
Raut wajah Fariz kembali datar.
"Gak apa-apa yah", sahut Farhan.
"Bunda di mana yah", tanya Sava.
"Sepertinya di dapur", jawab ayah.
Sava pergi ke dapur untuk bertemu ibu mertuanya.
Sava ikut membantu ibu mertuanya memasak.
"Sava kenapa ke sini? Tunggu di luar saja. Ada bi Ati yang bantu bunda", kata ibu mertua Sava.
"Gak apa-apa bun. Semakin banyak yang bantu jadi kerjaannya cepat beres", sahut Sava.
Sava pun asyik membantu ibu mertuanya. Sampai akhirnya mereka selesai memasak.
"Ayah, Farhan, Fariz, makanan sudah siap", teriak bunda.
Ayah Fariz duduk di sisi ujung meja makan di hadapannya ada nenek Fariz. Di sisi kiri ayah Fariz ada bundanya dan di sisi kanan ada Farhan. Sementara Fariz duduk di sebelah Farhan yang merupakan sisi kiri neneknya. Jadi Sava duduk di sebelah bunda Fariz.
Sava datang membawa piring berisi lauk di tangannya. Setelah meletakkan piring berisi lauk ia mengambil piring Fariz.
Nasi ada diantara Farhan dan ayah mertuanya, saat akan menyendok nasi Farhan menegurnya.
"Di wajahmu ada tepung", ujar Farhan lalu mengusap wajah Sava untuk menghapus tepung di wajahnya.
"Kamu lucu juga ya", kata Farhan lalu mencubit gemas pipi Sava.
Kening Fariz berkerut menatap kakak dan istrinya.
"Sava dan Farhan sudah akrab ya. Awas kamu nyesal menolak perjodohan itu", kata bunda Fariz tiba-tiba.
Ayah Fariz mencubit pelan tangan bundanya lalu mengkode bahwa ada nenek Fariz di situ.
Untung saja respon Farhan berhasil mencairkan suasana.
"Sava anaknya asyiknya ma. Lucu lagi. Mungkin efek Farhan gak punya adik perempuan kali ya", kata Farhan.
"Ini siapa yang masak? Enak", sahut Moan mengalihkan pembicaraan.
"Sava yang masak yah", ucap bunda.
"Sava bisa masak?", tanya Ayah mertua Sava.
"Bisa yah. Sedikit-sedikit", jawab Sava malu-malu.
"Beruntung kamu Fariz punya istri bisa masak seperti Sava", ucap nenek Fariz.
Fariz hanya berdehem.
///
Setelah selesai makan Fariz menarik tangan Sava.
__ADS_1
"Kita baru saja selesai makan. Pulangnya sebentar lagi saja ya", kata Sava.
"Aku mau tunjukin kamarku. Kamu baru pertama kali ke sini kan? Jadi aku ajak berkeliling. Lagian bagus banyak gerak sebelum tidur, biar kamu gak gendut", ujar Fariz.
Sava mendadak kesal, ia melepas genggaman Fariz.
Fariz tahu Sava kesal karena ia sengaja mengodanya. Akhirnya dengan sebuah rangkulan Fariz di bahu Sava berhasil meluluhkannya kembali.
Setelah mereka memasuki kamar Fariz, ia mendudukkan Sava di pinggir tempat tidurnya. Sedangkan Fariz bermain PS.
Sava merasa canggung dengan situasi ini. Ia berjalan mengelilingi kamar Fariz. Setelah merasa puas memperhatikan isi kamar Fariz, Sava pun bosan.
"Aku bosan. Aku ke ruang tengah saja", kata Sava menuju pintu kamar.
"Diam di situ. Jangan ke mana-mana", ujar Fariz.
"Aku bosan. Kamu sendiri sedang asyik bermain game", sahut Sava.
"Sebentar lagi selesai", ucap Fariz.
20 menit berlalu.
"Ini sudah 20 menit. Aku ke luar saja. Kalau kamu masih asyik bermain aku akan pulang sendiri", kata Sava berdiri dari tempat tidur Fariz.
Fariz akhirnya berhenti bermain.
Fariz menahan bahu Sava agar Sava terduduk kembali. Lalu Fariz memegang dagu Sava serta menggerak-gerakkannya sehingga Sava mendongakkan kepalanya menghadap Fariz yang sedang berdiri di hadapannya.
