The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 48


__ADS_3

jawaban Tarozaemon bagai gelegar geledek menyambar benak Haanish. ia kembali menatap potret itu dan mencari lagi potret-potret lainnya. ia menemukan lagi potret sejenis.



Midori Okamoto... siapa sebenarnya kau?


Haanish merasakan perasaannya meluap. ia kembali membongkar-bongkar catatan itu sedang Tarozaemon hanya menonton saja. Haanish menatap lelaki itu.


"Jangan diam saja seperti patung disitu! bantu aku! ini penting!" sergah Haanish membuat Tarozaemon terkesiap.


"Maafkan saya, Tuan Muda!" serunya langsung maju dan menelisik arsip demi arsip. tak lama kemudian Tarozaemon menemukan sebuah kertas bermaterai. ia menyerahkan kertas itu pada Haanish. "Tuan Muda Eiji. ini adalah koseki milik Tuan Mamoru. silahkan dilihat."


Haanish meraih kertas itu dan membacanya. nama-nama dalam kartu keluarga itu tidak ditulis menggunakan abjad hanzi, melainkan romaji gaya hepburn. rupanya ini adalah kartu keluarga yang dibuat ulang.


"Ini dibuat tahun berapa?" tanya Haanish.


"Melihat dari jenis kertas dan materainya, ini merupakan cetak ulang ditahun 1948, Tuan Muda." jawab Tarozaemon.


"Cari kartu keluarga yang dibuat pada tahun 1937 sampai tahun 1938!" seru Haanish dengan semangat.


"Baik!" seru Tarozaemon.


kedua orang itu bagai kesetanan, membaca satu demi satu arsip-arsip dalam map-map portofeule tersebut. Tarozaemon menemukan kertas lagi. ia menatap Haanish.


"Kelihatannya... ini daftar silsilah keluarga, Tuan." ujar Tarozaemon, menyerahkan kertas itu kepada Haanish.


pemuda itu membaca satu demi satu nama yang tertera di daftar silsilah itu. daftar ini dibuat pada tahun 1978. mata Haanish melebar melihat sebuah aksara kanji yang ditulis dibawah nama Midori Okamoto. ia terlonjak.


Wie jiao... Wie Jiao!!! eureka! aku menemukannya! Midori adalah nama alias dari Wie Jiao!!!!


Haanish berseru senang menatap Tarozaemon. "Taro! kita menemukan kebenaran itu! kita menemukan kebenarannya!"


"Benarkah Tuan?" tanya Tarozaemon dengan cengiran sebab menggigit ujung cerutunya.


"Ya! kita menemukannya!!!" Haanish menatap ke langit-langit ruangan. "Alhamdulilah... Ya Allah, terima kasih!" dengan semangat Haanish berkata, "Taro, salin semua dokumen ini beserta potret-potret ini! sekarang!"


"Siap Tuan!" seru Tarozaemon kemudian mengambil map itu dan melangkah keluar ruangan. Haanish kembali membereskan dan mengembalikan seluruh berkas, baik perkamen, gulungan dan portofeule ke lemari-lemari masing-masing. ia kemudian keluar dari gudang arsip otu dan melangkah menyusuri lorong, tiba diruangan agak lapang. pemuda itu kemudian duduk bersila menunggu kedatangan pengurus rumah itu.



tak lama kemudian Tarozaemon muncul membawa berkas yang sudah dijilid dan duduk dalam posisi seiza menghadap kearah Haanish, menyorongkan berkas tersebut.


"Arsip aslinya telah saya kembalikan ke lemari digudang arsip. ini adalah fotocopy dari berkas tersebut. silahkan diperiksa kembali." ujar Tarozaemon.


Haanish meraih berkas yang sudah dijilid itu. ia membuka dan memastikan semuanya tak ada yang terlewat. Haanish menutup berkas itu dan menatap Tarozaemon.


"Terimakasih Taro. kau sudah membantuku mencari kebenaran tentang leluhurku, Mamoru Mochizuki. dengan ini, cela yang membayangi keluarga Lasantu-Mochizuki akan berakhir. tidak ada lagi keluarga-keluarga tionghoa di gorontalo yang akan merendahkan keluargaku!" ujar Haanish dengan senyum namun matanya telah basah.


