
Setelah Fariz berhasil merampas balok mainan dari Sava, dibawanya ke ruang kerja. Disimpannya dalam laci lalu menguncinya. Setelah itu Fariz kembali ke kamar dan menemukan Sava masih berada di atas lemari.
"Kenapa kamu masih di sana? Ayo turun!" teriak Fariz.
Sava masih diam. Pikirannya kosong.
Fariz kembali memanjat lemari lalu menarik lengan Sava. Akhirnya Sava tersadar akibat hentakan Fariz.
"A-aku gak bisa turun. A-aku takut jatuh," kata Sava gugup.
"Kamu baru sadar sekarang! Kenapa kamu harus memanjat sih? Tunggu aku turun, lalu melompatlah ke pelukanku," kata Fariz.
Fariz turun lebih dulu, lalu ia membentangkan lengannya. "Lompatlah!"
"Hah? Tidak usah, bisa remuk tubuhku kalau aku melompat." Sava mulai menurunkan kakinya mencari pijakan penyangga rak lemari.
"Bantu aku turun. Aku akan coba turun sendiri."
Fariz membantu Sava untuk turun. Setelah Sava menginjakkan kakinya ke penyangga rak lemari, Fariz menarik lengan Sava hingga Sava jatuh ke pelukan Fariz.
Serasa nyawa hampir melayang. Sava gemetaran saat Fariz menarik paksa lengannya. Ia memeluk erat kepala Fariz sambil menutup mata dengan kaki melingkar di perut Fariz.
"Haa... Haa... Haa..." Napas Sava terengah-engah.
"Kamu kenapa?" tanya Fariz.
Sava akhirnya tersadar bahwa ia telah aman. Ia mulai mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Menatap sekeliling lalu melihat siapa dan apa yang telah dipeluknya. Sava mendadak canggung setelah tahu bahwa ia berada dalam pelukan Fariz. Sava berusaha untuk turun titik tetapi Fariz tidak mengizinkannya.
"Turunkan aku!" pinta Sava.
Fariz berjalan menuju ranjang lalu duduk di tepi ranjang dengan tetap menggendong Sava.
"Kenapa kamu sampai memanjat ke atas lemari? Kalau aku tidak tadi bagaimana kamu turun?" tanya Fariz.
"Aku awalnya hanya ingin mengambil balok mainan di atas lemari itu. Tapi kamu tiba-tiba datang. Jadi aku terpaksa naik ke atas lemari kamu. Kamu juga kenapa menaruh balok mainannya di atas lemari? Kamu sengaja, kan? Agar aku tidak dapat mengambilnya. Benar, kan? Kamu curang! Aku bahkan belum membaca semua hukumannya. Dimana kamu simpan balok mainan itu? Aku masih mau melihatnya. Aku mau membaca semuanya," kata Sava mulai marah.
"Aku hanya asal melemparnya saja ke atas lemari. Iya, benar. Tujuanku agar kamu tidak dapat meraihnya. Tapi aku tidak menyangka kamu senekat itu sampai memanjat lemari." Fariz mencubit gemas hidung Sava. "Kamu tidak menuruti aku. Kamu sudah berani ya sekarang. Awas ya kamu!"
"Lepaskan. Aku mau turun." Sava berusaha melepaskan diri dari Fariz. Fariz malah memeluk erat Sava.
"Apa saja yang sudah kamu baca? Kalau kamu mau tahu semua hukumannya, kamu harus bersedia bermain balok kayu bersamaku."
Sava membatu. Ia kembali teringat dengan kalimat atau kata-kata yang yang tertera di balok mainan.
"Kalau aku mengatakan, aku sudah melihat ada hukuman honeymoon, bagaimana reaksinya? Tidak. Tidak. Tidak. Pasti akan canggung sekali. Tapi itu artinya Fariz sudah memikirkan hubungan kami sampai ke sana. Fariz memikirkan kelangsungan hidup rumah tangga kami," batin Sava.
Fariz melonggarkan pelukannya lalu menatap heran ke Sava. Sava sedang senyum-senyum sendiri.
"Kamu kenapa senyum-senyum?" tanya Fariz sambil mencubit pipi Sava.
Sava mengerucutkan bibirnya lalu berkata, "Aku mau tidur."
"Kamu mengantuk? Tidak makan malam dulu?"
