
"Al", panggil Sava.
Al menatap heran Sava.
"Gak apa-apa kan aku bawa mereka? Mereka mengajakku saat aku sudah janjian denganmu jadi ku pikir pergi bersama seperti ini akan lebih baik", lanjut Sava.
"Iya gak apa-apa. Tapi aku sudah membeli tiket nonton", balas Al.
"Film apa? Sini tiketnya nanti kita beli yang sebaris", sahut Tika.
Tika dan Rania sedang mengantri membeli tiket sedangkan Kanaya yang menjadi penjaga Sava saat ini.
"Kamu kenapa gak kerja di kafe lagi?", tanya Al.
"Mau fokus ujian akhir. Kerjaan kamu gimana?", balas Sava.
"Hm lancar", jawab Al.
"Syukur kalau begitu. Aku pikir ada masalah makanya kamu mengajak aku bertemu", ujar Sava.
"Ekhm itu", ucap Al sambil menatap sekitar dan melirik Kanaya yang ada di sambil Sava.
Kanaya tidak membiarkan Al menyelesaikan kalimatnya.
"Mereka sudah datang", sahut Kanaya.
Al menggaruk-garuk kepalanya.
"Gimana?", tanya Sava.
"Beres", jawab Tika.
"15 menit lagi film dimulai. Kita tunggu di sana saja", sahut Rania.
Saat menunggu film dimulai Sava memperkenalkan sahabat-sahabatnya.
"Kenalan dulu dong. Ini Al. Dan ini Rania, Tika dan Kanaya", ucap Sava sambil menunjuk satu persatu.
Al pun bersalaman dengan Rania, Tika dan Kanaya.
"Kata Sava kamu ini lebih tua dari kita, jadi kita panggil apa enaknya? Manggil Al saja dikira gak sopan. Manggil kak Al nanti kamunya merasa ketuaan", ujar Tika.
"Eh itu. Kalian boleh panggil kak Al atau Al terserah", jawab Al gugup.
Karena Al merasa gugup berada diantara para gadis ini ia izin ke kamar mandi.
"Gimana? Dia gak berani nembak lo kan?", ucap Tika.
"Kalian itu lupa tujuan utama ke sini. Malah asik ngerumpi dan foto sana sini. Malah aku yang menjaga Sava", balas Kanaya.
"Itu karena belum ada sinyal si Al itu mau nembak Sava", jawab Tika.
"Sewaktu kalian membeli tiket dia hampir saja mengungkapkannya. Untung aku cegah", sahut Kanaya.
"Hah? Benarkah? Wah wah punya nyali juga dia", ucap Rania.
"Nanti jangan biarkan Sava duduk di sebelahnya", kata Kanaya.
__ADS_1
"Buat ia duduk di samping gue", sahut Tika sambil menaik turunkan alisnya.
"Itu sih mau lo", ucap Kanaya.
"Eh itu dia barusan keluar kamar mandi. Kalian jangan sampai bicara yang tidak-tidak ya", sahut Sava.
"Iya. Kalian masuk saja biar kita belakangan. Jadi dia gak curiga duduknya samping gue", kata Tika.
Kanaya, Sava dan Rania duduk berderetan dan menyisakan 2 tempat duduk dekat jalan untuk Tika dan Al.
"Sava mana?", tanya Al menghampiri Tika.
"Mereka sudah masuk, ayo kita susul", sahut Tika.
Setelah melihat posisi duduk bioskop Al kecewa.
"Apa teman-teman Sava tidak menyukaiku? Apa mereka sedang menjauhkanku dari Sava?", batin Al.
"Aku sebaiknya mendekatkan diri ke sahabatnya. Sepertinya Sava sangat mendengarkan mereka", lanjutnya.
///
"Makan yuk. Gue lapar", ujar Rania begitu keluar dari bioskop.
Semua setuju dan mereka pun makan bersama.
Saat menunggu makanan datang Kanaya menyikut Tika dan Rani yang sedang berada di samping kiri dan kanannya.
Akhirnya Tika membuka pembicaraan, "Jadi lo kenal Sava dari mana? Kenapa kalian bisa akrab?".
"Itu gak disengaja. Awalnya Sava membuat kesalahan lalu aku meminta pertanggungjawaban tetapi malah sebaliknya, Sava telah banyak membantuku", jawab Al.
"Karena tadi, Sava banyak membantuku. Aku merasa nyaman bersamanya. Jadi aku ingin melakukan banyak hal bersama Sava", jelas Al.
Tika menatap wajah sahabatnya satu persatu.
