The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 125


__ADS_3

"Apa tidak masalah meninggalkan Fariz?" tanya Farhan ke bundanya dengan nada suara rendah.


"Ada masalah apa kalau Fariz ditinggal?" Bunda balik bertanya.


"Sikap Fariz tadi terlalu berlebihan menurut Farhan," jawab Farhan.


"Begitulah orang sedang jatuh cinta."


"Bagaimana kalau dia tahu kita berencana pergi 2 minggu?"


"Kamu takut Fariz marah, begitu?"


Farhan mengganggukkan kepalanya. Ia tahu persis sikap adiknya.


"Kamu takut Fariz marah ke siapa sekarang? Sava? Tidak akan. Bunda malah merasa dia akan menyusul," kata bundanya sambil tersenyum.


"Kalau Fariz marahnya ke kita, bagaimana?" tanya Farhan takut.


"Kamu tenang saja. Bunda mau menggoda Sava dulu," kata bunda pergi duduk ke samping Sava.


"Kamu gak mau jelasin apa yang terjadi tadi?" tanya ibu mertua Sava ke Sava.


"A-apa yang mau Sava jelasin, bun?" sahut Sava malu-malu.


"Tindakan nekat Fariz tadi."


"Sava juga gak tahu kenapa Fariz tiba-tiba bertindak seperti itu."


"Dia tidak mengatakan apapun tadi?" selidik bunda Fariz.


Sava menggeleng.


"Kamu yakin? Bunda lihat kamu menggeleng saat Fariz mengatakan sesuatu."


"Dia minta sesuatu agar tidak merindukan Sava," jawab Sava sambil menundukkan kepalanya.


Ibu mertua Sava tertawa, lalu ia berkata, "Dia minta sesuatu, lalu kamu menggeleng? Jadi Fariz tiba-tiba menciummu?"


Sava mengangguk malu.


Bunda Fariz kembali tertawa.


"Bunda gak menyangka sikap manja Fariz ke kamu, sepertinya posisi bunda sudah tergeser. Biasanya Fariz cuma manja di depan bunda, di depan orang lain dia selalu sok dewasa, dingin dan cuek," kata bunda Fariz sambil menyentuh bahu Sava.


"Dia masih sering bersikap dingin?" Bunda Fariz terus menanyakan berbagai pernyataan, ia penasaran bagaimana perkembangan hubungan Fariz dan Sava.


"Kadang-kadang, bun. Sava juga suka gak ngerti sikap Fariz, nanti tiba-tiba mendiamkan Sava. Dia masih belum bisa terbuka dengan Sava. Sava merasa seperti ada tembok yang memisahkan kami," jawab Sava.


"Sabar ya sayang. Mungkin sebentar lagi," sahut ibu mertua Sava memberi semangat ke menantunya.


"Bunda lihat dari sikap Fariz tadi dia lebih mementingkanmu, dia tidak mempedulikan apa yang dikatakan orang lain. Tadi banyak sekali orang yang melihat kalian bermesraan. Hati-hati kamu, mungkin Fariz bisa bersikap lebih berani dibanding tadi," goda bunda.


Pipi Sava merona mendengar godaan sang ibu mertua. Tanpa sadar ia menyentuh bibirnya.


"Oh, iya. Bunda penasaran soal nyamuk di rumah kalian," kata bunda sambil menahan tawa.


"Bagaimana bisa kamu digigit nyamuk lagi? Apa kamu ketiduran di ruang tamu lagi?" Bunda Fariz menarik sedikit syal yang melilit leher Sava untuk melihat kondisi lehernya.


Sava menggeleng, lalu berkata, "Sava tidur di kamar. Tidur lebih cepat malah."


"Boleh di buka sebentar syalnya?" pinta bunda.


Sava membuka syalnya. Betapa terkejutnya ibu mertuanya melihat lehernya. Mata ibu mertuanya sampai terbuka lebar sampai bulat sempurna sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Ganas sekali anakku," gumam bunda Fariz.


"Apa, bun?" tanya Sava.


"Hah? Tidak. Maksud bunda nyamuknya ganas. Tutup lagi sayang," sahut bunda Fariz.


Sava melilitkan lehernya dengan syal kembali. Tak berapa lama mereka akhirnya masuk ke dalam pesawat.


