The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 101


__ADS_3

Tidurnya Sava terganggu dengan sesuatu yang menimpa perutnya. Sava membuka selimut melihat apa yang mengganggu tidurnya.


Jantung Sava berdegup kencang begitu melihat ada tangan yang melingkar di perutnya. Perlahan Sava memutar kepalanya sambil melirik siapa seseorang yang sedang memeluknya.


Setelah melihat siapa yang memeluknya Sava tersenyum sangat lebar. Gigi rapinya terlihat, pupilnya membesar, dahinya terangkat naik dan kelopak matanya sedikit menutup. Betapa bahagianya Sava mengetahui suaminya sedang tidur di sampingnya dan sedang memeluknya.


Senyuman tak pudar dari wajah Sava, tak beberapa lama bayangan kak Rafif yang sedang mengejeknya berhalusinasi muncul dipikirannya. Sava langsung bangun dan terduduk. Menatap lekat ke arah Fariz.


Sava mencubit pipinya sendiri untuk membuktikan ini nyata atau tidak. Tak puas dengan mencubit pipinya ia pun beralih mencubit Fariz.


Fariz terbangun, membuka mata dengan mengerjapkan matanya beberapa kali lalu akhirnya menutup kembali.


Sava kembali mencubit Fariz. Fariz akhirnya membuka matanya lebar lalu mengerutkan keningnya.


"Kenapa mencubitku?", ujar Fariz.


Sava sangat senang mendengar suara Fariz ke luar. Sava kembali tersenyum sedangkan Fariz menatap Sava bingung.


Tiba-tiba Sava menangis. Fariz panik akhirnya bangun lalu meraih tangan Sava yang sedang menutup wajahnya.


"Kamu ini kenapa? Kamu mencubitku tetapi malah kamu yang menangis", ucap Fariz.


Sava malah semakin memperkeras tangisannya. Fariz menenangkan Sava memeluk tubuh Sava sambil mengelus rambutnya.


"Kamu mimpi buruk? Sudah. Sudah. Ayo tidur lagi", ucap Fariz di sela tangisan Sava.


Sava membalas memeluk tubuh Fariz erat.


"Ha. Sepertinya dia sangat merindukan aku. Bagus juga berpisah untuk beberapa waktu begini. Jadi aku tahu Sava sangat merindukan aku", batin Fariz sambil senyum-senyum sendiri.


"Jangan nangis lagi. Ayo tidur", kata Fariz menuntun Sava untuk tidur kembali.

__ADS_1


Sava dan Fariz berbaring di ranjang sambil terus berpelukan. Sava terus memeluk Fariz erat. Tak ingin Fariz menghilang kembali. Sampai akhirnya Sava kembali terlelap.


///


"Fariz. Fariz", teriak Sava.


Sava panik tak menemukan Fariz saat ia membuka mata.


Sava mencari Fariz di setiap ruangan dalam rumah.


"Fariz. Fariz. Fariz", teriak Sava terus menerus memanggil Fariz.


Di sisi lain Fariz sedang berada di taman belakang bersama ayahnya dan kakaknya Farhan.


"Ada yang memanggil Fariz", ujar Farhan.


Ayahnya dan Fariz diam mendengarkan suara.


"Fariz pulang dulu ya", ucap Fariz.


Baru beberapa langkah Fariz berjalan Sava sudah berada di depan pintu.


Begitu melihat Fariz Sava langsung berlari ke pelukan Fariz.


"Hei. Ada apa?", tanya Fariz heran.


Sava mempererat pelukannya.


"Kamu dari mana saja?", ucap Sava.


"Aku di sini. Gak ke mana-mana", jawab Fariz.

__ADS_1


"Hmm", gumam Sava sambil menghirup aroma tubuh Fariz.


"Ada ayah dan kak Farhan", bisik Fariz.


Seketika Sava membatu. Perlahan ia mengintip dari balik tubuh Fariz. Lalu ia membenamkan wajahnya di dada Fariz.


"Lanjut di rumah saja", kata Farhan menggoda Fariz dan Sava.


Sava menunduk sambil terus bersembunyi di balik tubuh Fariz. Fariz tertawa lirih melihat tingkah Sava.


"Kamu mau tetap di sini saja?", tanya Fariz.


Sava menggeleng.


"Ayah jangan lama-lama di luar. Berjemurnya sudah cukup. Jalan-jalannya juga. Jangan sampai ayah kecapekan", ucap Fariz.


"Jadi kita diusir nih?", balas Farhan.


Sava menarik napas dalam sambil menutup matanya. Setelah itu ia memberanikan diri untuk ke luar. Sava menghampiri ayah mertua dan kakak iparnya.


"Ayah apa kabar? Kapan ayah pulang?", tanya Sava sambil mencium punggung tangan ayah mertuanya.


"Kemarin ayah pulang. Fariz gak cerita?", jawab ayah mertua Sava sambil melirik Fariz.


"Dasar kamu ya Fariz. Kenapa gak mengabari istrimu? Ayah juga heran kenapa Fariz menjemput ayah ke luar negeri. Ayah pikir Fariz datang bersama Sava sekalian untuk membawa Sava jalan-jalan. Eh dia malah datang sendiri", jelas ayah Fariz.


"Hah? Itu. Itu", ucap Fariz gugup sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Ayo ayah Sava antar ke rumah", sahut Sava.


Sava sekarang kesal. Ia menyimpulkan bahwa kemarin itu ia tidak berhalusinasi. Artinya mertuanya tidak tahu kalau Fariz sedang menghindari Sava. Sava yakin selama ia tinggal di rumah Rania Fariz berada di rumah tetapi ketika Sava pulang Fariz malah pergi menjemput ayahnya.

__ADS_1


Fariz menatap Sava bingung. Bukannya tadi Sava berlari ke pelukannya. Kenapa sekarang malah meninggalkannya.


__ADS_2