The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 112


__ADS_3

"Badanku gerah. Aku gak mandi seharian. Aku mau mandi tapi karena tanganku di gips aku jadi kesusahan", ujar Fariz.


"Gak usah mandi. Sudah terlalu malam", balas Sava.


"Aku juga kesusahan membuka pakaianku", ucap Fariz.


Sava membatu. Perlahan melirik arah Fariz.


"Bukakan", kata Fariz memerintah Sava.


Sava masih tidak bergerak.


"Bukannya sewaktu di rumah sakit kamu sangat ingin membukanya", kata Fariz menggoda Sava.


"Itu karena kamu terluka", jawab Sava gugup.


"Aku masih terluka", balas Fariz.


"Tetap saja berbeda", jawab Sava gugup.


"Apa bedanya? Sama-sama membukakan pakaian suamimu", kata Fariz mendekati Sava.


"Buka", lanjutnya.


Sava mulai membukakan kancing kemeja Fariz sambil memalingkan wajahnya.


Sesekali Sava melirik Fariz.


"Sekalian saja mandikan aku", ucap Fariz.


Sava langsung menatap tajam Fariz, Fariz membalas Sava dengan senyum takut.


"Maksudku membersihkan tubuhku dengan handuk basah", lanjutnya.


Sava menurut. Ia membersihkan tubuh Fariz dengan handuk basah.


"Cukup. Aku mau ke kamar mandi", ucap Fariz.


Sava merasa lega. Akhirnya ia bisa bernapas dengan tenang, sebelumnya ia seperti menahan napas.


Fariz kembali dari kamar mandi dengan celana berbeda dari sebelumnya serta wajah berair.


Fariz mendekati Sava kembali dengan membawa piyamanya.


"Pakaikan", kata Fariz sambil memberikan piyamanya.


Sava menurut. Tetapi Fariz malah menjaili Sava. Fariz memeluk-meluk Sava saat Sava mengancingkan piyamanya.


Sava kesal. Ia membuka kembali kancing-kancing yang sudah terpasang lalu naik ke ranjang.


"Pakai sendiri", ucap Sava.


Fariz tersenyum licik melihat tingkah Sava, ia ikut naik ke tempat tidur tanpa mengancingkan piyamanya.


"Sava", panggil Fariz.


"Hm", sahut Sava.


"Sava", panggil Fariz lagi.


"Ada apa?", jawab Sava sambil membalikkan tubuhnya.


Fariz tersenyum penuh kemenangan. Sava masuk dalam pelukannya.


Sava terkejut Fariz berada dihadapannya dengan pakaian belum dikancing. Dada Fariz tepat di depan muka Sava.


"Lepaskan aku. Kenapa kamu belum memakai pakaianmu dengan benar", ucap Sava.


"Tanganku sedang sakit. Aku gak bisa melakukannya. Bukannya tadi kamu sudah mengancingnya? Kenapa melepasnya kembali? Kamu sengajakan?", balas Fariz.

__ADS_1


"Sengaja apa?", tanya Sava polos.


"Kamu ingin berlama-lama melihat tubuhku", jawab Fariz sombong.


Sava tak habis pikir dengan ucapan Fariz, Sava menyatukan pakaian Fariz. Menutup rapat tubuh Fariz tanpa mengancingnya.


"Jaga tubuhmu dengan baik. Jangan sampai masuk angin. Aku gak mau mendengar keluhan besok", ucap Sava lalu bangkit.


"Mau ke mana?", tanya Fariz.


Sava tak menjawab, ia berjalan menuju pintu. Fariz mengejar lalu menahan Sava.


"Aku hanya bercanda", kata Fariz sambil berusaha mengancing bajunya.


Fariz terlihat kesulitan. Sava mengulurkan tangannya lalu membantu Fariz.


"Ayo kita tidur", ucap Fariz menarik tangan Sava.


"Jangan dekat-dekat. Tanganmu terluka", ucap Sava.


"Besok aku akan ke rumah sakit lain memeriksa tanganku. Tanganku gak apa-apa. Kenapa sampai harus di gips seperti ini. Sangat mengganggu", ucap Fariz.


Sava tak menjawab Fariz, ia tidur memunggungi Fariz.


Fariz mengerucutkan bibirnya.


"Gips sialan", batin Fariz.


Fariz tak bisa tidur. Fariz uring-uringan, ia terus mengganti posisi tidur.


Tiba-tiba sepasang tangan melingkar diperutnya.


Fariz ingin memutar badan tetapi ditahan Sava.


"Tatap seperti ini", ucap Sava.


///


Saat Sava bangun pagi, Fariz tidak ada di kamar. Tak lama kemudian, Sava mendengar suara air dalam kamar mandi. Sava berpikir Fariz sedang di kamar mandi.


