The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 48


__ADS_3

Saat Fariz pulang ke rumah, Sava tidak ada di rumah. Fariz tahu pasti Sava sedang kursus. Fariz membuka kamar Sava. Menatap isi kamar istrinya itu. Matanya tertuju ke ponsel Sava di atas nakas. Ponsel Sava rusak. Lalu tatapan Fariz beralih ke tumpukan pelastik dan paper bag di dekat nakas itu, ia mengingat ada merk toko yang kemarin mereka datangi serta yang Sava bawa saat ia pergi arisan dengan bundanya. Sava tidak menyentuh barang-barang pemberian Fariz dan bundanya. Fariz sangat menyesal telah menuduh Sava wanita matre. Ia ingin meminta maaf tapi tidak tahu dengan cara apa agar Sava memaafkannya.


///


Keesokan harinya.


Sava tidak menemukan ponselnya yang rusak. Padahal ia berniat akan memperbaikinya. Ia malah menemukan ponsel yang bukan miliknya. Ponsel itu terlihat baru. Sava heran kenapa benda ini ada di kamarnya. Sava berpikir apakah ponsel itu milik bi Ijah atau Fariz? Atau malah Deshi? Akhirnya Sava mencoba meraih ponsel itu dengan maksud mencari pemiliknya serta mengembalikannya.


Sava mencari kontak nomor yang mungkin bisa ia hubungi di ponsel itu. Tapi hanya ada 1 kontak. Mau tidak mau Sava menghubungi nomor itu.


"Hallo. Maaf mengganggu. Saya menemukan ponsel ini. Tolong beritahu pemiliknya "


.....


Setelah mendengar suara dari seberang yang menjelaskan siapa pemilik ponsel itu Sava langsung memutuskan panggilannya.


Tiba-tiba saja Sava merasa pipinya merah, keringat dingin, dan jantung berdetak cepat.


Ia kemudian menatap layar ponsel yang ia genggam tadi. Membaca lekat-lekat kontak nama yang ia hubungi tadi. "My Hubby 😘".

__ADS_1


///


"Ayah, bunda, boleh gak kami berkunjung ke rumah orang tua Sava? Semenjak kami menikah Sava gak pernah ketemu keluarganya", ujar Fariz.


"Iya ya. Kami sampai lupa. Sava pasti merindukan keluarganya", ucap bunda Fariz.


"Pergilah. Ayah kasih kalian izin sampai hari minggu. Tapi kalian tetap harus pergi sekolah ya", balas ayah Fariz.


Tiba-tiba saja ponsel Fariz berbunyi. Ia mengambil jarak dari ayah dan bundanya lalu berdehem kemudian mengangkat panggilan telepon itu.


"Hallo"


.....


"Tutt tutt tutt tutt"


Panggilan terputus.


"Ha dia masih marah padaku", lirih Fariz.

__ADS_1


Fariz kembali menghampiri ayah dan bundanya kemudian berkata, "Hmm ayah. Itu. Bisa gak kasih Sava 1 kartu atm ayah. Fariz belum kerja jadi belum bisa menafkahinya. Nanti setelah lulus Fariz akan membantu-bantu di perusahaan ayah".


"Kamu punya banyak kartu kasih 1 ke Sava dong", balas ayah.


"Jatahku berkurang dong", lirih Fariz tetapi dapat didengar sang ayah.


"Memangnya kau pernah kekurangan uang? Kasih 1 saja gak akan merugikanmu. Lagian Sava itu istrimu. Tanggung jawabmu. Ayah sudah memberimu uang saku jadi berbagilah dengannya", ujar ayah.


"Hmm baiklah. Ayah, bunda, Fariz pulang ya", kata Fariz sambil mencium tangan kedua orang tuanya.


Setelah Fariz pergi ayah Fariz tertawa terbahak-bahak


"Ayah kenapa ketawa? Apanya yang lucu?", tanya bunda heran.


"Bunda gak lihat sikap Fariz barusan? Pernah gak bunda lihat Fariz memikirkan perasaan orang lain atau mengalah karena orang lain? Ayah sempat khawatir Fariz menikah muda akan berdampak buruk yang mengakibatkan ia semakin memberontak. Tapi lihat ia semakin dewasa", jelas ayah.


"Iya bunda juga khawatir masa mudanya direnggut begitu cepat. Ayah kasih uang lebih ke mereka. Kasihan Fariz", ucap bunda.


"Iya bunda tenang saja. Ayah tadi hanya mengetes Fariz dan ternyata anak kita itu sudah bersikap dewasa", balas ayah.

__ADS_1


__ADS_2