Selama perjalanan Sava terus saja tersenyum, Deshi yang duduk di sebelahnya ikut tersenyum melihat atasannya begitu bahagia.


Sava tersenyum sambil menyentuh bibirnya, iya juga tersenyum melihat tangannya yang digenggam Fariz beberapa waktu lalu. Bayangan Fariz selama di bandara terus terlintas dipikiran Sava.


Terlalu asyik memikirkan Fariz, Sava sampai tak sadar pesawat sudah berhenti.


"Nona Sava. Nona," panggil Deshi menyadarkan Sava dari lamunannya.


"Hmm... Ya?" sahut Sava.


"Kita sudah sampai," kata Deshi.


Sava menatap sekelilingnya, hanya tinggal beberapa orang saja yang tersisa.


"Bunda dan yang lainnya di mana?" tanya Sava.


"Baru saja ke luar. Saya memanggil anda sejak tadi," jawab Deshi.


Sava berdehem. Ia malu Deshi mengetahui kalau ia sedang melamun. Mereka akhirnya menyusul mertuanya.


2 buah mobil sudah menunggu kedatangan mereka. Sava dan Deshi berada di mobil yang sama, sedangkan mertua dan kakak iparnya di mobil yang lain.


"Kita tidak mengajak nenek?" tanya Sava.


"Iya nona. Kita akan ke sana, dan tinggal beberapa hari. Setelah itu kita ke Berastagi," jelas Dhesi.


Sava mengangguk mengerti. Ia menatap sekeliling, menikmati perjalanannya.


Nenek Fariz mendengar suara mobil, ia menyambut kedatangan Sava dan yang lainnya dengan penuh semangat dan wajah berseri-seri.


"Nenek," teriak Sava menghampiri sang nenek.


"Nenek senang sekali sewaktu mendengar Sava ikut. Fariz kenapa tidak ikut juga?" sahut nenek.


"Dia sibuk kerja, nek. Menggantikan ayah untuk sementara," jelas Sava.


"Oh, begitu. Baguslah Fariz belajar dari sekarang."


"Sava, bawa nenek ke dalam. Bicaranya di dalam saja," ujar Farhan.


"Ayo masuk, nek," kata Sava sambil menuntun nenek.


Semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang keluarga. Farhan sedang rebahan, Sava duduk di samping nenek, ayah mertua dan ibu mertuanya duduk bersebelahan, sedangkan Deshi sibuk ke sana ke mari.


"Kalian lelah ya? Mau makan malam dahulu atau mau istirahat?" tanya nenek.


"Kita makan malam saja bu, kalau istirahat bisa-bisa tertidur sampai pagi," jawab bunda.


"Ya sudah, ayo makan," kata nenek.


Akhirnya, semua makan malam. Mereka menikmati makanan yang disuguhkan sang nenek. Selama menyantap makan malam, nenek membahas soal keluarga dari pihak ayah Fariz menggunakan bahasa daerah. Karena Sava tidak mengerti, ia diam saja.


Deshi melihat Sava diam saja sejek tadi. Deshi mengerti kalau atasannya itu sedang mencoba memasukkan diri walau ia tidak mengerti. Deshi mendekati Sava, lalu ia berbisik, "Nona, bisa ikut saya. Ada yang mau saya katakan."


Savapun meminta izin untuk masuk kamar lebih dulu ke pada keluarga yang lainnya.


Sesampainya di kamar Sava bertanya, "Ada apa Deshi?"


"Saya hanya ingin menarik anda dari sana. Nona kelihatan sangat lelah," jawab Deshi.


Ekspresi kekecewaan menghiasi wajah Sava. Sava mengira Fariz menghubunginya atau apapun itu mengenai Fariz.


"Tidak ada kabar dari Fariz?" tanya Sava.


"Tidak, saya akan kabarin anda kalau Hamdan menghubungiku," jawab Deshi.


"Baiklah, aku akan istirahat," kata Sava.


Deshi mengangguk dan pamit ke luar. Tetapi baru beberapa langkah Sava sudah mencengahnya.


"Kamu sebaiknya tidur denganku."


"Maaf nona, saya tidak bisa. Itu terlalu lancang. Saya pamit dulu," kata Deshi meninggalkan Sava.


