The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 76


__ADS_3

1 jam mereka belajar.


Walau mereka belajar bersama tetapi mereka sebenarnya belajar masing-masing.


Fariz mencuri-curi pandang ke Sava yang sedang fokus belajar.


30 menit berlalu.


"Ekhem. Kamu gak bosan?", ujar Fariz.


"Tadi katamu belajar sendiri membosankan. Sekarang belajar bersama juga membosankan. Mau mu bagaimana?", balas Sava.


"Apa saja asalkan menghilangkan rasa bosanku", jawab Fariz.


"Terserah kamu mau ngapain. Jangan ganggu aku. Aku mau belajar", sahut Sava lalu berdiri hendak masuk ke kamarnya.


"Gadis membosankan", lirih Fariz tetapi dapat di dengar Sava.


"Iya aku membosankan", sahut Sava.


Fariz menahan tangan Sava lalu berkata, "Temani aku bermain".


"Bermain? Tadi aku mengajak ke taman kamu gak mau", balas Sava.


"Aku gak mau ke taman. Itu kan mau mu saja yang mau ke taman", ucap Fariz dengan menaikkan sedikit nada bicaranya.


"Jadi kamu mau apa?", tanya Sava.


"Bermain PS?", ucap Fariz tersenyum nyengir.


"Aku mana bisa bermain PS", sahut Sava.


"Aku ajarin", ujar Fariz.


"Tapi hanya sebentar saja", balas Sava.


Fariz menuntun Sava ke kamarnya.


"Cara bermainnya begini", kata Fariz memberi arahan.


Permainan di mulai. Tapi Sava masih tidak bisa bermain dengan benar.


"Kamu bisa bermain gak sih?", teriak Fariz emosi karena tim mereka kalah.


"Aku memang gak bisa main. Siapa di sini yang memaksaku untuk bermain ha?", balas Sava dengan menaikkan nada suaranya tak kalah dari Fariz


Akhirnya Fariz mengajari Sava dengan cara ia berada di belakang Sava lalu ia ikut memegang stik yang otomatis tangan Fariz menyentuh tangan Sava, serta seola ia sedang memeluk Sava dari belakang.


Tubuh Sava menegang dengan tindakan Fariz. Ia bahkan tidak bisa berkonsentrasi.


"Jantungku berdebar kencang. Tenanglah kau wahai jantung. Jangan sampai dia mendengar suara detak jantungku", batin Sava menenangkan diri. Sampai-sampai Sava beberapa kali menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan.


"Kamu kenapa? Tidur?", kata Fariz melihat Sava menutup matanya.

__ADS_1


Tak sanggup untuk membuka mata karena rasa malu yang tinggi Sava pun menganggukkan kepalanya.


"Katamu mau menemani ku bermain", ujar Fariz.


"Aku gak ngerti. Jadi aku mengantuk. Kamu bermain sendiri saja", sahut Sava.


"Kalau begitu temani aku. Kamu bisa belajar", ucap Fariz.


"Begitu lebih baik", kata Sava.


Fariz asyik bermain PS sementara Sava sudah tertidur diatas bukunya.


Puas bermain game Fariz membangunkan Sava.


"Bangun. Hei. Sava. Bangun", lirih Fariz.


"Jangan salahkan aku gak membangunkanmu", gumam Fariz sambil tersenyum licik.


Fariz membereskan buku-buku Sava lalu membenarkan posisi tidurnya. Setelah itu ia ke luar mengisi perutnya yang sudah terasa lapar.


Fariz kembali ke kamarnya dan melihat posisi Sava tidak seperti saat ia meninggalkannya. Sava berada di tengah ranjang Fariz.


"Aku bingung mau tidur di mana. Dia tidur lasak juga. Terpaksa aku harus tidur merapat dengannya. Terpaksa. Ya aku terpaksa", kata Fariz dalam hati sambil menganggukkan kepalanya.


"Imut juga ya lagi tidur gini", gumam Fariz sambil menoel-noel pipi Sava.


Tiba-tiba ia menarik tubuh Sava dalam pelukannya.


"Sepertinya aku mulai kecanduan menggodanya. Apa aku mulai menyukainya? Aku harus yakinkan perasaanku", gumam Fariz di sela-sela rasa ngantuk yang melandanya.


Hujan turun sangat deras di sertai angin kencang sampai-sampai terjadi memadaman listrik.


