
Pagi hari Fariz bangun terlebih dahulu.
Saat Sava bangun Fariz sudah tidak ada di sampingnya. Sava melihat jam sudah pukul 7 pagi.
"Hah? Aku bangun telat. Bagaimana bisa tidurku nyenyak sekali sampai jam segini", gumam Sava.
Sava merasakan ada sesuatu yang mengganjal perutnya. Ternyata Fariz telah mengompres perutnya.
"Pantas saja tidurku lelap, dia melakukan ini ternyata", batinnya sambil tersenyum.
Sava merasa haus dan saat meraih botol minum, ia melihat ada termos kecil.
"Kenapa dia perhatian seperti ini. Aku kan jadi semakin menyukainya", gumamnya.
"Hah? Apa yang barusan ku katakan? Gak. Gak. Aku hanya tersanjung dengan sikap manisnya", ucap Sava sambil menggelang-gelengkan kepalanya
Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar Sava.
"Sava. Sava", teriak seorang wanita dari balik pintu.
Sava membuka pintu dan ternyata itu sahabat-sahabatnya.
"Kamu baru bangun ya? Cepat bersiap. Kita pergi sarapan. Jam 9 acara dimulai", ucap Tika sambil menerobos masuk ke dalam kamar Sava.
"Teman sekamar kamu siapa?", tanya Rania sambil memperhatikan isi kamar Sava.
Sava mendadak panik. Ia menatap sekelilingnya apakah ada barang Fariz. Untung saja sudah tidak ada. Sepertinya Fariz sudah memperkirakan kalau sahabat Sava pasti datang ke kamarnya.
"Aku sendirian. Sepertinya orang yang sekamar denganku membatalkan ikut acara ini", jawab Sava.
"Kenapa gak ngabarin kita? Kamu tahu gak ini anak tidurnya lasak banget. Aku tersiksa. Sial banget aku kebagian tidur di tengah", ucap Rania kesal terhadap Tika.
"Aku juga baru sadar pagi ini", sahut Sava meninggalkan sahabatnya ke kamar mandi.
///
Sava terus menatap sekelilingnya untuk mencari Fariz. Tapi sosok Fariz tidak pernah kelihatan.
"Nyariin siapa dari tadi? Al? Itu orangnya", kata Kanaya tiba-tiba dan menunjuk ke arah Al.
Sava tertawa lirih dalam hati ia berkata, "Tujuannya ke sini itu apa sebenarnya? Kenapa aku hanya melihatnya tadi malam? Sekarang dia sudah menghilang".
Sava akhirnya fokus mengikuti workshop.
Workshop berakhir pukul 3 sore. Mereka bersiap-siap untuk pulang karena 1 jam lagi mereka harus berangkat.
Tika silasak tidak pernah duduk diam di kursinya. Sampai Kanaya harus memarahinya.
"Tika di mana? Itu anak gak mau diam ya. Lihatlah teman yang lain sudah mulai tidur. Panggil dia. Jangan mengganggu orang lain", ucap Kanaya.
Rania mengalah menjemput Tika ke kursi paling belakang. Mata Rania menangkap pemandangan tak asing di belakang bus.
"Itu mobil Fariz kan?", ucap Rania.
"Iya yah? Mobil itu dari tadi di belakang kita. Aku juga mikir mirip mobil Fariz tapi gak mungkin Fariz ada di daerah ini. Jadi aku cuek saja", balas Tika.
"Coba lihat platnya? Aduhh mobilnya goyang-goyang aku gak fokus", sahut Rania.
__ADS_1
"******", kata Tika.
"Itu emang plat mobil Fariz", kata Rania sambil berjalan menuju tempat duduknya.
"Eh menurut kalian Fariz ngapain di daerah ini? Gak mungkin kan dia ikut workshop. Dia bukan anak desain. Dia juga gak kelihatan sejak kemarin", kata Rania begitu ia duduk.
"Mungkin ada urusan. Kalian itu gak usah mengurusi urasan orang lain. Dan kamu Tika jangan mengganggu teman yang sedang istirahat. Lihatlah banyak yang sudah tertidur", sahut Kanaya.
Tika dan Rania saling menatap setelah mendengar ucapan Kanaya.
"Lo gak curiga?", bisik Rania ke Tika di sebelahnya.
"Gue mau curiga tapi gak ada bukti", balas Tika sambil tersenyum nyengir.