"Haa... Tidak asyik sendirian. Tidak ada teman mengobrol," gumam Sava.


Sava mencoba untuk tidur, namun ternyata cukup sulit. Ia merasa lelah, tetapi entah mengapa matanya sulit untuk dipejamkan. Banyangan Fariz terlintas di benaknya.


"Dia sedang apa ya? Apa aku menghubunginya saja? Tapi, apa yang mau kami bicarakan? Ah terlalu berlebihan. Besok-besok saja kalau aku jalan-jalan ke suatu tempat."


"Tapi, aku tidak bisa tidur. Karena Fariz, aku jadi kebiasaan tidur dipeluk olehnya."


Sava mencari bantal guling untuk ia peluk. Siapa tahu dengan memeluk bantal guling bisa membantunya tidur. Syukurnya, hal itu sangat membantu.


Keesokan harinya. Bunda memberitahu, bahwa mereka hari ini akan ziarah dan mengunjungi beberapa saudara dekat.


Tanda merah di leher Sava mulai memudar, walau begitu Sava tetap menutupinya. Untuk memakai syal di cuaca panas Kota Medan sangat tidak nyaman. Sava meraih ponselnya mencari cara untuk menghilangkan bekas gigitan nyamuk di lehernya.


Sava terkejut saat mencari cara menghilangkan tanda merah di leher bekas gigitan nyamuk, malah bermunculan kata yang tak ia sangka.


"Apa ini?" gumam Sava.


Karena rasa penasarannya, Sava mencari tahu lebih rinci. Ia berkaca diri dan memperhatikan lehernya, karena bekasnya mulai memudar ia sulit untuk memastikan kebenarannya.


"Semoga dugaanku salah. Semoga saja memang gigitan nyamuk," kata Sava dengan nada suara sedikit bergetar.


"Nona, saya Deshi. Bisa saya masuk?" kata Deshi dari luar pintu.


"Masuklah," sahut Sava.


"Ada apa?" tanya Sava.


"Saya pikir anda butuh bantuan saya," jawab Deshi.


"Hm... Apa kamu punya foundation?" tanya Sava.

__ADS_1


"Ada. Tunggu saya ambilkan." Deshi pergi, lalu kembali beberapa saat kemudian.


"Bisa bantu aku mengoleskannya?" pinta Sava.


Deshi mendekat, ketika akan mengoleskannya ke wajah Sava, Sava mencegahnya.


"Bukan di wajahku. Tetapi di leherku," kata Sava.


Deshi mengerutkan kening melihat leher Sava. Ia heran apa yang terjadi dengan leher atasannya itu.


"Ada apa? Apa ini tidak seperti bekas gigitan nyamuk?" tanya Sava.


"Eh, i-iya non. Mengapa bisa gigitan nyamuk bisa sebanyak ini? Ini alergi atau apa?" Deshi balik bertanya.


Sava menghembuskan napas kasar mendengar ucapan Deshi. Ia juga ingin memercayai bahwa di lehernya memang bekas gigitan nyamuk.


"Sudahlah, oleskan saja sampai bekasnya tidak kelihatan," perintah Sava.


Sava telah selesai bersiap-siap dan menunggu keluarga yang lain di ruang tamu. Setelah semua berkumpul, mereka berangkat bersama-sama.


Seharian Sava bersama keluarga suaminya pergi ziarah dan mengunjungi rumah kerabat dekat hingga malam hari. Sesampainya semua masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Keesokan harinya, Sava bangun terlambat karena kelelahan dan tidak ada yang membangunkannya. Sava hanya menemukan Deshi dan ibu mertuanya. Ayah, nenek dan kakak iparnya tidak ada.


"Maaf ya, bun. Sava bangun telat. Kenapa bunda tidak menyuruh Deshi membangunkan Sava?" ujar Sava.


"Tidak apa-apa. Bunda tahu kamu pasti kelelahan," jawab ibu mertua Sava.


"Yang lain di mana? Kenapa sepi?" tanya Sava.


"Nenekmu pergi ke panti asuhan, kegiatan nenek sehari-hari mengunjungi tempat-tempat seperti itu untuk mengisi waktu luangnya. Ayah pergi ke kantor cabang untuk memeriksa beberapa hal. Sedangkan Farhan masih tidur di kamar, katanya dia janji bertemu temannya siang nanti," jelas bunda.


