
Setelah selesai berbelanja Sava dan Fariz kembali ke villa. Fariz mandi, sedangkan Sava memasak di dapur.
Tak berapa lama, Sava sedang asyik memasak tiba-tiba saja ada yang memeluk Sava dari belakang.
"Menjauhlah, aku sedang memasak," kata Sava setelah melirik sekilas ke arah belakangnya.
"Aku sudah mandi, jadi aku sudah boleh dekat-dekat denganmu, kan?" balas Fariz.
"Aku tidak ada berkata seperti itu. Menjauhlah, Fariz. Aku sedang memasak. Apa kau tidak ingin makan?"
"Aku ingin memakanmu." Fariz menggendong Sava lalu mendudukkannya di atas meja makan.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menggendongku seperti anak kecil?" ronta Sava.
Tak menghiraukan rontahan sang istri, Fariz malah semakin memperdekat jarak mereka. Wajah Sava langsung memerah.
"Kenapa reaksimu seperti itu? Seakan aku akan menerkammu," kata Fariz.
"Bukankah kau ingin memakanku?" tanya Sava polos.
Fariz tertawa dan menjauhkan diri dari Sava. Dengan sigap Sava turun dari meja dan melanjutkan kegiatan memasaknya. Sedangkan Fariz duduk manis menunggu makanan dihidangkan.
Setelah Sava selesai memasak mereka pun menyantap hidangannya. Fariz makan dengan lahap, ia terus menambah makanannya. Ia seperti tidak diberi makan berhari-hari.
Sava senang suaminya menyukai makanan yang telah dimasaknya. Tatapannya tak lepas dari sosok yang ada dihadapannya, yaitu suami tercinta.
"Ha... Aku kenyang sekali," lirih Fariz.
"Kamu sudah selesai? Aku akan mandi sebentar. Setelah itu kita pergi," ucap Sava.
"Pergi ke mana?" sahut Fariz.
"Kamu mau di villa saja?" balas Sava.
Fariz menggelengkan kepalanya dan Sava pun pergi menuju kamar.
Tak berapa Sava kembali. Ia memakai kaus bertulisan I Love Berastagi dipadukan dengan cardigan.
"Kamu gak mau memakai baju yang sama denganku?" tanya Sava.
"Tidak mau, norak!" seru Fariz.
__ADS_1
"Ya, sudah." Sava berjalan mendahului Fariz.
"Tunggu," cegah Fariz. Ia masuk ke dalam kamar. Tak berapa lama ia kembali dengan pakaian yang berbeda.
Sava tersenyum simpul melihat suaminya berganti pakaian yang sama dengannya.
"Kita mau ke mana?" tanya Fariz.
"Kamu mau ke mana?" tanya Sava kembali.
"Aku tidak mau pergi terlalu jauh dengan sepeda motor itu. Kita ke Bukit Gundaling saja" jawab Fariz.
"Baiklah," sahut Sava.
Mereka telah sepakat pergi ke Bukit Gundaling. Dalam perjalanan mereka berpapasan dengan salah satu pemuda di pasar tadi. Pemuda itu berkata, "Ternyata adik dan kakak."
Samar-samar Fariz mendengar ucapan pemuda itu.
Sesampainya di parkiran Bukit Gundaling, mereka bertemu lagi dengan pemuda tadi dengan salah satu pemuda lainnya. Fariz mendengar salah satu dari mereka berkata, "Mereka adik-kakak. Kau lihatkan wanita itu yang membawa sepeda motornya. Adiknya terlihat sangat manja ke kakaknya."
Fariz mengerti arah pembicaraan mereka, ia mulai geram dan menarik Sava jauh dari para pemuda itu.
Lelah berkeliling Sava dan Fariz duduk di sebuah kursi taman menghadap pemandangan alam Berastagi. Sekali mereka mengabadikan foto bersama.
"Sepertinya mereka mengikuti kami," batin Fariz.
Fariz semakin menempel ke Sava. Ia memberanikan diri melingkarkan tangannya di perut Sava.
"Apa yang kau lakukan? Ini di tempat umum," protes Sava melepas tangan Fariz.
"Aku kedinginan." Fariz menempelkan telapak tangannya di pipi Sava. Untung saja tangan Fariz benar-benar dingin.
"Tapi..." Sava melirik sekitarnya.
