
Kediaman keluarga Ali.
Setahun sudah wafatnya Adnan Soleman Lasantu dan istrinya, Mariana Mantulangi dikediaman mereka di Suwawa. Trias merasa harinya pun telah tiba. dua tahun lalu, Saripah Hamid, sang istri telah berpulang menyusul kepergian dua laki istri, Kenzie dan Azkiya yang sudah mendahului sepuluh tahun yang lalu, tewas dalam insiden serangan mendadak yang diprakarsai oleh Klan Dracna yang dipimpin oleh Ivanovich atas suruhan Sergey Basarab.
lelaki renta itu sudah seminggu terbujur lemah dipembaringan. napasnya lemah. disisinya, duduk dengan takzim sang putri, Inayah bersama kedua putranya, Haidar dan Haanish.
kedua putra keluarga Lasantu itu sedang membaca Al-Qur'an dengan pelan untuk menenangkan dahaga sekarat bapu mereka yang sangat mereka cintai. sedangkan Inayah menunggui sang ayah yang terbaring lemah.
beberapa anggota keluarga Ali dan Hamid serta anggota keluarga dari cabang-cabang keluarga yang tergabung dalam perhimpunan keluarga besar Laiya-Balu-Lasantu, memenuhi ruangan tamu dan tengah kediaman tersebut.
senja mulai merayap. sedikit lagi waktu maghrib akan tiba. beberapa anggota keluarga yang laki-laki pamit hendak sholat di masjid. sementara yang wanita memilih tetap menemani keluarga itu disaat-saat terakhir Trias melepaskan hidupnya.
tak lama, kedua mata Trias membuka. Inayah yang melihatnya langsung memperbaiki duduknya dan mendekatkan tubuhnya.
"Abah..." panggilnya dengan lirih.
panggilan Inayah, membuat Haidar dan Haanish menghentikan bacaannya. kedua putra yang telah beranjak dewasa itu menatap kearah Bapu mereka.
sejenak kedua netra Trias yang buram itu mengamati langit-langit ruangan, kemudian beralih kepada putrinya.
"Iyun..." ujar Trias dengan lemah.
"Iyun dan anak-anak ada disini Abah." jawab Inayah dengan senyum meski kedua matanya telah bengkak akibat banyak memeras air mata.
"Jam berapa sekarang?" tanya Trias dengan suara yang nyaris tak kedengaran.
"Waktu Maghrib sedikit lagi tiba." jawab Haidar, menyela ibunya.
sejenak Trias menutup mata lalu membukanya lagi. ditatapnya sang putri. "Sholatlah..." pintanya.
"Bagaimana dengan Abah?" tanya Inayah.
"Sholatlah..." kembali Trias memerintah. "Tak ada lagi... waktu..." ujarnya dengan tenaga yang dipaksakan.
Inayah mengangguk. wanita itu kemudian bangkit lalu membuka lemari dan mengeluarkan mukena. setelah itu ia bergerak menuju belakang dan mengambil air wudhu di keran sumur. Haidar dan Haanish bergantian menjagai sang kakek. setelah Haidar selesai berwudhu, gantian Haanish yang berwudhu sedang Haidar menjagai kakeknya.
maghrib itu, ketiganya sholat dikamar untuk menjagai Trias. seperti biasa, Haidar selalu tampil sebagai imam. Haanish berdiri disisi kanannya sedang Inayah berdiri disisi kiri, agak menjorok ke belakang. Trias menyaksikan mereka sedang sholat dan senyum tersungging dari bibirnya meskipun lemah. rangkaian tata cara sholat itu dilaksanakan dengan penuh kekhusyu'an. sepuluh menit kemudian, ritual sholat maghrib selesai.
panggilan Trias membuat ketiganya kembali mendekat. kini Haidar dan Haanish sibuk memijiti kaki kakeknya dengan lembut.
"Yun..." ujar Trias dengan napas yang tertahan-tahan. "Sebentar lagi, Abah pergi..."
ucapan Trias sekali lagi membuat Inayah menangis, namun wanita itu seupaya mungkin tak mengeluarkan isakan, apalagi tangis nan ratapan.
"Abah cuma mau pesan... jangan pernah lagi bersedih." ujar Trias dengan senyum layu. "Itu... itu lihat..." tangan Trias terangkat menunjuk sesuatu dibelakang Inayah. "Itu Umma dan Iyun... keduanya di belakangmu..."