"Oh, begitu. Lalu bunda? Kenapa di rumah saja?"


"Bunda mau mengajakmu keliling Kota Medan. Sudah jauh-jauh ke sini harus pergi jalan-jalan dong."


Sava tersenyum lalu memeluk lengan kanan ibu mertuanya sambil berkata, "Makasih banyak, bun."


"Iya, sayang. Kamu mau ke mana?" tanya bunda.


"Terserah, bunda," jawab Sava.


"Bagaimana kalau ke Museum Rahmat?" tawar bunda.


"Sava sudah ke sana," jawab Sava.


"Kapan? Bukannya kamu baru pertama kali ke medan sewaktu pernikahan?"


"Iya, bun. Fariz yang membawa Sava."


"Benarkah? Ke mana saja?"


Sava menceritakan ke mana ia di bawa Fariz dulu, dan apa saja yang mereka lakukan.


"Hmm... Sepertinya Fariz sudah membawamu ke semua tempat di Medan ini. Kita shopping saja kalau begitu," kata bunda.


"Kamu sarapan dulu, lalu bersiap. Kita berangkat jam 11 ya," kata Bunda Fariz lalu meninggalkan Sava di meja makan.


Sava menuruti perkataan ibu mertuanya. Setelah semua siap, mereka pun berangkat.


Dalam perjalanan menuju salah satu pusat perbelanjaan yang akan di tuju, mereka melewati beberapa tempat yang dikunjungi Sava dan Fariz dulu. Sava menatapnya seakan melihat sesuatu, ia sampai memutar kepalanya 180 derajat.


"Ada apa Sava?" tanya bunda.


"Eh, tidak bunda," jawab Sava. Ia kembali ke posisinya lalu meraih ponselnya. Tak ada pesan atau panggilan dari Fariz.


Wajah Sava mendadak sedih, awalnya ia sangat bersemangat sewaktu ibu mertuanya mengajaknya untuk berkeliling Kota Medan. Ia teringat suaminya, ia merindukannya.


Sava berusaha tegar agar ibu mertuanya tidak curiga, ia menunjukkan raut wajah ceria selama menemani ibu mertuanya berbelanja.


Sava tidak dapat menutupi ekspresi wajahnya saat melihat sepasang kekasih sedang asyik berbelanja, sepasang kekasih itu saling menunjukkan perhatiannya dengan memilihkan pakaian untuk pasangannya. Sava merasa iri, ia terus memperhatikan pasangan kekasih itu.


Ibu mertua Sava mengikuti ke arah mana pandangan Sava, ia tersenyum begitu tahu menantunya merindukan Fariz. Akhirnya bunda Fariz membawa Sava jauh dari pasangan kekasih tadi.


"Tidak terasa sudah senja ya. Sava suka durian?" tanya bunda.


"Suka," jawab Sava penuh semangat.


"Ayo kita makan durian sepuasnya," ajak bunda.


Mereka menuju ke toko buah durian paling terkenal di Kota Medan.


Sava, bunda, Deshi dan supir menyantap buah durian. Ternyata, semuanya sangat menyukai durian. Mereka pulang setelah puas memakan banyak buah durian.


Ayah, nenek dan Farhan sampai menunggu kepulang mereka. Mereka bertanya-tanya ke mana saja Sava dan bunda pergi sampai larut malam.


Ketika mereka sampai rumah, bau durian menyengat sampai ke hidung.


"Kalian habis makan durian?" tanya Farhan.


"Iya, ternyata mereka juga sangat menyukainya. Itu sebabnya kami pulang telat," jelas bunda.


"Aduh, bunda gak kepikiran menghubungi kalian. Kami terlalu asyik," ejek bundanya.


"Huh! Alasan" Farhan pergi masuk ke kamarnya.


"Kita istirahat saja. Besok kita berangkat ke Berastagi," kata bunda.


Semua bubar dan masuk ke kamar masing-masing.


Hingga pagi menjelang, tiba lah hari yang ditunggu-tunggu Sava. Hari di mana mereka berangkat ke Berastagi.