"Tumben bangun cepat", gumam Sava.


"Sebaiknya aku memasak. Nanti Fariz tiba-tiba minta makan. Dia sudah bangun cepat", kata Sava lalu pergi ke dapur.


Tak berapa lama Fariz datang menyusul Sava dengan raut wajah sedikit pucat dan tubuh lemas.


"Kamu kenapa? Kurang tidur? Tidurlah lagi. Tumben cepat bangun", ujar Sava.


"Perutku", ucap Fariz lalu tiba-tiba lari ke kamar mandi.


Sava langsung teringat kejadian tadi malam, yaitu Fariz memakan kripik pedas.


Sava menjadi cemas. Ia buru-buru membuat obat untuk Fariz.


Setelah Fariz kembali Sava langsung menyodorkan teh hangat buatannya.


"Perutmu sakit? Minumlah", kata Sava.


"Kalau gak kuat makan makanan pedas kenapa kamu makan kripik itu?", tanya Sava.


Fariz melirik Sava ketika ia meneguk tehnya.


"Karena siapa aku begini?", balas. Fariz.


"Aku gak menyuruhmu memakannya", jawab Sava.


"Itu karena temanmu. Aku gak habis pikir dengan temanmu itu. Setiap aku bertemu dengannya pasti ada saja yang terjadi. Untung mereka sudah tahu kita menikah. Kalau tidak aku akan mendapatkan yang lebih parah dari ini", jelas Fariz.


"Jangan bicara seperti itu. Mereka temanku", balas Sava.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa berteman dengan mereka? Apa gak ada orang lain yang bisa kamu aja berteman?", tanya Fariz.


"Gak baik memilih-milih teman. Aku merasa mereka baik. Aku nyaman bersama mereka", jawab Sava.


"Habiskan tehmu. Sebentar lagi kita makan", lanjut Sava.


Sava melanjutkan kegiatan memasaknya.


Setelah masakan selesai, Sava mengambil nasi serta lauk. Lalu Sava duduk mendekat ke Fariz.


"Aku suapin kamu karena tanganmu terluka", ujar Sava.


Fariz langsung tersenyum. Wajahnya mulai berseri dan bersemangat. Ia tertawa girang dalam hati.


"Ada gunanya juga tangan digips seperti ini. Aku gak usah buru-buru ke rumah sakit kalau begitu", batin Fariz.


Sava menyuapi Fariz dengan sangat lembut.


Fariz terus menatap Sava. Sava mulai salah tingkah ditatap terus oleh Fariz.


"Apa ada yang aneh?", kenapa terus menatapku?", tanya Sava.


"Cantik", ujar Fariz.


Sava semakin salah tingkah.


"Kamu sangat menggemaskan", ucap Fariz lalu mencubit gemas pipi Sava.


"Cepat makan", balas Sava menutupi kegugupannya.


Fariz sengaja makan berantakan. Mulutnya berlepotan.


Sava membersihkan mulut Fariz. Tetapi Fariz kembali melakukannya. Sava menggelengkan kepalanya lalu membersihkan mulut Fariz.


Ketiga kalinya Fariz melakukannya, Sava mulai geram.


"Fariz", seru Sava.


Akhirnya Fariz menghentikan aksinya dan makan dengan tenang sampai makanannya habis.


"Kamu gak makan?", tanya Fariz.


"Iya ini mau makan. Kamu kembali ke kamar saja. Istirahat. Kalau perutmu kembali sakit kasih tahu aku", jawab Sava.


Fariz tidak bergerak dari tempat duduknya. Sementara Sava makan di kursi lain.


"Kenapa kamu duduk di situ?", tanya Fariz.


"Aku sudah selesai menyuapimu", jawab Sava.


"Walaupun sudah selesai tetap duduk di sampingku", balas Fariz.


"Masuk kamar saja sana. Istirahat", ucap Sava.


Fariz beranjak dari tempat duduknya lalu duduk berdekatan dengan Sava.


Sava mengerutkan kening melihat Fariz duduk di sebelahnya.


"Aku masih mau melihatmu dari dari dekat", ujar Fariz.


Sava memalingkan wajahnya lalu bibirnya berkomat-kamit tak jelas tanpa mengeluarkan suara. Setelah itu kembali ke posisi semula berpura-pura tenang dan menyantap makanannya.


Tak ada suara. Fariz benar-benar hanya menatap Sava.


"Pokoknya aku mau mandi hari ini", kata Fariz tiba-tiba.


Sava langsung tersedak mendengar ucapan Fariz.


Fariz menyodorkan air putih lalu menepuk-nepuk pelan punggung Sava.

__ADS_1


__ADS_2