
"Ini rumah Fariz? Ini rumah apa istana. Besar banget ya. Kapan gue bisa tinggal di rumah sebesar ini", ucap Tika.
"Lo jangan malu-maluin deh", bisik Rania.
Tika mengerucutkan bibirnya.
Ceklek. Pintu terbuka.
"Eh ada Kenzie dan Shadiq. Sudah lama gak ketemu ya? Apa kabar?", ujar bunda Fariz.
"Baik tan. Fariznya ada?", jawab Shadiq.
Bunda Fariz melirik jam tangannya lalu berkata, "Bukannya masih di sekolah ya?".
"Sudah pulang tan, tadi Sava pingsan", sahut Tika.
"Apa? Menantu bunda kenapa?", ucap bunda Fariz.
"Bunda? Menantu?", bisik-bisik sahabat Sava.
"Aduh. Bunda keceplosan. Bisa marah Fariz kalau mereka sampai tahu", batin bunda Fariz.
"Kita sudah tahu Fariz dan Sava sudah menikah tan. Mereka tinggal di mana?", ucap Kenzie.
"Bagus kalau begitu. Ayo ke rumah mereka. Tante juga mau lihat kondisi Sava", jawab bunda Fariz menuntun jalan.
Deshi sedang di dapur memasak bubur bersama bi Ijah. Mendengar ada yang datang ia bergegas ke arah pintu.
"Deshi kamu di sini? Katanya Sava pingsan. Di mana Sava? Bagaimana keadaannya?", tanya bunda Fariz.
"Iya nyonya. Nona di kamar sedang diperiksa dokter", jawab Deshi.
"Kalian tunggu di sini ya. Bunda mau lihat Sava dulu. Suruh bi Ijah buatin minuman untuk mereka ya", ucap bunda Fariz.
Bunda Fariz melihat dokter sedang memeriksa Sava di kamarnya.
"Bagaimana keadaan menantu saya dok?", ujar mertua Sava.
"Bunda kenapa bisa ada di sini?", tanya Fariz.
"Tentu saja untuk melihat menantu bunda", jawab bundanya.
"Pasien demam dan juga flu. Di tambah sepertinya pasien sedang datang bulan jadi mengalami anemia. Bisa juga disebabkan karena stress", jelas sang dokter.
"Saya lihat ada obat flu di sini. Apa pasien mengonsumsinya? Sudah berapa lama pasien sakit?", tanya dokter.
"Itu obat saya. Saya kemarin flu dan sekarang sudah baikan", jawab Fariz.
"Jadi pasien tertular flu", gumam sidokter.
"Gak bahaya kan? Kapan istri saya sadar?", tanya Fariz.
"Sebentar lagi mungkin akan sadar tetapi kalau ia belum bangun itu karena ia akan merasa lelah dan kembali tertidur. Saya kasih resep obat dan vitamin untuk pasien. Jangan membuatnya stress. Hiburlah pasien", jawab dokter.
"Baik dok. Terimakasih banyak. Tapi sebaiknya dokter di sini sampai istri saya sadar", ucap Fariz.
"Saya akan menunggu 1 jam lalu mengecek kondisi pasien. Kalau sudah mulai membaik saya akan pulang. Tapi sebaiknya saya menunggu di luar", kata sidokter.
"Baik dok", jawab Fariz.
"Kamu apakan Sava sampai pingsan hah?", ujar bunda Fariz menahan amarah karena tidak mau mengganggu menantunya.
__ADS_1
"Fariz gak tahu bunda. Tiba-tiba saja Amel datang ke sekolah dan bertemu Sava. Aku menemukannya sudah dalam keadaan gak sadar", jawab Fariz.
"Apa? Jadi wanita itu yang membuat menantu bunda pingsan?", balas bunda.
"Tapi kami benar-benar sudah putus bun. Bagaimana Fariz membuktikannya agar bunda percaya", jawab Fariz.
"Kamu mencintai Sava atau tidak?", tanya bundanya.
Fariz terdiam.
"Ya sudah, nanti bunda akan bicarakan hubungan kalian dengan orang tua Sava", ucap bunda.
Tiba-tiba Fariz takut. Matanya yang terbuka lebar bergetar. Tangannya mendadak dingin.
"Fariz mencintai Sava", ucap Fariz.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan? Buktikan kalau kamu mencintai Sava", ucap bundanya.
"Fariz sudah katakan ke Sava. Fariz bahkan mengatur agar kami tinggal di kamar yang sama", jelas Fariz.
"Apa yang kamu katakan ke Sava? Kamu mencintainya?", balas bundanya.
Fariz menggelang kepala. Sementara sang bunda mengerutkan keningnya.
"Intinya Fariz mengatakan itu walau gak secara langsung. Itu karena dia gak sabaran. Padahal Fariz mau aturkan acara romantis dengan Sava", jelas Fariz.
"Ya tuhan. Kenapa anakku ini lambat sekali beraksi. Bunda gak mau tahu. Awas saja kalau menantu bunda kenapa-kenapa. Bunda lapor ke orang tuanya. Biar kamu dipecat sebagai menantu", kata Bunda Fariz.
Fariz menghembuskan napas kasar. Lalu mengantar bundanya ke luar.
