The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 105


__ADS_3

"Kamu gak mau memaafkannya?", ujar Sava.


Fariz mengerutkan keningnya lalu menunduk menatap Sava.


"Apa maksudmu berkata seperti itu?", tanya Fariz.


"Aku tahu Amel salah menempuh jalan pintas untuk meraih kesuksesan tapi dia korban dalam masalah perusahaan kalian", jawab Sava.


"Kamu mau memaafkan mantan pacar suamimu yang hampir menghancurkan keluarganya? Yang membuat ayah mertuamu jatuh sakit? Yang membuat suamimu sibuk hingga gak ada waktu denganmu? Kamu tahu banyak yang memutuskan kerja sama dengan kami karena mereka ngira aku menjalin hubungan dengan artis berskandal", ucap Fariz.


Sava menggelengkan kepalanya lalu membenamkan wajahnya di dada Fariz.


"Sudahlah. Ayo kita tidur", kata Fariz lalu mengelus rambut Sava.


///


Kehidupan rumah tangga Sava dan Fariz kembali normal. Fariz masih bekerja di Monang Grup walau tak sesibuk kemarin. Karena ada Farhan yang membantunya.


"Kamu mau ke mana pagi-pagi rapi begini?", tanya Fariz heran melihat Sava berpakaian rapi.


"Aku mulai bekerja hari ini", jawab Sava.


"Bekerja?", balas Fariz.


"Iya. Aku magang di Shinee Frameworks", jawab Sava santai.


"Oh, Shinee Frameworks", kata Fariz sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba Fariz sadar akan perusahaan tempat Sava bekerja.


"Apa? Shinee Frameworks?", bentak Fariz.


Sava mengangguk santai.


"Gak bisa. Silahkan kamu mengundurkan diri", ucap Fariz.


"Memangnya kenapa? Kamukan bekerja. Aku bosan di rumah", sahut Sava.


"Itu perusahaan si Al Al itu", ucap Fariz.


"Aku tahu", jawab Sava.


Fariz menatap tajam Sava.


"Kamu tahu, selama kamu pergi aku gak pernah ke luar. Aku di rumah terus. Aku bosan. Jadi aku mau ada kegiatan. Lagi an Al gak tahu aku magang di perusahaannya. Belum tentu juga kami akan bertemu di sana. Sebisa mungkin aku akan menghindarinya", jelas Sava.


"Semua temanmu juga ikut magang?", tanya Fariz.


"Hanya aku dan Kanaya", jawab Sava.


"Kanaya yang mana?", balas Fariz.

__ADS_1


Sava mendengus.


"Yang pakai kacamata", jawab Sava kesal.


"Oh bukan sicerewet itu", sahut Fariz.


"Tika", ucap Sava.


"Bawa terus ponselmu", balas Fariz.


"Ponselku ditahan mereka. Sepertinya ada di Tika", jawab Sava.


"Cepat minta. Kamu harus selalu membawa ponselmu dan harus selalu aktif", kata Fariz.


"Jadi aku boleh kerja kan?", sahut Sava semangat.


"Kamu bisa pergi sebelum masuk kuliah. Setelah itu aku akan pertimbangankan", jelas Fariz.


"Siap bos", jawab Sava.


"Ingat untuk meminta kembali ponselmu. Kalau tidak aku akan ganti yang baru", ucap Fariz.


"Jangan membuang-buang uang. Aku akan minta nanti", balas Sava.


///


"Hamdan, selidiki tentang Alan", ujar Fariz.


"Bukannya sudah kemarin?", balas Hamdan.


"Yang terbaru. Cari tahu apa yang dilakukannya belakangan ini. Apa dia masih suka mengganggu Sava", jelas Fariz.


"Tuan ini cemburuan sekali", gumam Hamdan.


"Kamu bicara apa?", sahut Fariz.


"Iya tuan cemburuan. Kenapa gak percaya dengan nona Sava", jawab Hamdan.


"Sava sekarang sedang bekerja di Shinee Frameworks. Tempat Alan bekerja. Untuk itu aku minta kamu menyelidikinya", jelas Fariz. .


"Oh begitu. Tapi tuan kenapa Deshi gak melapor? Dia di kantor setiap hari. Kenapa gak menemani nona Sava?", tanya Hamdan.


"Apa? Jadi Sava pergi sendiri?", balas Fariz.


Hamdan mengangguk lalu berkata, "Saya akan hubungi Deshi".


"Kabari aku nanti. Dan lakukan penyelidikan. Aku harus pergi melihat Sava langsung", jawab Fariz sambil bergegas untuk pergi.


Fariz memarkirkan mobilnya di seberang perusahaan Al.

__ADS_1


Sava melihat sekilas mobil Fariz saat ia kembali ke kantor setelah menemani atasnya meeting.


"Itu mobil Fariz bukan ya? Ah gak mungkin", batin Sava.


Sava masih penasaran. Ia mengintip apakah mobil itu masih ada di depan perusahaannya atau tidak. Mengingatkan setelah 2 jam dari ia lihat tadi.


"Masih ada", gumam Sava.


Setelah jam pulang kerja tiba, Sava berjalan mengendap-endap menghampiri mobil Fariz.


"Iya benar. Ini mobil Fariz", batin Sava.


Diketuknya kaca pintu kemudi. Lalu muncullah wajah Fariz.


"Kamu ngapain di sini. Mengawasi aku?", tanya Sava.


"Aku. Aku kebetulan lewat", jawab Fariz sedikit gugup.


"Oh lewat. Jadi sekarang kenapa gak pergi?", balas Sava.


"Karena sudah lewat sini aku memutuskan untuk menjemputmu", jawab Fariz.


"Aku akan pulang bersama temanku", balas Sava.


"Di mana temanmu? Aku sudah rela menunggu di sini menjemputmu kamu malah pergi dengan temanmu?", kata Fariz sedikit emosi.


"Katamu hanya lewat", ucap Sava.


"Ya sudah. Aku pergi", balas Fariz.


Sava tersenyum menahan tawa. Lalu ia duduk di sambil Fariz.


"Aku hanya kebetulan lewat. Karena ku putuskan untuk menjemputmu jadi aku menunggu", kata Fariz mencoba menjelaskan kesalahpahaman.


"Iya iya hanya kebetulan. Aku percaya hanya kebetulan", ucap Sava menekan setiap kata kebetulan sambil menahan tawa.


Fariz mendengus kesal.


*********************************


Jangan lupa untuk memberikan ucapan selamat tahun baru. Ini hari terakhir untuk mengucapkannya.


😊😊😊


🙏🙏🙏🙏🙏



__ADS_1


__ADS_2