
"Udahan marahnya," bujuk Sava.
Fariz tak menghiraukan Sava, ia memalingkan wajahnya menghadap luar jendela.
Sava membujuk suaminya dengan memeluk lengan Fariz, Sava bahkan mendekatkannya wajahnya ke wajah Fariz.
"Fariz..." Sava memanggil Fariz dengan sedikit manja.
Terlihat Fariz mulai sedikit luluh, ia mengubah posisinya menghadap Sava. Tetapi pada saat ia berbalik, Fariz tak sengaja menyentuh perut Sava.
"Ahh," rintih Sava.
"Maaf, maaf," ucap Fariz sambil menyentuh perut Sava.
Sava merasa ada yang aneh dengan perutnya. Bukan karena Fariz menyikutnya. Tetapi seperti ada yang melilit perutnya.
Sava terus menyentuh perutnya. Fariz merasa ada yang aneh dengan Sava. Kalau karena sikutannya rasa sakitnya pasti hanya sebentar.
"Perutmu kenapa? Sakit? Atau kamu lapar?" tanya Fariz.
Sava hanya menggelengkan kepalanya.
"Hamdan, berhenti di rumah makan terdekat. Sepertinya tadi Sava tidak menghabiskan makanannya," perintah Fariz ke Hamdan.
"Tidak usah. Berhenti di mini market saja," sela Sava.
"Kenapa malah ke mini market?" sahut Fariz.
"Beli cemilan," jawab Sava singkat.
"Perutmu sedang sakit, tidak bagus makan cemilan," kata Fariz.
"Perutku sakit karena sikutanmu. Beli cemilan saja. Tidak ada stok cemilan di rumah," jelas Sava.
"Ya sudah. Kita ke mini market," perintah Fariz ke Hamdan.
Tak berapa lama mereka sampai di sebuah mini market. Sava turun diikuti oleh Fariz.
"Kamu ngapain ikut?" tanya Sava heran.
"Aku juga mau beli cemilan dan es krim," jawab Fariz.
Sava mendadak merasa gugup Fariz ikut masuk ke dalam mini market.
Fariz asyik mengambil cemilan di rak bagian makanan, sedangkan Sava terus melirik ke rak lain.
"Bagaimana aku mengambilnya? Aku malu. Aku sudah berbohong mau beli cemilan, kenapa aku tidak jujur saja tadi" batin Sava.
"Kamu mau beli sesuatu? Belilah," kata Fariz.
Sava menggelengkan kepalanya. Tetapi ia diam-diam mengambil sesuatu dan menyembunyikannya.
Pada saat mereka di kasir, Sava berbisik ke kasir mini market kalau masih ada yang lain dan menunjuk sesuatu yang ada ditangannya.
Saat Fariz membuka dompet untuk mengambil uang, saat itulah Sava memberikan benda yang disembunyikan kepada kasir mini market.
Sava merasa lega karena Fariz tidak mengetahui aksinya.
"Cemilannya gak mau dimakan sekarang?" tanya Fariz saat mereka sudah berada dalam mobil menuju rumah.
"Nanti saja," jawab Sava.
"Aku sudah tidak marah. Kamu jangan membalas mendiamkan aku dong," sindir Fariz.
"Aku tidak mendiamkanmu. Aku memang sedang diam. Tapi tidak dengan sengaja untuk mendiamkanmu," jelas Sava.
"Kalau kamu tidak sedang mendiamkan aku maka mendekatlah."
Sava mengerutkan kening melihat Fariz nenyuruhnya mendekat dengan senyum devilnya.
"Mau apa?" tanya Sava.
"Aku bilang mandekat." Fariz mulai menaikkan nada suaranya karena Sava tidak melakukan apa yang diperintahkannya.
"Iya. Jangan teriak-teriak," sahut Sava.
Sava sudah mendekat ke Fariz. Bahu mereka bersentuhan, tak ada jarak diantara mereka.
"Peluk," bisik Fariz di telinga Sava.
"A-apa maksudmu?" sahut Sava sambil melihat sekeliling dan juga Hamdan yang berada di bangku kemudi.
"Kita masih dalam perjalanan. Kenapa malah meminta peluk tiba-tiba," gumam Sava.
"Oh, jadi kalau di rumah boleh?" bisik Fariz.
"Awas kamu di rumah. Aku habisi. Dari tadi kamu terus membantahku," lanjut Fariz dengan senyum devilnya.
Sava membatu, matanya membesar seakan biji matanya akan ke luar. Ia bahkan meremas pakaiannya.
"Jangan macam-macam!" seru Sava.
"Baik hanya satu macam gaya," balas Fariz.
__ADS_1
"A-apa maksudmu?" tanya Sava.
Sava akhirnya sadar maksud ucapan Fariz.
"Fariizzzz!" teriak Sava.
Fariz langsung mendekap mulut Sava dengan tangannya.
"Ada apa non," tanya Hamdan.
"Tidak ada. Kenapa lama sekali sampai rumah? Sava sedang tidak enak badan," sahut Fariz.
