The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 64


__ADS_3

Sava akhirnya menyerahkan ponsel Rania.


"Mana? Mana suami Sava? Yang ini? Kok dari samping sih. Gak kelihatan mukanya? Lo bilang ganteng. Gue kira kelihatan mukanya", ucap Tika dengan nada yang awalnya bersemangat lalu akhirnya kecewa.


"Iya kan dari samping saja kelihatan ganteng gitu. Waktu foto dipeluk Sava saja postur tubuhnya kelihatan bagus. Gue yakin suami Sava itu fix ganteng", jelas Rania.


"Gak jelas lo", ujar Tika.


"Sini gue lihat lagi", sahut Kanaya mencoba mengambil ponsel Rania.


"Eh. Gak usah dilihat lagi. Malu gue", kata Sava sambil menyembunyikan ponsel Rania.


"Ra, lo mending hapus pertemanan sama kakak gue. Gue takut nanti lo didekatin sama dia. Walaupun dia kakak gue, gue gak rela lo sahabat gue dipacarin sama kakak gue. Mending lo sama cowok yang lebih baik", lanjut Sava.


"Gapapa kok Va. Kan cuma temanan. Gue bakalan jaga diri, lagian gak mungkin sahabat adiknya dipermainkannya", jawab Rania.


"Pokoknya gue sudah peringatin lo ya. Jangan nanti gue dengar dia dekatin lo dan lo mau aja


terus akhirnya lo cuma dipermainkan akhirnya ngadu ke gue", ucap Sava.


"Iya Sava", balas Rania sambil tersenyum tulus.


"Lihat tu Sava. Dia melindungi sahabatnya dari pria buaya darat walaupun itu kakaknya sendiri. Gak kayak lo Tika, jodoh-jodohin Sava ke Kenzie. Gue itu bersyukur Sava sudah menikah dan jauh-jauh dari Kenzie", sahut Kanaya.


"Benci banget sih Nay sama mereka. Awas jodoh lo salah satu dari mereka", ucap Tika.


"Amit-amit. Amit-amit", ucap Kanaya sambil mengetuk-ngetuk kepalanya dan meja bergantian.


Rania dan Sava tertawa terbahak-bahak melihat perdebatan antara Tika dan Kanaya.


///


Shadiq menghampiri Kenzie dan Fariz di kelas dengan menyebarkan gosip tentang suami Sava.


"Gue ada berita", ucap Shadiq dengan penuh semangat.


Fariz dan Kenzie menatap ke arah Shadiq lalu kembali menatap ponsel mereka masing-masing.


"Suami Sava sudah ketahuan", lanjutnya.


Fariz mematung mendengar ucapan Shadiq. Ia tidak berani menatap Shadiq sampai Shadiq melanjutkan ceritanya.


"Katanya kakak Sava memposting foto keluarga mereka yang sedang berlibur. Dan disitu ada foto suaminya Sava", jelas Shadiq.


"Terus lo lihat suaminya?", sahut Kenzie.


"Gak. Mereka mengusirku saat aku mencoba melihatnya", jawab Shadiq.


Akhirnya Fariz bisa bernafas lega. Ternyata hanya foto yang diposting kakak Sava. Yang ia yakin foto yang tidak menunjukkan wajahnya dengan jelas.

__ADS_1


"Gak jelas lo. Sana jauh-jauh", kata Kenzie kesal.


"Apaan sih. Kok lo jadi marah gitu. Masih ngarep ya? Hahah lupain. Seorang Kenzie siplayboy gitu", balas Shadiq.


"Eh tapi katanya mereka ke pantai. Emang lo gak ada jumpa?", kata Shadiq ke Fariz.


"Lo kira pantai itu kecil", sahut Kenzie.


"Gue lihat sekilas tadi latarnya seperti gue pernah lihat. Perasaan gue itu familiar banget. Jadi gue mikir ke villa gue. Ya kali kan mereka ada di tempat yang sama. Ya siapa tahu Fariz ada lihat cewek mirip-mirip Sava di sana", jelas Shadiq.


"Sudah ah. Males gue. Lo emosian mulu", lanjut Shadiq.


"Lo sih cerita tanggung banget. Gak ke intinya", balas Kenzie.


Sedangkan Fariz sedang menatap foto di sosial media kakak Sava.


"Gue gak keliatan jelas kan di sini. Tapi kalau orang terdekat gue yang lihat bisa jadi mereka akan mengenalinya. Jangan sampai mereka melihat foto ini", batinnya.


