The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 134


__ADS_3

Cup


Ciuman mendarat di pipi kanan Fariz.


Fariz senang akhirnya Sava menciumnya, tetapi ia kecewa karena bukan ciuman yang diinginkannya.


"Kau sedang menggodaku?" Tak tinggal diam, Fariz ikut masuk ke dalam bathtub. Ia menggelitiki tubuh Sava sampai Sava meronta-ronta meminta ampun.


Tanpa sengaja Sava menyenggol kran shower, sehingga ia dan Fariz basah diguyur air.


"Lihat, kan? Kita jadi basah begini," ucap Sava kesal.


"Bukankah tadi kau tidak takut basah?" balas Fariz.


"Sudahlah, karena sudah basah begini kita mandi bersama saja," lanjutnya lalu ia mencoba membuka kaos putih polos yang melekat pada tubuhnya. Ia sedikit kesulitan karena kaos itu basah sehingga menempel seperti lem dikulitnya.


"Ti-tidak bisa." Sava mencegah Fariz melanjutkan aksi membuka baju. Berat rasanya untuk menelan salivanya, bahkan hanya untuk sekedar menarik napas terasa sangat berat.


Tiba-tiba suara bell berbunyi.


Suara bell itu bagaikan penolong bagi Sava ditengah suasana tegang mereka.


"Fariz... A-ada yang datang," ucap Sava.


Fariz tidak memperdulikan ucapan Sava karena ia menganggap itu hanya akal-akalan Sava saja agar dilepaskan. Ia juga tidak mendengar suara bell berbunyi.


"Fariz...." Sava memanggil dengan suara nyaringnya.


Karena takut istrinya marah Fariz menghentikan aksinya. Tak berapa lama suara bell berbunyi kembali.


"Ha... Siapa lagi yang mengganggu pagi-pagi seperti ini," gerutu Fariz.


"Kalau kamu tidak mau membukakan pintu biar aku saja."


Tanpa aba-aba Fariz berlari ke luar kamar mandi dengan pakaian basah kuyup. Ia membukakan pintu dengan kasar.


Terlihat seorang pria berpakaian putih hitam sudah menunggu di depan pintu kamar bersama trolly makanan di sampingnya.


Fariz akhirnya sadar bahwa sebelum Sava bangun ia menghubungi room service untuk mengantar makanan ke kamar mereka. Rasa kesalnya pun mulai memudar. Namun, tiba-tiba ia merasa risih ketika sekujur tubuhnya diperhatikan oleh pria dihadapannya itu.

__ADS_1


"Apa kran kamar mandi bocor, Pak? Perlu saya panggilkan seseorang untuk memperbaikinya?"


Fariz tadinya merasa aneh karena sekujur tubuhnya sedang diperhatikan, akhirnya mengerti alasannya dibalik itu.


"Tidak perlu. Segera pergi. Biar aku saja yang membawa ini masuk," ucap Fariz dan pria itupun mengiyakannya.


Fariz membawa trolly makanan masuk lalu mengunci rapat pintu kamarnya, tak lupa ia menggantungkan tanda 'Do Not Disturb' di gagang luar pintu kamar mereka.


Setelah itu, ia menuju ke kamar mandi. Fariz tersenyum puas saat tahu pintu kamar mandi tidak dikunci dari dalam. Dibukanya pintu lebar-lebar. Membuat Sava menjerit akan kedatangannya.


Sava sedang berendam dalam bathtub yang berisi air sabun beserta busa-busanya. Ia bersembunyi dalam tumpukan busa.


"Mau apa lagi? Aku sedang mandi. Ke luar lah!" teriak Sava.


"Aku juga ingin mandi. Aku sudah basah kuyup seperti ini. Kalau menunggumu selesai mandi bisa-bisa aku demam. Lagi pula, kenapa pintunya tidak dikunci? Kamu menanti kedatanganku, kan?" Semakin lama langkah Fariz semakin mendekat ke tempat Sava berada. Ia melucuti satu persatu pakaian yang melekat pada tubuhnya dan membuangnya ke sembarang tempat.