Sava mencoba melepaskan diri, ia juga memprotes tindakan Fariz mendekapnya seperti ini.
"Diamlah, kalau kamu tidak mau diam aku cium kamu di sini," bisik Fariz mengancam.
Sava akhirnya diam dan pasrah dengan tindakan Fariz.
Tak berapa lama mereka memasuki komplek rumah dan Fariz akhirnya melepaskan Sava.
Sava hanya duduk manis. Tetapi, pada saat mereka sampai rumah Sava langsung berlari menuju kamar.
Fariz menyusul dengan membawa kantong-kantong berisi cemilan.
"Dia malu," batin Fariz.
"Aku tidak akan melepaskannya malam ini," lanjutnya.
Fariz menuju dapur untuk menyimpan cemilan yang dibeli.
Ia menyimpan cemilan pada tempatnya. Es krim langsung di masukkan ke dalam kulkas. Saat Fariz memilah cemilan ciki dengan roti, ada kemasan asing yang tak pernah dilihat Fariz.
"Apa ini? Sepertinya aku tidak mengambilnya tadi," batin Fariz lalu meraihnya.
Fariz melihat gambar dari kemasan berwarna merah muda yang sudah digenggamannya.
Pyarrr
Bak suara piring pecah terngiang di telinga Fariz.
Diremasnya kemasan yang berada dalam genggamannya. Gigi atas dan gigi bawahnya menyatu seperti sedang menggigit sesuatu tetapi tidak ada.
"Arghhh..." Suara erangan lolos dari mulut Fariz.
"Sial. Kenapa harus sekarang." Fariz melempar benda berkemasan berwarna merah muda itu ke sembarang tempat. Setelah itu ia pergi ke luar rumah mencari udara segar.
Setelah Sava sampai di kamar, ia baru sadar akan benda yang dibelinya di mini market tadi. Tapi akibat godaan Fariz sewaktu di mobil, ia memilih untuk berdiam diri dalam kamar.
"Sebaiknya aku di kamar saja. Mandi lalu tidur. Untung saja masih ada sisa bulan lalu," gumam Sava.
Sedangkan Fariz sedang duduk termenung di taman. Bergelut dengan pikirannya bahkan sampai menarik-narik rambutnya sendiri.
Dari kejauhan Farhan memperhatikan Fariz, ia tertawa sambil berjalan menghampiri Fariz.
"Kamu kenapa? Seperti sedang banyak pikiran. Apa kerjaan berantakan?" tanya Farhan.
"Eh, kak. Bagaimana kondisi ayah?" sahut Fariz lalu ia juga berjalan menghampiri Farhan.
"Aku mau melihat kondisi ayah," lanjut Fariz.
"Hmm... Baik. Sava bagaimana?" balas Farhan.
"Sava?" Langkah Fariz terhenti. Raut wajahnya berubah ketika nama Sava di sebut.
"Baik. Dia di rumah," jawab Fariz lalu melanjutkan langkahnya menuju kediaman orang tuanya.
"Kenapa raut wajahmu berubah saat membahas Sava? Kalian marahan? Acara kucing-kucingannya belum selesai?" sindir Farhan.
"Kucing-kucingan? Maksud kakak?" tanya Fariz bingung.
"Iya kalian itu suka menghindar satu sama lain. Satu menghindar yang satunya mengejar. Begitu sebaliknya. Kenapa kalian belum mengungkapkan perasaan kalian masing sih? Padahal sama-sama suka," jawab Farhan.
"Ka-kakak tahu dari mana kami sama-sama suka?" Fariz mulai gugup tetapi ia masih penasaran.
"Kami semua tahu. Kalian saja yang tidak peka satu sama lain. Kamu jangan menunggu lagi Fariz. Kamu harus cepat bertindak. Sava itu wanita. Wanita ya hanya bisa menunggu."
"Iya. Iya. Aku tahu. Aku sedang menunggu waktu yang tepat," jawab Fariz.
"Ah. Fariz bodoh. Kamu terlalu lama berpikir. Inilah akibatnya. Kamu sendiri yang tersiksa," batin Fariz.
"Sava baik-baik saja setelah penculikan itu, kan? Kakak dengar dia sedang magang," tanya Farhan.
"Iya. Aku terus menjaganya. Dia juga sudah aku suruh berhenti bekerja," jawab Fariz.
"Kenapa? Kamu takut dia diculik lagi?"
"Iya. Tidak menutup kemungkinan kejadian itu akan terulang lagi. Lagi pula dia bekarja di perusahaan Alan," jelas Fariz.
"Oh. Pantas saja. Lakukan yang menurutmu baik" sahut Farhan sambil menepuk pundak Fariz.
Akhirnya mereka tiba di kediaman orang tua mereka.
"Ayah. Bunda," teriak Fariz memanggil orang tuannya.
__ADS_1
Ayah dan bunda Fariz sedang berada di meja makan. Baru selesai makan malam.
