
Sava tidak bisa tidur, ia bergerak-gerak dalam pelukan Fariz.
"Jangan bergerak atau kamu akan menyesal," bisik Fariz.
Seketika Sava membatu, tak bergerak sedikitpun. Ia bahkan menahan napasnya. Fariz merasa ada yang aneh dengan istrinya, ia melepas pelukan dan mengecek kondisi Sava.
"Siapa yang menyuruhmu menahan napas? Kau ingin mati, hah?"
Dengan napas terengah-engah, Sava mencoba menetralkan diri.
"Menjauhlah, aku tidak bisa tidur kalau kita terlalu dekat seperti ini," kata Sava.
"Ya tuhan, kamu gak tahu betapa aku merindukanmu? Aku sampai jauh-jauh datang menyusulmu. Kamu malah menyuruhku menjauh? Jangan mempermainkanku, Sava. Bukankah kamu mengatakan mencintaku sejak lama? Jelaskan padaku apa yang kamu lakukan selama di sini? Kenapa kamu tidak pernah memberiku kabar?"
"Sudahlah, ayo kita tidur." Sava mengelak, ia memeluk Fariz untuk mencairkan es yang membeku. Ia tak ingin melawan suaminya, kemarahannya malah semakin menjadi-jadi.
Ditarik Fariz dagu Sava agar menatapnya langsung, sehingga mata mereka bertemu.
"Kau ingin kita tidak tidur sampai pagi?"
Tiba-tiba Sava menangis. Melihat Sava menangis Fariz menjadi panik. Ia mendekap Sava, lalu mengelus rambutnya. Tangisan Sava tak kunjung reda. Ia masih terisak-isak.
"Diamlah, aku hanya bercanda," kata Fariz.
"Aku merindukanmu, aku bahkan tidak bisa tidur tanpamu di sisiku. Saat aku ingin menghubungimu untuk bercerita tentang apa saja yang aku lakukan, kamu malah menyuruh Hamdan menanyakan Deshi. Jadi, aku berpikir lebih baik kita tidak saling berkomunikasi. Aku takut tidak bisa menahan rasa rinduku padamu. Aku sangat merindukanmu, Fariz," ungkap Sava.
Terpampang senyuman di wajah Fariz. Ia menunduk lalu mencium setiap inci wajah Sava.
"Apa yang kau lakukan!" kata Sava meronta.
"Aku ingin melampiaskan kerinduanku padamu yang selama ini ku tahan. Mulai sekarang, kau tidak boleh pergi tanpaku lagi. Kau tidak bisa menjauh dariku. Ingat itu!" seru Fariz.
Sava tersipu malu, ia membenamkan wajahnya di dada Fariz.
"Apa yang kau lakukan? Aku tidak bisa melihat wajahmu. Aku ingin terus melihatmu. Kau juga bisa melihat wajah suami tampanmu ini sepuasnya," kata Fariz.
Sebuah cubitan melayang di pinggang Fariz.
"Aku sudah katakan padamu berapa kali, Sava. Jangan menggodaku!"
"Aku hanya mencubitmu. Jadi, kamu mau aku hanya diam saja?" balas Sava.
Fariz mengangguk.
"Baiklah, aku akan menatap wajah tampan suamiku sepuasnya."
Sava mendekatkan wajahnya dengan wajah Fariz. Mereka beradu pandang. Semakin lama Fariz mendekatkan wajahnya, mengikis jarak diantara mereka. Sava menutup matanya membuat Fariz seperti mendapat kode untuk bertindak lebih jauh. Bibir mereka bertemu.
"Fariz. Fariz. Fariz," panggil Farhan.
"Ya, ampun. Cobaan apalagi ini," geram Fariz.
Fariz mengernyitkan wajahnya sambil membukakan pintu.
"Ada apa?"
"Kamu gak bisa tidur, kan? Ayo kita bermain PS? Kakak juga gak bisa tidur. Sudah lama kita tidak bermain bersama," tawar Farhan.