Mereka pergi menggunakan 2 mobil, Sava bersama nenek dan Deshi, sedangkan bunda, ayah dan Farhan di mobil yang lain. Mereka tinggal di villa, di daerah Gundaling.


Mereka tiba siang hari, semua beristirahat dan makan siang.


"Sava mau jalan-jalan?" tanya Farhan.


"Boleh, kak," sahut Sava.


"Nanti agak sorean ya. Kita ke bukit gundaling, pemandangannya sangat bagus," balas Farhan.


Sava mengangguk semangat.


Di sore harinya Sava, Farhan dan Deshi pergi ke bukit gundaling.


Untuk mengelilingi bukit Gundaling, mereka naik Sado, sebuah kereta yang ditarik oleh Kuda. Mereka berhenti di puncak, Sava sangat menyukai pemandangannya dan udaranya juga sangat sejuk.


Mereka kembali saat hari sudah senja.


"Makasih ya, kak. Kakak sudah membawa Sava ke sini," kata Sava.


"Iya, santai saja. Kebetulan dekat dan kakak juga ingin melihat pemandangan," jawab Farhan.


Sesampainya di villa, Sava bercerita tentang apa saja yang ia lakukan tadi sore ke bunda dan nenek. Sava bercerita dengan penuh bersemangat.


Keesokan harinya mereka berencana pergi ke tongging, dan juga ke sipiso-piso.


Mereka pergi ke tongging sekalian untuk makan siang di salah satu rumah makan di pinggiran danau toba. Ada berbagai makanan khas di sana.


Mereka hanya membawa 1 buah mobil. Farhan yang mengemudikan mobilnya, Ayah duduk di kursi samping kemudi, dibelakangnya ada Sava, bunda dan nenek, sedangkan Deshi di kursi paling belakang.


Dalam perjalanan, Sava sudah merasa takjub melihat pemandangan keindahan danau toba.


"Waahh... Bunda ini danau toba?" tanya Sava.


Semua orang tertawa melihat reaksi Sava. Tak henti-hentinya Sava mengabadikan pemandangan yang dilihatnya dengan kamera yang ada di genggamannya.


Sava juga menyukai makanan khas di rumah makan yang mereka datangi. Ia makan sangat lahap dan tidak malu-malu. Semua anggota keluarga Fariz tersenyum melihat Sava, mereka senang lidah Sava cocok dengan makanan khas daerahnya.


"Bunda, bisa masak seperti ini?" tanya Sava.


"Bisa. Tetapi, tidak seenak ini," jawab bunda sambil tertawa.


"Ajarin Sava ya kapan-kapan," balas Sava.


"Tentu, dengan senang hati," jawab bunda.


Selesai makan Sava, Farhan dan Deshi berkeliling sekitaran rumah makan, sedangkan para tertua menikmati pemandangan dari rumah makan.


Setelah puas berkeliling, mereka menuju air terjut sipiso-piso. Sava sangat ingin turun untuk melihat iar terjun lebih dekan, jadi Farhan dan Deshi menemaninya. Mereka menuruni hanya sampai setengah saja, tidak sampai ke dasarnya karena mereka kelelahan menuruni beratus anak tangga.


Tidak lupa Sava selalu mengabadikan setiap momen pemandangan yang ia lihat. Mereka kembali ke atas untuk bergabung dengan ayah, bunda dan nenek.


Karena hari sudah sore, mereka menuju ke simalem. Mereka menginap ke sana.


Keesokan harinya, Sava dan Deshi berkeliling di sekitar resort sampai batas waktu check out, lalu mereka ke bukit Kubu.


Mereka piknik sederhana di Bukit Kubu. Farhan ingin bermain layangan dan Sava ikut bergabung. Mereka pulang saat hari mulai gelap.


Sesampainya di villa mereka makan malam lalu istirahat.


Keesokan harinya mereka tidak berencana pergi. Bunda menyarankan untuk beristirahat di villa karena sudah dua hari full bermain. Sava menemani bunda berbelanja di pasar berastagi dan juga membantu bunda memasak.


Saat sore hari, ayah ingin untuk berendam air panas. Jadi mereka memutuskan untuk mandi di pemandaian air panas di daerah sidebuk-debuk.