Inayah menundukkan wajah. ia paham, siapa Iyun yang dimaksudkan oleh ayahnya itu. itu adalah istri pertama ayahnya yang tewas saat melindunginya ketika terjadi insiden pengepungan puluhan tahun lalu. nama istri pertamanya kemudian disandangkannya kepada sang putri. Inayah sekali lagi menumpahkan airmatanya tanpa suara. bibirnya saling menggigit untuk mencegah isakan dan ratapan keluar.
"Mereka berdua datang menjemput Abah..." ujar Trias dengan gembira ditengah suara lemahnya yang serak. "Umma sangat cantik Yun... begitu juga Iyunku..."
__ADS_1
Inayah dapat melihat dengan jelas airmata yang mengalir dari mata sang ayah. wanita parobaya itu tersenyum.
"Gapailah mereka Abah... jangan kuatirkan kami disini." ujar Inayah dengan suara lirih dan gemetar. "Kami bisa menjaga diri... kami ikhlas melepas Abah... jika Umma dan Mama Iyun sudah ingin membawa Abah bersama mereka..."
"Jaga anak-anakmu... jika sesuatu musibah menimpamu... jangan lupakan Allah..." pesan Trias kemudian menatap ke arah yang kosong. "Wah... sekarang ketambahan... Mamamu dan Papamu... mereka tersenyum padaku..."
Inayah semakin merasa hatinya perih. namun siapa yang bisa menahan ajal? wanita itu kembali tersenyum sambil menyusut airmatanya.
"Abah... pergilah dengan tenang..." ujar Inayah, kemudian ia melepaskan lagi airmatanya dan setelah puas menangis, wanita itu kembali menatap ayahnya yang sekarat dengan senyum yang ditabahkan. "Kami ikhlas melepaskanmu."
Trias tersenyum dan lelaki itu kemudian menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan. kedua mata lelaki renta itu menutup dan akhirnya ia terlelap dalam tidur abadinya.
Inayah menangis dan melafalkan kalimat istirja.
"Alhamdulilahi rabbil 'alamiin... inna lillahi..." ucapan Inayah tertahan dengan tangisnya lalu ia menyambung lagi, "Wa inna... ilaihi rooji'uun..."
"Bapuuuu..." sedu kedua putra keluarga Lasantu itu.
dan orang-orang yang menemani mereka diruang tamu dan tengah langsung tahu bahwa sang pensiunan polisi itu telah berpulang. seisi rumah gempar dan melantunkan kalimat istirja sahut menyahut.
...*****...
sebagai pejabat tinggi dijajaran kepolisian, pemakaman Trias Ali diupacarakan secara militer. di pekuburan keluarga dibekas rumah kediaman yang dulunya didiami oleh Trias dan mendiang ayahnya Endrawan yang sudah wafat. kediaman itu sudah tidak ada lagi sebab telah diratakan dengan tanah. sekarang areal itu sudah dirubah menjadi tanah pemakaman keluarga.
Trias akan dikebumikan disisi kuburan istrinya, Saripah Hamid yang juga dimakamkan disitu atas permintaan Trias. Inayah sempat terngiang ucapan ayahnya itu.
Umma sengaja Abah kebumikan disini... Abah nggak mau jauh darinya. sudah cukup Mamamu Iyun terpisah dari Abah... Abah nggak ingin kehilangan yang kedua kalinya... kelak jika Abah wafat... tidurkan Abah disisi Umma, ya? kamu mau melaksanakan wasiat Abah ini kan?
mereka memasuki wilayah pemakaman diiringi lagu duka yang dimainkan regu orkestra. para petugas membentuk formasi. keranda diletakkan disisi kanan liang lahat. diempat sudut liang lahat itu berdiri masing-masing seorang petugas.
inspektur upacara berdiri beberapa jarak dari liang lahat. komandan upacara menghunus sangkur dan dilanjutkan dengan pembacaan riwayat hidup lelaki yang pernah memimpin lembaga kepolisian daerah itu.
