
Hamdan pamit pulang saat Sava ke luar kamarnya untuk makan malam. Fariz mendadak salah tingkah akan kehadiran Sava, ia buru-buru kabur masuk ke kamarnya.
"Kenapa aku jadi menghindarinya?", batin Fariz.
"Wajar kalau dia terpesona dengan ketampananku. Anggap saja begitu. Sama kan dia dengan gadis yang mengejar-ngejarku. Bersikap biasa saja Fariz. Biasa. Oke", gumamnya dari balik pintu kamar.
Sedangkan Sava heran dengan tingkah Fariz.
"Dia kenapa lari terbirit-birit begitu saat bertemu denganku? Sedang menghindariku? Apa sekarang dia merasa bersalah?", ucap Sava.
///
Keesokan harinya Fariz masih menghindari Sava. Entah kenapa ia merasa salah tingkah di depan Sava. Awalnya ia bermaksud untuk sarapan tapi karena melihat ada Sava di meja makan ia hanya mengambil roti lalu pergi.
Saat di sekolah Shadiq dan Kenzie terus membahas siapa pria yang bersama Sava kemarin. Fariz tidak tertarik dengan pembicaraan Shadiq dan Kenzie karena dia sudah mengetahui kebenaran dari siapa pria itu. Tapi samar-samar Fariz mendengar percakapan tentang workshop dan masih membawa-bawa nama Al. Ia pun akhirnya mendengarkan kedua sahabatnya itu berbicara.
"Jadi di foto itu bukan suami Sava. Itu si Al Al yang gue dengar sewaktu pesta ulang tahun lo", jelas Shadiq.
"Dari mana lo tahu? Kalau memang itu si Al kenapa dia pergi nonton dengan mereka? Apa pria itu gak tahu Sava sudah menikah?", tanya Kenzie.
"Sepertinya sih gitu. Pria itu gak tahu jadi sahabat Sava disitu sebagai pelindungnya. Tapi sepertinya mereka sudah akrab dengan si Al itu. Aku dengar percakapan mereka sewaktu di depan mading mereka sudah tahu ada workshop dari si Al. Perusahaan tempat si Al ini yang mengadakan workshop. Mereka sangat bersemangat. Mereka bahkan memuji-muji si Al itu. Masih muda, ganteng, mapan", jelas Shadiq.
"Workshop apa?", sahut Fariz.
"Aku lupa namanya intinya pelatihan buat anak-anak desain untuk membantu mereka setelah lulus nanti agar tidak bingung mau ke mana", jelas Shadiq.
"Pelatihannya diadakan di mana?", tanya Fariz lagi.
"Di pinggir kota. Alamatnya pastinya kamu lihat saja di mading. Yang jelas diadakan sabtu dan minggu. Artinya mereka menginap 1 malam", ucap Shadiq.
"Aku belum tahu bagimana mereka bisa bertemu dan kenapa bisa hubungan mereka begitu dekat. Pasti ada yang gak beres. Hamdan harus mendapatkan jawaban itu", batin Fariz.
"Jadi si Al itu akan ikut nanti?", sahut Kenzie.
__ADS_1
"Kemungkinan besar. Mereka terus menyebut-nyebut nama si Al itu. Jadi ku pikir pasti si Al itu akan hadir", jawab Shadiq.
"Kalau gue pikir-pikir si Al itu saja seperti itu bagaimana lagi dengan suaminya Sava. Pasti lebih darinya. Sava saja gak goyah dengan pesona si Al itu. Aku jadi penasaran sehebat apa suaminya", lanjut Shadiq.
"Lo nyindir gue gak bisa dapatin Sava?", ucap Kenzie.
"Mulai deh sensian. Terima kenyataan sajalah", balas Shadiq.
"Hallo, suaminya di sini. Hahahah aku suaminya. Aku", teriak Fariz dalam hati sambil tersenyum mengejek.
"Fariz. Hei. Lo ikutan ngejek gue ya?", ucap Kenzie.
"Hah? Apa? Memangnya aku mengatakan apa barusan?", sahut Fariz.
