The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 60


__ADS_3

"Mau ke mana?", ujar Fariz saat melihat Sava mengangkat barang-barangnya.


"Ke kamar lain. Aku lihat banyak kamar kosong", ucap Sava.


Fariz mendekati Sava lalu menarik barang Sava.


"Tetap di kamar ini", perintah Fariz.


"Gak mau", ucap Sava menarik kembali barangnya.


Terjadi tarik-tarikan antara Sava dan Fariz.


Fariz melepaskan tarikannya sehingga Sava terhempas ke tepi tempat tidur. Fariz mendekat, Sava panik tanpa sadar ia menyilangkan tangannya. Fariz malah menarik tangan Sava. Sava memalingkan wajahnya lalu berkata, "Aku belum siap".


"Siap apa?", tanya Fariz sambil mencoba sidik jari Sava.


Sava menoleh ke arah Fariz saat Fariz sudah melepaskan tangannya.


"Itu ponselku", ucap Sava mencoba meraih ponselnya.


Fariz mengunci leher Sava di ketiaknya sehingga Sava tidak bisa meraih ponselnya.


"Kenapa kamu ubah kontakku? Dan kenapa harus dengan nama ice magnum?", tanya Fariz sambil mengotak-atik ponsel Sava.


"Aku merinding membacanya saat nama itu muncul di layarku", jawab Sava.


"Apa katamu?", tanya Fariz heran tidak mengerti maksud ucapan Sava.


"Lucu saja. Seolah mengingatkan aku memiliki suami", ucap Sava.


"Aku memang suamimu", ujar Fariz.


"Tapi tidak dengan cinta. Karena itu aku merinding setiap nama itu muncul di layar ponsel", balas Sava.


"Lalu kenapa harus menggantinya menjadi ice magnum?", ucap Fariz.


"Aku bingung. Kalau namamu jelas gak mungkin jadi ya aku simpan dengan nama itu saja. Itu sebutan Tika untuk geng kalian. Katanya kalian itu seperti ice magnum sedangkan kami hanya es jagung", jelas Sava.


Fariz tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Sava.


"Terus saja mengejekku", lirih Sava.

__ADS_1


"Ekhem. Tapi aku gak terima dengan nama ini", ujar Fariz.


"Jadi kamu maunya apa?", tanya Sava.


"Tetap My Hubby", jawab Fariz dengan menekan setiap katanya.


Sava menelan salivanya tidak tahu harus berkata apa. Karena dia sendiri bingung mau menyimpan kontak Fariz.


"Temanmu tahu kamu sudah menikah. Jadi biarkan tetap begini. Agar mereka tidak curiga. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Jalani saja peranmu sebagai istriku", jelas Fariz.


"Lalu kamu gimana?", ucap Sava.


"Apa?", balas Fariz heran.


"Namaku apa di ponselmu?", tanya Sava penasaran.


Fariz melepaskan Sava lalu berkata, "Cari tahu sendiri".


Fariz mengunci pintu kamar dan menyimpannya lalu mengambil handuk.


"Kenapa dikunci? Aku mau keluar", ucap Sava.


Setelah beberapa menit Fariz ke luar. Sava menarik selimut sampai menutup kepalanya setelah melihat Fariz hanya memakai handuk.


Sava membuka selimutnya perlahan saat mendengar suara pintu. Ternyata Fariz kembali masuk ke kamar mandi. Kesempatan Sava memeriksa barang Fariz untuk mencari kunci kamar.


"Sedang apa? Jangan coba-coba untuk kabur", ucap Fariz tiba-tiba mengagetkan Sava.


Sava kembali ke tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Pergi mandi. Kamu tadi bermain air laut", ujar Fariz.


"Atau mau aku mandikan?", lanjutnya menggoda Sava.


Sava akhirnya bangkit membawa perlengkapannya lalu masuk ke kamar mandi.


Selesai mandi Sava meletakkan guling di tengah kasur lalu ia berkata, "Jangan melewati batas".


Setelah itu Sava berbaring memunggunggi Fariz dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Baru beberapa menit Sava sudah terlelap menghadap Fariz dan selimut terbuka di bawah kakinya.

__ADS_1


Fariz tertawa lirih melihat istrinya yang sudah terlelap. Ia menurunkan guling pembatas lalu menarik selimut menutupi tubuh Sava dan dirinya. Fariz mengangkat kepala Sava tidur di lengannya. Lalu menarik lengan Sava agar memeluk perutnya.


///


Pagi hari saat Sava terbangun ia kembali mendapati dirinya tidur dengan memeluk Fariz. Kali ini bukan hanya Sava yang memeluk tapi mereka saling berpelukan.


"Apa yang terjadi? Kenapa kami saling berpelukan seperti ini. Mana pembatasnya? Siapa di sini yang melewati pembatas?", batin Sava sambil mencoba melepaskan pelukannya dengan hati-hati tetapi tidak berhasil karena kaki Fariz menimpa tubuhnya. Tanpa sengaja Sava menyikut alat vital Fariz. Aksi Sava itu berhasil membangunkan tidur Fariz bahkan Sava juga berhasil lepas dari dekapan Fariz.


Sedangkan Fariz sedang mengerang kesakitan, "Aahh. Apa yang kau lakukan? Kamu mau kita gak punya anak?".


"Bi. Bicara apa kau? A. Aku belum siap punya anak", ucap Sava gugup mendengar Fariz membahas anak.


"Jadi kamu mau punya anak denganku?", ucap Fariz menggoda Sava karena melihat Sava gugup.


"Jangan ngawur. Siapa yang melepas pembatasnya? Pasti kamu kan? Lihat posisimu sudah memasuki areaku", balas Sava.


"Jawab pertanyaanku. Jangan mengalihkan pembicaraan", ujar Fariz.


"Gak tahu", kata Sava sambil berlari ke kamar mandi.


"Hahaha lucu sekali reaksinya", gumam Fariz.


Beberapa menit kemudian Sava membuka pintu kamar mandi dan mengeluarkan kepalanya lalu ia berkata ke Fariz, "Bisa gak kamu ke luar dulu".


"Kenapa kamu mengusirku", ujar Fariz.


"Aku mau ganti baju", balas Sava.


"Ya sudah ganti saja", ucap Fariz dengan nada menggoda.


"Dasar mesum", kata Sava lalu membanting pintu kamar mandi.


Fariz tertawa lalu berkata, "Ngomong-ngomong, apa aku kecanduan mengganggunya? Sepertinya aku senang sekali melihat setiap reaksi tersipu malunya seperti ini".


"Aku akan ke luar. Jangan lupa pakai itu", teriak Fariz di depan pintu kamar mandi.


Sava akhirnya ke luar dari kamar mandi dan menemukan sebuah paperbag di atas kasur.


Ternyata Fariz membeli baju pantai untuk Sava beserta topi pantai.


"Dia membeli ini untukku? Kapan? Hmm kenapa aku gak tahu. Aku kan menemaninya berbelanja kemarin", gumam Sava sambil senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


__ADS_2