The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 41


__ADS_3

"Kamu sendiri dari mana? Biasanya kamu yang menghidupkan lampu-lampu ini", ucap Fariz.


"Aku hanya tertidur dan tidak sadar sudah malam", ujar Sava.


Fariz menatap Sava dengan pencahayaan rendah. Ia dapat melihat pakaian Sava sudah berubah menjadi pakaian rumahan. Ia menyimpulkan gadis dihadapannya itu tidak berbohong.


"Cepat hidupkan lampu-lampu itu dan buatkan aku makan malam", ucap Fariz lalu masuk ke kamarnya.


///


Pagi hari di hari minggu ini Deshi datang ke kediaman mereka. Sava menyuruh Deshi libur setiap sabtu dan minggu kecuali kalau ada jadwal tertentu. Ternyata hari ini Sava memiliki jadwal menemani ibu mertuanya arisan.


Arisan itu dilaksanakan pukul 3 sore. Tetapi dari jam 9 pagi Sava sudah disuruh bersiap. Ia akan dibawa berbelanja dan ke salon.


Fariz bangun kesiangan. Dari ia bangun sampai sekarang hari hampir gelap ia tidak mendapati Sava di rumah.


Pikirannya mengatakan Sava pergi dengan kencan butanya semalam atau bahkan pria lain.


Waktu berjalan. Sekarang sudah menunjukkan pukul 9 malam dan Sava masih belum pulang.


"Tidak adil. Aku bahkan memiliki jam malam kenapa dia tidak. Istri macam apa yang pergi sampai jam segini dan tanpa pamit dengan suaminya huh", lirih Fariz.

__ADS_1


Terdengar suara mobil Fariz pun berpura-pura tenang.


Fariz melihat Sava masuk ke rumah dengan banyak belanjaan di tangannya.


Fariz memperhatikan penampilan Sava sangat cantik. Ia memakai gaun serta make up. Hampir saja Fariz terpesona dengan kecantikan Sava kalau lama-lama ia menatapnya. Untungnya Sava menegurnya.


"Kamu sudah makan? ", tanya Sava.


"Ekhem. Kau dari mana saja? Kau habis jalan dengan pria mana lagi? Apa kali ini pria kaya? Sepertinya dia menghabiskan banyak uang dengan membelikan banyak barang untukmu", ucap Fariz.


"Apa?", tanya Sava polos tidak mengerti ucapan Fariz.


"Gak usah munafik. Kau mengencani berapa banyak pria. Jelas kau mencari pria kaya rayakan. Apa keluargaku tidak cukup kaya buatmu? Aku tahu kau setuju dengan perjodohan ini karena keluargaku bersedia membayar hutang-hutang keluargamu. Dasar wanita matre", jelas Fariz dengan nada tinggi.


"Mau ke mana kau? Buatkan aku makan malam. Kau harus melaksanakan tugasmu sebagai istri", teriak Fariz.


"Kenapa dengan ekspresinya itu? Semua ucapan yang ku katakan itu benar. Dia pikir aku tidak tahu yang dilakukannya selama ini", lirih Fariz.


///


Sava tidak lagi menunggu Fariz sarapan. Ia berangkat ke sekolah pagi sekali untuk menghindari Fariz.

__ADS_1


Sava heran mobil yang biasa mengantarnya berubah.


"Kenapa kita gak pake mobil yang biasa?", tanya Sava.


"Ini atas perintah taun muda nona. Teman-teman tuan curiga mobil ini ada di sekolah. Sementara tuan membawa mobil sendiri. Jadi kita akan memakai mobil ini", jelas Deshi.


"Baguslah. Itu lebih baik", ucap Sava.


///


"Mana gadis itu?", batin Fariz.


Fariz melihat ada piring kosong bekas makanan di tempat Sava biasa duduk.


"Dia pergi? Hah dia pasti malu bertemu denganku setelah aku tahu semuanya", lanjutnya.


"Tuan kertas ini menempel di pintu kulkas. Sepertinya ini pesan nona Sava ke tuan muda", ucap bi Ijah menyodorkan kertas memo ke Fariz.


"Aku pergi menemani bunda arisan"


Itu kalimat yang tertulis di kertas.

__ADS_1


"Pantas saja ekspresi nya seperti itu semalam. Aku menuduhnya. Ah biarkan saja. Sudah berlalu. Apa yang aku katakan semalam itu kebenaran kecuali aku salah paham dia pergi menemani bunda", batinnya.


__ADS_2