"Sudahlah. Kalian ini sahabatku atau bukan sih", ucap Kenzie kesal.
Fariz dan Shadiq saling menatap bingung menghadapi Kenzie.
"Ngomong-ngomong dari mana lo dapat info ini? Lo lagi gak mengarang ceritakan? Gue jadi curiga dari mana lo bisa dapat info seditel ini", ucap Kenzie.
"Ah. Diam lo", ucap Kenzie kesal padahal sebenarnya ia terharu karena perhatian Shadiq tapi ia menutupi rasa malunya dengan berpura-pura kesal.
///
Karena masih menghindari Sava Fariz pergi menemui Amel pacarnya untuk menenangkan hatinya. Tapi apa yang di dapat Fariz, ia malah pusing mendengar ocehan Amel yang marah-marah karena mereka tidak pernah bertemu. Fariz sudah meminta maaf tapi sepertinya memang begitulah wanita terus mengungkitnya tak henti-henti. Akhirnya Fariz memutuskan untuk pulang.
Sore hari menjelang malam Sava sedang duduk di kursi taman belakang rumahnya yang menjadi pembatas rumah utama dengan rumah mereka.
Mata Sava menangkap pemandangan tak sedap.
Ada seseorang sedang mengintip-intip rumah mertuanya. Seseorang itu menggunakan topi dan masker. Sava terus memperhatikannya sampai ia yakin seseorang itu berbahaya. Setelah pria itu berhasil memanjat tembok Sava langsung berteriak, "Pencuri. Pencuri. Satpam ada pencuri".
Pria misterius itu mendekati Sava dan Sava pun panik karena tidak ada 1 orang pun yang mendengar teriakannya.
__ADS_1
Pada saat pria misterius itu akan mendekapnya Sava menjerit minta tolong. Untungnya Fariz mendengar teriakan Sava saat ia turun dari mobilnya.
"Satpam cepat ke sini", teriak Fariz lalu berlari ke arah asal jeritan Sava.
Sedangkan Sava sedang meronta-ronta dalam dekapan pria misterius itu.
"Hei. Diamlah. Aku bukan orang jahat. Kalau kau gak bisa diam aku gak akan melepaskannya. Diamlah. Ku mohon. Jangan sampai ada yang tahu aku di sini", ucapnya.
Datanglah Fariz sang penyelamat langsung menghantam punggung si pria misterius sampai jatuh bertekuk lutut di atas tanah. Sava juga ikut-ikutan jatuh tapi dekapannya sudah terlepas. Fariz menahan tangan sipria lalu melayangkan beberapa tinju kemudian menyerahkannya ke satpam yang saat itu telah datang.
Fariz akhirnya menghampiri Sava menanyakan keadaannya.
"Kamu gak apa-apa kan? Ada yang terluka?", kata Fariz membantu Sava berdiri lalu mengecek kondisi tubuh Sava.
"Pantatku sakit", ucap Sava mengelus-elus pantatnya. Ternyata pantat Sava yang pertama kali mendarat ke tanah saat baku hantam terjadi tadi.
"Mana? Yang mana?", sahut Fariz memutar tubuh Sava untuk mengecek bagian tubuh yang dirasa Sava sakit. Fariz mendadak salah tingkah setelah sadar pantat Sava yang sakit.
"Ekhem. Nanti juga sembuh sendiri", ucap Fariz gugup.
"Kenapa kamu datang lama sekali. Entah berapa kali aku berteriak. Untung saja pita suaraku tidak rusak", ucap Sava.
"Aku baru saja sampai dan langsung ke sini setelah mendengar teriakanmu. Suaramu terlalu jauh untuk didengar sampai ke pos satpam", sahut Fariz.
"Penyusup ini mau diapakan tuan?", ucap Satpam menghentikan pertengkaran kecil Sava dan Fariz.
Perhatian mereka sekarang tertuju ke sipenyusup.
"Siapa kau? Apa tujuanmu ke mari?", ucap Fariz lalu melepas masker serta topi pria itu.
Fariz dan Sava terkejut.
"Kak?", lirih Fariz.
__ADS_1
"Kamu?", ucap Sava.