
Setelah mainan yang dicari sudah di beli, Fariz membawa Sava untuk makan. Ia tak melihat Sava makan sejak kemarin.
"Kita makan dulu setelah itu kita pulang", ujar Fariz.
"Aku gak lapar", jawab Sava.
"Apa? Kamu mau aku suapin?", sahut Fariz.
"Ih gak lucu. Kita pulang saja", jawab Sava.
"Gak ada penolakan", kata Fariz.
Fariz tak melepas genggaman tangannya. Ia terus menggenggam tangan Sava seakan takut Sava akan pergi.
"Aku mau makan. Lepasin", ujar Sava.
Fariz melepas genggamannya. Tiba-tiba Sava berdiri. Fariz langsung panik.
"Mau ke mana?", tanya Fariz.
"Ke kamar mandi", jawab Sava.
Fariz ikut berdiri lalu menarik lengan Sava.
"Aku antar", sahut Fariz.
"Aku mau ke kamar mandi", ucap Sava menekan setiap katanya.
"Iya aku antar", sahut Fariz dengen melakukan hal yang sama.
Sava mendegus kesal.
Fariz menunggu Sava di depan pintu toilet.
"Kamu kenapa jadi berlebihan begini?", tanya Sava begitu ia ke luar toilet.
Fariz tidak menjawab, ia menarik lengan Sava dan membawanya kembali ke meja mereka.
Tanpa disadari Fariz dan Sava, seseorang telah mengawasi mereka sejak di dalam restoran.
Setelah mereka selesai makan dan belum sempat melewati pintu ke luar dari restoran, seseorang mencegah Sava dan Fariz.
Seseorang yang mereka kenal sedang berdiri di hadapan mereka sekarang.
Sava ketakutan. Ia mencoba melepas genggaman Fariz dan bersembunyi di balik punggung Fariz.
"Bawa kuncinya. Kamu tunggu aku di dalam mobil ya. Aku akan segera menyusul", kata Fariz memberikan kunci mobil lalu mengelus rambut Sava.
Sava menurut takut.
"Mau apa lagi?", ujar Fariz.
__ADS_1
"Siapa dia? Bukannya dia temanmu yang juga ikut ke villa Shadiq kemarin?", sahut Amel.
Amel sedang makan di restoran yang sama. Ia melihat Fariz dan Sava memasukin restoran. Ia sengaja tak menegur karena ingin memperhatikan apa yang dilakukan mantan pacarnya itu dengan seseorang yang pernah dijumpainya.
"Aku sudah jelasin ke kamu semua sewaktu di villa. Aku pikir kamu bisa tahu siapa wanita tadi", sahut Fariz.
Amel membulatkan matanya mendengar ucapan Fariz.
"Aku masih gak percaya. Kenapa Shadiq dan Kenzie gak tahu kamu menikah? Dan katakan pada ku dengan jelas siapa wanita tadi?", ucap Amel.
"Aku merahasiakan pernikahan kami. Karena pernikahan kami terlalu dini. Kalau sampai tersebar mungkin kami gak bisa melanjutkan sekolah. Dan wanita tadi dia istriku. Jelas?", jawab Fariz.
"Kapan pernikahan kalian? Kita baru putus sekitar 1 bulan lalu. Apa karena itu kamu memutuskanku? Kamu bahkan menuduhku berselingkuh", ucap Amel.
"Aku sudah melamarmu waktu itu. Kamu ingat? Kamu menolakku. Kamu memilih karirmu. Jadi aku terima perjodohan ini. Aku mencoba terus mengertimu. Mengikuti apa yang kamu mau. Tapi apa? Kamu memilih karirmu tapi dengan cara mendekati beberapa pria. Kamu pikir aku gak tahu siapa saja yang kamu dekati? Jadi aku putuskan lebih baik kita berpisah. Dan aku mencoba menerima pernikahan kami", jelas Fariz.
Amel lemas mendengar penjelasan Fariz. Karena dialah Fariz seperti ini. Dia lah yg menelantarkan Fariz.
"Ku rasa sudah cukup jelas. Aku akan pergi", ucap Fariz.
Amel menahan tangan Fariz, kemudian ia berkata, "Aku. Aku akan perbaiki semua. Aku juga lelah dengan dunia keartisan ini. Jangan tinggalkan aku".