Fariz terkejut melihat sahabatnya serta sahabat istrinya ada di rumahnya.
"Bagaimana bisa kalian ada di sini?", tanya Fariz.
"Di kamar", jawab Fariz sambil menggaruk kepalanya.
Fariz bingung apa yang harus ia perbuat. Apa yang harus ia jelaskan lebih dulu ke para sahabatnya.
Tika, Rania dan Kanaya bergegas menuju kamar Sava.
"Lo hutang cerita ke kita", ucap Shadiq.
Sedangkan Kenzie hanya diam dan tak menatap Fariz.
Mereka menyusul ke kamar Sava.
///
Fariz terkejut melihat Sava sudah sadarkan diri. Sava sedang duduk sambil memeluk para sahabatnya.
"Fariz kamu ke sini. Aku mau menyidang kalian berdua", ucap Tika.
Sava sedang menyandar dinding ke kepala tempat tidur sambil menundukkan kepala. Fariz duduk di dekat Sava. Menatap Sava lekat lalu menempelkan tangannya ke kening Sava. Sava menegakkan kepalanya maka terjadilah Fariz dan Sava saling bertatapan.
"Bagaimana keadaanmu? Apa perlu aku panggil dokter? Dokter masih ada di bawah", bisik Fariz.
Sava menggelangkan kepala.
"Jadi kalian sudah menikah?", tanya Tika tiba-tiba.
Fariz dan Sava menatap para sahabatnya satu persatu.
__ADS_1
"Iya", jawab Fariz. Sedangkan Sava kembali menunduk.
"Kapan? Dan bagaimana kalian bisa menikah? Dan kenapa bisa kalian merahasiakannya selama ini dari kami?", sahut Kenzie.
"Bagaimana kami menikah pasti kalian sudah tahu cerita dari Sava. Itu benar adanya. Kami menikah karena dijodohkan. Kapan kami menikah? Hmm sewaktu aku berlibur ke medan dan Sava pulang kampung. Kalau kalian tahu kami sama-sama libur dan sama-sama ke medan harusnya kalian curiga", jelas Fariz.
"Kenapa kalian merahasiakannya?", balas Kenzie.
"Kami menikah terlalu dini. Kalau orang lain tahu kami menikah bisa jadi sekolah kami rusak", jawab Fariz.
"Setidaknya kalian cerita ke kami. Apa kami gak dianggap sahabat?", tanya Tika.
"Aku yang meminta untuk merahasiakannya karena aku gak terima pernikahan ini", jawab Fariz.
"Kalau lo gak bisa terima kenapa gak lo tolak saja? Lo bisa cerita ke kita. Lo tahu gue suka Sava. Apa yang lo lakuin hah? Kenapa lo diam saja gue dekatin Sava?", bentak Kenzie.
"Kenzie sabar. Jangan emosi. Sava sedang sakit. Ayo ke luar", ucap Shadiq menarik tangan Kenzie.
"Mau tanya apa lagi?", ujar Fariz.
"Lo jahatin sahabat kita. Lo akan rasakan akibatnya", ucap Tika.
Fariz hanya menunjukkan ekspresi datar.
"Kita mau bicara sama Sava. Lo bisa ke luar", kata Tika.
Begitu Fariz ke luar Tika langsung memeluk Sava lalu berkata, "Berat banget sih hidup lo".
"Oh iya. Lo diapain sama Amel?", lanjutnya.
Sava menggelengkan kepalanya tetapi dengan raut wajah sedih.
"Lo cerita ke kita. Kita sahabat lo. Jangan dipendam terus. Hidup lo berat banget", ucap Rania.
Tiba-tiba saja air mata Sava mengalir. Ia menangis terisak.
"Cerita ke kita Va", ujar Kanaya.
"Amel menyuruhku meminta cerai ke Fariz", ucap Sava.
"Apa?", teriak Tika.
"Kalau gak Fariz yang akan menceraikanku", lanjut Sava.
"Dasar rubah. Gak tahu diri. Bukannya Fariz sudah memutuskannya", sahut Tika.
Isakan Sava mulai berangsur berkurang.
"Jadi beneran mereka sudah putus? Kalian tahu dari mana? ", tanya Sava.
"Shadiq. Kita juga sudah melabrak sirubah itu. Sepertinya dia gak terima diputuskan Fariz. Jadi dia menghasutmu", jelas Tika.
"Aku gak percaya", ucap Sava.
"Buktinya Fariz memilihmu", balas Tika.
"Kenapa kamu terus merahasiakan hubungan kalian dari kami? Apa kalian sudah saling mencintai?", tanya Kanaya.
Sava menggeleng.
"Aku takut padanya. Dia yang meminta pernikahan ini dirahasiakan. Dia terus mengancamku", jawab Sava.
__ADS_1
"Sepertinya Fariz sudah mulai membuka hatinya untukmu. Buktinya dia memutuskan Amel. Berjuanglah Sava untuk mendapatkan cinta suamimu", kata Kanaya.
"Gak bisa. Biarkan Fariz. Sava sudah cukup berjuang dan sabar menghadapi Fariz. Sekarang Fariz yang harus berjuang mendapatkan Sava. Kita harus buat Fariz merasakan apa yang dirasakan Sava", sahut Tika sambil tersenyum licik.