The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 91


__ADS_3

Keesokan harinya.


Sava membuka pintu kamarnya perlahan tetapi terasa berat seperti ada yang mendorongnya.


Sava terkejut ternyata Fariz tidur bersandar di pintu kamarnya.


Sava mulai bingung, harus mendorong pintu kembali terlalu berat dam membuka pintu lebar-lebar akan membuat Fariz terbangun.


Sava tak kuasa menahan pintu terlalu lama, akhirnya diputuskannya membuka pintu walaupun dengan resiko Fariz terbangun.


Dan benar saja, sekarang Fariz terbangun.


"Kenapa kamu baru ke luar sekarang? Ah badanku sakit sekali. Aku gak menyangka ternyata di luar sangat dingin", ucap Fariz sambil mengusap-usap badannya dan perlahan masuk ke dalam kamar Sava.


"Kenapa kamu gak tidur di kamarmu? Jangan cari penyakit. Kalau kamu sakit gimana?", sahut Sava.


Sava mulai khawatir dengan Fariz karena Fariz mengatakan badannya sakit dan kedinginan.


"Accuu", Fariz bersin.


Sava menarik Fariz masuk ke kamarnya, membaringkan serta menyelimutinya.


"Lain kali jangan lakukan hal gila lagi", ujar Sava sambil mengecek kondisi badan Fariz.


"Padahal aku berniat memanjat ke jendelamu kalau kamu gak membuka pintu hari ini", sahut Fariz dan mendapat tatapan tajam Sava.


Fariz pun tertawa lalu ia berusaha bangkit ingin duduk tapi ditahan Sava. Sava mendorong tubuh Fariz untuk berbaring kembali.


"Tidur lah. Kamu mau makan apa? Aku masakin", ujar Sava.


"Gak usah makan. Suruh bi Ijah saja. Kamu di sini temani aku", ucap Fariz melingkarkan tangannya ke pinggang Sava.


"Ini sabtu. Bi Ijah gak ada", sahut Sava.


"Aku gak lapar. Kita tidur saja", jawab Fariz.


"Ya sudah. Kamu tidur lah", kata Sava lalu pergi meninggalkan Fariz.


Setelah ditinggal Sava, Fariz uring-uringan. Tak beberapa lama ia tertidur.


Sava membangunkan Fariz untuk sarapan. Ia memasak bubur ayam untuk Fariz.


"Suapin aku", ujar Fariz.


Sava menurutinya. Fariz terus menatap Sava membuat Sava salah tingkah.


"Cepat habiskan. Aku masih banyak pekerjaan", ucap Sava.


"Apa yang mau kamu kerjakan? Apa gak bisa ditunda? Sahabatmu sakit kamu menjaganya mati-matian. Sekarang suamimu sedang sakit. Kamu gak mau menjagaku?", sahut Fariz.


"Kamu tidur juga langsung sembuh. Aku akan mengecek kondisimu sesekali di sela pekerjaanku", jawab Sava.


"Katamu aku harus tidur, jadi temani aku tidur. Tidur di sampingmu membuatku tidur nyenyak", ujar Fariz.


"Alasan. Tadi juga dia tertidur sewaktu ku tinggal memasak", gumam Sava.

__ADS_1


Fariz meraih piring ditangan Sava lalu menaruhnya di atas nakas. Setelah itu menarik tubuh Sava berbaring di sampingnya.


"Kenapa kalau sedang sakit kamu jadi manja?", tanya Sava.


Fariz akhirnya tersadar Sava mengira Fariz bersikap seperti ini karena ia sakit.


Fariz kembali duduk lalu menarik tubuh Sava untuk ikut duduk berhadapan dengannya.


"Apa perkataanku semalam kurang jelas? Di mana map yang ku berikan? Apa sudah kamu tanda tangani?", kata Fariz.


Tintong. Tintong


"Sial. Siapa yang mengganggu pagi-pagi begini", ujar Fariz.


"Kita gak pernah menerima tamu. Apa itu temanmu? Apa mereka tahu rumah ini?", sahut Sava.


"Gak ada yang tahu", jawab Fariz.


"Lalu apa tamuku? Yang tahu aku tinggal di sini siapa? Al?", lirih Sava tetapi masih dapat didengar Fariz.


Fariz langsung beranjak.


Sava mengikuti.


Sava dan Fariz mengintip dari jendela melihat siapa yang datang.


"Polisi?", ucap mereka serentak.


Fariz membukakan pintu.