Inayah dan dua putranya berdiri ditenda pelayat. tidak seperti anggota keluarganya yang mengenakan pakaian duka, Inayah sebagai perwira pertama berpangkat AKBP mengenakan pakaian PDUP lengkap dengan bintang dan tanda penghargaan lainnya. adapun Haidar dan Haanish mengenakan stelan jas resmi.
setelah berbagai acara dilalui, penurunan jenazah ke liang lahat dimulai. keempat petugas yang mengenakan pakaian PDUP itu kemudian membentangkan bendera merah putih setinggi dada. Haidar dan Haanish dengan sigap menyingkirkan jas dan bergabung dengan petugas penggali makam, mengeluarkan jenazah Trias dari keranda. bahkan kedua putra keluarga Lasantu itu kemudian turun ke liang lahat dan ikut menempatkan posisi jenazah kakek mereka didalam ceruk liang lahat itu.
atas perintah dari komandan upacara, petugas penembak salvo mulai menembakkan peluru ke udara pada saat prosesi pemakaman itu hingga akhirnya makam itu terbentuk. empat petugas pembentang bendera kemudian melipat bendera itu. Inayah maju dan menaburkan kepingan-kepingan bunga kertas dimakam itu bersama kedua putranya.
acara dilanjutkan dengan peletakan karangan bunga dan kata-kata sambutan dari pihak keluarga. Inayah tampil memberikan sambutan dan memperlihatkan ketegarannya membuat para pelayat merasa kagum disamping begitu iba dengan putri tunggal keluarga Ali itu. Inayah tidak menjatuhkan airmatanya. hanya saja kepedihan terasa dari gemetar suaranya saat menyampaikan sambutan-sambutan itu. selesai sambutan, komandan upacara kemudian melaporkan bahwa upacara telah berakhir kepada inspektur upacara kemudian dia kembali ketempatnya dan menyarungkan lagi sangkurnya.
upacara itu berakhir dan satu persatu pelayat dan anggota kepolisian meninggalkan area pemakaman itu, menyisakan Inayah dan kedua putranya yang berdiri menatapi gundukan tanah makam yang masih basah.
Haidar yang paling merasa kehilangan dengan wafatnya Trias. anak itu merasa pengajaran silat dan langga yang dipelajarinya masih belum sempurna. kematian satu persatu praktisi langga dikeluarganya, mulai dari Adnan Lasantu, Kenzie Lasantu dan kali ini Trias Ali membuat hati pemuda itu terasa berlubang. kehampaan menyelimuti hatinya saat itu.
yang jujur dengan emosinya adalah Haanish. pemuda itu tak segan menangis dan memperdengarkan isakannya. Inayah membiarkan saja putra keduanya itu tersedu-sedan. Haanish memang tidak diajari pelajaran beladiri oleh Trias maupun Kenzie. lelaki belia itu menimba ilmu beladiri justru dari ayah dan ibu sambungnya yang alirannya sama dengan neneknya. namun Haanish merasa kehilangan sebab Trias sangat memperhatikannya meski lelaki itu bahwa pemuda tersebut bukan merupakan darah dagingnya.
Inayah mengulurkan tangan menggandeng bahu Haanish dan menyapunya dengan pelan. tanpa menoleh, polwan itu berujar, "Tenangkan hatimu, Eiji... Bapu sudah tenang disana. jangan kau ganggu beliau dengan isakanmu itu."
Haanish akhirnya meredakan tangisnya setelah ditegur oleh Inayah. berkali-kali pemuda itu menyusuti airmata yang masih bandel membanjiri pipinya. Inayah kemudian membungkuk. jemarinya terulur memegang pundak Haidar yang sementara berlutut menatapi gundukan makam kakek yang sangat dihormatinya itu.
__ADS_1
"Mari pulang Chounan. kita sudah cukup lama disini." ajak Inayah dengan suara datar yang terdengar ditabah-tabahkan.
Haidar menarik napas sejenak. ia masih betah menatapi pusara berselimut kain putih yang menancap ditengah makam itu.
"Bisakah sedikit lagi? aku masih belum puas menatapi makam Bapu." pinta Haidar dengan datar.
"Tidak!" jawab Inayah dengan tegas. "Apa lagi yang kau beratkan? Bapu sudah tenang. urusannya dengan dunia ini sudah selesai. mari kita pulang. Mama masih harus mempersiapkan acara takziyah sampai hari ketujuh nanti."
