
"Sava minjam baju rumah lo dong", ujar Tika.
"Buat apa?", tanya Sava.
"Kita mau nginap mau jagain lo lah. Kan lo jagaan gue kemarin", jawab Tika.
Sava terharu lalu memberikan baru untuk Tika dan Rania.
"Kenapa kalian jadi so sweet begini? Pakai saja pakaian yang kalian mau", ucap Sava.
"Tapi sebaiknya kalian tidur di kamar tamu. Ranjangku terlalu kecil untuk kita bertiga", ucap Sava.
"Gak cukup atau maunya tidur sama suami gak mau sama kita?", ucap Tika menggoda Sava.
"Apaan sih Tika. Gak lah. Aku juga ikut tidur di kamar tamu", jawab Sava.
"Oh begitu", kata Rania dan Tika menggoda Sava.
"Sudah ah. Kita makan yuk", ucap Sava.
Saat mereka makan Fariz ikut bergabung.
"Kenapa kalian masih di sini?", tanya Fariz dengan wajah tak senang.
"Kita mau nginap di sini jagain Sava", jawab Tika.
"Gak perlu. Aku bisa menjaganya. Kalau kalian di sini Sava malah gak istirahat", jawab Fariz.
Fariz menatap ke arah Sava sambil menggelengkan kepalanya sedangkan Sava menggerakkan bahunya.
"Apa lo? Sava sudah setuju", ucap Tika.
Fariz mengerutkan keningnya.
Setelah Tika dan Rania selesai makan mereka meninggalkan Sava dan Fariz.
"Kenapa biarin mereka di sini? Suruh mereka pulang", ujar Fariz.
"Gak bisa. Biarkan mereka di sini. Kalau ada sesuatu mereka bisa membantu. Kamu lihat tadi masalah infus? Kalau mereka gak ada bagaimana?", balas Sava.
"Baiklah. Hanya malam ini", sahut Fariz.
"Ingat hanya malam ini", jelas Fariz.
///
"Jadi sekarang kalian tidur sekamar?", ujar Tika.
Sava mengangguk malu.
"Jadi apa saja yang sudah kalian lakukan?", tanya Tika penasaran.
"Hanya tidur bersampingan", jawab Sava.
"Apa kalian sudah melakukannya?", tanya Tika.
"Me. Melakukan apa?", sahut Sava.
"Hubungan suami istri", jawab Tika santai.
"Jangan mikir terlalu jauh Tika. Kita masih seorang siswa", balas Sava.
__ADS_1
"Kalian kan suami istri. Ya wajar aku tanya", sahut Tika.
"Bagaimana kalian bisa sekamar? Orang tua Fariz yang mengatur?", tanya Tika lagi.
Sava menggeleng lalu berkata, "Fariz yang meminta".
"Menurut gue Fariz sudah jatuh cinta ke Sava", sahut Rania.
"Bagus kalau begitu. Tapi kita harus buat Fariz sedikit merasa akibatnya. Kita harus buat Fariz mengungkapkan isi hatinya", jelas Tika.
Sava mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Sava saja semangat", lanjut Tika sambil tertawa.
"Duh kok jadi lucu ya kalian. Gemas gue. Sudah jadi suami istri tapi masih main kucing-kucingan", ucap Tika.
"Ya sudah kalau begitu lanjutkan rencana awal", kata Rania.
Sava tertidur lebih dulu. Setelah itu disusul Rania dan Tika.
Tengah malam Sava terbangun lalu pergi ke dapur untuk minum.
Ia mendengar suara pintu dan langkah kaki berjalan terburu-buru. Dilihat Sava ke arah asal suara dan ternyata itu Fariz.
"Fariz ke mana tengah malam begini?", gumam Sava.
Sava menunggu Fariz di ruang tamu. Pikirannya berkecamuk. Semua dikhawatirkan Sava. Sava tak tenang. Ia tak bisa tidur.
Tiba-tiba Tika ke luar dari kamar. Tika bangun lebih cepat. Ia tak menemukan Sava di tempat tidur lalu akhirnya mencari Sava. Tika menemukan Sava di ruang tamu sedang tidur menekuk lutut.
"Sava", lirih Tika.
"Lo ngapain di sini? Lo kenapa ke luar? Lo kan masih sakit. Lihat wajahmu jadi pucat kembali", ucap Tika.
Sava tak bisa menahan rasa sedihnya. Sava menangis sambil memeluk Tika.
