The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 122


__ADS_3

Baru saja Fariz akan masuk dalam alam bawah sadar, Sava tiba-tiba memeluknya.


"Cobaan apa lagi ini tuhan," batin Fariz.


Wajah Sava tepat di hadapan Fariz. Hanya terpisah beberapa inci. Fariz menatap lekat wajah Sava.


"Kenapa aku jadi mesum begini. Perasaan dulu biasa saja. Kami juga sering tidur seperti ini." Fariz sekuat tenaga menelan salivanya, menggeleng-gelengkan kepalanya untuk membuang pikiran kotornya.


"Aku jadi gak bisa tidur. Apa harus menghitung sejuta domba lagi?" batin Fariz.


"Fariz, tenang. Tenang," kata Fariz sambil menutup mata.


Tanpa sadar Fariz membuka mata, sosok Sava kembali mengisi pikirannya. Gejolak dalam dirinya bangkit kembali.


"Sedikit saja."


Cup


Sebuah kecupan singkat mendarat dibibir Sava, lalu Fariz membalas pelukan sang istri.


Fariz juga membenamkan wajahnya di bahu Sava. Dihirupnya aroma khas tubuh sang istri yang sedang terlelap dalam pelukannya. Fariz terbuai akan aroma tubuh Sava, ia sampai meninggalkan tanda merah di leher Sava.


Fariz tersadar setelah melihat tanda merah di leher Sava. Ia panik, seketika gejolak dalam dirinya hilang termakan oleh rasa paniknya.


"Ba-bagaimana ini? Bagaimana cara menghilangkannya? Bagaimana kalau sampai besok tidak hilang? Apa Sava akan tahu kalau ini ulahku? Apa dia akan marah?" berbagai pertanyaan muncul dibenaknya.


Fariz berusaha bangun untuk mengambil ponselnya. Ia ingin mencari tahu bagaimana cara menghilangkan tanda merah itu.


Fariz berusaha sebisa mungkin melepaskan diri dengan hati-hati agar Sava tidak terbangun. Sayangnya tidak berhasil, tubuh Sava telah menimpa salah satu lengan Fariz.


"Ha... Semoga besok tanda merah itu sudah hilang," batin Fariz.


Karena panik dan kelelahan, Fariz cepat tertidur.


Pagi harinya Fariz terbangun lebih dulu. Diliriknya jam dinding yang berada di salah satu dinding kamar. Jam itu berada tepat dihadapan ranjang. Tetapi, karena posisi tidur Fariz tidur menghadap Sava sambil berpelukan, ia kesulitan untuk melihat jam.


Waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Fariz menarik paksa lengannya yang tertimpa tubuh Sava. Ia tak khwatir Sava akan terbangun, karena memang sudah waktunya Sava untuk bangun.


Sava mengeliat setelah lengan Fariz berhasil lolos dari timpaan tubuhnya. Tak berapa lama Sava mengerjap-ngerjapkan mata.


"Selamat pagi," sapa Fariz.


Sava tak menjawab Fariz, ia malah membalikkan tubuhnya.


Fariz mengambil kesempatan untuk mencari tahu cara menghilangkan tanda merah di leher Sava.


Sewaktu Fariz menarik lengannya dari timpaan tubuh Sava, ia sempat melirik leher Sava. Ternyata tanda itu masih ada.


Baru 1 artikel yang buka Fariz, Sava sudah beranjak dari tempat tidur.


"Tumben kamu bangun cepat? Kamu ada meeting pagi ini? Bersiaplah, aku akan masak," kata Sava lalu meninggalkan Fariz dalam kamar.


Fariz mengusap kasar wajahnya. Ia frustasi bagaimana ia akan menjelaskanya nanti ke Sava.


Tak kunjung mendapatkan ide, Fariz akhirnya memutuskan untuk bersiap pergi ke kantor. Fariz masuk ke kamar mandi dan melakukan ritual biasa dalam kamar mandi.


Tiba-tiba saja sebuah ide terbersit dipikirannya. Suasana hatinya berubah ceria dan segera bergegas ke luar menghampiri Sava.


Saat Sava masih sibuk dengan masakannya, Fariz datang membawa handuk kecil.


"Belum selesai memasaknya?" tanya Fariz.