Haidar menghela napas berat lalu bangkit. kemeja dan celananya kotor bekas tanah lahat. pemuda itu mengenakan jas lalu berbalik dan berlalu tanpa menoleh lagi. Haanish memandang saudaranya itu.
Inayah kembali menghela napas. "Biarkan dia. hal itu memang sudah sewajarnya." ujar polwan itu. "Tak ada lagi orang yang akan memberinya pelajaran ilmu silat. Chounan sekarang harus berusaha sendiri menyempurnakan ilmu beladirinya, entah itu silat ataupun Langga."
"Aku justru kasihan dengannya, Ma." sahut Haanish. "Chounan adalah pribadi yang kaku sejak kecil. aku selalu mengamatinya. dan wafatnya Bapu pasti akan semakin membuat hatinya membesi."
"Duka, pasti akan hilang dengan sendirinya, asalkan kita tahu dan sadar bahwa semuanya hanyalah bentuk ujian yang Allah berikan." ujar Inayah.
kedua orang itu melangkah meninggalkan area makam. sejenak Inayah menatap makam ayahnya, lalu makam ibunya.
selamat tinggal Umma. aku dan kedua cucumu telah mengantarkan Abah ke sisimu... jika Allah memghendaki, suatu saat aku pun akan menyusul kalian.
Inayah menatap Haanish. "Eiji... susullah Chounan."
Haanish menatapi ibu sambungnya itu. "Mama sendiri mau kemana?" tanya Haanish.
"Mama masih punya sedikit urusan." ujar Inayah.
Haanish lama menatapi ibunya lalu akhirnya pemuda itu mengangguk dan melangkah meninggalkan Inayah. polwan itu masih diam mengekori punggung putra keduanya yang menjauh hingga hilang dalam lekukan tembok pembatas area pemakaman.
polwan itu kemudian berbalik dan melangkah kembali menyusuri area pemakaman. ia melangkah agak jauh kedalam dan menemukan sebuah pohon flamboyan. batang pohon terukir sesuatu.
...SANDIAGA H. LASANTU...
...Lahir 29 Februari 2022...
...Wafat 10 Juli 2070...
"Halo Ayank." sapa Inayah sembari melepas topi petnya dan menatap batang pohon flamboyan itu.
Sandiaga wafat, atas permintaan Inayah dikuburkan di pemakaman keluarga Ali. diatas makam itu, ia menanam tanaman Delonix regia, nama ilmiah dari flamboyan. makin lama pohon itu tumbuh makin besar dan akhirnya menutupi makam dengan batang dan akarnya. Inayah kemudian mengukir nama suaminya pada batang pohon itu sebagai pengganti paita yang tertelan kedalam, ditekan oleh akar pohon itu.
seakan mendengar sapaan wanita itu, pohon itu berdesir seakan ada hembusan angin yang meniup dedaunannya. Inayah tersenyum.
"Ah, kau tentu sudah senang disana, bermain-main dengan Rosemary... kau membuatku cemburu, Ayank." ujar Inayah dengan pelan. airmatanya jatuh lagi dan kali ini ia terisak. "Kau lihat? kini hanya tinggal aku, penjaga keluarga ini. simpai keramat keluarga Ali hanya tinggal aku." sedu polwan itu pada akhirnya dan jatuh berlutut lalu memeluki batang pohon itu.
"Ayank... aku rindu... rindu sekali pada kalian berdua." curhat wanita itu. "Sepeninggal Abah... aku merasakan kesendirian yang sangat, Ayank... aku... aku kesepian..." sedu wanita itu.
dibatang pohon flamboyan itu, Inayah menumpahkan emosi yang selama ini dia tahan demi menampakkan kepada anggota keluarganya yang lain maupun para pelayat bahwa putri tunggal keluarga Ali itu terlihat tegar. padahal tidak. dan disinilah ia bebas menumpahkan emosinya.
dari kejauhan, nampak Haanish menatapi pemandangan itu. ia tak sedikitpun berniat mendekat karena ia tahu, sang ibu butuh pengeluaran emosi agar ganjalan hatinya hilang, atau minimal berkurang akibat peristiwa duka itu.
__ADS_1
setelah puas, Haanish kembali berbalik dan melangkah meninggalkan area itu membiarkan sang ibu melampiaskan kesedihannya disana. dan pohon itu kembali berdesir bagai memahami perasaan haru biru wanita itu.[]