
Fariz mendekatkan bibirnya ke telinga Sava lalu berbisik, "Kamu milikku."
Sava membatu, perlahan ia menelan salivanya. Bibirnya gemetar.
"Apa ini waktunya?" batin Sava.
Kriuk
Perut Fariz berbunyi.
"Hehe. Aku lapar," ujar Fariz setelah melepaskan Sava.
"Ha. Ha. Haha." Bunyi suara tawa terpaksa ke luar dari mulut Sava.
Suasana mendadak canggung. Posisi Sava dan Fariz masih dalam duduk berhadapan.
Sava meremas pakaiannya sambil menutup mata rapat-rapat. Sedangkan Fariz menggaruk-garuk kepalanya.
"Ka-kamu lapar, kan? A-aku turun dulu." Kata Sava terbata-bata, lalu ia berlari meninggalkan Fariz.
Begitu Sava hilang dari pandangan Fariz, Fariz langsung menghempaskan diri ke ranjang. Ia menghela napas panjang.
"Huft, ada apa denganku? Kenapa aku bertindak seperti itu? Hampir saja aku kehilangan kendali. Bunyi perutku telah menyadarkanku. Sava bisa membenciku, aku tahu pasti dia belum siap. Aku tahu Sava takut untuk melakukannya. Aku akan tunggu sampai Sava benar-benar siap."
Fariz memijit pelipisnya. Tiba-tiba saja bayangan saat Sava berganti pakaian muncul dibenaknya. Fariz memikirkan Sava sampai sudut bibirnya tertarik. Ia tersadar dari lamunannya saat mendengar suara teriakan.
"Ide konyol mengerjai Sava seperti ini tidak baik. Aku malah kena batunya. Hari ini aku menahannya karena bunyi perutku, tapi aku gak yakin untuk besok-besok."
Di sisi lain Sava sedang berdiri di depan pintu kamar.
"Aakkk... Sava... Kenapa otakmu mesum begini." Sava menjerit dalam hati. Mulut Sava komat-kamit tanpa mengeluarkan suara sambil menarik dan mengacak-acak rambutnya.
"Apa yang aku pikirkan. Kenapa aku malah berpikir kami akan melakukannya? Dan kenapa aku malah kecewa sewaktu perut Fariz berbunyi?"
"Hah? Apa? Apa yang barusan aku katakan? A-aku kecewa?"
"Kecewa? Aakkk!" jerit Sava.
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Muncullah sosok Fariz dari balik pintu.
Sava menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Sava tersadar kalau ia masih berada di depan pintu kamar.
"Ada apa? Aku mendengar suara teriakan", tanya Fariz.
"I-iya. Aku memanggilmu. Ka-katamu lapar. Ke-kenapa kamu terus di kamar? Ayo makan," sahut Sava panik.
"Oh. Iya." Fariz kembali salah tingkah. Ia memalingkan wajahnya dari Sava, mencari-cari sesuatu yang bisa iya raih.
Sama halnya dengan Fariz, Sava mengetuk-ngetuk salah satu kakinya ke lantai sambil meremas pakaiannya.
"Ehm. Ayo turun," ajak Sava. Fariz membalas dengan anggukan lalu mengikuti Sava.
Sesampainya di dapur, Sava memanaskan lauk terlebih dahulu sebelum menghidangkannya.
"Apa aku harus menyuapinya lagi? Aku gak sanggup untuk memandangnya," batin Sava.
"Tapi kalau tidak aku suapi dia akan kesusahan. Sebagai istri yang baik aku harus tetap menyuapinya. Cukup arahkan sendok ke mulutnya, tidak perlu menatapnya."
Ternyata Fariz memperhatikan gerak-gerik Sava sejak tadi. Sudut bibir Fariz tertarik melihat tingkah Sava.
"Sepertinya bukan hanya aku yang salah tingkah. Sava juga tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Lucu sekali dia. Aku ingin terus menggodanya. Tapi kenapa aku juga malah tergoda. Fariz, ingat batasanmu. Kendalikan dirimu. Ingat, jangan memaksa Sava. Lakukan dengan cinta," batin Fariz.
"Buka mulutmu," ujar Sava.
Fariz menurut. Ia membuka mulutnya dan melahap suapan Sava. Karena Sava tidak menatap Fariz saat menyuapinya, mulut Fariz berlepotan. Fariz memajukan bibirnya agar bisa dibersihkan Sava.
