
"Hallo Hamdan. Apa tuan Fariz memerintahkan seseorang untuk menjemput nona Sava?"
"Tunggu sebentar. Tuan menyuruh seseorang menjemput nona Sava? Tidak. Hallo, Deshi. Tuan tidak ada memerintah seseorang menjemput nona Sava"
"Hah? Apa? Jadi siapa yang menjemput nona Sava? Saya menunggu nona Sava sudah lebih 1 jam, saat aku hubungi katanya dia sudah dijemput suruhan tuan lalu tiba-tiba telepon putus"
"Jadi maksudmu nona Sava menghilang? Lebih tepatnya diculik? Cepat periksa cctv kantornya dan cari di mana Alan berada"
Panggilan telepon terputus.
"Apa yang terjadi? Sava diculik? Cepat lacak lokasinya", ujar Fariz.
"Baik tuan. Saya juga akan hubungi tim keamanan", jawab Hamdan.
"Aku akan menyusul ke kantor Sava", ucap Fariz.
"Jangan tuan. Kita ke lokasi Sava langsung saja. Biarkan Deshi yang mencari siapa pelakunya", kata Hamdan.
"Baiklah. Sudah ditemukan di mana?", balas Fariz.
"Sepertinya ponsel nona Sava mati. Saya tidak dapat mencari lokasinya", jawab Hamdan.
"Lokasi sewaktu Sava dan Deshi berkomunikasi bisa dicari? Atau lokasi terakhir ponselnya hidup", ucap Fariz.
"Bisa tuan", jawab Hamdan.
"Ayo kita langsung ke sana. Mungkin Sava berada tidak jauh dari sana", ucap Fariz.
Fariz dan Hamdan beserta tim keamanan langsung menuju lokasi.
"Bagaimana ini? Hari mulai gelap. Hanya ada pepohonan di sepanjang jalan. Apa belum ada kabar?", ujar Fariz.
"Lokasi nona Sava sewaktu dihubungi Deshi ada di jalan besar itu. Tetapi lokasi terakhir terlacak ada di daerah sini. Ini merupakan area perkebunan. Jalan pintas untuk ke kota sebelah. Apa nona Sava dibawa ke luar kota?", balas Hamdan.
Fariz semakin panik.
"Sial. Harusnya aku gak membiarkannya bekerja di Shinee Frameworks. Lebih baik dia tinggal di rumah. Bahkan ditahan di rumah", gumam Fariz.
Pesan masuk ke ponsel Hamdan.
"Ada pesan dari Deshi tuan. Katanya Alan ada di kantor, sedang lembur. Deshi sudah melihat langsung Alan ada di kantor. Ini foto orang yang menculik Sava. Apa tuan kenal?", kata Hamdan menyodorkan ponselnya.
"Cari identitasnya", perintah Fariz.
Ada pesan masuk lagi dari Deshi.
"Deshi sudah melakukannya tuan. Dia melacak pemilik mobil yang menjemput nona Sava. Bahkan ada sosial medianya juga", kata Hamdan.
Ponsel Fariz berdering.
"Ini apa? Dia penggemar Amel?", gumam Hamdan.
"Hallo"
"Pak Fariz, salah satu terdakwa ditemukan bunuh diri. Ia adalah artis itu"
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Bukti kuat menunjukkan bahwa siartis juga bersalah. Jadi pengacaranya mengundurkan diri. Padahal persidangan akan dilakukan besok"
"Jadi persidangannya bagaimana?"
"Tetap dilanjutkan dengan terdakwa lainnya"
"Baiklah. Kabari saya berita selanjutnya"
__ADS_1
Panggilan terputus.
"Amel bunuh diri", ujar Fariz.
"Hah? Ya tuhan. Jadi. Jadi ini benaran ulah penggemar Amel?", balas Hamdan.
"Apa maksudmu?", tanya Fariz.
"Di sosial media sipenculik banyak foto Amel. Sepertinya dia penggemar berat Amel", jelas Hamdan.
"Cepat periksa apapun yang berhubungan dengan penculik itu", perintah Fariz.
Fariz mulai panik. Ia takut terjadi sesuatu dengan Sava.
"Apa tidak ada hal mencurigakan di sekitar sini? Hubungi bagian heli", ujar Fariz.
"Baik tuan", jawab Hamdan.
Hamdan menghubungi pihak keamanan yang menggunakan helikopter.
"Bagaimana kondisi di atas? Apa ada tanda-tanda?"