Mereka pulang karena semakin malam pengunjung semakin ramai. Farhan menyarankan untuk singgah di penatapan untuk makan malam karena di sana ada restoran pecal yang cukup terkenal, semua setuju dengan usulan Farhan.


Hari berikutnya, ibu mertua Sava bertanya, "Apakah ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"


Sava menjawab, "Sava ingin ke taman hiburan Mikie Holliday, bunda."


Ibu mertuanya tertawa karena ia tidak bisa menuruti keinginan menantunya itu.


"Farhan, kamu mau menemani Sava ke taman hiburan?" tanya bunda ke Farhan.


"Boleh, sudah lama juga Farhan tidak ke taman hiburan," sahut Farhan.

__ADS_1


Akhirnya, keinginan Sava terwujud. Sava, Farhan dan Deshi pergi ke taman hiburan. Farhan mengajak Sava berhenti diberbagai tempat untuk menunjukkan tempat wisata sekitar situ.


Mereka akhirnya pulang saat hari sudah senja. Tenaga mereka terkuras untuk berteriak sekuat-kuatnya. Sesampainya di villa Sava terkapar lemah di ruang tamu.


Deshi mengecek ponselnya, ada banyak panggilan tak terjawab dari Hamdan. Deshi menelepon baik Hamdan. Ketika berbicara dengan Hamdan Sava tiba-tiba bersin. Bunda yang mengetahui dengan siapa Deshi berbicara sengaja berkata, "Sava, kamu sakit? Istirahat ya sayang."


///


Setelah mengantar Sava ke bandara, Fariz di rumah sendirian. Ia menyibukkan dirinya dengan bermain game, menonton televisi, makan dan tidur. Hal itu berulang sampai keesokan harinya. Fariz terus uring-uringan tak jelas. Berulang kali ia menatap ponselnya, menunggu telepon dan pesan Sava. Tetapi, ponselnya tak kunjung berbunyi. Akhirnya, Fariz memutuskan untuk pergi ke kantor. Walau hari libur kantor tetap terbuka, ada beberapa karyawan yang lembur.


Entah setan apa yang merasuki Fariz, ia seperti orang gila kerja. Ia bekerja sampai pagi.


Hamdan terkejut melihat Fariz sudah ada di mejanya begitu ia datang ke kantor. Penampilan Fariz sangat berantakan. Hamdan dapat menebak Fariz di kantor semalaman.


"Anda lembur?" tanya Hamdan.


Fariz tidak menjawab, ia fokus pada pekerjaannya.


Setelah sekretaris Fariz datang, Hamdan menyuruhnya untuk membelikan sarapan ke Fariz. Sekretaris Fariz pun menurut. Tetapi sarapannya tak disentuh oleh Fariz.


Fariz memanggil beberapa karyawan lalu memarah-marahinya. Setiap ada yang menemui Fariz pasti akan kena makian oleh Fariz.


Keesokan harinya, tingkah Fariz masih aneh. Melihat tingkah Fariz yang tidak seperti biasanya, Hamdan menghubungi Deshi. Ia berfikir Sava bisa menjadi jalan keluar dari sikap aneh Fariz.


"Hallo, Deshi."


"Iya. Ada apa?"


"Nona Sava di mana?"


"Sedang berkemas, kami akan berangkat ke Berastagi pagi ini."


"Jadi selama beberapa hari ini apa saja yang kalian lakukan?"


"Hari kami sampai, kami tidak ke mana-mana. Keesokan harinya pergi ziarah dan mengunjungi sanak saudara. Kemudian, hari selanjutnya nona Sava pergi berbelanja dan berwisata kuliner Kota Medan."


"Oh, begitu. Baiklah. Beritahu aku ke mana saja nona Sava pergi."


"Baiklah."


Setelah berbicara dengan Deshi, Hamdan melaporkan info apa yang ia dapat dari Deshi.


"Nona Sava baru akan berangkat ke Berastagi pagi ini, tuan," kata Hamdan.


Fariz menghentikan pekerjaan. Melihat reaksi Fariz, Hamdan melanjutkan penjelasannya.


"Hari mereka sampai, mereka tidak ke mana-mana. Keesokan harinya pergi ziarah dan mengunjungi sanak saudara. Kemudian, hari selanjutnya nona Sava pergi berbelanja dan berwisata kuliner Kota Medan."