"Apakah Tuan muda Eiji akan tinggal disini beberapa hari?" pancing Tarozaemon. "Sungguh suatu kehormatan jika keturunan dari Tuanku Mamoru menginap disini."


"Untuk saat ini, dengan menyesal aku menolak kehormatan ini Taro. sebab, berkas dalam genggamanku ini lebih tinggi daripada kehormatan yang kau tawarkan itu. tanpamu, aku tak bisa menemukan kebenaran itu Taro. aku sangat berterima kasih." jawab Haanish.


"Berarti... Tuan akan kembali ke Kanagawa?" tanya Tarozaemon.


"Ya... nanti saatnya, aku akan mengunjungi kediaman yang pernah ditinggali ayahku ini." ujar Haanish kembali mengedarkan tatapannya diseluruh ujung ruangan tersebut. pemuda itu bangkit.



"Baiklah Taro... aku permisi dulu. kutitipkan kembali kediaman ini kepadamu. sampai jumpa lagi." ujar Haanish.


dengan diantar Tarozaemon Naganobu Ban hingga ke pekarangan, Haanish mengendarai mobil meninggalkan kediaman Mochizuki dan bergerak meninggalkan Shiga, menuju ke Kanagawa.


...*******...


Aisyah sedang menyuapi Aya Sofia ketika Haidar muncul dan duduk di pantry. Aya Sofia menatap Haidar dan tersenyum riang.



"Selamat siang .... Papa..." sapa Aya Sofia.

__ADS_1


Haidar hanya tersenyum datar saja lalu menatap Aisyah. "Bisa kita bicara?" tanya Haidar.



Aisyah menatap sejenak kepada Haidar lalu mengangguk. Haidar mengangguk pula. "Kutunggu kau dilantai dua... beranda." ujar pemuda itu kemudian bangkit dan melangkah.


"Nggak makan dulu." tegur Aisyah.


Haidar berhenti sejenak dan hanya menoleh sedikit tanpa berbalik. "Aku nggak lapar." jawabnya lalu kembali melangkah menaiki tangga.


Aisyah menarik napas panjang sejenak lalu menghembuskannya dan kembali melanjutkan menyuapi putrinya hingga selesai dan menyuruh Aya Sofia kembali ke kamarnya.


sementara diatas beranda lantai dua, Haidar duduk melepas kepenatannya. pemuda itu tak pagi mengenakan stelan formal. kini ia hanya mengenakan kaus dan celana bokser. pemuda itu menselonjorkan kedua kakinya di meja.


tak lama kemudian, Aisyah muncul diberanda itu dan melangkah mendekati Haidar. ia berdiri disisi tempat dimana pemuda itu duduk. Haidar menoleh menatap Aisyah.


"Duduklah." pintanya.


Aisyah kemudian duduk dihadapan Haidar menentang wajah pemuda itu.


"Selamat ya atas kelulusan kamu." ujar Aisyah dengan senyum. Haidar mengangguk.


"Terimakasih...." jawabnya singkat saja.


Aisyah merasakan sesuatu yang ganjil dari gaya bicara pemuda itu. namun jilbaber itu tak berani menanyakannya. Haidar menghela napas lalu menghembuskannya dan menatap Aisyah.


"Bagaimana pekerjaanmu? apakah kau puas?" tanya Haidar.


"Alhamdulilah... saya puas." jawab Aisyah.


Haidar mengangguk-angguk kepala dan menggumam sejenak lalu menyambung lagi, "Kamu sudah bekerja di Buana Asparaga. kurasa kau sudah mampu menghidupi Aya Sofia dengan layak." pemuda itu diam sesaat lalu melanjutkan lagi kalimatnya. "Kau tak perlu lagi dibayangi."


"Syukurlah kalau kau berpikiran demikian." sahut Aisyah.


"Dan malam ini adalah malam terakhirmu berada di kediaman ini." ujar Haidar membuat Aisyah terdiam. Haidar kemudian menyambung. "Bukankah kamu selalu berkeinginan untuk meninggalkan kediaman ini, kan?" pancing Haidar.


Aisyah masih diam.


akhirnya Aisyah tersenyum, meski getir. "Syukurlah... setidaknya aku sudah bisa mandiri. aku tak memerlukan lagi bantuanmu." ujarnya bernada sarkastis.