Sava tidak menjawab, ia mengalihkan wajahnya.
"Kamu diet?" Fariz mencubit pipi Sava lagi.
"Kita tadi makan jam 3. Aku masih kenyang. Jangan memaksaku untuk makan," sahut Sava.
"Kalau begitu minum susu saja. Lalu kita tidur," kata Fariz memberi tawaran.
Sava tetap diam. Fariz menurunkan Sava dari pangkuannya. Lalu menggenggam tangan Sava menuju dapur.
Setelah membuat susu dan meminumnya, mereka kembali ke kamar. Sava langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menarik selimut. Fariz menyusul Sava lalu merebahkan tubuhnya di samping Sava.
"Kamu benaran ngantuk? Kamu tidak apa-apa, kan? Apa kamu sakit? Atau mungkin kamu lelah?"
Sava memejamkan matanya sedangkan Fariz mengutak-atik ponselnya.
Tak berapa lama Fariz mendekat lalu mengelus-elus rambut Sava.
"Sava tidak apa-apa kan? Bukankah tadi dia sudah tidur siang? Dia sedang tidak enak badan atau bagaimana?" batin Fariz. Fariz meletakkan punggung tangannya ke kening siapa untuk mengecek suhu tubuh Sava. Setelah dirasa Sava tidak apa-apa akhirnya Fariz merasa lega. Fariz menatap Sava dalam. Seperti ada dorongan dalam diri Fariz untuk mencium Sava. Fariz berusaha menahan diri.
Cup
Akhirnya Fariz lepas kendali dan mencium bibir Sava sekilas.
Tidak sampai disitu, dorongan dalam diri Fariz seperti meminta lebih.
Fariz menciumi setiap inci wajah Sava. Kalau Fariz memakai lipstik pasti wajah Sava dipenuhi oleh lipstik.
__ADS_1
"A-pa yang dilakukannya? Dia berani menciumku? Menciumku saat aku sedang tidur?" batin Sava. Ternyata Sava belum tidur. Ia hanya memejamkan matanya.
"Kenapa kamu menyiksaku seperti ini? Berapa lama lagi aku harus menunggumu?" gumam Fariz.
"Aku mencintaimu Sava." Fariz kembali mencium bibir Sava. Kali ini cukup lama dan Fariz menciumnya sangat lembut karena tidak ingin membangun Sava.
Sava meremas selimutnya. Ia menahan napas selama Fariz menciumnya. Sava tak kuasa menahan serangan Fariz. Setelah Fariz melepas ciumannya, tubuh Sava melemas. Arwahnya seakan lepas dari tubuhnya.
Fariz memeluk Sava segitu ia melepas ciumannya di bibir Sava.
Sava akhirnya bisa bernapas normal saat wajahnya tertutupi oleh dada bidang Fariz. Sava mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya.
"Barusan Fariz mengatakan apa? Cinta? Ini sungguhan, kan? Dia benar mengatakan kalau dia mencintaiku, kan? Tapi... Tapi kenapa saat aku tidurrrr!! Argh. Fariz tidak romantis," batin Sava.
"Sepertinya Fariz sangat sabar menghadapiku. Aku harus lebih dewasa. Aku harus menjadi istri yang baik. Aku harus menjaga pernikahan kami. Akan ku tunjukkan aku juga mencintai Fariz." Karena tidak bisa tidur karena ulah Fariz, Sava bergelut dengan pikirannya sendiri hingga ia terlelap.
Akibat susah tidur Sava bangun agak telat. Ketika ia bangun, Fariz masih mendekapnya. Sava perlahan melepaskan diri dari dekapan Fariz, tetapi Fariz menahannya lalu membuka mata.
"Mau ke mana?" tanya Fariz.
"Bangun. Nanti aku telat," sahut Sava.
"Tamani aku ke rumah sakit ya? Aku mau membuka gips ini," bujuk Fariz.
"Jam 11 jemput aku. Aku juga... Akan mengundurkan diri," kata Sava.
Wajah Fariz langsung berseri begitu Sava mengatakan ia akan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Niat awal Fariz untuk menahan Sava dengan alasan ke rumah sakit.
"Tapi gak sekarang," ujar Sava.
Fariz beberapa detik wajah Fariz berseri, sekarang ia malah mengerutkan keningnya.