Ekspresi wajah Fariz mulai tenang. Ia mengusap wajahnya, lalu masuk ke ruang istirahat yang ada di kantornya.


Hamdan meminta sekretaris Fariz untuk membelikan sarapan lagi untuk Fariz. Ketika Fariz kembali dengan wajah lebih segar dan pakaian yang berbeda, Hamdan menghela napas lega. Ia akhirnya menyentuh sarapannya. Setelah sarapan, Hamdan menyuruh Fariz untuk beristirahat.


Hari ke 5 Sava pergi, Fariz masih normal walau sesekali melirik ponselnya.


Hari ke 6, Fariz mulai bertingkah lagi. Ia kembali gila kerja dan memarah-marahi karyawan yang tidak bekerja sesuai keinginannya.


Hari ke 7, Fariz tidak mau bekerja lagi. Ia menutup diri, berkurung di rumahnya.


Hari ke 8, Fariz mulai memberontak.


Fariz menyuruh Hamdan datang ke rumahnya.


"Cepat hubungi Deshi, kapan mereka kembali? Sudah seminggu kenapa belum pulang juga? Apa saja yang dilakukannya?" teriak Fariz.


Hamdan menghubungi Dhesi, tetapi Deshi tidak ada balasan dari Deshi.


Demi untuk menenangkan atasannya, Hamdan menunjukkan pesan dari Deshi selama beberapa hari ini. Isi pesan Deshi adalah aktivitas Sava lengkap dengan bukti fotonya.


Fariz meremas ponsel Hamdan, ia kecewa. Dalam foto terlihat Sava sangat bahagia, sangat menikmati liburannya. Fariz semakin emosi melihat kedekatan Sava dengan Farhan. Hamdan mengambil kembali ponselnya dari genggaman Fariz sebelum hal tak diinginkan terjadi.


Hamdan terus menghubungi Deshi tetapi tak kunjung ada balasan. Hamdan menyarankan Fariz untuk bertanya ke orang tuanya kapan mereka akan pulang. Tetapi Fariz menolaknya.


5 jam Hamdan terus menghubungi Deshi, ia menyerah. Ia pamit pulang ke Fariz.


"Saya pulang saja ya, sudah 5 jam saja terus menghubungi Deshi tetap saja tidak ada balasan. Mungkin mereka sedang bersenang-senang. Ini hukuman buat anda karena sering menghindari nona Sava," kata Hamdan.


Fariz emosi, ia berdiri dari tempat duduknya. Hamdan langsung berlari meninggalkan Fariz.


Tak ada pilihan lain selain menghubungi orang tuanya, hal itupun akhirnya dilakukan Fariz.


"Hallo, bunda. Apa kabar?"


"Baik. Kamu bagaimana?"


"Iya Fariz baik. Ayah dan yang lainnya bagaimana?"


"Ya semua baik."


"Syukurlah. Bunda, sedang di mana sekarang?"


"Kami masih di Berastagi."


"Hm... Jadi kapan pulangnya? Kemarin katanya seminggu. Ini sudah seminggu."


"Yah, mau bagaimana? Sava sangat menyukainya. Dia sangat betah berada di sini."


"Sava di mana?"


"Sedang pergi bersama Farhan dan Deshi."


"Pergi ke mana? Perjanjiannya hanya seminggu. Ayolah, bunda. Pulang saja."


"Kamu sedang membujuk bunda? Buat apa? Yang ingin tetap di sini itu ayah dan Sava. Kamu ngomongnya ke Sava dong. Kamu pasti sedang merindukan Sava, kan? Hahahah."


"Ekhem. Tidak. Fariz hanya bertanya dan menagih janji seminggunya."


"Oh, bukan merindukan Sava. Bunda kira kamu merindukan Sava. Padahal, bunda mau mengasih saran. Kalau kamu merindukan Sava, kamu susul ke sini. Tapi, karena kamu tidak merindukannya biarkan Sava di sini lebih lama."


"Hmm. Baiklah. Ya, sudah. Bunda, Fariz kembali kerja lagi ya."


Setelah panggil telepon dengan bundanya berakhir, Fariz menendang bantal yang berada di kakinya. Ia sudah mencoba mengalah untuk menghubungi bundanya, tetapi hasilnya tidak ada.