"Belum ada pak. Area ini sangat sepi. Terlalu banyak pepohonan. Sepertinya kita tunggu sampai hari gelap, mungkin akan terlihat cahaya lampu"
"Baik. Kabari saya"
Beberapa saat kemudian pihak heli menghubungi Hamdan kembali.
"Pak, saya melihat ada cahaya di dalam hutan. Sepertinya ada rumah di dalam hutan"
"Kamu dapat melihat mobil kami? Bisa arahkan ke mana kami pergi?",
"Baik pak"
Akhirnya mereka telah tiba di depan sebuah rumah kumuh di tengah hutan. Tim keamanan berpencar untuk mengepung rumah tua.
Buar.
Suara dobrakan pintu. Pintu terbuka.
Degg.
Sejenak jantung Fariz berhenti berdetak melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
"Sava", teriak Fariz lalu berlari ke arah Sava.
Begitu mendengar suara dobrakan pintu, sang penculik menarik kursi kayu yang ada di kaki Sava, lalu menghempaskannya ke arah Fariz yang akhirnya mengenai baru kiri Fariz.
Tubuh Sava tergantung dengan kaki dan tangan terikat.
Tim keamanan langsung mengejar penculik.
Fariz berlari memeluk kaki Sava. Air mata tak terbendung akhirnya menetes di pipi Fariz.
Hamdan mengambil kursi untuk menyelamatkan Sava.
Tubuh Sava terhuyung ke lantai. Fariz memeluk Sava erat. Lalu Fariz membuka semua tali serta penutup mulut dan mata Sava.
Sava sudah tidak sadarkan diri.
"Sava. Sava", teriak Fariz.
Sava mengerjapkan matanya.
"Aku takut", gumam Sava sambil menetaskan air mata. Sava kembali tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Aku di sini. Kamu sudah aman", ucap Fariz sambil mengelus rambut Sava.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Sava tersadar.
"Kamu baik-baik saja? Sabarlah sebentar lagi kita sampai", ucap Fariz lalu memeluk Sava.
Sava membalas pelukan Fariz lalu berkata, "Aku gak apa-apa. Kita pulang saja".
"Gak bisa. Kita harus ke rumah sakit", balas Fariz.
///
"Jangan khawatir, pasien hanya syok. Tidur dan istirahat dengan baik dalam beberapa hari akan kembali pulih. Oleskan salep di lukanya dengan rutin agar hasil maksimal", jelas dokter.
"Baguslah. Terimakasih dokter", sahut Hamdan.
"Sudah ku katakan kan. Aku gak apa-apa. Kita pulang saja", ucap Sava.
Fariz menatap tajam Sava.
Suana mendadak menjadi canggung. Hamdan dan Deshi saling bertatapan. Hamdan memberi kode ke Deshi untuk ke luar.
"Masih ada yang harus kami urus, kami permisi dulu. Semoga nona cepat sembuh", kata Deshi lalu meninggalkan Fariz dan Sava berdua.
Suasana kembali hening. Tiba-tiba perawat masuk.
"Saya membawakan salep. Perlu saya bantu oleskan?", tanya siperawat.
"Biar aku saja yang melakukannya", sahut Fariz.
Fariz mengikat rambut Sava.
"Aku bisa sendiri", ucap Sava.
Fariz mengoleskan salep ke luka yang ada di leher Sava.
"Lembut sedikit", rintih Sava.
"Tahan sedikit. Agar lukanya cepat sembuh", ucap Fariz.
Fariz menggulung lengan baju dan celana Sava. Lalu mengoleskan salep ke area yang terluka.
"Di mana lagi?", tanya Fariz.
"Cukup", jawab Sava sambil menyilangkan tangan membentuk huruf X.
Saat Fariz menyimpan salep kembali ia memunggungi Sava. Sava melihat ada noda di bahu Fariz.
"Buka bajumu", ucap Sava.
Pupil Fariz membesar.
Sava mendekat lalu mencoba membuka kemeja Fariz.
"A. Apa yang kamu lakukan?", ucap Fariz menahan Sava.
"Buka bajumu", balas Sava.
"Di. Di sini? Kenapa tiba-tiba?", tanya Fariz sambil melirik ke kiri dan ke kanan.
"Lepaskan", sahut Sava.
"Hei. Kamu? Kenapa kamu tiba-tiba jadi genit begini?", ucap Fariz malu-malu.
"Aku gak bisa melakukannya. Ini di rumah sakit", lanjut Fariz.
__ADS_1
"Hah?", sahut Sava sambil menarik lengan kiri Fariz.
"Akkk", teriak Fariz.