Setelah menyuapi Fariz, Sava sesekali melirik Fariz. Dilihat Sava mulut Fariz berlepotan, lalu dibersihkannya.
Setiap kali Sava menyuapi Fariz, ia harus membersihkan mulut Fariz juga.
"Fariz, makan yang benar," seru Sava.
"Kamunya itu. Niat nyuapin gak sih? Tangan di mana, mata di mana," sindir Fariz.
__ADS_1
Sava berdehem. Dengan sigap Sava mengambil tisu untuk membersihkan mulut Fariz. Sava sangat hati-hati dalam membersihkan mulut Fariz. Diperhatikannya bibir Fariz dengan seksama.
"Bibirnya cukup seksi. Tapi sangat kasar saat berciuman. Gak ada lembut-lembutnya. Bibir ini yang telah mencium bibirku dengan kasar." Tanpa Sava sadari ia telah menggigit bibirnya sendiri.
Fariz heran Sava membersihkan mulutnya cukup lama di banding sebelumnya. Dilihat Fariz ternyata Sava sedang mengelus-elus bibirnya. Pupil Fariz membesar saat Sava menggigit bibirnya sendiri. Ketika mata mereka bertemu Fariz tersedak oleh sisa makanan yang belum di kunyahnya dalam mulut.
"Uhuk. Uhuk."
Sava menyodorkan minuman ke Fariz lalu menepuk-nepuk punggungnya.
Sava akhirnya membenarkan posisi duduknya menghadap Fariz lalu menyuapi Fariz dengan benar.
"Kamu gak makan?" tanya Fariz.
"Gak. Sedang gak berselera," jawab Sava.
"Kenapa gak berselera? Kamu mau apa? Aku belikan," balas Fariz.
"Aku diet," jawab Sava cuek.
Fariz marah mendengar Sava berkata ia sedang diet.
"Apa? Diet? Kurus begini mau diet? Aku bahkan gak tahu ke mana perginya makanan yang kamu makan. Lihatlah tidak ada lemak di mana pun." Fariz menyentuh pipi Sava, lalu beralih ke lengan Sava. Kemudian ke perut Sava.
"Stop!" Sava menahan tangan Fariz.
"A-aku makan. Aku akan makan," kata Sava.
Sava akhirnya mau makan dan Fariz setia menunggui Sava.
Tiba-tiba saja ponsel Fariz berbunyi. Ada pesan dari Hamdan.
"Aku ke atas dulu. Ada pekerjaan yang harus aku periksa," ujar Fariz.
"Hmm. Aku akan menyusul. Aku juga ada pekerjaan," sahut Sava.
Fariz pergi ke ruang kerja sedangkan Sava menghabiskan makanannya lalu membereskan dapur. Setelah itu Sava menyusul Fariz ke ruang kerja.
Sava membuka pintu tetapi tidak menemukan Fariz di dalam.
"Fariz. Fariz," panggil Sava.
"Oh, kamu di situ? Tunggu aku ambilkan berkasku." Sava mengambil beberapa berkas pekerjaannya.
"Ada masalah di kantor?" tanya Sava.
"Tidak. Hanya laporan yang harus aku periksa." Fariz berbicara tanpa menatap Sava. Ia masih asyik menantap layar laptop.
Sava tahu pasti Fariz sedang ada pekerjaan penting sampai mata Fariz tidak berpindah dari layar laptopnya. Sava pun mengerjakan pekerjaannya.
Mereka asyik dengan pekerjaan masing-masing sampai lupa waktu bahwa hari mulai gelap.
"Haa. Aku lelah," ujar Sava.
"Pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Fariz.
"Hm. Ya. Kamu bagaimana?" Sava mulai merapikan berkas-berkasnya.
"Sedikit lagi," sahut Fariz.
Karena Sava tidak ada kegiatan, ia mengotak-atik ponselnya. Sesekali Sava melirik Fariz. Sava enggan mengganggu Fariz.
"Mau ke mana?" Saat Sava berdiri, Fariz langsung mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Aku bosan. Aku mau menonton televisi saja." Sava berjalan sambil meregangkan otot-otot tubuhnya.
"Tunggu sebentar lagi," bujuk Fariz.
