The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 70


__ADS_3

Flashback


Setelah Fariz membujuk Sava untuk tidak mengikuti workshop, ia meminta Hamdan menemuinya.


"Saya mendapatkan informasi bahwa tuan Alan datang ke Indonesia untuk menjenguk nyonya Duma. Tuan Alan tinggal di Hotel dekat Rumah Sakit. Saya bertanya apakah tuan Alan pernah datang menjenguk nyonya Duma ke pengawal yang menjaga nyonya Duma, mereka mengatakan ada seseorang yang ingin menjenguk tetapi tidak pernah datang setelah pengawal itu mengatakan harus izin ke tuan besar terlebih dahulu. Jadi saya memeriksa CCTV dekat ruangan nyonya Duma. Ternyata tuan Alan beberapa kali datang ke rumah sakit", jelas Hamdan.


"Berarti mereka telah mendapat kabar bahwa nenek sedang sakit. Itu artinya mereka juga mengetahui kabar pernikahanku", ucap Fariz.


"Menurut saya juga begitu tuan", sahut Hamdan.


"Berengsek. Dia sengaja mendekati Sava", gumam Fariz.


"Cari tahu perusahaan yang mengadakan acara ini", perintah Fariz ke Hamdan.


"Pria itu bekerja di perusahaan itu. Jadi selidiki lebih dalam", lanjutnya.


"Baik tuan", jawab Hamdan.


"Hmm tuan. Perusahaan kita juga berpartisipasi dalam acara ini. Saya bahkan diutus untuk mengawasi acara", jelas Hamdan.


"Hah? Bagaimana bisa?", tanya Fariz.


"Karena tuan tidak mau saya ada di dekat tuan, jadi pekerjaan saya seperti pekerja lepas. Di saat perusahaan membutuhkan saya harus ada. Saat weekend saja saya harus bekerja", jelas Hamdan dengan nada sedikit memelas.


"Bukan itu yang aku tanya. Bagaimana bisa kita berpartisipasi dengan acara itu", balas Fariz.


"Perusahaan kita menjadi salah satu sponsor acara", jelas Hamdan cuek.


Fariz mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum licik.


"Aku saja yang akan menggantikan mu. Kamu bisa berlibur", ucap Fariz.


"Tapi tuan itu tugas saya", sahut Hamdan.


"Saya akan bicara ke ayah nanti", ujar Fariz.


*Fariz telah mendapat izin ayahnya.


Fariz bermaksud mengajak Sava untuk pergi bersama ke lokasi workshop. Tapi ternyata Sava berangkat bersama rombongan. Jadi Fariz hanya berangkat bersama Sava ke sekolah.


Penginapan Fariz tidak jauh dari lokasi workshop. Fariz terus memantau keberadaan Sava melalui ponselnya. Saat lokasi Sava menjauhi area workshop, Fariz panik*.


"Di saat seperti ini Hamdan sangat diperlukan. Kenapa juga aku memintanya untuk libur", gumam Fariz.


Fariz meminta pihak sekolah memberikan kunci ganda kamar Sava. Akhirnya Fariz memutuskan untuk tinggal di kamar Sava.


Fariz melihat Sava kembali mendekati area penginapan. Ia memutuskan menunggu Sava di depan gedung. Ia juga penasaran ke mana Sava pergi dan dengan siapa.


///


"Bagaimana bisa kamu ada di sini?', tanya Sava panik melihat Fariz tiba-tiba ada di hadapannya.


Fariz menarik tangan Sava.


"Apa yang kau lakukan?", kata Sava mencoba melepas genggaman Fariz.


"Pergi masuk ke kamarmu", ucap Fariz melepas genggamannya.


"Al, terimakasih sudah menemaniku. Kamu bisa pergi sekarang", kata Sava.


"Aku perlu bicara dengannya. Kamu masuk kamar", kata Fariz sambil mendorong-dorong tubuh Sava dengan perlahan.


"Bicara apa? Jangan salah paham. Biar aku jelaskan", ucap Sava.


"Pergilah Sava. Kami akan bicara", sahut Al sambil tersenyum.


Sava akhirnya pergi meninggalkan Fariz dan Al.


"Apa kabar? Lama gak berjumpa", ucap Al.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu kembali ke Indonesia? Kenapa gak mengabari kami? Aku tahu tujuanmu untuk mengunjungi nenek kan? Pasti kamu juga tahu kabar pernikahan kami. Kamu juga tahu Sava adalah istriku", kata Fariz sedikit emosi.


"Hei jangan emosi. Kita di sini untuk bicara baik-baik. Tanyakan kabar dulu", balas Al sambil tersenyum ramah.


"Jauhi Sava", kata Fariz lalu pergi meninggalkan Al.


///


Sava tiba di kamarnya. Ia melihat tas seseorang yang sebelumnya tidak ada di kamarnya.


"Sepertinya tas teman sekamarku", lirih Sava.


Sava akhirnya mandi dan beberapa menit kemudian saat ia ke luar kamar mandi ia terkejut melihat suaminya ada dalam kamarnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Pergi sana. Bagaimana kalau teman sekamarku melihatmu", ucap Sava.