"Sebentar lagi matang," jawab Sava sambil mengaduk-aduk masakannya.


"Kenapa kamu tidur di sofa tadi malam? Kamu menungguku? Lihatlah, kamu jadi digigit nyamuk," kata Fariz menunjukkan tanda merah di tubuh Sava.


"Benarkah?" kata Sava sambil mencari-cari benda yang bisa dijadikan kaca.


"Duduklah, kompres agar tidak meninggalkan bekas," kata Fariz menarik lengan Sava untuk duduk.


"Tapi, masakanku? Tunggu sampai ini masak saja," sahut Sava masih tetap mengaduk-aduk masakannya.


Fariz mengambil baskom lalu mengisinya dengan air hangat. Setelah itu handuk kecil yang dibawanya tadi direndamnya dalam air hangat dalam baskom.


"Cuma diaduk-aduk saja, kan? Aku bisa melakukannya," tawar Fariz.


Sava menurut, ia mengecilkan api kompor. Sedangkan Fariz memeras handuk lalu menempelkannya di leher Sava, setelah itu ia mengambil alih masakan Sava.


Tak berapa lama, Sava merasa masakannya sudah matang. Ia berdiri menghampiri Fariz. Fariz langsung mendorong Sava untuk duduk kembali.


"Masakannya sudah matang, biarkan aku menyiapkannya untukmu," kata Sava.

__ADS_1


Fariz mematikan kompor, lalu mengambil piring dan memindahkan hasil masakannya.


Setelah semua terhidang di atas meja makan, Fariz menghampiri Sava untuk mengecek lehernya. Tandanya masih belum hilang, Fariz mencelupkan handuk ke air hangat dalam baskom lalu menaruhnya kembali ke leher Sava.


"Masih belum hilang?" tanya Sava.


"Ya. Kamu makanlah dulu," sahut Fariz.


Sava dan Fariz menyantap makanannya. Sesekali Fariz melirik Sava yang kesulitan makan karena ada handuk dimenempel di lehernya.


"Agendamu apa hari ini?" tanya Fariz disela-sela mengunyah makanan.


"Aku mau ke rumah bunda," jawab Sava.


Fariz mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tetap mengunyah makanan dalam mulutnya.


Akhirnya Sava melepas handuk di lehernya setelah ia selesai makan. Ia membereskan meja makan lalu mencuci piring.


"Kamu mau berangkat sekarang? Aku mau mandi. Kamu hati-hati di jalan," kata Sava lalu meninggalkan Fariz.


Fariz memperhatikan Sava sejak tadi, ia mencuri-curi kesempatan untuk melihat tanda di lehernya apakah masih ada atau tidak.


Akhirnya Fariz bisa melihatnya ketika Sava berjalan melewatinya menuju kamar. Tanda itu belum hilang, walau sedikit memudar.


Fariz sedikit khawatir karena mengingat Sava akan pergi ke rumah orang tuanya. Ia kembali memutar otak agar tanda merah itu tidak terlihat oleh anggota keluarganya.


Fariz mumutuskan menyusul Sava ke kamar. Ia menunggu Sava ke luar dari kamar mandi.


Ceklek


Sosok Sava telah muncul dengan handuk yang melilit tubuhnya. Pandangan mata Fariz dan Sava bertemu. Fariz membatu, sementara Sava menatap tajam Fariz.


"Ada apa? Mau mengintip lagi?" sindir Sava.


"Tidak. Aku. Aku mau mengantarmu ke rumah bunda," jawab Fariz gugup.


"Kenapa pakai acara diantar segala," gumam Sava sambil mengambil pakaiannya dalam lemari.


"Kamu jangan mempercayai semua omongan bunda. Bunda memang suka berlebihan."


Sava tak menjawab Fariz, ia membawa pakaiannya ke dalam kamar mandi. Dan ia kembali sudah berpakaian lengkap.


Sava duduk di depan meja rias, ia menyisir rambut panjangnya serta memakai sedikit bedak dan lipbalm. Setelah selesai merias diri Sava berjalan menuju pintu.


///


"Bagaimana keadaan perusahaan? Apa Faris melakukan pekerjaannya dengan baik?" tanya Moan.