"Iya saya Sava", jawab Sava.


"Ada apa pak? Kenapa mencari istri saya?", tanya Fariz.


"Kami mendapat laporan bahwa ibu Sava dijambret. Kami sudah menemukan pelakunya. Jadi kami meminta ibu Sava ikut ke kantor untuk mengambil barang yang telah dicuri dan memberikan beberapa keterangan", jelas pak polisi.


"Baik pak", sahut Sava.


"Saya ikut. Kami akan mengikuti bapak dari belakang", kata Fariz.


"Kamu kan lagi sakit. Sebaiknya di rumah saja", bisik Sava.


"Kamu kenapa gak bilang ke aku kalau kamu di jambret?", sahut Fariz.


"Kalau aku cerita palingan kamu memakiku lagi. Mengatakan aku bodoh atau ceroboh", balas Sava.


"Itu berbeda Sava. Bagaimana bisa kamu dijambret hah? Apa kamu baik-baik saja?", ucap Fariz.


"Aduuh bisa gila aku. Jadi ini yang terjadi kenapa perasaanku gak enak semalam", gumam Fariz.


"Hah apa?", sahut Sava.


"Tunggu di sini. Aku ambil kunci mobil", kata Fariz.


Mereka pun akhirnya berangkat.

__ADS_1


"Jadi kenapa kamu bisa dijambret?", tanya Fariz.


"Sederhana saja, aku jalan lalu tasku ditarik", jawab Sava.


Sava tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian sewaktu ia dijambret.


Sava sedang berjalan menuju halte dalam suasa hati kacau, tiba-tiba seseorang menarik tasnya. Sontak Sava berteriak maling lalu mengumpat simaling.


"Dasar maling sialan. Kurang ajar. Berengsek. ****. Buaya darat. Tinggalin aja gue terus. Aaakk huhuhu", ucap Sava lalu menangis membuatnya menjadi pusat perhatian orang.


"Kasihan banget simaling itu aku umpatin jadi bahan pelampiasanku. Sebenarnya aku gak sedih kahilangan tasku. Karena hanya ada ponsel di dalamnya", batin Sava sambil tertawa lirih.


"Kamu kenapa tertawa?", tanya Fariz.


"Gak apa-apa", jawab Sava cuek.


Mereka telah tiba di kantor polisi. Sava memberikan beberapa keterangan, lalu datanglah seseorang yang merupakan saksi kejadian yang juga ikut andil dalam menangkap sipelaku.


"Ini pacarnya mbak? Duh mas ke mana saja sih? Kenapa pacarnya dibiarin sendiri sampai dijambret begini? Kalian habis berkelahi? Saya lihat sebelum dijabret mbaknya mukanya murung tatapannya seperto kosong begitu makanya jadi sasaran jambret", ucapnya.


Fariz melirik Sava, sedangkan Sava pura-pura memeriksa isi tasnya.


"Barangnya aman? Apa ada yang hilang?", tanya pak polisi.


"Aman pak. Kami permisi ya. Makasih banyak pak, mas", sahut Sava.


Fariz mengikuti Sava. Fariz bersabar untuk tidak emosi. Ia terus menutup mulutnya tanpa bicara apapun sampai mereka dalam masuk mobil.


"Kenapa kamu gak jujur padaku alasan kamu dijambret?", tanya Fariz.


"Jadi aku harus jelasin apa? Bukannya kamu sudah dengar di kontor polisi tadi", ucap Sava.


"Oke aku ganti pertanyaanku. Kenapa kamu meninggalkanku dan memilih pulang sendiri?", balas Fariz.


Sava diam.


"Sava", panggil Fariz. Fariz sudah sangat menahan emosinya agar tidak membentak Sava.


"Accuu", Fariz kembali bersin-bensin.


"Apa gak sebaiknya kita ke dokter? Harusnya kamu tadi gak usah ikut. Lihatkan kamu jadi flu", ucap Sava.


"Dibawa tidur juga sudah sembuh", sahut Fariz.


"Kalau gak mau ke dokter ke apotek saja ya", bujuk Sava.


"Gak perlu", sahut Fariz.


"Jangan mengalihkan pembicaraan", lanjutnya.


"Kalau begitu kita kembali pisah kamar", ucap Sava.


Fariz langsung bersemangat melajukan mobilnya ke sebuah apotek.


"Jadi satu kamar lagi kan?", ucap Fariz.

__ADS_1


Sava tak menghiraukan Fariz, ia masuk ke apotek.


__ADS_2