Dini hari Sava terbangun dan merasa ada yang menimpa tubuhnya dalam kegelapan.


"Di mana ini? Kenapa gelap? Aku gak bisa bangun. Seperti ada yang menimpah tubuhku. Apa aku sudah mati? Ya tuhan maaf kan Sava. Sava punya banyak dosa. Sava bukan istri yang baik. Sava belum berbakti ke suami Sava", kata Sava dalam hati sampai-sampai air matanya menetes. Dalam keadaan menutup mata Sava terus menangis seperti sedang mengigau.


Fariz terbangun mendengar tangisan Sava.


"Sava. Hei. Bangun", ucap Fariz sambil menepuk-nepuk pipi Sava.


Dengan bantuan cahaya kilat Sava dapat melihat wajah Fariz dengan jelas. Betapa senang dan leganya ia menyadari bahwa ia masih hidup.


Dengan sigap Sava memeluk Fariz. Fariz kebingungan dengan sikap Sava. Ia mambalas memeluk Sava


"Kamu bermimpi buruk?", kata Fariz sambil mengelus-elus rambut Sava untuk menenangkannya.


Sava hanya menganggukkan kepalanya dalam pelukan Fariz.


Akhirnya Sava kembali terlelap karena elusan Fariz di rambutnya.


Saat pagi hari Sava baru sadar apa yang terjadi semalam.


Ia tidak sedang bermimpi. Tetapi tubuh Farizlah yang menimpanya. Ia sadar karena saat ini ia dan Fariz berpelukan. Tubuh Fariz menimpanya. Persis seperti yang di rasakannya tadi malam.

__ADS_1


Karena kesal Sava melepaskan tubuhnya dari dekapan Fariz dengan kasar sampai Fariz terbangun.


"Kau. Kau memelukku lagi? Aku tahu pasti kau mengambil kesempatan dalam kesempitan saat aku tertidur. Berengsek", kata Sava memukul tubuh Fariz dengan bantal.


"Kamu gak ingat? Siapa yang tengah malam menangis lalu memelukku tiba-tiba? Kamu yang memelukku lebih dulu", sahut Fariz.


"Itu karenamu. Kau berengsek. Keluar dari sini", ujar Sava.


"Hm? Ke luar? Ini kamarku", balas Fariz sambil tersenyum licik.


Sava menatap sekelilingnya dan sadar bahwa ia kemarin menemani Fariz bermain PS sedangkan ia belajar.


"Ah aku pasti tertidur", batin Sava.


"Kenapa kamu gak membangunkanku?", tanya Sava gugup merasa malu karena dia tertidurlah akar dalam masalah ini .


"Aku sudah membangunkanmu tapi kamu gak bangun-bangun. Ya sudah. Aku biarkan saja kamu tidur di sini", jawab Fariz.


"Kenapa gak memindahkanku ke kamarku?", balas Sava.


"Siapa yang selalu mengunci kamarnya? Bahkan tidak memperbolehkan ku memasukinya?", teriak Fariz menyindir Sava.


Sava hanya berdehem malu lalu ia berdiri.


"Dan lagi ya. Kamu pikir kamu itu gak berat? Mana sanggup aku menggendongmu. Tubuhmu saja yang mungil tapi saat diangkat", kalimat Fariz terputus karena Sava meleparkan bantal ke Fariz lalu meninggalkannya.


"Kalau kamu punya waktu berdietlah", teriak Fariz sambil tertawa terbahak-bahak.


Setelah itu Fariz menghempaskan tubuhnya kembali ke ranjangnya.


"Kenapa lagi dia? Haa", gumam Fariz menghembuskan napas kasar.


******************************************


***Visual Pemain The Beauty Of Marriage


Farhan as Yoo Yeong Seok***



Yoo Yeong Seok mirip banget sama Sehun. Jadi cocok dibuat jadi kakak adik. Netizen korea juga sudah mengakuinya.


Mirip gak?



Al as Song Kang



Cakep kan? 😁


Beberapa drama yang author tonton dia itu orangnya ramah. Ramah banget jadi ada aura play boy nya. Diam saja terlihat ramah, beda dengan Sehun. Sehun kalau diam tatapannya mematikan. Di balik senyum manisnya tersimpan rahasia besar. (Maafkan kehaluan author)

__ADS_1


__ADS_2