"Aku mau menyelesaikan pekerjaannya yang diberikan padaku saat ini. Aku akan memberitahu atasanku kalau aku akan mengundurkan diri. Jadi mungkin prosesnya memakan waktu seminggu," sambung Sava.
"Kamu janji ya? Aku akan tunggu seminggu, aku gak mau dengar alasan apapun nanti" sahut Fariz.
Sava menganggukkan kepalanya, setelah itu barulah Fariz melepaskan pelukannya.
///
"Siapa itu? Wahh. Tampan sekali," kata seorang wanita.
"Supermodel atau bintang film mana pria itu? Tinggi dan tampan," puji wanita lainnya.
Fariz menjemput Sava ke kantornya. Ia menunggu Sava di lobi perusahaan Shinee Frameworks. Terlihat pegawai Shinee Frameworks terpesona dengan Fariz. Tak henti-henti para wanita memujinya.
Sosok yang ditunggu Fariz tak kunjung datang. Malah orang yang tidak diharapkan datang menghampirinya.
"Fariz? Ada perlu apa kamu di kantorku?" tanya Al.
"Bukan urusanmu," sahut Fariz.
"Ada yang bisa ku bantu? Kamu mencari seseorang? Biar aku panggilkan," tawar Al.
Fariz tak menjawab Al. Ia mengalihkan pandangannya ke arah luar. Ujung bibir Fariz tertarik menangkap pemandangan luar. Yaitu Sava bersama rekan kerjanya sedang menuju lobi.
"Dua pria tampan sedang berbicara. Tampan sekali mereka", kata seorang wanita.
"Ternyata pria itu temannya pak Alan? Pria tampan berteman dengan sesama pria tampan. Super komplit," sahut wanita lain.
Sava panik mendengar para pegawai wanita menyebut-nyebut nama Al dan pria tampan lainnya. Ia tadi mendapat pesan kalau Fariz sudah tiba di kantornya. Sava pikir Fariz akan menunggunya di depan kantor seperti waktu itu. Sava memperbesar langkahnya lalu pamit mendahului atasan serta rekan kerjanya.
Sava menatap seluruh lobi mencari Fariz. Seperti dugaannya, Fariz berbicara dengan Al.
"Aku menunggu istriku. Kamu pergilah. Aku tidak ada urusan denganmu," kata Fariz.
"Istri? Sava? Sava tidak ada di sini. Kamu masih mencurigaiku?" sahut Al.
"Istriku siapa lagi kalau bukan Sava!" seru Fariz.
"Kamu sudah menunggu lama?" tanya Sava tiba-tiba datang menghampiri.
Al menoleh ke arah asal suara. Dan terkejut melihat Sava ada di hadapannya. Ia tak percaya Sava benar-benar ada di tempat ia bekerja. Keterkejutan Al tak sampai situ, pupil matanya membesar setelah Al melihat ID Card yang menggantung di leher Sava.
"Sava? Kamu kerja di sini?" tanya Al.
"I-iya Al. Aku magang," jawab Sava.
"Sudah berapa lama? Kenapa aku tidak pernah melihatmu?" tanya Al lagi.
"Oh, jadi ini yang membuat Sava mengundurkan diri?" sahut seseorang tak jauh dari mereka.
__ADS_1
Sava tersenyum malu.
"Itu atasanku," bisik Sava.
Fariz maju beberapa langkah bermaksud memperkenalkan diri. Ia mengulurkan tangannya lalu menyalam atasan Sava dan rekan-rekan kerjanya.
"Fariz. Pacarnya Sava."
"Pacar? Saya kira ini suami Sava," sahut rekan kerja Sava.
Fariz membulatkan matanya, tak percaya Sava mengatakan ia sudah bersuami.
"I-iya. Saya suaminya. Biasanya tak ada yang percaya kalau kami mengatakan sudah menikah," jelas Fariz.
"Suami Sava tampan ya," bisik salah seorang rekan kerja Sava.
Fariz semakin besar kepala dipuji-puji oleh rekan kerjanya. Ia membusungkan dadanya serta menyisir rambutnya ke belakang dengan jarinya.
"Sava pulang sekarang saja. Suami sudah menjemput," ujar atasan Sava.
"Terimakasih banyak bu," sahut Sava.
Atasan dan rekan kerja Sava meninggalkan Sava, Fariz dan Al.
