
Fariz terus mengikuti ke mana Sava pergi. Sava memasak dengan ibu mertuanya saja tetap tak lepas dari pengawasan Fariz.
"Fariz, kamu kenapa di sini? Pergi sana. Biasa kamu main PS terus kalau di rumah bunda. Atau kamu mau bantu masak? Bisa ini bantu ngupas bawang", ujar bunda Fariz.
Fariz mengerutkan keningnya sambil menggelengkan kepala menatap bundanya. Lalu mengalihkan pandangannya kembali ke Sava.
"Farhan. Bawa ini adik kamu. Gangguin di dapur", teriak bunda Fariz.
"Fariz kan cuma duduk di sini. Gak gangguin", balas Fariz.
"Fariz sini. Kamu ngapain di dapur", sahut Farhan.
Fariz tak menghiraukan Farhan.
"Fariz. Fariz", teriak Farhan.
"Sial. Kenapa mereka terus menggangu", gerutu Fariz dalam hati.
"Sudah sana jangan ganggu Sava. Salah sendiri istri di tinggal-tinggal. Harusnya punya istri itu dibawa ke mana-mana", ucap bundanya.
"Sekarang rasakan akibatnya. Nanti bunda mau tidur bersama Sava. Sudah sana kamu pergi", kata bundanya mengusir Fariz.
"Ngapain bunda tidur sama Sava. Memangnya bunda gak kangen tidur sama ayah?", balas Fariz.
"Tiap hari bunda lihat ayah. Sedangkan menantu bunda sudah lama gak ketemu. Bunda pengen curhat sesama wanita dengan Sava. Tiap hari bunda cuma berurusan sama para lelaki di rumah ini", jawab bunda.
"Besok-besok kan bisa bunda. Bunda sih kenapa gak lahirin anak perempuan", kata Fariz memelas.
"Bunda maunya malam ini. Awas ya kamu jangan menculik Sava dari bunda", ucap bunda Fariz sambil mendorong tubuh Fariz ke luar dari dapur.
"Duh bu, kasihan itu suaminya dipisahin sama istri. Pasti mau melepas rindu. Kenapa dipisahin gitu", ujar bi Ati.
__ADS_1
"Biarin saja. Dia yang jahat ninggalin istrinya sendiri. Padahal sudah saya bilang gak usah datang", balas bunda Fariz.
"Namanya juga pengantin baru bu. Masih malu-malu kucing", ucap bi Ati.
"Mereka sudah menikah cukup lama. Mau sampai kapan kucing kucingan", balas bunda.
"Sava cuekin saja Fariz. Biar dia tahu rasa. Nanti bunda mau cerita ke kamu. Kamu pasti bingung sama masalah ini. Dan bunda yakin sigila Fariz itu gak akan mau menjelaskannya ke kamu", kata ibu mertua Sava.
"Iya bun", jawab Sava semangat.
Sava terus menghindari tatapan Fariz. Berpura-pura menganggap Fariz tidak ada.
"Aku mau ayam goreng", ujar Fariz.
Sengaja Fariz meminta lauk yang ada di dekat Sava. Maksud hati agar Sava memberikannya tetapi malah bundanya yang berada di samping Sava yang mengambil ayam lalu memberikannya ke piring Fariz.
Fariz membalas bundanya dengan mengerucutkan bibirnya.
"Gak ada bun", jawab Fariz kesal.
Tiba-tiba Fariz tersedak. Sava langsung berdiri untuk mengambilkan minum. Tetapi malah di tahan bunda Fariz.
Bunda Fariz menyodorkan air putih ke Fariz. Setelah itu menepuk-nepuk punggung Fariz kuat.
"Aduh bun. Sakit", rintih Fariz.
"Jangan cari kesempatan ya", bisik bundanya.
Fariz terdiam. Berusaha untuk menahan senyum. Ia senang Sava meresponnya. Ternyata Sava khawatir ketika Fariz tersedak.
"Aku harus mengelabui bunda", batin Fariz.
__ADS_1
Setelah selesai makan Fariz mencari cara untuk membawa Sava.
"Gimana caranya kami kabur dari sini", batin Fariz.
Sudah waktunya Ayah Fariz meminum obat. Dilihat Fariz bunda dan kak Farhan masuk ke kamar untuk memberikan obat ke ayahnya. Dengan sigap Fariz menarik Sava menjauh. Sedangkan Sava sedang membantu bi Ati membereskan dapur.
Dengan sigap Fariz menarik Sava menjauh.
"Lepaskan aku", ucap Sava meronta.
"Ayo pulang", balas Fariz.
"Aku mau tetap di sini", jawab Sava.
"Aku bilang pulang", ucap Fariz.
"Gak mau. Bunda. Bunda", teriak Sava sambil berlari kembali ke arah rumah mertuanya.
"Gak ada bantahan", kata Fariz lalu menggendong Sava seperti mengangkat karung beras.
"Aaak. Apa yang kamu lakukan. Turunkan. Aku takut. Hei. Fariz. Turunkan aku. Aku bisa berjalan", kata Sava.
"Diam lah. Jangan memberontak. Nanti kamu jatuh", ucap Fariz.
"Makanya lepaskan aku. Aku bisa jalan", balas Sava.
"Diam lah Sava", ucap Fariz menekan setiap katanya.
Sava langsung terdiam. Pasrah akan tindakan Fariz.
Fariz tak menghiraukan teriakan serta rontahan Sava. Digendongnya Sava sampai ke kamar mereka.
__ADS_1