"Coba lo lihat sosial media Kenzie. Siapa tahu ada jawaban dari situ", ucap Rania.
"Gak ada apa-apa. Sepi", sahut Tika setelah memeriksa sosial media Kenzie.
"Kalau Fariz? Lo punya?", tanya Rania.
"Kemarin aku pernah mengajukan pertemanan tapi gak ada tanggapan. Jadi aku hapus deh. Emosi kan lama-lama", jawab Tika.
Sedangkan Sava sedang bergelut dengan pikirannya.
"Hah? Dia di belakang bus kami? Jadi tadi ke mana saja dia? Dan kenapa harus di bekalang bus kami. Lihatlah sahabatku jadi mencurigainyakan. Aku harus peringatkannya", batin Sava sambil meraih ponselnya dalam saku celana.
"Eh tapi dia sedang menyetir, nanti bahaya. Ya sudahlah. Biarkan saja", lanjutnya.
Tiba-tiba saja bus mereka menepi. Tak beberapa lama kemudian ada instruksi semua penumpang harus turun. Ternyata bus mereka mengalami bocor ban.
Mendadak para panita sudah berada disekitar mereka.
"Iya pak. Kalau sesuai jadwal saja kita sampai jam 6. Kalau kita menunggu bisa memakan waktu lebih lama. Belum lagi nanti terjadi macet atau hal lain yang menghalangi perjalanan", sahut seorang panitia.
"Baiklah. Ayo bagi tugas", perintah ketua panitia.
Al menghampiri Tika, Rania dan Kanaya.
"Kalian ikut mobilku. Di mana Sava?", ucap Al ke sahabat-sahabat Sava.
Mereka mencari Sava dan ternyata Sava sedang bertelepon dengan seseorang.
"Itu Sava. Sepertinya sedang menghubungi seseorang. Kalian tunggu di sini, aku jemput Sava dulu", ujar Tika.
*Sava sedang bertelepon*
"Bus kami mengalami bocor ban"
.....
"Kamu itu kenapa sih? Kamu sendiri dari mana saja? Sewaktu aku bangun kamu sudah gak ada. Dan sekarang kamu mengikuti bus yang aku tumpangi kan?"
.....
"Gak tahu. Panitia yang mengurus. Sudah dulu mereka memanggilku"
Sava memutus panggilan teleponnya karena Tika memanggilnya.
__ADS_1
"Sudah selesai?", tanya Sava.
"Kita ikut mobil Al", jawab Tika sambil menarik tangan Sava agar cepat berjalan.
"Hah? Bagaimana ini? Sifariz gila itu akan marah kalau tahu aku naik mobil pria lain. Semoga saja dia gak tahu", batin Sava.
///
Saat Fariz sedang menyetir mengikuti bus yang Sava tumpangi.
"Busnya kenapa menepi?", gumam Fariz.
Fariz tetap melajukan mobilnya sampai sekitar 100 meter depan bus Sava berhenti.
Setelah Fariz menepikan mobilnya ia menghubungi Sava tetapi tidak diangkat. Fariz mencobanya kembali dan akhirnya Sava mengangkat teleponnya.
"Kenapa bus kalian berhenti?"
.....
"Hah bocor? Bagaimana bisa? Kamu hati-hati. Tetap bersama sahabat-sahabatmu"
.....
"Bukan urusanmu. Jadi bagaimana solusinya? Bagaimana kalian akan pulang?"
.....
Sava memutus teleponnya.
"Aku harus ke sana mencari tahu sendiri", kata Fariz.
Fariz berjalan kaki karena kalau mobilnya dikenali orang bisa berbahaya. Fariz bahkan mengendap-endap mencari keberadaan Sava. Karena tidak menemukan sosok Sava ia akhirnya memeriksa lokasi Sava dari ponselnya. Betapa terkejutnya Fariz lokasi Sava sangat jauh darinya.
"Pak, Sava dan sahabatnya di mana?", tanya Fariz ke salah satu petugas sekolah.
"Murid-murid sudah dibagi. Mungkin dia ikut mobil panitia", jawab sipetugas.
Fariz kembali menuju mobilnya sambil menghubungi Sava.
"Di mana?"
.....
"Dengan siapa? Al?"
.....
"Turun dari mobilnya"
.....
"Setelah aku menemukan mobilnya segera turun dari situ"
.....
"Kamu turun sendiri atau aku akan memaksamu turun"
__ADS_1
///