"Kalau kamu gak bisa masak ngapain ikut-ikutan ke dapur", kata Fariz yang sekarang menangkup pipi Sava dengan kedua tangannya.
Fariz tiba-tiba saja tersenyum sambil mencubit gemas kedua pipi Sava.
"Ya tuhan. Dia tersenyum. Kuatkan hatimu Sava", batin Sava.
"Fariz, kamu tahan ya nak. Tunggu 1 bulan lagi setelah kalian selesai ujian", ucap bunda Fariz tiba-tiba mengagetkan mereka.
Fariz dan Sava menatap ke arah pintu di mana bunda Fariz berada.
"Tahan apa bun?", tanya Sava bingung.
Fariz mendekati bundanya serta mendorong tubuh bundanya ke luar kamar.
"Bunda ngomong apasih? Kita gak ngapa-ngapain", bisik Fariz.
"Bunda lihat kamu tadi nyium Sava kan? Maksa gitu lagi sampai Sava gak bisa napas. Lihat mukanya sampai memerah pasti karena menahan napas", sahut bundanya.
"Hah? Siapa yang ciuman? Bunda salah paham. Terus bunda ngapain ke sini?", ucap Fariz.
"Bunda mau ngasih buah. Kalian sih gak turun-turun sampai harus bunda samperin. Untungkan bunda datang sebelum kamu berbuat lebih jauh lagi", jawab bunda Fariz.
"Ih. Sudah Fariz bilang bunda itu salah paham", sahut Fariz.
"Terserah apa katamu. Itu yang bunda lihat. Apa kalian mau menginap di sini?", tanya bunda.
"Sava mau tidur di sini nak? Kamu bisa pakai kamar tamu di bawah", kata bunda Fariz sambil berjalan mendekati Sava.
__ADS_1
"Bo", kalimat Sava dipotong Fariz.
"Kita pulang saja bun. Sava gak punya baju ganti. Tadi dia kan habis masak", ujar Fariz.
"Kita bisa pulang sebentar lalu kembali lagi", sahut Sava.
Fariz menatap tajam ke arah Sava. Sava pun menundukkan kepalanya.
"Ya sudah. Lain kali saja menginapnya", ucap bunda Fariz.
"Kamu jangan jahat-jahat ke Sava. Lihatlah dia sampai takut padamu. Bagaimana Sava bisa mencintaimu kalau kamu galak begini", bisik bunda ke Fariz.
Fariz malah menarik tangan Sava dan berkata, "Ayo kita pulang".
"Bunda, kita pulang dulu ya", kata Sava.
"Iya sayang", sahut ibu mertua Sava.
"Fariz tahan diri kamu ya nak. 1 bulan lagi. Ingat hanya 1 bulan lagi. Sava kunci kamarmu rapat-rapat ya nak. Jangan biarkan Fariz memasuki kamarmu", teriak bunda Fariz.
Fariz menutup telinga Sava dengan kedua telapak tangannya.
"Ada apa? Kenapa bunda berteriak-teriak", tanya Farhan begitu melihat Fariz dan Sava menuruni tangga.
"Gak apa-apa kak. Bunda lagi kumat saja", jawab Fariz
"Hah? Kumat apa?", tanya Farhan heran.
"Hahaha. Kumat godain anaknya", jawab Fariz sambil tertawa.
"Kamu ini. Kakak kira bunda kenapa-kenapa", ucap Farhan.
"Ayah mana kak?", tanya Sava.
"Di ruang kerjanya. Ada apa?", ucap Farhan.
"Kita mau pamit pulang", jawab Sava.
"Kita pamit ke ayah dulu yuk", ucap Sava sambil menatap Fariz.
"Hm", sahut Fariz lalu berjalan sambil menggenggam tangan Sava kembali.
Tok tok tok
"Ayah", panggil Sava.
"Masuk", teriak Moan dari dalam ruangan.
"Sava dan Fariz pamit pulang ya yah", kata Sava begitu membuka pintu ruang kerja Ayah mertuanya.
"Kalian gak nginap? Besok libur kan?", tanya Ayah Fariz.
"Kapan-kapan saja yah", sahut Fariz.
"Ya sudah kalau begitu. Kalian yang rukun ya. Jangan sering diam-diaman. Diam gak bisa menyelesaikan masalah", ucap Moan.
__ADS_1
"Iya yah", sahut Fariz dan Sava bersamaan setelah itu mereka pulang.