
"Huh. Katanya kebanyakan. Buktinya habis", ujar Tika.
"Gak boleh membuang-buang makanan", ucap Kenzie.
"Huh. Padahal dia yang paling banyak makan", lirih Tika
"Beli apa sih Tika?", tanya Rania.
"Kripik pedas, minuman bersoda dan kue tart", jawab Tika.
"Kue tart buat apa?", tanya Sava.
"Aku lagi pengen. Haha. Nanti kalau kalian kepedasan bakalan nyari yang manis-manis", kata Tika sambil tertawa.
"Jadi maksud kamu makanannya untuk game kita apa?", tanya Kenzie.
"Siapa yang kalah harus makan kripik pedas dan minum minuman bersodanya", jawab Tika.
"Inilah enakan di kamu", sahut Rania mengecek isi makanan yang dibeli Tika.
Semua melihat ke arah Rania.
"Tika itu suka pedas. Dan dia membeli kripik levelnya level mampus", jelas Rania.
Sava mengerutkan dahinya.
"Haha. Sengaja. Kemarin sih aku disuruh nyuci piring. Kalian rasain pembalasanku", ujar Tika.
"Sava hati-hati, jangan sampai kalah. Bisa masuk rumah sakit kalau kamu makan ini. Yah setidaknya perutmu akan mulas dan bolak-balik kamar mandi besok", ucap Rania.
"Gak akan ku biarkan Sava kalah", batin Fariz sambil menatap Sava.
"Aku gak usah ikut ya", balas Tika.
"Gak boleh gitu dong. Aku kan sudah beli penawarnya", ujar Tika.
Sava nenurut pasrah.
Permainan dimulai. Semua pemain sangat berhati-hati kecuali Tika.
Sava terus mendapat arahan Fariz untuk menarik balok yang mana. Akibatnya Sava tidak pernah terkena hukuman.
"Ini kripik apaaan. Lidahku hampir terbakar", ujar Kenzie yang mendapat hukuman saat ini.
"Benarkan. Ngejekin aku lagi tadi", balas Shadiq.
"Ini bisa membunuh ususku. Makanan apa ini. Bubar-bubar", ucap Kenzie.
"Bentar lagi dong. Kita bubarannya sekalian pulang. Kalau berhenti gak ada kerjaan lalu bosan", jawab Tika.
"Baiklah", jawab Shadiq.
__ADS_1
Kenzie menyikut Shadiq lalu berbisik, "Kenapa kamu setuju? Aku yakin pasti ada sesuatu diantara kalian".
Permainan dimulai lagi. Sava terus melirik ke arah Fariz sebelum mengambil balok.
"Eh. Eh. Eh. Apa-apaan ini? Ini bukan kerja sama tim. Kenapa kode-kodean begitu", ujar Tika.
Fariz berdehem sedangkan Sava mengerucutkan bibirnya.
Sava menarik balok. Dan akhirnya balok runtuh.
"Yey", teriak Tika.
"Kasihan Sava. Sava gak kuat pedas", ujar Rania.
Sava menelan salivanya menatap kripik yang ada di hadapannya.
Semua menunggu Sava untuk memakannya.
Fariz merampas kripik pedas di hadapan Sava. Semua menatap bingung ke Fariz.
"Aku akan menggantikannya", ucap Fariz.
Semua terkejut Fariz bisa melakukan hal itu.
"Pedas banget ini. Kita saja gak kuat. Kamu yakin?", tanya Shadiq.
Fariz tidak menjawab Shadiq, ia mulai menyuapi kripik pedas ke dalam mulutnya.
Tika dan Rania saling merangkul satu sama lain.
"So sweet banget ada pangeran berkuda putih rela menggantikan hukuman. Aku kapan ya", lirih Tika.
"Ternyata Fariz gak jahat-jahat banget. Sepertinya Fariz sudah bertekuk lutut ke Sava. Sang suami rela menggantikan hukuman istri", sahut Rania.
Sava khawatir melihat Fariz, ia nyodorkan air putih serta kue ke Fariz.
"Jangan dipaksa. Minum dulu", ucap Sava.
"Jangan dipaksa. Minum dulu", ucap Sava.
Akhirnya Fariz berhasil menghabiskan kripik pedasnya.
Wajah Fariz merah padam serta penuh keringat.
"Kalian pulang sana", ujar Sava.
Tika membulatkan matanya tak percaya seorang Sava bisa mengusir sahabatnya.
"Kami masih sakit. Perlu istirahat. Lagian ini sudah malam. Jangan pulang terlalu larut", jelas Sava.
"Ya sudah. Pulang yuk", sahut Kenzie.
__ADS_1
Tika cemberut.
"Jangan ganggu pasangan suami istri mau mesra-mesraan", bisik Rania.
"Kami pamit ya. Kalau ada apa-apa hubungi kami", ucap Shadiq.
Setelah semua orang tak terlihat hilang dibalik pintu, Fariz langsung berlari ke dapur.
Berkumur-kumur lalu meminum air putih cukup banyak.
"Kamu sih. Kenapa memaksakan diri. Aku bisa memakannya", ucap Sava.
Fariz menatap tajam Sava.
"Aku gak mau kamu sakit. Kita bahkan baru ke luar dari rumah sakit. Kenapa kamu gak berterimakasih padaku sih? Kenapa malah marah-marah?", ucap Fariz lalu meletakkan gelas dengan kasar. Untungnya tidak pecah.
Sava salah tingkah. Ia bingung harus mengucapkan terimakasih seperti apa.
Sava mendekati Fariz lalu memeluknya dari belakang.
"Terimakasih", ucap Sava.
Fariz tersenyum lebar. Kemudian berbalik membalas pelukan Sava.
"Ada syaratnya", ujar Fariz.
Sava mendongak menatap Fariz.
"Syarat apa lagi? Kenapa selalu saja kamu meminta sesuatu dalam setiap kesempatan", ucap Sava.
"Itu karena kamu gak bisa diajak kerja sama", jawab Fariz.
"Kerja sama? Memangnya kamu pernah mengajakku kerja sama apa?", tanya Sava heran.
"Tadi", jawab Fariz singkat.
"Tadi? Apa?", balas Sava.
"Sewaktu mereka membalas balok mainan itu. Kenapa kamu malah malu-malu? Menahanku untuk mengambilnya. Kenapa kamu gak katakan saja kita pernah melakukannya?", ucap Fariz.
"Kitakan memang gak pernah memainkannya", jawab Sava lalu menundukkan kepalanya.
"Tapi kita pernah melakukan seperti dalam hukumannya. Seperti ini", ucap Fariz mempererat pelukannya.
"Melakukan ini juga", kata Fariz lalu menarik dagu Sava.
Sava menutup rapat mata dan bibirnya.
Fariz tertawa.
"Sudahlah. Ayo kita tidur", kata Fariz melepas pelukannya.
__ADS_1
///