
"Ini bukan arah pulang. Kita mau ke mana?", tanya Sava.
"Ke rumah temanmu untuk mengambil ponselmu", jawab Fariz.
"Hm. Padahal kami sudah berjanji bertemu sabtu ini", ucap Sava.
"Itu terlalu lama. Kita harus mengambilnya sekarang", balas Fariz.
"Kamu gak takut dengan Tika?", tanya Sava.
"Kenapa aku harus takut", jawab Fariz santai.
"Oke. Terserah kamu. Aku sudah peringatkan", ucap Sava.
Akhirnya mereka sampai di rumah Tika.
"Tika. Tika", panggil Sava.
"Sava. Ada apa?", sahut Tika.
"Aku mau mengambil ponselku", jawab Sava.
"Bukannya kita berjanji bertemu sabtu nanti?", tanya Tika.
"Iya. Tapi Fariz sibuk menyuruhku memintanya segera", kata Sava sambil melirik ke arah mobil Fariz.
"Oh jadi kamu ke sini bersama Fariz?", balas Tika.
Sava mengangguk.
Tika mengambil ponsel Sava lalu menghampiri mobil Fariz.
"Kapan dia pulang?", tanya Tika ke Sava sambil menunjuk Fariz dengan dagunya.
"Beberapa hari yang lalu", jawab Sava.
"Huh. Dia membiarkan Sava sendiri terlalu lama. Awas aku kerjain", batin Tika.
"Kerjaanmu bagaimana?", tanya Tika lagi.
"Hmm lancar. Begitulah", jawab Sava santai.
"Apa ada cowok ganteng di sana? Ada yang gangguin kamu gak? Oh iya. Al bagaimana? Apa kalian bertemu? Bagaimana kabarnya? Bagaimana kalau ajak Al bertemu sabtu nanti", ucap Tika.
Sava berdiri membelakangi Fariz. Semula Sava berdiri menyender ke mobil.
"Apa lagi ini?", ucap Sava dengan gerakan bibir tanpa mengeluarkan suara.
"Al sudah tahu kan kamu kerja di perusahaannya. Ajak dia ya sabtu nanti", ucap Tika.
"Ini ponselmu. Aku masuk ya. Sampai ketemu sabtu", kata Tika lalu masuk ke rumahnya.
Ekspresi wajah Fariz datar. Ia tidak peduli dengan Tika.
Sepanjang perjalan pulang ke rumah tidak ada suara. Hanya ada keheningan.
Di rumah Fariz juga mendiamkan Sava.
"Bersikap dingin lagi", batin Sava sambil menghela napas kasar.
Fariz dan Sava tidur saling memunggungi. Tetapi tidur Fariz tidak tenang. Fariz terus mengganti posisi tidurnya. Sampai akhirnya Fariz tak tahan ia membalik tubuh Sava menghadapnya.
"Kenapa kamu diam?", ujar Fariz.
Sava mengerutkan kening bingung dengan pertanyaan Fariz.
"Diam? Bukannya kamu yang kembali bersikap dingin?", balas Sava.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak kasih tahu aku kalau kamu ketemu Al?", tanya Fariz.
Sava diam. Dalam hati Sava berkata, "Apa dia mulai cemburu?".
"Serahkan surat pengunduran dirimu. Kamu gak boleh kerja lagi", ucap Fariz.
Sava menatap tajam Fariz.
"Kalau kamu bosan di rumah kamu bisa ikut aku ke kantor", lanjut Fariz.
"Kamu cemburu?", tanya Sava.
"Kamu masih bertanya apa aku cemburu?", balas Fariz.
Sava mengangguk santai.
"Jangan menguji kesabaranku Sava. Aku sudah katakan padamu aku gak suka ada pria lain di sekitarmu", ucap Fariz.
"Kamu hanya perlu menjawab ya atau tidak. Kenapa marah-marah", ucap Sava.
Fariz menarik tubuh Sava. Memeluknya erat sambil membenamkan wajahnya di bahu Sava.
"Kamu kenapa?", tanya Sava heran.