"Lo kenapa? Kenapa nangis?", tanya Tika heran.
"Tadi malam Fariz pergi dan sampai sekarang belum pulang", jawab Sava.
"Hah? Jadi lo gak tidur demi nungguin Fariz?", balas Tika.
Sava mengangguk.
"Lo cinta banget ya ke Fariz?", ucap Tika.
Sava kembali menangis.
Tika memeluk Sava sambil menenangkannya.
"Sabar ya. Jangan mikir yang aneh-aneh. Aku yakin Fariz akan menjaga pernikahan kalian. Berdoa saja supaya tuhan membukakan hati Fariz", kata Tika.
"Ke mana dia ya malam-malam sampai gak pulang begini?", gumam Tika.
"Nanti gue tanyain Shadiq atau Kenzie. Mendingan sekarang lo tidur ya", kata Tika menuntun Sava masuk ke kamar.
Setelah Sava tertidur, Tika membangunkan Rania lalu bercerita soal Fariz yang belum pulang sampai sekarang.
"Kita harus bagaimana? Kita gak mungkin gak sekolah dan terus di sini", ujar Rania.
"Tunggu saja Sava bangun setelah itu kita ke sekolah. Kita kan bebas mau ke sekolah kapan saja", jawab Tika.
__ADS_1
"Sava bagaimana?", tanya Rania.
"Kita lihat kondisinya bagaimana. Kalau sudah mendingan kita ajak ke sekolah. Di rumah sendirian akan membuatnya semakin stres", jelas Tika.
"Baiklah. Kalau dipikir-pikir Fariz pergi ke mana ya tengah malam", ucap Rania.
"Kasihan Sava. Dia sangat mencintai Fariz. Kenapa hidup Sava sangat menderita sekali", balas Tika.
"Kita harus menyatukan mereka", ucap Rania.
"Kalian gak ke sekolah?", ucap Sava tiba-tiba hadir.
"Sudah bangun? Gimana keadaan lo? Sarapan yuk", kata Rania.
"Kenapa kalian gak pergi sekolah? Gue gak apa-apa. Sudah mendingan", jawab Sava.
"Kan gak belajar. Ke sekolah agak siangan saja. Lo gimana? Gak sekolah? Ikut kita saja. Dari pada di rumah sendiri", balas Tika.
Wajah Sava murung.
"Ayo dong. Semangat", kata Tika.
Akhirnya Sava tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
///
"Kenapa kalian datang lama sekali?", tanya Kanaya.
"Sava kan sakit", jawab Rania.
"Kenzie dan Shadiq terus menanyakan keadaan Sava", ujar Kanaya.
"Kalian menginap di rumah Sava kan? Kenapa gak ada kasih kabar di grup sih. Aku juga jadi ikut khawatir", lanjutnya.
"Gak sempat kita. Kita sibuk mengurus Sava. Kenzie dan Shadiq di mana? Katanya nyariin", jawab Tika.
"Hubungi saja suruh ke sini", sahut Rania.
"Savanya mana? Gak sekolah?", tanya Kanaya.
"Di UKS. Kita suruh istirahat. Kita cuma sebentar di sini, mau lihat keadaan dulu", jelas Tika.
"Jadi Sava sendirian? Gue ke sana ya. Kalian jumpai Kenzie dan Shadiq", ucap Kanaya.
"Bagus itu", kata Tika nyengir.
Akhirnya Kanaya menemani Sava di UKS sementara Tika dan Rania sedang berbincang-bincang dengan Kenzie dan Shadiq.
"Bagaimana keadaan Sava?", tanya Shadiq.
"Sudah mendingan. Dia di UKS sekarang, dari pada di rumah sendirian", jawab Tika.
"Kalian tahu Fariz di mana? Dia pergi tengah malam dan belum pulang sampai sekarang. Suami apaan dia itu. Gak bertanggung jawab. Sudah tahu istri sedang sakit, malah pergi meninggalkan Sava", kata Tika emosi.
"Kita harus kerja sama. Kalian bisa terus di samping Sava? Kalian bawa ke rumah kalian atau kalian di rumah Sava, terserah. Tapi jangan biarkan Sava menonton televisi dan jauhkan alat komunikasi darinya", ucap Shadiq.
"Apa yang terjadi?", tanya Tika dan Rania bersamaan.
**************************************
Jangan lupa beri ucapan selamat tahun baru dan votenya 🙏😊
__ADS_1