Tanpa menjawab apapun Fariz menutup pintu kembali.
"Fariz. Fariz. Fariz," teriak Farhan.
"Ada apa kak Farhan datang?" tanya Sava.
"Hanya ingin menggodaku," jawab Fariz.
"Kenapa kak Farhan menggodamu?" tanya Sava lagi.
"Kalau aku jujur, kamu pasti akan marah padaku," sahut Fariz.
"Huh, ya sudah."
"Selama di sini kalian banyak menghabiskan waktu bersama, kan? Ke mana saja kalian?" tanya Fariz.
"Hanya pergi ke beberapa tempat wisata."
"Kau menikmatinya?"
Sava mengangguk.
"Kau menikmati liburan tanpa suamimu?" Nada bicara Fariz meninggi.
"Tentu saja kalau bersamamu akan lebih menyenangkan," kata Sava memeluk Fariz.
"Kau bohong. Buktinya tidak ada mengabariku sama sekali," balas Fariz.
"Itu karena kamu sudah menyuruh Hamdan untuk menanyakan semua hal tentangku ke Deshi. Jadi, ku pikir tidak perlu lagi kabar dariku," jelas Sava.
"Tentu saja itu berbeda. Aku sama sekali tidak pernah menyuruh Hamdan melakukan itu. Ah, aku sekarang sedang kesal. Kamu harus bertanggung jawab."
Cup
Sava mencium bibir Fariz.
__ADS_1
"Apa ini sudah cukup?"
"Belum," jawab Fariz cuek.
"Fariz, jangan mesum," kata Sava.
"Siapa yang mesum? Aku menyuruhmu bertanggung jawab. Kenapa malah mengataiku mesum?" balas Fariz.
"Jadi, kamu ingin aku bagaimana?" tanya Sava.
"Kamu harus menurutiku, tidak boleh membantah," kata Fariz.
"Kamu ingin apa?" tanya Sava panik.
"Hahaha. Sudahlah, kita tidur saja." Fariz tertawa melihat reaksi panik Sava.
Sava memejamkan mata dan berusaha untuk tidur. Ia takut semakin lama Fariz semakin tidak waras.
Sava dan Fariz berpelukan hingga akhirnya kedua pasangan suami istri ini tidur terlelap.
Keesokan harinya.
"Fariz. Fariz. Fariz," teriak Farhan.
Sava terbangun mendengar suara teriakan kakak iparnya, sedangkan Fariz menutup telinganya dengan bantal.
"Fariz, bangun. Kak Farhan memanggil," kata Sava membangunkan suaminya.
"Mau apa lagi, kak Farhan? Kami mau tidur," teriak Fariz dari dalam kamar.
"Bangun, woi. Sudah pukul 8 ini. Sarapan," sahut Farhan.
"Apa? Sudah pagi? Astaga, aku telat bangun," kata Sava. Sava langsung bersiap-siap untuk turun.
"Ayo, bangun. Semua orang sudah menunggu kita," kata Sava sambil menarik lengan Fariz.
Fariz dan Sava bergegas menuju meja makan, mereka berpapasan dengan Farhan di depan pintu kamar.
"Sukses gak? Sampai bangun telat begini sepertinya sukses," goda Farhan.
"Bunda, kak Farhan kenapa gak disuruh nikah saja sih," teriak Fariz.
"Fariz di sini?" tanya ayah Fariz.
"Iya, ayah. Fariz datang tadi malam," jawab bunda.
Mereka akhirnya berkumpul di meja makan.
"Bagaimana perusahaan?" tanya ayah ke Fariz di sela menyantap sarapan pagi.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya ayah lagi.
Fariz tidak menjawab, ia sibuk mengunyah makanannya.
"Kenapa kamu meninggalkan perusahaan? Kamu mau lari dari tanggung jawab?" tanya ayah.
