
Akhirnya Fariz pulang saat jam menunjukkan hampir pukul 8 malam. Tentu saja itu jam malam yang ditetapkan ayahnya. Mungkin kalau tidak ada jam malam ia akan pulang larut atau bahkan tidak pulang.
Sava mendekati Fariz untuk menyambutnya kepulangan suaminya itu dan berkata, "Kamu sudah makan malam?".
"Sudah", jawab Fariz singkat lalu masuk ke kamarnya.
"Sikapnya kembali. Pria es yang ku kenal menunjukkan sikapnya. Harus aku apakan makanan ini. Sayang sekali. Harusnya aku tadi tidak memasak lauk tambahan cukup memanasi lauk saja", lirih Sava.
///
Seperti biasa Sava menunggu Fariz untuk sarapan. Setelah ia selesai sarapan bi Ijah menghampiri meja makan dengan sebuah kotak bekal di tangannya, "Ini bekalnya nona".
"Terimakasih banyak bi. Aku berangkat", ucap Sava.
///
Beberapa hari kemudian.
Sava terus melakukan aktivitasnya seperti yang telah ditentukan. Dan tidak lupa ia selalu membawa bekal ke sekolah. Hubungannya dengan Fariz tidak ada kemajuan. Tidak ada saling tegur sapa. Saat di rumah keduanya saling mengurung diri di kamar masing-masing.
"Kusut banget muka lo", ucap Shadiq.
"Sava gak pernah ke kantin lagi. Chat gue juga di balas singkat sama dia", ujar Kenzie.
__ADS_1
"Dia nolak lo artinya", ucap Shadiq.
Shadiq kesal ia menendang kaki Shadiq yang berada di bawah meja.
"Apa gue samperin ke kelasnya ya? Bawa makanan. Dia itu gak lapar apa diet atau gak punya uang sih. Gak tega gue liat dia kurusan", ucap Kenzie.
"Pantas dia selalu bawa bekal. Sepertinya memang mau menghindar dari Kenzie. Bagus bagus", batin Fariz.
Fariz senyum lalu menganggung-anggukkan kepalanya.
"Fariz? Lo kok senyum-senyum? Senang banget gue menderita? Awas ya lo pada kalau gue berhasil dapatin Sava", ucap Kenzie kesal.
Fariz dan Shadiq tertawa lirih.
"Eh gue liat mobil yang biasa ngantar lo setiap pulang sekolah dan juga ada setiap pagi pas mau masuk sekolah. Lo masih dikawal? Gue kira lo sudah bebas bisa bawa mobil sendiri. Tapi gue heran setiap pagi ada tapi lo nya belum ada di sekolah", ucap Shadiq.
"Gue juga mikir gitu tapi semalam gue pulang sorean. Dan mobilnya masih di depan gerbang", ucap Shadiq.
"Salah lihat gak? Ngapain sih ngurusin itu. Yang pentingkan Fariz mulai bebas walau di kawal jarak jauh", ucap Kenzie.
Fariz mumutar otaknya untuk memikirkan sebuah rencana agar tidak dicurigai teman-temannya.
///
__ADS_1
"Gue gak mau tau pokoknya nanti lo harus ikut gue. Malu tau gue molorin janji mulu", ucap Rania.
"Yasudah kalau gitu. Tapi kalau gak cocok gue pulang ya", balas Sava.
"Eh bukannya lo kerja nanti?", ucap Tika.
"Janjian di Kafe Sava saja jadi Sava bisa sambil kerja", lanjut Tika.
"Hah? Eh jangan. Sebenarnya gue sudah gak kerja di kafe", ucap Sava.
"Hah? Kenapa? Jadi lo kerja apa sekarang?", tanya Kanaya.
"Gue kebanyakan cuti. Sekarang hanya pekerja lepas saja", jawab Sava.
"Oiya hutang keluarga lo gimana? Sudah lewat 1 bulan kan?", tanya Kanaya.
"Hah itu. Itu sudah lunas. Sewaktu aku pulang kampung", jawab Sava gugup.
"Oh jadi saudaramu yang di kampung membantu", ucap Tika.
Sava mengganggukkan kepalanya.
"Syukurlah kalau begitu", ucap Kanaya.
__ADS_1
"Ra atur jadwalnya sabtu. Bawa nih anak jalan-jalan. Kasihan kerja keras mulu. Tuh lihat badannya kurusan", ucap Tika.
"Oke siap. Jangan lupa ya Sava sabtu", ucap Rania.