Fariz masuk ke kamar, ia mencoba untuk tidur sambil menatap foto Sava di ponselnya. Sayangnya, foto Sava dalam ponsel Fariz tidak ada yang jelas menunjukkan wajah Sava. Semua foto Sava diambil diam-diam.


Fariz teringat bahwa, foto mereka banyak di kamera Sava. Ia mencari laptop Sava, siapa tahu foto-foto mereka tersimpan di sana. Fariz ke ruang kerja, lalu menuju meja Sava. Di periksanya meja Sava, Fariz malah menemukan map yang pernah diberikannya ke Sava. Setelah Fariz membuka mapnya, pupil Fariz membesar, jantungnya berdegup cepat dan napasnya memburu. Ia tak percaya apa yang dilihatnya.


Ponsel Fariz tiba-tiba berdering, ada panggilan telepon dari Hamdan.


"Ada apa?"


"Tuan, sepertinya nona Sava sedang sakit."


"Apa? Katakan dengan jelas."


"Deshi meneleponku, sepertinya ia baru melihat panggilan telepon dariku, jadi dia meneleponku balik. Aku mendengar nona Sava bersin, lalu nyonya mengatakan kalau Sava sakit. Aku tanya Deshi, katanya nona Sava hanya kelelahan. Maka dari itu, saya mengatakan sepertinya nona Sava sedang sakit. Karena Deshi sendiri membatahnya, sementara aku mendengar nona Sava bersin."


Fariz menutup teleponnya.


///


Hari sudah larut malam, Sava tiba-tiba terbangun. Ia terkejut melihat seseorang yang sangat ia rindukan ada dihadapannya. Sava mengerjap-ngerjapkan matanya. Sosok yang dihadapannya malah tersenyum lebar.


"Kamu terbangun? Apa aku mengganggu tidurmu?" tanya Fariz.


"Kamu... Kenapa ada di sini? Kapan datang?" Sava balik bertanya.


"Aku datang karena aku merindukanmu," jawab Fariz lalu memalingkan wajahnya.


Betapa bahagianya Sava mendengar Fariz merindukannya, ia langsung memeluk Fariz lalu mengecup pipi kanan Fariz.


"I love you," bisik Sava.


"Sejak kapan?" tanya Fariz penasaran ketika Sava melepas pelukannya.


"Hmm... Sejak... Sejak aku tahu kamu calon suamiku," jawab Sava lalu menundukkan kepalanya.


Fariz mendorong tubuh Sava jatuh ke ranjang, lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah Sava. Tatapan mata mereka saling beradu, wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Sava menutup wajahnya, berharap Fariz akan menciumnya.


"Boleh aku cium?" tanya Fariz.


Mendadak Sava merasa kecewa, situasi sudah romantis Fariz malah menanyakan apa boleh menciumnya. Dilayangkannya sebuah pukulan di dada Fariz.


"Situasi sudah romantis begini, kamu malah bertanya apa boleh menciumku? Kamu pernah menonton film romantis tidak sih?" seru Sava.


"Nanti kamu malah cegukan, bagaimana? Kamu katakan kemarin aku harus bertanya dulu," balas Fariz.


"Sudahlah. Aku mau tidur," kata Sava menjauhkan Fariz darinya.


Fariz malah menahan Sava dengan membuka kancing piaya Sava.


"Apa yang kamu lakukan?" teriak Sava.


Fariz malah mencium bibir Sava lalu berbisik, "I love you so much, honey."


Sava tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, ia tersenyum sangat lebar. Rasa kesal dan kecewa sirna begitu saja.


"Aku sudah melihat map yang aku berikan padamu, aku dapat simpulkan kamu bersedia menyerahkan jiwa dan ragamu untukku. Aku tidak perlu meminta persetujuanmu lagi," kata Fariz sambil menunjukkan senyum devilnya.


"Lalu kenapa tadi kamu meminta izin untuk menciumku?" balas Sava.


"Hanya ingin menggodamu," jawab Fariz lalu mencium Sava kembali.


Fariz melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuh mereka berdua.


"I love you, Fariz," kata Sava.


"I love you too, Sava,"

__ADS_1


Setelah mengungkapkan isi hati masing-masing, mereka bergulat di ranjang.


__ADS_2