"Kita harus kembali hari ini. Ayah mau periksa pekerjaan Fariz," lanjut ayah marah.
Akhirnya, Fariz angkat bicara. Ia berkata, "Ayah ini lebih menginginkan kemajuan perusahaan atau ingin cucu sih?"
Semua yang ada di meja makan terkejut, kecuali Sava. Sendok yang ada ditangan Farhan terjatuh, pupil mata nenek membesar, mulut bunda ternganga, dan wajah ayah menegang. Mereka bersama-sama menatap ke arah Sava. Sava masih asyik menyantap makanannya.
"Kita masih mau di sini lebih lama. Kalau ayah dan yang lainnya mau pulang silahkan," kata Fariz sambil merangkul bahu Sava membuat Sava menoleh padanya.
"Ayah, kita pulang saja. Biarkan mereka honeymoon. Kasih kita berita baik ya, Fariz," sahut Farhan.
Mendengar kata honeymoon Sava terbatuk-batuk, lalu menatap Fariz dengan raut wajah seribu bahasa. Fariz membalas hanya dengan menggerakkan alisnya naik turun. Geram dengan sikap Fariz, ditariknya lengan Fariz menuju kamar. Tak lupa ia pamit dengan anggota keluarga.
"Sava gak enak badan, mau lanjut istirahat. Kita sudah selesai makannya. Mau kembali ke kamar dulu ya, ayah, bunda, nenek dan kak Farhan," kata Sava.
"Tadi sedang membahas apa? Kenapa kak Farhan bicara kita akan honeymoon?" tanya Sava.
"Kamu gak mendengar pembicaraanku dengan ayah?"
Sava menggelengkan dan dibalas hembusan napas kasar oleh Fariz.
"Kita hari ini di kamar saja ya. Aku masih mengantuk," kata Fariz.
"Tapi...."
"Sudah, kamu menurut apa kataku. Yang mengajakku ke kamar siapa? Kamu, kan?" Fariz mendudukkan Sava lalu ia tidur di atas paha Sava.
Baru beberapa menit Fariz sudah terlelap. Sava memperhatikan wajah suaminya yang terlihat sangat kelelahan. Dielus-elusnya rambut Fariz, disingkirkannya rambut yang menempel di kening Fariz. Tak henti-hentinya ia kagum akan ketampanan suaminya.
"Tidak boleh ada yang melihat wajah polosnya selain aku," gumam Sava.
"Aku masih tidak menyangka rencana tuhan mempertemukanku dengan orang sesempurnamu. Aku juga tidak menyangka kamu benar-benar menyukaiku," bisik Sava.
"Aku bersyukur tuhan mengirim wanita baik sepertimu untukku," kata Fariz.
Sava menarik bibir bawah antara giginya, ia pikir Fariz tidur dalam pangkuannya. Begitu Fariz membuka mata, Sava melepaskan diri untuk kabur dari kamar.
"Mau ke mana? Ke luar? Kamu mau digoda kak Farhan atau yang lain?" kata Fariz.
__ADS_1
Merasa serba salah tidak punya pilihan lain, Sava memilih untuk tetap di kamar.
"Kamu tidur, atau aku akan pergi," ancam Sava.
"Silahkan," balas Fariz sambil melipat tangannya di depan dada.
"Jangan melihatku seperti itu, aku takut," kata Sava memelas.
Fariz tertawa. Setelah puas tertawa ia menepuk kasur di sampingnya, menyuruh Sava untuk duduk di sampingnya.
"Kamu ingin ke mana?" tanya Fariz.
"Tidak ada. Aku sudah mengunjungi semua tempat wisata di sini," jawab Sava.
"Satupun tidak ada?" tanya Fariz lagi.
Sava mengangguk polos.
"Kalau begitu kita di kamar saja sampai 1 minggu ke depan," kata Fariz geram.
"Kenapa begitu?" tanya Sava heran.