"Iya yah. Kemarin saja dia berhasil menjalin kerja sama dengan perusahaan luar," jawab Farhan.


"Baguslah kalau begitu. Sepertinya Fariz cocok untuk belajar bisnis mulai dari sekarang."


Tiba-tiba sang bunda datang menghampiri. Membawa beberapa pencuci mulut.


"Hubungannya dengan Sava bagaimana? Apa Fariz tidak pernah curhat?" tanya bunda Farhan.


"Farhan gak tahu bunda. Tapi, menurut Farhan sepertinya hubungan mereka sedikit kemajuan," jawab Farhan.


Farhan dan Moan melahap habis pencuci mulut yang dibawa oleh sang bunda.


"Kenapa kamu simpulkan begitu?"


"Bunda tahu sendiri Fariz bagaimana. Sesukanya saja. Suka gak mikirin perasaan orang lain. Sekarang dia mikiran Sava terus. Kemarin itu, Farhan ketemu Fariz di taman. Dia kelihatan sedang bertengkar dengan Sava. Seperti menghindari Sava. Kalau dulu Fariz akan pergi ke mana saja tidak ada kabar, ini dia malah merenung di taman lalu akhirnya datang ke sini."


"Bukannya kemarin bunda ke kamar Fariz? Bunda gak berbicara dengan Fariz?" sahut ayah Farhan.


"Farhan dengar bunda marah-marah ke Fariz," sela Farhan.


"Sudah hampir larut dia malah asyik main PS. Meninggalkan Sava di rumah sendirian. Ya bunda marahlah," jawab bunda.


"Fariz gak cerita kenapa dia gak pulang?" tanya Farhan.


"Katanya bunda gak ngerti laki-laki. Kalau lihat Sava, Fariz takut langsung menerkam Sava. Bagitu katanya."


Farhan dan Moan tertawa mendengar cerita sang bunda. Untung saja mereka sudah selesai makan. Kalau tidak, mungkin ada yang akan tersedak.


"Kenapa kalian malah menertawakan Fariz?"


"Bunda, sebaiknya cari tahu hubungan mereka itu seperti apa. Mereka sudah melakukannya belum? Menurut Farhan, Fariz sudah sangat mencintai Sava. Dia ingin memiliki Sava seutuhnya. Tapi dia masih takut Sava akan menolaknya."


"Bunda gak mau tahu ah. Biarkan saja mereka. Yang penting Fariz dan Sava baik-baik saja."

__ADS_1


"Hah. Dasar, Fariz penakut. Dia itu laki-laki. Dan Sava istrinya. Kalau memang ingin itu sah-sah saja, kan? Aku yakin walaupun awalnya Sava terpaksa, lama kelamaan dia juga akan menerimanya. Bukankah mereka diberi pembelajaran tentang menikah sebelum mereka menikah?" Farhan mulai geram dengan sikap adiknya yang kekanak-kanakan. Ia ingin menasehati Fariz, tetapi ia juga takut salah bicara dan tidak tepat sasaran karena Farhan sendiri belum menikah, belum berpengalaman.


"Farhan benar. Tapi bunda berkata ke Fariz kalau tidak boleh memaksa Sava. Mereka harus melakukannya dengan cinta," kata bunda.


"Mereka sudah sama-sama mencintai. Kita tahu itu. Kenapa Fariz masih saja bodoh. Tidak menyadarinya," cetus Farhan. Ia benar-benar geram.


"Sudah-sudah biarkan saja mereka. Itu rumah tangga mereka. Biarkan Fariz yang berinisiatif sendiri," sela sang ayah.


Farhan meraih gelas berisi air putih di dekatnya. Lalu diteguknya sampai tandas. Amarahnya mulai sedikit reda.


Bunda membereskan piring-piring kotor yang berserakan di atas meja makan. Lalu memberikannya ke bi Ati.


"Fariz menangani perusahaan dengan baik, ayah jadi pengen pulang ke medan. Fariz masih lama masuk kuliahnya, kan?" kata Moan.


"Jadi Ayah membiarkan Fariz bekerja sampai ia masuk kuliah?" sahut Farhan.


"Iya rencananya begitu. Fariz dan Ayah sepakat agar Fariz menangani perusahaan sampai ia masuk kuliah. Tetapi, sesudah masuk kuliah Fariz juga tetap bekerja. Ya seperti kerja paruh waktu."


