah Sava memerah. Ia kembali ke tempat tidurnya.


Fariz tersenyum lalu mengikuti Sava.


"Kamu cemburu kan?", tanya Fariz membalik badan Sava menghadapnya.


"Hati-hati dengan jarum infusku", sahut Sava.


Fariz naik ke tempat tidur Sava lalu menindihnya. Sava dan Fariz saling bertatapan dengan Fariz di atas Sava.


Ceklek. Pintu terbuka.


"Fariz", teriak bunda Fariz.


Fariz dan Sava cepat-cepat memperbaiki posisi untuk duduk. Bunda Fariz menjewer telinga Fariz.


"Aduh. Aduh. Bunda sakit", rintih Fariz.


"Kamu ngapain hah? Ini di rumah sakit. Sava itu pasien", kata bundanya memarahi Fariz.


"Kamu apa kabar nak? Bagaimana bisa kamu masuk rumah sakit begini", ucap mama Sava.


"Pasti ulah Fariz lagi. Kamu bisa gak sih jagain Sava?", ucap bunda Fariz.


"Bunda jangan teriak-teriak. Ini di rumah sakit", ucap Fariz.


"Jadi kamu masih sadar ini di rumah sakit?", tanya bundanya.


Fariz terdiam sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Sava kamu kenapa nak? Siapa yang melalukannya padamu? Dia harus dihukum", ucap ibu mertua Sava.


"Sava gak apa-apa bun. Cuma luka lecet saja", jawab Sava.


"Ini Fariz kenapa di gips? Kamu juga ikut terluka? Bagaimana ceritanya kalian bisa terluka begini", sahut ibu mertua Fariz.


Fariz menatap ke arah Sava. Sebenarnya ia juga ingin tahu bagaimana Sava diculik. Dan apa yang terjadi dengannya.

__ADS_1


"Sava diculik", ucap Sava.


"Siapa penculiknya? Sudah ditangkap?", tanya bunda Fariz.


"Sudah bun. Penculiknya itu merupakan penggemar berat Amel", sahut Fariz.


"Kamu yakin itu penggemarnya? Bukan suruhannya?", tanya bunda Fariz.


"Iya sudah kami selidiki. Amel bunuh diri jadi mereka mau balas dendam ke Sava", jelas Fariz.


Raut wajah Sava berubah takut.


"Jadi. Tadi itu mereka mau membuatku merasakan apa yang dirasakan Amel?", gumam Sava dengan berdera air mata.


"Sava kenapa? Diapain mereka? Jangan sedih lagi ya. Mereka sudah ditangkap", ucap bunda Fariz.


Fariz menghapus air mata Sava. Sava malah memeluk Fariz, lalu membenamkan wajahnya di dada Fariz. Fariz kesusahan menahan tubuh Sava karena gips di tangan kirinya.


"Sava kenapa nak?", tanya mama Sava.


Sava menggeleng lalu melonggarkan pelukannya.


"Sava di sekap. Mereka sebenarnya mau meninggalkan Sava. Mengurung Sava di sana. Lalu tiba-tiba ada yang menelepon. Setelah itu mereka marah-marah. Mereka menampar dan menyeret Sava lalu mereka mengikat Sava sampai menutup mata Sava. Sampai akhirnya Sava merasa seperti di cekik", jelas Sava.


"Astaga. Sungguh kejam mereka", sahut bunda Fariz.


Mama Sava menangis mendengar anaknya disiksa.


"Sudah bu. Sava sekarang sudah aman kan. Kamu yang tenang. Yang sabar. Jangan malah membuat Sava khawatir", lirih bunda Fariz menenangkan mama Sava.


"Lalu bagaimana? Kenapa bisa Fariz ikut-ikutan terluka?", tanya mama Sava.


"Begitu dapat kabar dari Deshi, Fariz langsung mencari Sava. Sava di bawa ke rumah tua di tengah hutan. Saat kami menemukan Sava, tubuhnya sudah tergantung. Penculiknya melemparkan kursi kayu ke arah Fariz dan mengenai bahu kiri Fariz. Karena terlalu ingin menyelamatkan Sava jadi Fariz tidak memperdulikan sipenculik", jelas Fariz.


"Jadi mereka mau membuat Sava seolah gantung diri begitu? Mereka mau membuat Sava merasakan yang dirasakan Amel? Benar begitu?", tanya bunda Fariz.


"Iya sepertinya begitu", jawab Fariz.


"Kurang ajar. Hamdan. Hamdan. Panggil pengacara. Penculik itu harus dihukum seberat-beratnya", ucap bunda Fariz lalu meninggalkan ruang rawat inap Sava.


"Apa kata dokter nak?", tanya mama Sava.


"Sava hanya luka lecet dan harus rajin memberi salep ma. Tapi Fariz akan panggil psikolog. Fariz takut Sava menjadi trauma", jawab Fariz.


"Tolong jaga Sava ya nak", ucap ibu mertua Fariz.


"Tentu. Mama tenang saja. Itu kewajiban Fariz", jawab Fariz.


Sava masih terus memeluk Fariz sampai akhirnya tertidur dalam pelukan Fariz.


"Ehm. Ma. Sava ketiduran. Bisa bantu Fariz? Fariz kesusahan karena tangan Fariz", ucap Fariz malu-malu.


"Sava mau menempel terus ya sama kamu. Gak malu di depan orang tua dan mertuanya. Bisa-bisa direpotin terus ini nak Fariz", ucap ibu mertua Fariz sambil tertawa lirih.


"Gak apa-apa asal Sava terus disisi Fariz", kata Fariz tersenyum melihat wajah polos Sava yang sudah terlelap.


************************************


Jangan lupa votenya

__ADS_1


🙏😊


__ADS_2