The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 7


__ADS_3

"Dijodohin? Apa maksudnya?", tanya Sava heran. Sava menatap satu persatu anggota keluarganya. Setelah mendapat tatapan Sava semua menunduk.


"Sava balik ke rumah Rania aja kalau gitu. Gak ada di rumah ini yang bisa Sava ajak bicara", ancam Sava.


Semua langsung sigap menahan Sava.


Mama Sava yang menahan tangannya. Papa Sava menahan pintu. Sementara kakak dan adiknya menahan kaki Sava.


Lalu papa yang di pintu pun berbicara, "Nak, keluarga kita telah terikat janji perjodohan".


Sava syok ingin meronta minta penjelasan, "Hah? Perjodohan? Maksud papa? Pa jelaskan. Sava gak ngerti. Jangan ngomong setengah-setengah".


"Sewaktu muda Nenekmu membuat janji dengan sahabatnya akan menjodohkan anak mereka kelak. Tetapi semua sama-sama memiliki anak laki-laki. Jadi perjodohan ini terlupakan begitu saja. Sekarang mereka menginginkan perjodohan ini kembali. Yaitu dengan cucu-cucunya. Karena di kedua keluarga hanya kamu satu-satunya perempuan jadi kamu harus meneruskan perjodohan ini. Kamu tau kan pamanmu bahan tidak memiliki anak perempuan. Jadi keluarga kita yang harus menerimanya", jelas Gilang papa Sava.


"Gak bisa. Pa, batalkan perjodohan ini. Sava masih SMA. Mana mungkin Sava menikah. Apa kata orang nanti. Sava gak mau jadi ibu rumah tangga yang masa muda direnggut dengan mengurus anak. Sava masih ingin meraih cita-cita Sava", ujar Sava.


"Maafkan kami nak.  Kami memang orang tua tidak berguna. Harusnya kami menolak itu. Tapi kami tidak tega jika kau dibawa pria kekar itu nantinya", ucap Gilang sedih.

__ADS_1


"Hah? Apa maksudnya? Bukankah masalahnya sudah selesai? Apa yang terjadi?", tanya Sava.


"I.. Itu. Pihak keluarga pria melunasinya dan membereskan semua masalah kakakmu", jawab Papa Sava.


Sava langsung lemas. Terduduk di lantai. Semua panik. Air matanya mengalir. Sesaat kemudian Sava tertawa.


"Hahaha kenapa. Kenapaa hidup Sava gini banget tuhan.  Hukuman apa yang kau berikan padaku hiks hiks", kata Sava sambil menangis. Sesaat kemudian ia tertawa kembali sambil berkata, "Hahaha Mempermainkanku? Oke aku terima. Aku tidak akan kalah". Sava kembali menangis sambil berlari ke kamarnya.


Di dalam kamar Sava masih saja tertawa dan menangis tidak jelas.


///


Fariz hanya diam dengan ekspresi datarnya. Sang ayah langsung bisa menyimpulkan Fariz ditolak gadisnya.


"Besok siap-siap kita akan bertemu keluarga gadis itu. Oiya. Sebelum itu kita harus menjenguk nenekmu dulu. Kita harus pamit dengannya. Walaupun beliau belum bisa ikut bergabung. Dia pasti akan senang", jelas ayah Fariz.


"Jangan buat nenekmu sedih. Setidaknya berpura-pura dihadapannya. Cobalah untuk menerima kenyataan", lanjutnya.

__ADS_1


Fariz hanya diam dan masuk ke kamarnya.


///


Rumah sakit.


"Terima kasih ya sayang telah memenuhi janji nenekmu ini. Maafkan nenek sudah tua masih saja menyusahkan. Nenek percaya pernikahanmu kelak akan bahagia ya", kata nenek Fariz kepadanya yang dibalas Fariz dengan menganggukkan kepala dalam pelukan sang nenek. Fariz tidak sanggup menatap neneknya. Menampilkan ekspresi tidak sukanya.


"Seminggu lagi ibu sudah bisa pulang. Tapi masih harus rawat jalan. Akan aku tanyakan dokter apakah nanti ibu bisa menghadiri pernikahan Fariz. Aku bisa saja mengatur acara pernikahannya di sini. Tapi ibu malah meminta di Medan. Sebelum keluar rumah sakit hasilnya bisa kita tahu ibu bisa pergi atau tidak. Gimana kalau ibu gak bisa menyaksikan pernikahan mereka nanti", jelas ayah Fariz.


///


Fariz bersama ayah dan bundanya sudah duduk di ruangan privat sebuah restoran mewah menunggu keluarga calon istri Fariz.


Pelayan masuk memberitahu keluarga gadis itu sudah tiba. Fariz tidak bersemangat. Ia memainkan ponsel dengan airpods di telinganya.


Fariz yang masih setia dengan ponselnya. Sepertinya sudah cukup lama keberadaan mereka di ruangan ini. Fariz merasakan ada seseorang yang melepas airpodsnya membuatnya terpaksa menoleh ke depan.

__ADS_1


__ADS_2