"Bagus yah. Dia juga sudah berumah tangga, biarkan dia tahu bagaimana mencari nafkah."


"Maksud ayah juga begitu."


"Tadi bunda dengar ayah mau ke medan? Kapan? Berapa lama? Memangnya Fariz kapan masuk kuliahnya?" sahut bunda tiba-tiba datang dari belakang.


"Kapan Fariz masuk kuliah?" Moan balik bertanya ke Farhan.


"Sekitar 3 minggu lagi," jawab Farhan.


"Ayah bisa berangkat besok atau lusa. Kalau dilihat dari jadwal masuk kuliah Fariz, Ayah bisa 2 minggu di medan."


"Ya sudah. Nanti Bunda persiapkan. Farhan ikut?" tanya bundanya.


"Boleh deh. Farhan bisa kontrol kerjaan dari sana," jawab Farhan.


"Bunda, ayah," teriak Fariz memanggil orang tuanya.


"Fariz?" kata bunda, ayah, dan kakak Fariz.


Fariz menghampiri anggota keluarganya yang sedang berkumpul di meja makan dan dibelakangnya ada Sava mengikuti.


"Sedang sarapan ya?" tanya Fariz.


"Baru saja selesai. Kenapa pagi-pagi ke sini? Kamu gak ke kantor? Sudah jam berapa ini? " sahut Moan.


"Iya sebentar lagi Fariz berangkat. Fariz mengantar Sava ke sini. Dia bosan di rumah," jawab Fariz.


"Bukannya Sava juga kerja? Kakak dengar Sava magang," sahut Farhan.


"Iya kak. Tapi, sudah berhenti," jawab Sava.


"Hm. Pasti ulah Fariz ini," sindir Farhan.


"Kebetulan sekali kalian datang sekarang. Sava pasti bosan di rumah saja, kan? Masuk kuliah masih lama. Mau ikut bunda ke Medan gak?" Ibu mertua Sava mengajak Sava ikut berlibur ke Medan.


"Mau bun," jawab Sava penuh semangat.


Fariz menarik-narik lengan pakaian Sava. Memberi kode jangan meninggalkannya. Dan juga untuk mengingatkan bahwa Fariz ada di situ. Sava butuh izin, jangan asal mengiyakan ajakan ibu mertuanya saja.


Ternyata Sava mengerti kode yang diberikan Fariz. Perlahan ia melirik Fariz. Lalu menunjukkan ekspresi wajah memelas.


"Sepertinya Fariz tidak mengizinkan," sindir Farhan.


"Kasihan Sava kamu tinggal. Kamu sibuk dengan proyek baru, kan? Biarkan Sava ikut. Ayah ingin ke Berastagi, menghirup udara sejuk di sana. Sava belum pernah ke sana, kan?" bujuk ayah mertua Sava.


Sava menggeleng disertai raut wajah sedih serta memelas.


"Berapa lama?" tanya Fariz.


"1 minggu," potong Farhan. Farhan mengedipkan mata ke arah ayah dan bundannya.


"Hm. Baiklah," jawab Fariz terpaksa.


"Sungguh? Jadi aku boleh pergi?" kata Sava tak percaya.


"Iyaaa," jawab Fariz malas.


"Terimakasih." Sava mengayun-ayunkan lengan Fariz. Ia sebenarnya ingin memeluk Fariz saat itu juga. Tetapi, ia sadar. Ia sedang bersama keluarga Fariz. Bukan berduaan.


"Kalau begitu, Fariz berangkat ke kantor dulu," kata Fariz lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


Fariz menghampiri Sava lalu menyodorkan tangannya. Sava tak mengerti maksud Fariz menyodorkan tangannya. Akhirnya Fariz menggenggam tangan Sava, lalu mengangkatnya sampai punggung tangan Fariz mengenai kening Sava. Terlihat seolah memang Sava mencium tangan suaminya.

__ADS_1


"Aki pergi dulu," kata Fariz lalu mengecup kening Sava.


Pipi Sava merona. Ia malu diperlalukan seperti itu di hadapan mertua serta kakak iparnya.


__ADS_2