///


Berbeda dengan di sekolah. Di rumah Sava dan Fariz jarang sekali berpapasan.


Hari ini adalah hari sabtu. Sava ada janjian bertemu dengan seseorang.


Saat Fariz sedang menyantap makanan di meja makan ia melihat Sava keluar dari kamarnya dalam keadaan rapi. Fariz langsung teringat percakapan Sava di telepon dengan seseorang minggu lalu.


"Gak akan ku biarkan", lanjutnya sambil tersenyum licik.


Fariz menghampiri Sava kemudian berkata, "Mau ke mana?".


"Aku ada janji", jawab Sava cuek.


"Aku juga mau pergi. Tapi tadi aku mencari kemejaku gak ketemu. Pergi carikan. Sepertinya belum di setrika. Kamu setrika sekalian", perintah Fariz lalu masuk ke kamarnya.


"Kemejanya yang seperti apa?", teriak Sava dari depan pintu kamar Fariz.


"Kemeja hitam kotak-kotak", sahut Fariz asal menyebutkan jenis kemejanya.


"Itu ada di lemarimu, di rak paling atas. Aku sudah menyusun khusus kemeja di situ", kata Sava.


Fariz membuka lemari pakaiannya dan benar saja kemeja yang disebutkan barusan ada di dalam lemari.


Fariz mengacak-acak isi lemarinya. Bahkan sebagian pakaian jatuh ke lantai. Setelah selesai mengacak-acak isi lemarinya Fariz membuka pintu kamarnya dan tidak menemukan Sava di sana.


"Sava. Sava. Sava", teriak Fariz.


"Ada apa? Kenapa kamu berteriak?", sahut Sava keluar dari ruang tempat menyetrika pakaian.


"Aku gak menemukan kemejaku itu. Carikan", ujar Fariz.

__ADS_1


"Sudah ku cari di sini gak ada. Aku yakin ada di lemarimu", balas Sava.


"Kalau begitu carikan di kamarku", sahut Fariz dengan senyum liciknya.


Sava langsung menuju kamar Fariz dan betapa terkejutnya ia melihat keadaan kamar Fariz yang berantakan.


"Kenapa berantakan seperti ini?", ucap Sava dengan nada tinggi seperti akan marah.


"Karena gak ketemu", jawab Fariz santai.


"Harus banget pakai kemeja itu. Begitu banyak pakaian", kata Sava.


"Aku mau pakai itu", sahut Fariz.


"Jangan marah-marah. Cepat cari. Sekalian bereskan ya", lanjut Fariz meninggalkan Sava sendirian.


Fariz mandi sambil berendam. Hampir 1 jam ia menghabiskan waktu di kamar mandi. Setelah ia keluar kamar mandi keadaan kamarnya sudah rapi. Dan Sava tidak ada di dalam kamar.


"Mana dia? Kenapa sudah beres? Apa tangannya itu robot?", gumam Fariz.


Fariz keluar kamarnya mencari Sava sambil berteriak memanggilnya, "Sava. Sava. Sava".


"Ah. Berengsek. Dia sudah pergi", ucap Fariz.


///


Sava bertemu dengan sahabat-sahabatnya lalu mereka menemani Sava bertemu seseorang.


"Jadi itu yang namanya Al?", tanya Kanaya.


"Cakep banget. Gila", ucap Tika dan Rania bersamaan.


"Kok lo gak bilang-bilang sih. Kenapa gak dari kemarin dikenalin ke kita", kata Tika.


"Gimana gue mau kenalin ke kalian. Kita jumpanya waktu gue kerja di kafe. Gak pernah ketemu di luar. Eh pernah sekali", jelas Sava.


"Jadi ini kita mau ngapain?", tanya Rania.


"Tugas kita di sini mengagalkan rencana tembak menembak", sahut Tika.


"Apaan sih Tika. Belum tentu juga", balas Sava.


"Iya kan emang benar", ujar Tika.


"Kalau itu si Al ada tanda-tanda mau ngungkapin perasaan kita harus cegah. Jangan kasih kesempatan mereka untuk berduaan. Kalau bisa lagi nih ya kita kode-kodein kalau Sava sudah punya pacar", lanjutnya.


"Cerdas", sahut Kanaya.


"Yauda yuk. Kita ke sana. Gue gak sabar mau kenalan sama cowok cakep itu", kata Tika penuh semangat.

__ADS_1


__ADS_2