The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 30


__ADS_3

Hamdan menghampiri Sava dan Deshi di ruang tamu.


"Tuan Fariz akan menemani nona berkeliling kota medan", ujar Hamdan.


"Tapi aku tidak memintanya", ucap Sava sambil melirik asistennya.


"Saya sudah mengatakan nona hanya meminta izin tuan muda", balas Deshi takut.


"Benar nona. Tuan Fariz sendiri yang ingin menemani nona berkeliling", jelas Hamdan.


Sava membatu, dipikiran Sava hal apa yang akan Fariz lakukan lagi nanti untuk mengerjainya. Kemudian Sava menatap ke arah belakang Hamdan di mana kedatangan sosok Fariz.


"Semoga saja Fariz tidak mengerjaiku di depan para asisten itu", batinnya.


///

__ADS_1


Fariz sudah membawa Sava berkeliling kota medan dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Sedangkan Sava asik menikmati liburannya seperti tidak ingat waktu. Ia banyak bertanya ke Deshi dan berfoto-foto. Sedangkan Fariz hanya duduk manis memainkan ponselnya.


Saat ini mereka sedang berkunjung ke Rahmat Gallery. Deshi permisi ke kamar mandi dan meminta Sava menunggunya.


Apa yang terjadi? Sava terus berjalan meninggalkan Deshi. Saat Deshi kembali Sava sudah tidak ada. Ia mencari Sava kemudian memberitahu Hamdan Sava menghilang.


Fariz memerintahkan pengawal mencari Sava di kawasan museum. Fariz berpesan agar tidak membuat keributan yang dapat mengganggu tamu lainnya.


"Pergi kemana gadis ceroboh itu", batin Fariz.


Fariz masuk ke dalam gua dan menemukan Sava dengan jarak tidak jauh dari ia sekarang berdiri. Fariz memperhatikan sava dalam keadaaan jongkok dengan kedua telapak tangan di kedua sisi telinganya. Serta napas yang memburu. Fariz menilai Sava ketakutan di rungan dengan mencahayaan rendah dan suara raungan binatang buas. Fariz mendekati Sava lalu meraih tangan kanan Sava. Sava mendongak menatap orang yang menggenggam tangannya lalu ia berdiri dan menundukkan kepalanya.


"Kenapa kau berkeliaran sendiri? Kalau rasa penasaran dibarengi rasa ragu mending tidak usah turuti rasa penasaran mu itu. Akibatnya seperti ini", ucap Fariz.


Fariz menuntun jalan dengan tangan mereka yang masih berpegangan. Dan Sava masih terus menunduk sambil berjalan. Sava mendekatkan tubuhnya ke Fariz seolah sedang bersembunyi dibalik punggungnya saat terdengar suara-suara raungan. Jalan yang mereka lalui semakin terang maka semakin jelas pula terlihat binatang buas di dalam gua itu.

__ADS_1


"Kamu gak mau melihat hewan-hewan ini lagi? Kalau iya kita pulang saja", ucap Fariz.


Sava melirik sekitar kemudian mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk. Sava menarik tangannya dari genggaman Fariz untuk mendekati objek lebih jelas tetapi Fariz menahannya.


"Mau kemana kamu? Nanti hilang lagi", ucap Fariz.


Akhirnya Sava hanya melihat ke kanan dan ke kiri sambil mereka berjalan dengan tangan masih berpegangan.


"Hilang katanya? Memangnya aku anak kecil? Tapi kenapa sampai harus berpegangan seperti ini. Rasanya sangat canggung. Terlebih ini pertama kalinya aku mendengar dia berbicara langsung padaku. Tangannya dingin persis seperti sikapnya. Tetapi juga lembut dan genggamannya sangat nyaman", batin Sava.


"Hah? Kenapa dilepas? Baru juga aku memujinya", lanjutnya.


Sava sedari tadi terus menatap tangannya dalam genggaman tangan Fariz dan akhirnya Sava tidak sadar mereka sudah berada di luar.


"Hmm pantas saja di lepas", batin Sava dengan muka kesal.

__ADS_1


__ADS_2