
"Al ngapain nyamperin aku ke kafe?", tanya Sava.
"Hanya ingin mengajakmu makan malam. Tadi aku sudah menghubungimu, karena gak ada respon jadi ku putuskan datang ke kafe", jawab Al pria yang ditubruknya tadi.
"Tapi ini masih sore, kau sudah lapar?", balas Sava.
"Aku berniat menunggui mu di kafe, tapi tumben cepat sekali pulang?", tanya Al heran.
"Aku ada janji jadi izin pulang lebih awal. Aku juga tidak bisa menemanimu. Maafkan aku", jawab Sava.
"Hmm baiklah. Mungkin lain kali. Aku temani menunggu bus", tawar Al.
Sava hanya mengangguk dan mereka berjalan menuju halte.
///
Sava tiba di alamat yang diberikan calon asistennya. Ya masih calon. Karena dia belum resmi sebagai nyonya di keluarga itu.
__ADS_1
Pintu terbuka dan ia menemukan seseorang yang sangat ingin ia hindari.
"Dia kenapa ada di sini? Bukannya tadi dia di kafe?", batinnya.
Asistennya menghampirinya lalu mengantarnya ke arah calon suaminya duduk.
"Jadi dia ke sini juga. Tapi mana pria tadi? Apa pria itu yang mengantarnya ke sini? Pasti mereka singgah di tempat lain sebelum ke sini. Benar-benar wanita ini. Baru juga kemarin dia dikhianati bahkan dipermalukan seorang pria, sekarang sudah ada pria lain. Apa dia tidak sadar sebentar lagi akan menikah huh", batin Fariz dengan raut wajah datar khasnya.
Asisten Sava membisikkan sesuatu ke Sava,
"Tuan muda sudah lama menunggu nona. Sepertinya sekarang tuan sedang kesal. Cobalah nona untuk menenangkannya".
"Ekhem, Apa saya terlambat? Karena jam pulang kerja kantor bus sangat penuh, jadi saya menunggu bus berikutnya. Saya juga tidak familiar dengan lingkungan ini jadi agak tersesat," ucap Sava.
Krik krik....
Tidak ada respon dari Fariz. Fariz asik memainnya ponsel ditangannya.
__ADS_1
"Sialan! Aku seperti berbicara dengan tembok. Dasar pria es", gumamanya.
2 wanita dewasa datang menghampiri mereka.
Mereka mengukur badan untuk pakaian pernikahan nanti. Tetapi hanya Sava. Fariz sudah diukur sebelum Sava datang.
Sava sangat cangung. Bahkan sangat malu. Orang yang mengukur badan dengan orang yang mencatat berbeda. Jadi saat situkang ukur mengukur badannya tentu saja org tersebut harus mengucapkan ukurannya agar didengar situkang tulis. Ia malu jika calon suaminya itu menilai ia gemuk.
Kekhawatiran Sava terbaca oleh wanita yang sedang mengukur badannya.
"Mbaknya gak gemuk kok, iya kan mas nya?", kata mbak-mbaknya menghibur Sava.
Fariz memalingkan wajah datarnya.
Setelah selesai mengukur badan mereka kembali duduk.
"Model kebaya dan gaunnya dilihat-lihat dulu mbak mas", ucap mbak tadi menyodorkan majalah.
__ADS_1
"Ada 3 kostum yang akan dipakai saat pernikahan nanti. Kebaya putih untuk akad, gaun untuk resepsi, lalu kebaya merah untuk acara adat. Kalau untuk akad sama adatnya kita cuma punya pilihan ini. Tapi untuk gaun resepsinya ada banyak pilihan. Silahkan dipilih", lanjutnya.
"Apa? 3? Ku pikir acara pernikahan dimana pun sama saja. Hanya ijab kobul dan resepsi. Artinya membutuhkan 2 kostum. Ini ada acara adat apa? Sava bodoh. Harusnya kau sadar saat calon mertuamu mengatakan pernikahan diadakan menggunakan adat batak di kota medan. Kenapa kau tidak mencari tau soal itu", batinnya.