"Kita akan di sini sampai 1 minggu ke depan. Karena kamu tidak memiliki tempat yang akan di tuju, jadi kita di kamar saja," jelas Fariz.
"Ini maksud kak Farhan tadi? Honeymoon?" tegas Sava.
Fariz menjawab dengan senyum devilnya.
Sava menenggelamkan wajah Fariz dengan bantal lalu ia berkata, "Jangan perlihatkan ekspresi seperti itu lagi. Sudah, ayo tidur."
Sava berbaring memunggungi Fariz.
"Sava," panggil Fariz dengan penuh penekanan.
Sava menghembuskan napas kasar, lalu berbalik memeluk Fariz.
Melihat reaksi Sava, Fariz merasa puas. Ia tersenyum menahan tawa lalu membalas pelukan Sava.
Mereka terbangun waktu menunjukkan pukul 12 siang.
"Fariz, ayo bangun. Ini sudah siang. Sebelum kak Farhan memanggil kita untuk makan siang, kita sebaiknya turun lebih dulu," kata Sava membangunkan Fariz.
"Mereka pasti sudah pergi," sahut Fariz.
"Pergi ke mana?" tanya Sava.
"Pulang. Mereka meninggalkan kita berdua di sini," jelas Fariz.
"Apa? Jadi honeymoon itu benaran?" tegas Sava.
"Jangan membuang tenaga untuk marah-marah, ayo kembali tidur," jawab Fariz.
Sava bergegas mengepak barang-barangnya membuat Fariz marah.
"Apa yang kau lakukan? Kau gak mau tinggal berdua denganku di sini? Jauhkan barang-barang itu, atau aku akan membuangnya," bentak Fariz.
Seketika Sava membatu, tidak melanjutkan aksinya. Ia terkejut melihat Fariz marah.
"Aku juga ingin pulang. Ayo kita pulang," lirih Sava.
"Aku yang akan memutuskan kapan kita akan pulang," sahut Fariz.
"Kamu ke sini," perintah Fariz.
Sava menuruti Fariz. Tak tega melihat istrinya ketakutan, Fariz mendekap Sava.
"Aku lelah dengan dunia kerja. Aku ingin istirahat sebentar. Apa kau tahu bagaimana hidupku selama kau tinggalkan?"
Fariz melanjutkan perkataannya setelah merasakan Sava menggelengkan kepala dalam dekapannya.
"Kalau kau tidak ingin di sini atau sudah merasa bosan di sini, kita bisa pergi ke medan. Atau kau benar-benar ingin pulang?"
"Kamu bau," lirih Sava.
Dengan sigap Fariz menjauhkan diri dari Sava, lalu mencium bau badannya sendiri.
"Berapa hari kamu tidak mandi?" tanya Sava.
"Apa? Kenapa menanyakan itu? Bukankah tadi malam kamu sudah menciumku? Kenapa sekarang protes tentang bau badanku?" balas Fariz.
"Aku tidak tahu ada jin apa yang hinggap ke hidungku tadi malam sampai tidak bisa mencium bau badanmu. Jujur... Berapa hari kamu tidak mandi?" selidik Sava.
Fariz tidak menjawab, ia masih terus mencium bau badannya mencari dari mana baunya berasal.
"Baiklah, aku akan tanyakan Hamdan," kata Sava sambil mencari ponselnya.
Fariz menahan Sava dengan menggenggam tangannya.
"Aku akan katakan bagaimana aku hidup tanpamu," kata Fariz.
"Apa hubungannya dengan tidak mandi, Fariz?" balas Sava.
"Aku hampir gila saat kau tinggalkan. Aku bahkan tidak ingat untuk makan atau tidur, bahkan mandi sekalipun," jelas Fariz.
__ADS_1
Sava mengerutkan keningnya, lalu berkata, "Aku akan tanyakan lebih jelas pada Hamdan, apa saja yang kau lakukan sampai tidak makan dan tidur, bahkan tidak mandi."