Fariz yang semula hanya duduk dipinggir kasur, sekarang malah merebahkan tubuhnya.


Sava mendekati Fariz, menarik tangannya.


"Bangun. Pergi sana", ucap Sava.


"Kalau sampai aku kembali kamu gak pergi, awas kamu aku laporkan ke pengawas kalau ada penyusup", kata Sava kembali ke kamar mandi.


Fariz tidak bergerak sama sekali hingga Sava ke luar kamar mandi dan mengusirnya.


"Aku tidur di sini. Teman sekamarmu itu aku", kata Fariz yang berhasil membuat Sava terdiam.


"Tidur lah. Aku tahu kamu pasti lelah", lanjutnya.


"Kamu jangan macam-macam. Aku bisa berteriak di sini dan kamu bisa dihajar habis-habisan", ucap Sava.


"Silahkan kamu berteriak. Aku akan membeberkan kalau kita sudah menikah", balas Fariz.


"Kamu yang minta pernikahan ini di rahasiakan", ujar Sava.


"Diamlah. Tidur sana", kata Fariz mengelak.


"Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan?", kata Fariz sambil mengguncang-guncang tubuh Sava.


Tidak ada balasan dari Sava, akhirnya Fariz membuka selimut yang menutup tubuh Sava.


Sava keringatan dengan tangan memeluk perutnya.


"Apa yang terjadi? Apa perutmu sakit? Apa saja yang kamu makan hah? Ayo kita ke dokter", ucap Fariz.


"Aku gak apa-apa. Perutku hanya kram", sahut Sava.


"Cepat bangun. Kita ke rumah sakit. Apa perlu aku gendong?", kata Fariz sambil menarik tangan Sava.


"Perutku hanya kram karena sedang datang bulan. Nanti juga akan sembuh sendiri. Gak perlu ke dokter", kata Sava malu-malu.


Fariz mendadak salah tingkah. Ia menggaruk-garuk tengkuknya lalu ia pergi ke kamar mandi.


Fariz sedang berpikir harus menanyakan masalah yang sedang Sava alami ke siapa.


Tidak punya pilihan lain, Fariz menghubungi bundanya.


"Hallo Bunda"


.....


"Bunda, Fariz mau tanya"


.....


"Kalau, kalau sedang kram datang bulan bagaimana mengatasinya?"


.....

__ADS_1


"Jangan menggodaku bun"


.....


"Apa gak ada cara lain?"


.....


"Hmm baik lah. Terimakasih bun"


Fariz bingung harus bagaimana. Lebih baik ia mengikuti saran bundanya.


///


Sava terkejut saat seseorang menyentuh perutnya. Ia dengan sigap menjauhkan tangan itu dan membalik badan.


"Diamlah. Aku membantumu agar merasa baikan", ujar Fariz sambil menahan tubuh Sava agar tetap pada posisinya.


"Apa yang kamu lakukan. Menyingkirlah", sahut Sava.


"Kata bunda kalau perutnya diusap-usap bagini akan merasa baikan", jelas Fariz.


"Apa? Bunda?", kata Sava terkejut.


"Memalukan sekali", gumamnya.


"Aku juga melakukannya terpaksa karena cuma bunda yang bisa aku tanyakan", jelas Fariz.


Sava diam. Ia merasa sangat malu.


"Jadi apa aku bisa melanjutkannya?", lanjut Fariz


Sava masih diam. Diam yang diartikan Fariz Sava mengizinkannya.


Fariz memasukkan tangannya ke dalam piama Sava hingga tangannya menyentuh perut Sava secara langsung.


Sava menahan tangan Fariz dan berkata, "Lakukan dari luar".


"Kata bunda kulitnya harus saling bersentuhan", jelas Fariz.


Sava tetap menahan tangan Fariz sehingga Fariz hanya bisa menggerakkan pergelangan tangannya.


"Lepaskan tanganmu", ujar Fariz.


"Tetap seperti ini", sahut Sava.


Suasana mendadak hening.


"Apa yang kamu bicarakan dengan temanku?", kata Sava tiba-tiba.


"Hanya menyapanya", jawab Fariz.


"Kamu bicara yang gak-gak kan dengannya?", tanya Sava.


"Bicara apa? Mengatakan aku suamimu? Kenapa kalau dia tahu kamu sudah bersuami? Kamu menyukainya? Apa kalian pacaran?", jawab Fariz.


"Kamu mencurigaiku? Kamu bahkan gak menjelaskan bagaimana bisa kamu ada di sini? Apa kamu sengaja menyusulku?", sahut Sava.


"Aku ada urusan di sini", ujar Fariz.


"Urusan apa? Bagaimana bisa kamu ada di kamarku?", tanya Sava.


"Kamu gak perlu tahu", jawab Fariz cuek.


Sava kesal Fariz tidak pernah mau terbuka dengannya.


"Menyingkirlah. Perutku sudah mendingan", ucap Sava.


"Aku akan tetap melakukannya sampai kamu tertidur. Semakin lama kamu tertidur maka semakin lama aku mengusap perutmu", jelas Fariz.

__ADS_1


Sava akhirnya memejamkan matanya. Sementara Fariz terus memeluk Sava hingga ia terlelap.


__ADS_2