"Fariz? Kamu datang? Sava mana? Gak ikut?" sahut bunda Fariz sambil mencari-cari sosok menantunya.
"Tadi Fariz ketemu kak Farhan di taman, jadi Fariz ikut ke sini. Mau melihat kondisi ayah. Ayah bagaimana?" tanya Fariz.
"Ayah baik. Kalian bagaimana?" sahut ayahnya.
"Kami? Baik..." Fariz melangkah menjauhi meja makan.
"Mau ke mana kamu?" tanya bunda.
"Mau ke kamar Fariz. Fariz mau mengambil sesuatu," sahut Fariz lalu pergi ke kamarnya.
2 jam kemudian. Fariz tak kunjung ke luar dari kamarnya.
Ceklek
Bunda Fariz masuk.
"Fariz!" teriak bunda.
Bunda Fariz datang menghampiri lalu menjewer telinganya.
"Kamu ini, sudah mau jadi bapak-bapak tapi tingkah masih seperti anak kecil," kata bundanya.
"Ah. Bunda. Sakit," kata Fariz lalu memeluk bundanya manja setelah jeweran ditelinganya lepas.
"Kenapa kamu di sini? Dan apa? Bermain PS? Sava di mana? Kamu tinggalkan di rumah sendirian?"
"Fariz hanya sedang menenangkan pikiran," jawab Fariz membela diri.
"Apa yang mau kamu tenangkan? Hah?"
"Bunda gak ngerti laki-laki. Kalau Fariz pulang dan bertemu Sava, bisa saja Fariz menerkamnya," jelas Fariz.
Bundanya tersenyum menahan tawa.
Fariz akhirnya sadar akan ucapannya barusan.
"Ma-maksud Fariz itu, Fariz banyak kerjaan. Jadi ingin menenangkan pikiran dengan bermain game. Kalau di rumah kami Fariz tidak bisa bermain game. Sava bisa memarahi Fariz kalau bermain game," jelas Fariz membela diri.
"Oh. Begitu," sahut bundanya tetapi tetap masih tersenyum menahan tawa.
"Bunda jangan tertawa. Jangan berpikiran yang tidak-tidak," kata Fariz malu.
"Kalau kamu tidak mau bunda berpikir yang tidak-tidak kamu pulanglah. Kasihan Sava menunggu di rumah."
"Haa. I-iya. Iya. Fariz pulang sekarang," kata Fariz lalu bergegas pergi.
Fariz tidak tahu Sava sedang was-was memikirkan Fariz tidak masuk kamar sejak mereka tiba tadi. Sava sudah mengecek ke ruang kerja tetapi Fariz tidak ada. Sava juga sudah mencari ke setiap sudut ruangan. Sava melihat ke dapur sekilas, melirik kantong belanjaannya masih terlihat utuh.
"Benar, kan? Dia tidak akan mengacak-acak isinya," batin Sava.
Lelah mencari Fariz, Sava memutuskan untuk tidur lebih dulu.
"Ke mana dia? Apa kembali ke kantor? Kenapa tidak pamitan denganku?"
"Tadi dia menggodaku terus. Tapi apa? Dia malah menghilang. Terserah padanya. Aku tidur saja."
Sava sudah mencoba untuk tidur, tetapi tidak berhasil. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan untuknya tidur memeluk atau dipeluk Fariz.
Terdengar suara pintu dan langkah kaki seseorang. Tak lama kemudian terdengar suara guyuran air.
"Akhirnya dia pulang." Ujung bibir Sava terangkat saat mengetahui Fariz telah pulang.
Sava menanti-nanti Fariz tidur di sampingnya lalu memeluknya. Tapi Fariz tak kunjung memeluknya. Memang benar Fariz telah tidur di sampingnya saat ini. Tetapi kenapa belum memeluknya juga.
Dengan perlahan Sava membalik tubuhnya menghadap Fariz. Setelah berbalik badan kekecewaan menghiasi wajah Sava.
"Aku dipunggungi? Tumben sekali? Dia sedang marah padaku? Tapi kenapa? Aku salah apa?" batin Sava.
Tak puas hanya memandang punggung suaminya, Sava akhirnya memberanikan diri memeluk Fariz. Ia melingkarkan tangannya diperut Fariz.
"Kamu sudah tidur?" tanya Sava.
"Hmm." Hanya itu yang ke luar dari mulut Fariz.
"Kamu kenapa? Marah padaku?"
"Tidurlah. Aku lelah," kata Fariz.
Sava sedikit sedih dengan jawaban Fariz tetapi lebih baik dari pada hanya berdegum.
Sava tidak tahu apa yang dirasakan Fariz. Ia sangat tersiksa. Ia sedang menahan dirinya. Menjernihkan pikirannya. Tapi perasaan untuk memeluk Sava sangat kuat.
"Hanya memeluk. Pasti tidak apa-apa," batin Fariz.
Fariz akhirnya berbalik lalu membalas pelukan Sava.
********************************
Vote yang banyak ya 🙏😊
__ADS_1