"Tubuhku masih susah digerakkan. Aku tidak sanggup untuk berjalan ke sana untuk mengunci pintu," sela Sava.


"Tapi itu merupakan sinyal untukku. Jadi, lebih baik kita mandi bersama," kata Fariz. Sekarang, ia berada di pinggir bathtub.


"Kalau mau mandi, ya mandi saja sana. Kenapa kau mendekat ke mari?" Sava semakin panik melihat Fariz berada di dekatnya.


Sava tahu keinginan Fariz. Mandi bersama hanya alasan, Fariz ingin meminta lebih dari sekedar mandi bersama. Dengan hasil bujuk rayuan maut Fariz, Sava menyerah. Benteng pertahanannya kembali roboh. Ia tahu kewajibannya, saat sang suami menginginkannya istri tidak boleh menolak. Kini, Fariz kembali mengencangkan aksinya, membuat Sava mendesah. Mereka saling sahut menyahut dalam pergulatan.


Setelah aksi penyatuan selesai, mereka mandi bersama. Tentu saja Sava dimandikan oleh Fariz. Setelah mereka selesai mandi, Fariz menggendong Sava ke ranjang. Tubuh mereka hanya dibaluti oleh kimono, karena mereka tidak membawa pakaian ganti.


Fariz memeluk Sava serta membelai lembut rambutnya. Untung saja Sava tidak jatuh pingsan. Karena ia tahu tubuh Sava belum sepenuhnya pulih dari aktivitas mereka tadi malam.


"Kenapa diam saja?" tanya Fariz. Ia merasa bersalah melihat Sava terkapar lemah di tampat tidur tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia terlihat seperti suami yang baru menyiksa istrinya.


Dengan suara serak akhirnya Sava membuka mulut, "Aku haus."


Walau bukan kalimat yang diinginkan Fariz, ia sangat bahagianya Sava meminta bantuannya.


Setelah meneguk air dari gelas pemberian Fariz, Sava merebahkan tubuhnya ke ranjang serta menarik selimut.


Tiba-tiba suara bunyi perut Sava berbunyi.


"Sebenarnya kamu lapar, kan? Kenapa hanya meminta minum? Ayo kita makan." Fariz mendekatkan trolly makanan ke arah Sava dan bertanya makanan mana yang ingin dimakannya.

__ADS_1


Melihat Sava makan dengan lahap membuat Fariz tertawa lirih.


"Kenapa tertawa? Ada yang aneh? Ada remah makanan di wajahku?" tanya Sava heran.


Fariz masih tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Harusnya tadi aku memberimu makan terlebih dulu sebelum kita bertempur."


Sebuah tinju manja dari Sava melayang dan mendarat di dada Fariz.


Bukannya jerah, Fariz malah semakin menggoda Sava.


"Setelah makan, pasti tenagamu pulih kembali, kan? Berarti kamu siap untuk bertempur kembali?"


"Fariz...." Sava merengek. Ia mencoba membujuk Fariz. Fariz hanya meresponnya dengan tertawa pecah.


"Aku tidak tahu ada sisi dirimu yang seperti ini. Tapi, sepertinya aku malah semakin menginginkannya."


Seketika Sava membatu dan suara tawa pecah keluar dari mulut Fariz.


"Kamu istirahat ya," kata Fariz sambil mengelus rambut Sava lalu mengecupnya.


"Suruh orang untuk membawa pakaian kita ke sini," ucap Sava.


"Dan juga, sampai kapan rencanamu kita di sini?" lanjutnya.


"Sampai aku merasa bosan," jawab Fariz.


//////////////////////////////////


Author puyeng mikirin adegan romantis. Maafkan 🙏🙏🙏


Gak janji buat adegan beginian lagi 😁😁😁


Setelah ini akan masuk babak baru.


Masalah baru


Nantikan


😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2