"Ayo kita pergi," ajak Fariz.
"Kenapa kamu datang sekarang? Perjanjiannya jam 11, kan?" sahut Sava.
"Lebih cepat lebih baik." Fariz merangkul pinggang Sava.
"Aku masih ada pekerjaan. Apa kamu bersedia menungguku?" sahut Sava.
"Atasanmu saja sudah memberi izin!" seru Fariz.
"Apa kamu akan membiarkanku menunggu di sini sendirian?" tanya Fariz.
"Aku hanya ingin memberikan laporan hasil rapat tadi sekalian memberkan barang-barangku. Tidak akan memakan waktu lama. Di sini ada Al, dia bisa menemanimu."
"Apa? Tidak bisa," sahut Al dan Fariz bersamaan.
"Sebentar saja." Sava pergi meninggalkan Fariz dan Al berdua di lobi. Terjadi kecanggungan diantara Fariz dan Al. Al perlahan melangkahkan kakinya mundur.
"Mau ke mana kamu?" tanya Fariz.
"Kamu tidak ingin aku menemanimu, kan? Sebaiknya aku kembali bekerja," jawab Al.
"Tetap di sini. Aku tahu pasti kamu mencoba menyusul Sava, kan? Tidak bisa!" seru Fariz.
Al tertawa mengejek lalu pergi meninggalkan Fariz.
"He-hei," panggil Fariz.
"Ah, sial. Kenapa dia pergi. Orang-orang menatapku aneh. Seperti mereka akan memakanku," batin Fariz.
Ternyata dugaan Fariz benar. Al pergi menyusul Sava.
"Sudah berapa lama kamu kerja di sini? Dan aku mendengar ada yang berkata kamu akan mengundurkan diri? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu tidak memberitahu?" tanya Al panjang lebar.
"Aku belum lama bekerja di sini. Dan sesuatu terjadi padaku, jadi aku harus mengundurkan diri. Aku tidak memberitahumu karena aku tidak ingin mengganggumu. Aku tahu pasti kamu akan terus membantu. Aku tidak ingin rekan-rekan kerjaku menilaiku sebelah mata," jelas Sava.
"Apa kamu bersama temanmu Kanaya? Aku beberapa kali bertemu dengannya. Tetapi dia tidak mengatakan kalau kamu juga bekerja di sini. Kenapa kamu malah berhenti? Apa yang terjadi padamu?"
"Hm.. Ya. Aku ingin menjadi istri yang baik. Istri yang menuruti perkataan suaminya. Fariz tidak menyukai aku bekerja. Terutama bekerja di sini. Kamu tahu alasannya, kan?" Sava mempercepat gerakannya dalam membereskan meja kerjanya. Saat ia hendak pergi, Al menahan tangannya lalu berkata, "Jangan biarkan Fariz menghambat mimpimu."
"Aku tahu yang terbaik untuk ku Al."
"Aku pergi dulu ya," kata Sava meninggalkan Al.
Rekan kerja Sava melihat dan mendengar apa yang barusan terjadi dengan Sava dan Al. Mereka mulai berbisik-bisik menggosipi Sava.
"Sava mengenal pak Alan? Apa hubungan mereka? Kenapa mereka terlihat begitu akrab?" ucap salah satu staf.
"Iya. Aku juga tak menyangka. Tadi aku melihat pak Alan dengan suami Sava di lobi. Sepertinya mereka memang sudah saling mengenal," sahut staf yang lain.
"Suami Sava? Di lobi? Yang ganteng pake banget itu? Serius? Sumpah? Demi apa?"
"Iya. Itu suami Sava. Beruntung sekali Sava. Aku juga kalau jadi Sava berhenti bekerja saja. Mending mendampingi suami. Suami tampan begitu harus dijaga. Nanti banyak yang nikung. Pelakor dimana-mana."
"Iya kamu benar. Ya tuhan. Kenapa Sava bisa dikelilingi pria tampan. Kirim satu buatku dong," ucap rekan kerja Sava.
"Hahah. Susah punya suami tampan. Harus dijaga terus. Memangnya kamu bisa mengawasinya 24 jam?", sahut yang lain.
__ADS_1
"Benar juga. Tapi kalau dapat yang tampan kenapa gak." Mereka tertawa bersama.