Tak mau ambil pusing, Fariz kembali memeluk Sava. Sava mencoba menghangatkan Fariz dengan mengosok-gosok tangannya ke Fariz.
"Apa sebaiknya kita pulang?" tawar Sava.
Fariz tak menjawab, ia malah merebahkan tubuhnya, tidur di atas pangkuan Sava.
Sava sedang asyik mengelus rambut Fariz. Tiba-tiba saja ia bersin. Fariz terduduk mendengar Sava bersin dan mengecek kondisi tubuh istrinya. Mereka segera kembali ke villa.
__ADS_1
"Besok kita akan kembali. Udara di sini sangat dingin. Aku tak mau kau sakit," ucap Fariz.
"Baiklah," sahut Sava.
Malam ini mereka beristirahat dengan tenang. Tak ada hal aneh terjadi diantara mereka. Mereka hanya tidur dengan memeluk satu sama lain.
Keesokan harinya.
Sava dan Fariz telah bersiap-siap untuk pulang. Tetapi, Fariz bingung bagaimana mereka akan pulang. Semua mobil telah dibawa oleh keluarganya.
"Bagaimana kita akan pulang?" tanya Fariz.
"Aku sudah meminta penjaga villa untuk mengantar kita sampai mendapat bus untuk kembali ke Medan," jawab Sava.
"Bagaimana dia akan mengantar kita? Dia hanya memiliki motor," sahut Fariz.
"Dia meminjam mobil tetangganya."
"Kenapa kita tidak membawa mobil itu sampai ke Medan? Atau aku akan membayar mobilnya," kata Fariz.
Sava menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Fariz. "Aku tak mau pulang kalau begitu."
"Baiklah. Baiklah. Terserah kau saja," sahut Fariz.
Penjaga villa datang dan mereka pun berangkat. Mereka diantar ke stasiun bus dan Penjaga villa itu menemani mereka sampai akhirnya bus yang mereka tumpangi berangkat.
Masih setengah perjalanan Fariz merasa mual, keringatnya bercucuran. Ia terus menutup hidung serta mulutnya. Di dalam bus ada berbagai macam penumpang, dan mayoritas adalah penduduk asli situ. Mereka membawa berbagai hasil kebun dan ternaknya untuk di bawa ke Kota. Hal itulah yang membuat Fariz merasa mual. Dan juga bus yang hanya difasilitasi oleh pendingin alami membuat Fariz kepanasan.
"Kau ingin muntah?" tanya Sava. Sava memijit-mijit bahu Fariz serta mengipasnya dengan sobekan kardus yang dimintanya pada salah satu penumpang. Sava sangat khawatir melihat kondisi Fariz.
"Ini semua karena ayah dan yang lainnya. Haruskah mereka membawa semua mobil. Awas saja aku akan membalasnya," batin Fariz.
Untung saja Sava sigap dalam menangani Fariz. Fariz masih bersabar sampai mereka tiba di Medan.
Turun dari bus yang mereka tumpangi membuat Fariz merasa terbebas. Ia lebih memilih berada di terik panasnya cuaca Kota Medan dibanding berlama-lama berada dalam bus itu lagi.
Fariz mencegat sebuah taksi untuk membawa mereka ke kediaman Monang Grup.
Fariz bernapas lega setelah merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk. Sava ikut merebahkan tubuhnya di samping Fariz.
Fariz tak bisa tidur, padahal selama perjalanan ia menahan kantuk. Tatapannya kosong. Tak berapa lama ia mangalihkan pandangannya ke arah samping, tempat di mana Sava berada. Ternyata Sava sudah terlelap. Sepertinya Sava kelelahan, ia terlalu asyik berlibur dan bermain membuatnya melupakan kondisi tubuhnya.
__ADS_1
Fariz berdiri dan ke luar dari kamar. Ia menghubungi seseorang. Cukup lama Fariz berbicara dengan seseorang di seberang sana. Benda pipih yang ada di genggamannya itu tak lepas dari telinganya sampai sebuah kata 'oke persiapkan' ke luar dari mulut Fariz.
Fariz tak ingin mengganggu Sava hari ini, ia membiarkan apa yang saja yang Sava lakukan. Tetapi, lain hal dengan hari berikutnya. Fariz sudah meminta Sava untuk bersiap-siap di pagi hari. Ia memang bangun kesiangan pagi ini, tetapi hal itu tak merusak rencananya.