"Sebentar lagi mu sangat lama. Aku benar-benar bosan. Ayo bermain? Atau apa ada yang bisa aku kerjakan?"
"Ada. Balok kayu," jawab Fariz.
"Mesum!" seru Sava. Sava mengerutkan kening menatap Fariz, lalu ia berjalan menuju tangga. Tetapi Fariz malah menahan tangannya.
"Katanya mau bermain. Ayo bermain!" Fariz meletakkan laptop yang berada dipangkuannya, lalu menarik lengan Sava kembali untuk duduk.
__ADS_1
"Aku gak mau main balok kayu mesum mu itu!"
"Kamu juga menulis hukumannya, kan? Aku saja tidak tahu kamu menulis apa. Bukankah itu adil?" balas Fariz menggoda Sava.
"Tapi hukuman yang aku tulis itu hal-hal wajar. Tidak mesum sepertimu."
"Apa saja yang kamu tulis di sana? Aku mau tahu. Sini bawa mainannya," kata Sava.
"Kamu harus bersedia bermain baru aku ambilkan," tegas Fariz.
"Aku mau lihat dulu. Siapa tahu ada hukuman aneh di dalam sana." Sava melipat tangan di depan dada pertanda ia mulai marah.
"Tidak ada hal aneh di sana. Semua hal yang wajar dilakukan oleh sepangan suami istri," kata Fariz sambil menahan tawa.
"Kamu bohong. Akan ku cari." Sava pergi menuju kamar dan mencari di mana Fariz menyimpan balok kayu mainan itu.
Sedangkan Fariz tidak bergerak sama sekali. Ia hanya bisa tertawa sambil berkata, "Cari sampai dapat."
Sava masih berusaha mencari. Ia pantang menyerah.
Fariz melanjutkan menyelesaikan pekerjaannya. Hampir 1 jam Sava tidak ke luar dari kamar. Fariz merasa ada tidak beres kenapa Sava begitu lama kembali. Akhirnya Fariz menyusul Sava.
"Sedang apa kamu di dalam... Sava. Turun!" teriak Fariz.
Fariz menemukan Sava sedang memanjat lemari untuk mengambil balok kayu mainannya.
Sava bergegas naik ke atas lemari. Awalnya Sava berniat hanya mengambil balok kayu mainan itu. Tetapi karena Fariz datang ia memutuskan untuk naik ke atas lemari agar Fariz tidak bisa merebutnya.
"Turun. Bahaya. Nanti kamu jatuh!" teriak Fariz.
"Tunggu. Aku mau melihatnya," sahut Sava.
Fariz mendekat. Ia berusaha merebut balok kayu mainan dari tangan Sava.
Karena Fariz tinggi, ia hanya memerlukan kursi di depan meja rias untuk dapat meraih atap lemari. Tetapi tidak sampai untuk merebut balok mainan dari tangan Sava. Ia harus memanjat atau setidaknya menginjak penyangga rak lemari 2 dari bawah atau lebih tepatnya rak paling tengah.
Sava melempar satu persatu balok kayu mainan itu ke arah Fariz agar menggagalkan Fariz mengambilnya.
"Push up 10 kali." Kata Sava membaca tulisan yang tertera dalam balok mainan lalu melemparnya ke arah Fariz. Sava membacakan satu persatu hukumannya.
"Joget."
"Nyanyi."
"Mengecup lawan main."
"Memeluk lawan main."
"Squat jump 20 kali."
"Membersihkan rumah saat weekend."
"Mengerjakan semua pekerjaan rumah saat weekend."
"Memasak."
"Jepit telinga."
"Coret wajah."
"Ah kenapa hukuman yang aki tulis semua. Mana hukumanmu," ucap Sava.
"Bersedia didandani lawan jenis."
"Jongkok sampai hukuman berikutnya."
"Menggoda lawan main." Sava mulai mengerutkan keningnya.
"Menuruti 1 keingin lawan main."
"Melayani lawan main selama sehari."
"Menuruti 1 keinginan lawan main."
"Menuruti 1 keinginan lawan main."
__ADS_1
"Ada berapa hukuman yang sama. Kenapa harus menuruti keinginan lawan main, hah!" teriak Sava.
"Ho-ney-moon," lirih Sava. Tiba-tiba Sava membatu. Fariz mengambil kesempatan merampas balok mainan dalam genggaman Sava.