"Aku sudah menyiapkan sebuah asrama untukmu. itu untuk membuat waktumu semakin efisien. kau bisa tinggal disana tanpa memikirkan apapun." ujar Haidar.


"Aku sudah nggak sanggup diutangi olehmu. biarkan saja aku mencari penginapan sendiri." sahut Aisyah.


namun Haidar menggeleng sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya. "Tidak, tidak, tidak... ini adalah bagian dari kontrak kerja. setiap karyawan berhak atas asrama dan kau menempati prioritas pertama untuk itu." ujarnya lalu menatap "Aku tak akan melepaskan tanggung jawab yang dibebankan Mama kepadaku."


Aisyah hanya mengangguk-angguk lama lalu berujar, "Terima kasih atas pertolonganmu. besok aku dan Sofi akan berkemas-kemas."


Haidar mengangguk lalu bangkit meninggalkan beranda itu, masuk kedalam kamarnya. sementara Aisyah hanya duduk terpaku diam menatap langit malam.


...*******...


Inayah saat itu baru saja menyelesaikan ritual sholat Qiyamullail ketika gawai berdering dan wanita itu menatap benda itu. ia mengambilnya dan mengaktfikan video call. nampak wajah wanita itu sumringah melihat nama Haanish tertera disana.


📲 "Assalamualaikum... Mama." sapa Haanish begitu wajahnya nampak dilayar gawai itu.


📲 "Wa alaikum salam." balas Inayah dengan lembut.


📲 "Mama... ini, mataku yang terlalu buram karena kurang tidur atau memang Mama yang terlalu cantik sehingga sulit dibedakan apakah memakai riasan atau tidak? wajah Mama glowing sekali." ujar Haanish.


📲 "Dasar perayu." gerutu Inayah namun wajahnya gembira. "Kamu memang anak ayahmu!"


Haanish tertawa riang. Inayah dapat melihat kebahagiaan terpancar jelas diwajah putra keduanya itu.


📲 "Kau kelihatan begitu gembira. apa yang menggembirakan kamu nak? katakanlah, agar Mama juga ikut merasa gembira." pinta Inayah.


dari tertawa, kini Inayah melihat Haanish mulai berurai air mata meskipun tetap saja senyum tersungging dibibirnya. ganggung patologisnya kambuh lagi.


📲 "Mama... akhirnya aku menemukan kebenarannya! aku menemukan kebenarannya! keluarga Wie tidak akan bisa merendahkan kita lagi!" ujar Haanish dengan suara gemetar.

__ADS_1


Inayah menutup mulutnya dan kembali manik bening itu membuncahkan air matanya.


📲 "Benarkah? katakan. katakanlah nak." desak Inayah.


📲 "Aku sudah menyalin data ini jadi dua. satunya akan kusimpan sebagai arsip keluarga kita." ujar Haanish. "Mama... aku rindu dengan mu. aku rindu dengan Chouji! aku... hhhaaaaaaahhh...hahahaha.." Haanish meraung keras dan tertawa-tawa. penyakitnya memang benar-benar kambuh.


Inayah ikut-ikutan hanyut dalam emosi sang anak kedua itu. ia mengangguk-angguk.


📲 "Pulanglah... pulanglah sejenak anakku... Mama juga merindukanmu... pulanglah... biar Mama memelukmu..." sedu Inayah dengan tangis gembira.


📲 "Ya Mama... aku akan pulang. besok sore, aku sudah berada diKediaman Ali, melaporkan semuanya kepada Mama..." ujar Haanish setelah menenangkan dirinya kembali. "Baiklah Mama.... aku permisi dulu... kelihatannya, waktu sudah menunjukkan waktu sholat shubuh. aku pamit Mama... Assalamualaikum..."


layar gawai itu gelap kembali namun hati sang ibu tak turut menjadi gelap. semakin terang sebab sang putra kembali membawa berita gembira. berkali-kali wanita parobaya itu mengucapkan kalimat tahmid dan tasbih.


...******...


