The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 128


__ADS_3

Akhirnya, Sava menutuskan untuk menghubungi Hamdan.


"*Hamdan, beritahu aku apa saja yang dilakukan Fariz selama aku pergi?"


"Tuan seperti orang gila, nona. Beliau menghabiskan waktu di kantor menyelesaikan pekerjaannya. Semua karyawan dipaksa menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu singkat. Marah-marah tidak jelas sampai semua karyawan kantor kena imbasnya. Dan juga... Tuan tidak makan, tidur bahkan mandi. Nona sebaiknya pulang, saya takut tuan akan lebih parah dari ini."


"Selama aku pergi dia tidak makan dan tidur? Kenapa kamu tidak memberitahuku?"


"Beliau mau makan, mandi dan tidur setelah saya memberi kabar kalau anda baik-baik saja. Saya menghubungi Deshi sewaktu nona akan berangkat ke Brastagi. Tuan kembali kambuh setelah sewaktu saya memperlihatkan foto-foto anda selama di sana yang saya dapat dari Deshi. Tuan tiba-tiba pulang, tidak ke kantor. Saya datang ke rumah keadaan rumah sangat berantakan. Nona, cepatlah pulang."


"Hmm... Terimakasih informasinya*."


(Panggilan telepon berakhir)


"Apa saja yang dikatakan Hamdan? Kamu jangan mempercayai semua yang dikatakannya. Dia suka melebih-lebihkan," kata Fariz.


Sava memperhatikan Fariz dari ujung kaki sampai ujung kepala, ia juga berputar mengelilingi Fariz membuat Fariz merasa salah tingkah sampai-sampai ia merapikan penampilannya.


"Kamu sebaiknya pergi mandi," kata Sava.


"Tapi... Aku tidak membawa pakaian ganti," sahut Fariz. Ia menggaruk-garuk kepalanya sambil menunduk.


"Aku ke sini untuk membawamu pulang," lanjut Fariz.


"Baiklah. Ayo kita pulang," sahut Sava semangat.


"Aku berubah pikiran. Aku tidak ingin pulang."


"Tapi kamu tidak membawa pakaian apapun. Percuma kamu mandi dan memakai pakaian itu kembali."


"Aku bisa membelinya."


"Hm. Baiklah. Kita pergi ke pasar."


Pasangan suami istri ini akhirnya sepakat untuk tinggal lebih lama, mereka berencana pergi ke pasar untuk membeli beberapa keperluan. Saat mereka ke luar dari kamar, mereka tidak menemukan siapapun di villa.


"Deshi, Deshi, Deshi," teriak Sava memanggil asistennya.


"Sepertinya mereka benar-benar meninggalkan kita berdua di sini," kata Fariz.


"Bukankah itu maumu?" sindir Sava.


Fariz tersenyum lalu melebarkan lengannya untuk memeluk Sava. Sava malah menjauh.


"Jangan mendekat, kau bau," seru Sava.


"Artinya kalau aku sudah mandi aku boleh melakukan apa saja?" balas Fariz dengan senyum khas devilnya.


Sava berpura-pura tidak mendengar ucapan Fariz, ia berjalan menuju pintu. Di ambang pintu Sava melihat tidak ada mobil parkir di halaman.


"Tidak ada mobil parkir di halaman," ucap Sava.


"Apa? Mereka membawa semua mobil? Tega sekali mereka. Bagaimana kita akan pergi?" balas Fariz.


"Sepertinya ayah benar-benar menginginkan cucu. Dia sengaja membiarkan kami untuk berada di villa saja," batin Fariz.


"Aku akan ke rumah penjaga villa, semoga saja mereka bisa membantu," kata Sava lalu meninggalkan Fariz di villa sendirian.


Fariz menunggu Sava di teras villa, ia menunggu Sava sambil bermain ponsel. Suara mesin motor membuat Fariz mengalihkan pandangannya dari benda pipih dalam genggamannya ke asal suara. Tak berapa lama Sava ada di hadapannya dengan mengendarai sepeda motor.


"Dari mana kamu dapatkan ini?" tanya Fariz heran.

__ADS_1


"Aku tadi ke rumah penjaga villa, dia meminjamkan sepeda motornya untuk kita gunakan," jawab Sava. Sava mematikan mesin lalu turun dari sepeda motor.


"Ayo," ajak Sava. Sava menyodorkan sebuah helm ke Fariz.


Fariz mendekati Sava dengan langkah ragu. Ia menerima helm dari tangan Sava lalu menggunakannya. Dipandanginya sepeda motor itu sambil mengelilinginya.


"Ayo pergi," kata Sava tak sabar. Sava naik lebih dulu ke atas sepeda motor, ia duduk di bangku boncengan.


"Remnya di mana?" tanya Fariz.


Sava menunjukkan letak rem sepeda motor berada.


"Lalu gasnya?" tanya Fariz lagi.


Sava mengerutkan kening lalu menunjukkan di mana letak gas sepeda motor berada.


"Oke, aku hanya perlu mengendarainya seperti sepeda angin," lirih Fariz. Sava mendengar dengan jelas kata yang ke luar dari mulut Fariz.


"Jangan bilang kau tidak bisa mengendarai sepeda motor!" kata Sava.


"Sama seperti sepeda angin, kan?" balas Fariz.


Sava menghelas napas, ia berpindah ke kursi kemudi.


"Naiklah," kata Sava.