"Maaf. Hatiku, perasaanku gak bisa kembali seperti semula. Hatiku sudah milik wanita lain", kata Fariz lalu meninggalkan Amel.
Amel sedih, ia melipat kedua tangannya diatas meja lalu membenamkan wajahnya.
"Kamu kenapa? Jangan sampai kamu jadi pusat perhatian orang. Ayo kita kembali", ucap Manajer Amel menghampiri setelah melihat Fariz pergi.
"Apa yang kamu katakan? Kamu memimpikan ini kan? Butuh proses panjang untuk meraih kesuksesan. Kamu bersabar dan bekerja keraslah", jawab Manajer Amel.
Amel menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Dia sudah meninggalkanku".
"Kamu tenang. Masih banyak pria di dunia ini. Jangan seperti ini Amel. Bangunlah. Kita pulang. Kita cari solusinya", kata manajernya menarik tubuh Amel.
///
"Maaf mas, ada titipan", ucap salah seorang pelayan yang berdiri di depan pintu.
Fariz menerima kunci mobil yang diberikannya ke Sava tadi.
"Di mana gadis yang memberikan kunci ini?", ucap Fariz.
"Saya gak tahu mas. Katanya kalau mas mau ke luar baru saya kasih kuncinya", sahut sipelayan.
"Begitu ya. Makasih ya. Ini tip buat kamu sudah menjaga kunci mobil saya", kata Fariz lalu menyalam sipelayan.
"Makasih banyak mas", jawab pelayan restoran.
Fariz tersenyum lalu bergegas pulang.
Fariz sudah menghubungi Sava tetapi ponsel Sava tidak aktif. Sesampai Fariz di rumah, Sava belum juga pulang.
__ADS_1
"Ke mana dia?", gumam Fariz.
Akhirnya Fariz mencari Sava di sekitaran rumah. Tetapi Sava tidak dapat ditemukan.
Terdengar suara mesin mobil, Fariz bergegas membuka pintu dan melihat Sava melambaikan tangan ke arah mobil yang sudah mengantarnya.
"Ke mana saja kamu? Siapa yang mengantarmu? Apa kamu bertemu si Al itu lagi? Apa si Al itu yang mengantarmu?", ucap Fariz ke Sava.
Sava tak menghiraukan Fariz. Ia terus berjalan menuju kamarnya.
"Kenapa kamu gak menjawabku?", lanjut Fariz.
"Aku gak tahu. Hanya supir taksi online", sahut Sava santai.
"Bohong. Gak mungkin kamu melambaikan tangan ke supir taksi", balas Fariz.
"Kamu bertemu si Al itu kan? Aku sudah katakan padamu untuk tidak menemuinya. Atau setidaknya kamu kasih tahu aku kamu bertemu dengannya di mana dan dengan siapa", kata Fariz menaikkan nada bicaranya.
"Kenapa kamu melarang-larangku bertemu dengannya? Dia sepupumu. Aku juga gak melarangmu bertemu siapapun termasuk bertemu pacarmu itu", sahut Sava.
"Itu berbeda. Kami bertemu kebetulan saja", jawab Fariz.
"Sudahlah aku gak peduli", ucap Sava lalu masuk kamarnya.
"Sava. Sava. Buka pintunya. Aku belum selesai bicara", teriak Fariz.
"Kamu pikir aku gak bisa masuk jika kamu mengunci pintu?", gumam Fariz.
Fariz mencari kunci ganda kamar Sava. Lalu membuka laci meja belajarnya mengambil sebuah map.
Sava terkejut saat Fariz membuka pintu kamarnya.
"Bagaimana kamu bisa masuk?", ucap Sava.
"Terus saja kamu kunci kamarmu. Kamu pikir aku gak bisa masuk? Sekarang tanda tangani ini", kata Fariz menarik Sava untuk duduk.
Dengan terpaksa Sava duduk di meja belajarnya lalu membaca isi map yang diberikan Fariz.
"Apa ini?", tanya Sava.
"Baca. Lalu tanda tangani", jawab Fariz.
"Saya Sava Waradana berjanji akan menjalankan tugas sebagai istri yang baik untuk Fariz Adil Nasution sampai maut memisahkan"
"Apa maksudnya kalimat ini? Dan kenapa harus aku tanda tangani?", ucap Sava membaca kertas yang ada di hadapannya.
*****************************************
Jangan Lupa Vote The Beauty Of Marriage
🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1