Fariz tidak menjawab ia terus memeluk Sava.
Sava bingung harus berbuat apa ia hanya menepuk-nepuk punggung Fariz sampai akhirnya tertidur.
///
Sava kesulitan untuk bangun. Fariz mendekap tubuhnya sangat erat.
"Fariz", panggil Sava.
"Fariz, lepaskan aku", ucap Sava.
"Aku bisa telat masuk kerja nanti. Minggirlah", kata Sava sambil terus berusaha melepaskan diri.
"Gak boleh. Kita tidur saja seharian", balas Fariz.
"Aku bisa dipecat", ucap Sava.
"Bagus kalau begitu", jawab Fariz.
"Fariz", teriak Sava.
"Kamu gak boleh pergi kerja. Kamu harus berhenti", balas Fariz.
"Kamu ini kenapa sih. Bukannya kita sepakat sampai masuk kuliah nanti", ucap Sava.
"Itu karena kamu melanggarnya. Kamu gak kasih tahu aku kalau kamu bertemu Al. Kamu bahkan akan bertemu dengannya besok", jelas Fariz.
"Aku belum pernah bertemu Al. Serius. Dia belum tahu aku kerja di perusahaan yang sama dengannya", ucap Sava.
"Tapi kata sicerewet itu", sahut Fariz.
"Kamu gak percaya padaku?", tanya Sava.
Fariz diam.
"Kamu gak percaya padaku Fariz?", tanya Sava lagi.
"Iya iya aku percaya", jawab Fariz.
"Kalau begitu lepaskan aku", balas Sava.
"Tapi ingat pesanku. Kabari aku kalau kamu bertemu Al dan selalu aktifkan ponselmu", ujar Fariz.
__ADS_1
"Iya", jawab Sava.
"Satu lagi. Biarkan Deshi menjagamu", ucap Fariz.
"Gak bisa. Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa sendiri", jawab Sava.
"Hanya mengantar dan menjemputmu", balas Fariz.
"Huh. Baiklah", kata Sava.
///
Sava menuruti perintah Fariz.
"Deshi turunkan aku di samping perusahaan saja. Nanti kita bertemu di sini saja nanti saat aku pulang. Aku gak mau orang kantor melihatku diantar jemput seperti ini", ujar Sava.
"Baik non", jawab Deshi.
Sava sudah masuk ke perusahaan tempat ia bekerja. Dan bekerja seperti biasa.
Saat jam pulang kerja tiba ada yang mencegah Sava di lobi.
"Sava?", tanya seseorang.
"Anda siapa?", balas Sava.
"Saya disuruh menjemput anda nona. Silahkan ikut saya", jawabnya.
"Siapa? Fariz?", tanya Sava.
Orang tak dikenal itu tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Kenapa lagi dia? Sekarang menyuruh orang lain menjemputku", batin Sava.
Sava mengikut saja dengan arahan orang yang baru dijumpainya.
Mobil melaju tetapi Sava tidak tahu arah tujuan mobil ini membawanya.
"Kita mau ke mana?", tanya Sava heran.
"Anda akan tahu nanti", jawab orang tak dikenal.
"Hmm mau ke mana ini?", batin Sava sambil memperhatikan jalanan.
Terbersit dipikiran Sava pembicaraan Fariz dengan bundanya sewaktu ia sakit. Sava senyum-senyum mengingatnya.
"Apa ini kejutan?", batin Sava.
1 jam kemudian.
"Kita mau ke mana sih? Ke luar kota?", tanya Sava.
Orang tak dikenal yang sedang menyupir tetap diam tidak menjawab Sava.
Tiba-tiba ponsel Sava berbunyi.
"Dhesi?", gumam Sava.
"Hallo nona di mana? Saya sudah menunggu lebih dari 1 jam di tempat tadi. Shinee Frameworks juga mulai terlihat sepi. Apa anda sedang lembur?"
"Fariz gak mengabarimu? Orang suruhannya menjemputku"
Tut tut tut tut tut
*************************************
Selamat Tahun Baru 😊😊😊
__ADS_1