"Ekhem. Aku dengar kamu di sini kos. Di mana keluargamu?", ucap Tika.
"Sepertinya aku sedang diinterogasi", batin Al.
"Keluargaku di luar negeri. Tujuanku di sini mencari pekerjaan", jawab Al.
"Memangnya kamu gak punya kerabat di sini?", lanjut Tika.
"Ada. Tapi sudah lama tidak berhubungan jadi aku segan datang berkunjung dan menyusahkan mereka", balas Al.
"Jadi apa pekerjaanmu? Di mana kamu bekerja?", sahut Rania.
"Hanya karyawan biasa di perusahaan swasta yang bergerak di bidang animasi", jelas Al.
"Oh iya. Kalian sekolah di SMK Panca Budi kan? Perusahaan kami mengadakan workshop ke sekolah kalian. Mungkin senin nanti akan ada pengumumannya. Tapi hanya beberapa jurusan saja", lanjut Al
"Benarkah? Kami pasti ikut", sahut Kanaya semangat.
Mereka berlima asyik berbincang-bincang seputar pekerjaan dan sekolah sampai lupa waktu yang akhirnya melupakan soal hubungan Al dan Sava.
"Ternyata hujan turun. Kita terlalu asyik sampai lupa waktu. Bagaimana kita pulang hujam begini? Apa tunggu hujan reda?", ucap Kanaya.
__ADS_1
"Lo sih Ra gak bawa mobil", ujar Tika.
"Sava yang minta. Biasa nih anak suka seganan", sahut Rania.
"Kalian biar aku antar saja. Kasihan kalau menunggu hujan reda", ucap Al.
"Lo bawa mobil?", tanya Tika.
Al menggangukkan kepalanya.
"Cowok idaman guek banget ini. Ganteng plus mapan. Masih muda lagi", gumam Rania.
"Gak usah. Ngerepotin banget. Apalagi harus antar satu-satu. Aku naik taksi saja", kata Sava.
"Rumah kalian di mana? Kalau searah gak boleh menolak", sahut Al.
Mereka menyebutkan alamat rumah masing-masing dan ternyata searah hanya saja Sava sedikit lebih jauh.
Saat mereka menuju parkiran Rania berbisik ke Sava, "Gue semakin penasaran sama suami lo. Lo tinggal di komplek elit".
"Itu rumah mertua gue", jawab Sava.
"Jadi lo masih tinggal sama mertua? Gimana? Seram gak?", tanya Rania.
"Ngomongnya besok-besok saja ya", kata Sava sambil menunjuk arah sahabatnya yang lain.
///
Setelah Kanaya, Rania dan Tika diantar pulang tinggallah Sava dan Al berdua dalam mobil.
"Ini benaran arah alamat rumah kamu?", tanya Al.
"Iya. Kita gak salah jalan kok", jawab Sava.
"Tapi aku lihat ini kawasan rumah-rumah elit. Lihatlah rumahnya besar-besar semua", ujar Al.
"Kamu anak orang kaya? Tapi kenapa kamu bekerja mencari uang mati-matian kemarin?", lanjutnya.
"Hah? Itu. Hmm. Rumahku sederhana kok gak sebanding dengan rumah-rumah di sini. Dan aku bukan anak orang kaya", jawab Sava gugup.
"Itu. Itu rumahku. Turunkan aku di depan gerbang", ujar Sava.
"Tapi masih gerimis. Sebaiknya aku antar masuk", balas Al.
"Gak. Gak usah. Stop. Aku turun sekarang", perintah Sava yang akhirnya Al pun menghentikan mobilnya.
"Makasih sudah mengantarku. Hati-hati di jalan", kata Sava lalu berlari menuju rumah.
Ternyata Fariz sudah menunggu Sava di ruang tamu. Dan menyambut Sava dengan tatapan mematikan.
"Dari mana saja kamu baru pulang jam segini?", ucap Fariz.
"Aku pergi bersama temanku", jawab Sava.
"Kamu harus ingat kamu itu seorang istri sekarang. Sepertinya aku harus memberlakukan jam malam buatmu. Kamu harus ada di rumah sebelum jam 7 malam. Ini perintahku sebagai suami dan sebagai kepala keluarga di sini", ucap Fariz dengan menekan setiap katanya.
"Oke. Lain kali aku gak akan pulang telat", sahut Sava lalu pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Fariz meraih ponselnya dan menghubungi Hamdan.
"Bagaimana? Ada perkembangan? Besok aku harus sudah mendengar kabarnya", kata Fariz lalu memutus panggilannya.