
"Untung saja tadi kami ke toko pakaian", batin Fariz.
"Sudah berani go publik ya? Amel apa", kalimat Shadiq terhenti saat Fariz menutup pintu bagasi mobilnya.
"Gue balik ya. Selamat bersenang-senang", ucap Fariz lalu melambaikan tangan ke arah Kenzie yang sedang bersama sahabat-sahabat istrinya.
Ternyata Sava sudah mengetahui kedatangan Shadiq melalui kaca spion mobil saat Shadiq memanggil Fariz. Ia menutupi wajahnya dengan berpura-pura membaca majalah otomotif milik Fariz dan menggerai rambutnya ke depan sampai tertutupi wajahnya dari samping.
Saat Fariz masuk lalu berkata, "Pertahankan posisi itu sampai kita keluar dari sini".
"Kalau sampai ketahuan jangan salahkan aku. Ini salahmu", lirih Sava.
///
Sava menuju ke kamarnya begitu mereka masuk rumah.
"Mau ke mana? Cepat masak", ujar Fariz mengikuti Sava.
Sava langsung meraih ponselnya. Membuka pesan masuk.
Sava tidak menutup rapat pintu kamarnya sehingga Fariz mengikuti Sava sampai ke kamarnya.
"Mereka pasti kecewa padaku karena gak ngasih kabar", lirih Sava lalu menatap tajam ke arah Fariz.
Fariz merampas ponsel Sava. Dan tiba-tiba saja Tika menelepon. Mungkin karena Tika melihat pesannya sudah dibaca Sava.
Fariz mengangkat panggilan telepon dari Tika.
"Halo"
__ADS_1
"Ini suami Sava. Dia sedang sibuk sekarang. Nanti ku beritahu Sava kalau ada yang meneleponnya. Silahkan hubungi lagi nanti"
Fariz memutus panggilan Tika.
"Kau gila? Apa yang kau lakukan? Bukannya kau sendiri yang meminta pernikahan ini dirahasiakan", ucap Sava.
"Aku yang meminta dirahasiakan. Jadi kenapa kau ikut-ikutan merahasiakan kalau kau sudah menikah. Kau sengaja merahasiakannya agar kau masih bisa mencari pria-pria kaya kan. Sekarang beritahu sahabat-sahabatmu itu kalau kau sudah bersuami. Suruh mereka berhenti menjodoh-jodohkanmu dengan Kenzie. Tentu saja jangan beritahu kalau aku suamimu. Kalau sampai bocor kau akan tahu akibatnya", jelas Fariz lalu menatap ponsel Sava yang sedari tadi bergetar. Tertera nama Kenzie di layar. Fariz menghempaskan ponsel Sava. Setelah itu Fariz meninggalkan Sava dan masuk ke kamarnya.
Sava memungut ponselnya dengan wajah berlinang air mata.
///
Sava telah tiba di sekolah pagi-pagi sekali. Ia membungkukkan tubuhnya, meletakkan kepala di meja, kemudian meletakkan tangan di atas meja, dan menjadikannya bantal. Ia sampai tidak sadar ketiga sahabatnya sudah berada di kelas. Lebih tepatnya sedang mengelilinginya.
Kanaya mengelus rambut Sava yang membuat Sava menegakkan tubuhnya.
Sava menatap satu persatu sahabatnya itu.
"Kalau berat menjelaskan keadaan kamu sekarang kamu bisa jelaskan nanti", lanjut Kanaya.
Sava menggeleng lalu menundukkan kepalanya kemudian berkata, "Aku sudah menikah".
Ketiga sahabat itu saling menatap tanpa berkata apapun. Mereka menunggu Sava menjelaskan semuanya.
"Aku dijodohkan orang tuaku. Kalian tahu kan soal hutang keluargaku. Jadi ada seseorang datang ke rumah kami dan mengatakan bahwa nenekku dengan sahabatnya dulu berjanji menjodohkan anak mereka. Tetapi kedua keluarga tidak memiliki anak perempuan. Jadi pihak keluarga itu meminta agar perjodohan itu berlanjut ke generasi selanjutnya. Karena aku satu-satunya cucu perempuan di keluarga nenekku jadi mereka datang untuk meminangku. Awalnya aku menolak tetapi orang tuaku berkata kalau keluarga itu sudah melunasi hutang-hutang kami. Orang tuaku menerima dengan senang hati aku menikah secara terhormat dengan keluarga itu dari pada aku harus dibawa paksa oleh pria kekar yang menagih-nagih hutang kami", jelas Sava dengan mata berair.
Kanaya memeluk Sava erat lalu kembali mengelus rambut Sava.
"Kenapa kamu gak cerita ke kita. Mungkin kita gak bisa bantu dari materi tapi kami kan bisa menyaksikanmu menikah. Tidak perlu merahasiakannya begini", ucap Kanaya.
__ADS_1
"Iya Va sampai-sampai gue maksa lo ikut kencan buta padahal sudah lo tolak", ucap Rania.
"Gue juga", balas Tika.
"Gak nyangka teman gue sudah jadi istri orang. Jangan sedih-sedihan lagi dong", lanjut Tika.
"Eh gimana rasanya nikah? Enak gak?", ucap Rania dengan nada menggoda yang akhirnya mendapat sikutan Kanaya.
"Bercanda ih habisnya jadi sedih-sedih gitu, harusnya berita pernikahan itukan berita bahagia", lanjutnya.
"Suami lo gimana? Dia baik gak? Kenalin ke kita dong", ucap Tika.
Sava hanya tersenyum.
"Eh lo program? gimana kalau lo ngisi sebelum kelulusan nanti. Aduh ribet dah urusan lagi bunting tiba-tiba ujian. Gak kepikiran sama ujian lagi itu mah", ucap Rania.
"Rania dari tadi bahas apaan sih", tegur Kanaya.
"Hahaha gue juga sebenarnya penasaran", balas Tika.
"Kita buat kesepakatan. Kita gak 1 kamar sampe kelulusan nanti", jelas Sava.
"Hah serius? Hati-hati hasrat pria suka tiba-tiba. Jadi kunci kamar lo rapat-rapat", ucap Rania.
"Biarin aja sih. Kan sudah halal. Lo terkam duluan juga gapapa. Emansipasi wanita", ucap Tika sambil menggerakkan alisnya naik turun.
"Bener juga tuh Va", balas Rania.
"Hus. Kalian ini masih pelajar. Sekolah yang benar", ucap Kanaya.
__ADS_1