
Sudah lebih 2 x 24 jam Sava dan Fariz menjadi sepasang suami istri tetapi mereka masih tidak saling bicara. Sebenarnya mereka saling berbicara tetapi secara tidak langsung. Percakapan mereka disampaikan melalui asisten ke asisten.
Ayah dan bunda Fariz tiba-tiba saja kembali hari ini karena ada urusan mendadak. Padahal jadwal seharusnya mereka kembali besok sore. Sedangkan nenek Fariz sedang berkunjung ke rumah kerabat mereka. Tinggallah Sava dan Fariz.
Karena tidak ada jadwal apapun, Sava ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin jadi Sava ingin jalan-jalan berkeliling kota medan.
"Sudah jauh-jauh ke sini tapi hanya berdiam diri di rumah. Sangat jarang kesempatan untuk berkunjung ke kampung halaman seperti ini. Sebaiknya aku pergi saja", batin Sava.
"Deshi bawa aku berkeliling kota medan", tutur Sava.
"Baik nona akan saya beritahu tuan muda", ucap Deshi.
"Aku tidak ingin pergi bersamanya. Jadi tidak usah beritahu dia", balas Sava.
"Tapi kita harus minta izin pada tuan muda nona", jawab Deshi.
__ADS_1
"Huh baiklah karena dia suamiku sekarang jadi apa-apa aku harus meminta izinnya", batin Sava.
"Ya sudah, segera kamu laporkan padanya", balas Sava geram pada Deshi yang seolah mengingatnya bahwa Fariz adalah suaminya.
Deshi kemudian menghampiri Hamdan yang sedang duduk di ruang tamu dengan laptop di atas pahanya. Mungkin Hamdan mengerjakan tugas atau sejenisnya.
"Sampaikan ke tuan muda kalau nona Sava ingin berkeliling kota medan sekarang. Nona tidak meminta tuan muda untuk menemaninya. Kami hanya butuh izin beliau mengingat tuan besar tidak ada", jelas Deshi.
Hamdan menutup laptopnya lalu pergi menuju kamar Fariz. Sedangkan Sava menyusul Deshi dan menunggu di ruang tamu.
"Nona Sava ingin keluar rumah tuan. Kata asistennya nona Sava ingin berkeliling kota medan tuan. Nona butuh izin tuan untuk pergi", ujar Hamdan.
Fariz berpikir sejenak sebelum menjawab Hamdan.
"Sewaktu acara pernikahan kemarin aku seperti melihat kak Farhan diantara kerumunan orang. Ku kira awalnya itu hanya perasaanku saja. Tetapi setelah mendengar percakapan ayah dan bunda tadi pagi menyimpulkan bahwa itu benar kak Farhan. Aku yakin itu penyebab ayah dan bunda mendadak pergi", batinnya.
__ADS_1
Fariz menunda untuk memberi izin Sava, ia kemudian berkata, "Sudah kamu cek apa yang saya suruh? Bagaimana hasilnya?".
"Sudah tuan. Tuan benar ada nama tuan Farhan keberangkatan menuju medan saat hari pernikahan tuan dan nona. Tetapi saya tidak menemukan keberangkatan lainnya", jelas Hamdan.
"Syukurlah kau masih hidup kak. Hah? Kenapa jadi bersyukur? Dia itu penyebab kekacauan ini, harusnya dia yang bertanggung jawab. Awas saja kau kak Farhan. Berani-beraninya muncul saat aku telah resmi menikahi gadis itu. Pasti kau sudah merencakan semua ini. Aku ku balas kau", batin Fariz.
"Hmm ide yang bagus untuk berkeliling kota ini. Siapa tau aku juga bisa menemukan kak Farhan", lanjutnya.
Fariz berdiri lalu berkata, "Ayo bawa gadis itu berkeliling kota ini. Mungkin dia bosan di rumah saja".
"Tapi nona Sava tidak mengajak tuan. Kata asistennya nona Sava hanya membutuhkan izin tuan untuk pergi", balas Hamdan.
"Apa? Apa yang dia katakan? Kenapa seolah-olah aku yang meminta ikut pergi dengannya? Dan sekarang dia menolakku? ", batin Fariz.
"Katakan padanya pergi denganku atau tidak pergi sama sekali", ujar Fariz geram.
__ADS_1
"Berani-beraninya dia mempermalukanku di depan Hamdan. Lihatlah Hamdan jadi semakin kurang ajar padaku", batinnya.