"Hei, aku tidak mau. Harga diriku bisa turun. Orang-orang akan mengejekku," tolak Fariz.


"Kalau kau yang mengendarainya tujuan kita bukan ke pasar lagi, tetapi ke rumah sakit atau ke kuburan," kata Sava.


Fariz mengerucutkan bibirnya, dengan langkah berat ia terpaksa duduk di belakang Sava.


"Pegangan," kata Sava memperintahkan Fariz.


"Apa yang kau lakukan? Pegangan di pinggangku, tidak, di pakaianku saja," kata Sava.


"Kalau aku jatuh bagaimana?" protes Fariz.


"Baiklah, pegangan di pinggangku," jawab Sava.


Setelah semua siap, Sava melajukan sepeda motornya menuju pasar.


Setibanya mereka di pasar, Fariz tak henti mengerutkan dahinya menatap sekeliling. Sava menarik lengan Fariz dan menuntunnya menuju sebuah toko pakaian khusus pria. Sava meminta untuk memberikan beberapa potong pakaian untuk Fariz. Sava mengambil salah satu pakaian lalu menempelkannya ke badan Fariz.


"Cobalah," kata Sava.


Fariz melihat-melihat beberapa pakaian dengan kening berkerut.


"Pakaian ini merk apa? Kenapa jelek sekali," ucap Fariz.


Mendengar ucapan Fariz membuat sang pemilik toko merasa sakit hati.


"Abang kalau gak mau membeli gak usah menghina," sindirnya.


Tak mau memperpanjang masalah, Sava membeli pakaian-pakaian tadi.


"Kenapa dibeli? Aku tidak mau memakainya," cetus Fariz.


"Abang, ada kaus bertulisan I Love Berastagi?" tanya Sava.


"Ada dek," sahut sipemilik toko lalu memberikan beberapa contoh pakaian.

__ADS_1


Sava memilih mana yang akan dibelinya, lalu membayarnya.


Mereka berkeliling pasar lalu berhenti ke sebuah toko pakaian dalam. Pupil Fariz membesar saat mereka berhenti di sebuah toko pakaian dalam.


"Hei, untuk apa ke sini?" bisik Fariz.


"Apa kau tidak memerlukan pakaian dalam ganti?" kata Sava dengan mata tertuju pada bagian bawah Fariz.


Melihat arah pandangan Sava cepat-cepat Fariz membalik badan. Membuat Sava tersenyum menahan tawa.


"Apa yang kau lihat!" seru Fariz.


"Kak, saya mau beli pakaian dalam untuk pria seukurannya," kata Sava ke penjual sambil menunjuk Fariz.


"Ukuran apa bang?" sahut sipenjual sambil mengeluarkan beberapa pakaian dalam.


"Apa ukuranmu?" bisik Sava.


"Tidak tahu," jawab Fariz cuek.


Sava tertawa lalu menunjuk sebuah ukuran Fariz.


"Apa kau yakin itu ukuranku?" bisik Fariz.


"Yang mengatur isi lemari pakaianmu aku, tentu saja aku tahu," jawab Sava.


Jawaban Sava membuatnya tersenyum bangga.


"Pengantin baru ya," goda sipenjual.


"Akhirnya, ada yang menyadari hubungan kami," jawab Fariz sambil merangkul bahu Sava. Sedangkan Sava hanya menunduk malu.


"Kami cocok gak, mbak?" tanya Fariz.


"Cocok bang, ganteng dan cantik," jawabnya.


Fariz tertawa bangga membuat Sava semakin tersipu malu.


Selesai membeli perlengkapan Fariz, Sava mengajak Fariz berbelanja kebutuhan dapur. Tentu saja hal itu mendapat protes dari Fariz.


"Aku tidak mau, itu sangat jorok dan bau," kata Fariz.


"Kalau aku tidak berbelanja kita mau makan apa? Kau mau kita kelaparan?" balas Sava.


"Tapi..." Fariz menatap sekelilingnya.


"Kamu tunggu di sini saja. Tunggu aku kembali," kata Sava.


Fariz menurut, ia menunggu Sava dengan kantong belanjaan ditangannya. Tak berapa lama lewat dua pemuda saling berbicara dalam bahasa daerah. Fariz mengerti sedikit pembahasan mereka. Inti dari pembahasan mereka sedang membahas seorang gadis yang sangat cantik. Tak berapa lama dua pemuda tadi kembali dengan dua pemuda lainnya. Fariz mengikuti ke arah mana mereka pergi. Keempat pemuda itu saling menunjuk dan mendorong satu sama lain. Tak jauh dari keempat pria itu ada Sava sedang berbelanja.


"Sial." Fariz berdecak kesal lalu berjalan mendekati Sava.


"Kenapa lama sekali," kata Fariz.


"Sebentar lagi. Kenapa menyusul?" balas Sava.


Fariz melirik ke arah keempat pria tadi, keempat pria itu sedang menatap Fariz dengan tatapan tidak suka.


"Sepertinya ada sesuatu di wajahku." Fariz menunduk mensejajarkan tingginya dengan Sava.


"Tidak ada," jawab Sava sambil memperhatikan wajah Fariz. Sava mengambil tisu dalam tasnya lalu melap keringat dikening Fariz. Hal itu membuat Fariz tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Panas ya? Sabar ya. Kita akan pulang," kata Sava.


Fariz mengangguk, ia melirik sekilas ke arah keempat pria tadi. Ternyata mereka sudah tidak ada. Ia pun merasa lega.


__ADS_2