The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 99


__ADS_3

Sava terkejut melihat kamarnya berubah menjadi ruang kerja. Terdapat 2 meja saling berhadapan serta sebuah sofa panjang lengkap dengan rak buku.


Sava melihat ada sesorang tertidur di atas salah satu meja. Jantungnya berdegup cepat. Ia melangkahkan kakinya perlahan mendekat untuk melihat siapa seseorang itu.


Hati Sava terenyuh melihat suaminya tertidur pulas di atas meja. Ingin rasanya memeluk erat sang suami. Melepaskan rindu yang selama ini ia pendam.


Sava mendekat, memperhatikan setiap inci wajah Fariz. Wajah yang terlihat sangat lelah. Sava mengangkat tangannya untuk mengelus rambut suaminya. Senyum pun tak luntur dari wajahnya.


Tiba-tiba Fariz mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa berat untuk dibuka lebar.


Sava takut dan merasa bersalah telah mengganggu tidur Fariz. Karena tak punya pilihan lain Sava berkata, "Pindahlah. Jangan tidur di sini. Nanti badanmu sakit".


"Sepertinya aku sangat merindukannya sampai ia muncul di mimpiku seperti ini", gumam Fariz.


Sava tersenyum melihat tingkah Fariz.


"Sepertinya dia mengigau", batin Sava.


Sava menuntun Fariz untuk pindah ke sofa.


Fariz terus tersenyum menatap Sava.


"Aku merindukan istriku. Kenapa aku malah membuatnya menjauh dariku", gumam Fariz sambil meneteskan air mata.


Fariz menyentuh pipi Sava dengan kedua telapak tangannya. Mendekatkan wajah Sava. Lalu ia menutup matanya hingga bibirnya menyentuh bibir Sava.


Sava membulatkan matanya serta menahan napas dengan tindakan Fariz barusan. Setelah tak kuasa menahan napas lebih lama, Sava menjauhkan wajahnya sambil mendorong Fariz.


Sava mengambil napas. Menormal detak jantungnya. Lalu menatap lekat ke Fariz. Tak ada pergerakan dari Fariz. Fariz terus menutup matanya.


"Ha. Dia benaran mengigau", batin Sava.

__ADS_1


Sava ke luar meninggalkan Fariz dalam kamar. Ia menyentuh bibirnya lalu menjerit dalam hati sambil menutup mata. Tak percaya apa yang telah terjadi barusan.


"Aaakkkk. Dia benaran mencium ku. Ternyata dia sangat merindukanku. Kenapa aku malah pergi ke rumah Rania. Harusnya aku tinggal di rumah saja", gumam Sava.


"Hmm tapi sepertinya Rania tahu apa yang terjadi. Mereka merencanakan ini semua agar aku jangan sampai tahu. Intinya mereka melakukannya demi kebaikanku", lanjutnya.


"Kamu berani memimpikanku sampai mengigau sedang menciumku. Tapi saat kamu sadar kamu malah bersikap dingin. Mau sampai kapan kamu begini. Katakanlah kamu menginginkanku. Katakan kamu tak bisa jauh dariku. Katakan kamu mencintaiku Fariz", batin Sava.


///


"Kak Rafif?", ujar Sava begitu membuka pintu setelah mendengar bel berbunyi.


"Ada mama, papa dan Azzam juga?", ucap Sava.


"Gimana kabar mu?", tanya Rafif lalu masuk ke dalam rumah.


"Tumben ke sini?", balas Sava.


"Rania menghubungi kakak. Katanya kamu tiba-tiba pergi dari rumahnya. Kata ibunya juga kamu sudah menonton berita tentang keluarganya Fariz kan", jawab Rafif.


"Kita khawatir kalau kamu sampai tahu. Fariz sudah cerita semua ke kita. Kamu sedang sakit waktu itu. Jadi ya memang lebih baik kamu dengan sahabatmu dulu. Kami yakin mereka bisa melindungimu. Fariz sibuk. Kami juga belum tentu bisa menemani mu serta mengawasimu setiap saat. Kebetulan orang tua Rania juga sedang di luar kota", jelas Rafif.


"Sudahlah jangan dipikirkan. Kami akan menemanimu di sini", lanjut Rafif.


"Kak, PS kak Fariz di mana? Azzam mau main", ujar Azzam.


"Gak tahu ih. Ngapain jauh-jauh ke sini mau main PS", jawab Sava.


Mama dan papa Sava duduk beristirahat. Sedangkan Rafif dan Azzam berkililing melihat rumah Sava dan Fariz.


"Kalian sekamar?", tanya Rafif.

__ADS_1


Sava terdiam serta membulatkan matanya. Takut mendengar komentar orang tuanya.


"Di bawah ada kamar, di atas juga. Tapi kamar di bawah gak ada apa-apa", jelas Rafif.


"Kamar kalian yang di atas ini kan?", tanya Rafif penasaran.


"Iya jelas ini seperti kamar pengantin", jawab Rafif pertanyaan yang diajukannya sendiri.


Sava heran. "Kamar pengantin?", batinnya.


Sava ikut naik ke atas. Lalu takjub melihat isi kamar yang sebelumnya merupakan kamar Fariz berubah menjadi kamar sepasang suami istri.


"Jadi ini yang dikatakannya merenovasi kamar", batin Sava.


"Ma, pa. Mereka sekarang tidur seranjang. Tinggal dalam sekamar. Gak pisah kamar lagi", teriak Rafif.


Pipi Sava memerah ulah godaan Rafif.


"Sudah dewasa ya sekarang. Sudah lulus SMA jadi berani tidur seranjang. Sudah ngapain saja hayo?", kata Rafif menggoda Sava.


"Apasih kak", balas Sava malu-malu.


"Kak Sava, PS nya di mana?", sahut Azzam memeriksa isi kamar Sava dan Fariz.


"Ih, PS terus. Mana kakak tahu yang begituan", jawab Sava.


"Apa di kamar sebelah ya", ucap Azzam lalu menuju ke kamar Sava sebelumnya.


"Jangan masuk. Kamu gangguin Fariz lagi tidur", kata Sava menahan Azzam.


"Tadi gak ada siapa-siapa", jawab Azzam.

__ADS_1


"Hah?", kata Sava terkejut lalu berlari menuju kamar dan membuka pintu.


Fariz sudah tidak ada. Fariz kembali menghilang. Wajah Sava kembali bersedih.


__ADS_2