Salman tenggelam dalam ritual sholat shubuh berjama'ah di mushola kantor. shiftnya selesai sejam lagi dan ia bisa mengistirahatkan tubuhnya setelah 12 jam penuh beraktifitas melawan hawa dingin, melakukan patroli malam bersama regunya, memastikan keamanan dan ketertiban di setiap sudut wilayah kota Gorontalo, terlaksana dengan baik pada malam itu.


tak lama kemudian ritual sholat dan dzikir bersama itu selesai, Salman melangkah keluar dari mushola dan menuju kantin. ia memesan teh hangat dan sepiring cemilan.


sedang asyiknya memeriksa aplikasi pada gawainya, tiba-tiba panggilan masuk muncul. itu dari Callista. senyum tersungging dan semangat terbangkit. ia mengaktifkan video call. wajah Callista muncul mengenakan mukena.


📲 "Assalamualaikum, Pupu..." sapa Callista dengan lembut. senyum manis tertebar dilengkungan bibirnya yang sensual.


📲 "Wa alaikum salaam..." sapa Salman dengan senyum. namun sedetik kemudian senyum itu lenyap. "Tunggu... Pupu artinya apa? kok adiek manggil aden, Pupu?" tanya Salman. terdengar tawa kecil yang manja dari audio gawai itu.



📲 "Itu panggilan baru untuk kita berdua, sayang." jawab Callista tanpa malu lagi menyebut sayang kepada Salman. "Pupu itu panggilan untuk Uda, sedang Uda nanti panggil aku dengan sebutan Mumu."


📲 "Pupu... Mumu..." Salman mengeja nama itu berkali-kali lalu tertawa geli. "Lucu kedengarannya. mulut Uda..." ujar Salman.



📲 "Pupu...." tegur Callista dengan wajah cemberut.


📲 "Maksud Pupu, mulut Pupu ini jadi monyong benar mirip bibir simpanse saat mengeja nama-nama itu." ujar Salman kemudian tertawa. Callista ikutan tertawa.


📲 "Ah, sayangnya Pupu lagi tugas. nggak tega Mumu minta Pupu ngapelin Mumu malam ini..." ujar Callista dengan wajah memelas. Salman langsung merespon.


📲 "Tenang Mumu sayang. berikan Pupu waktu istirahat sejenak-dua jenak siang ini dan Pupu kesitu sore nanti nak hendak meminta ijin kepada calon mertua untuk membawa Mumu jalan-jalan sore. mau, kan?" usul Salman menaikkan alisnya sebelah.


sontak Callista langsung mengangguk-angguk setuju. Salman tersenyum dan mengangguk pula.


📲 "Jadi, persiapkan diri Adiek, eh... maksudnya, Mumu agar berdandan nan cantik, supaya bisa Pupu perkenalkan sama teman-teman sejawat, siapa kekasih Pupu." ujarnya kemudian tertawa.


📲 "Memang kenapa mesti dikenalin? kayak barang iklan saja." gerutu Callista dengan manja.


📲 "Habisnya Pupu dendam benar dikatai mereka jomblo akut. nanti sebentar sore, mulut mereka semua bakal membuka lebar bagai moncong kuda nil yang sedang menguap, saat melihat Pupu datang menggandeng Mumu." jawab Salman sambil tertawa.


📲 "Ya sudah kalau begitu maunya. kehormatan Pupu sekarang menjadi kehormatan Mumu juga." jawab Callista. "Okelah Pupu. Mumu pamit dulu ya? mau bantu Bunda didapur nih sebelum nanti berangkat kuliah."


📲 "Okelah... ketemu lagi ya? daaagh Mumu... muaaach." ujar Salman mengecup bibirnya pada layar gawai itu. Callista tertawa kecil dan memutuskan pembicaraan seluler tersebut. Salman geleng-geleng kepala mengingat panggilan baru yang disandangkan untuk mereka berdua. itu bagaikan password cinta.


ahhh... hari ini benar-benar sebuah berkah datang menghampiriku...


Salman menatap langit-langit ruangan kantin tersebut.


Papi... Mami.... sebentar lagi kalian akan menimang cucu...


Salman tertawa sendiri mengingat hal tersebut. tak lama kemudian datang pelayan kantin membawa sepiring cemilan gorengan pisang dan segelas teh hangat, meletakkannya dihadapan Salman. selera pemuda itu bangkit setinggi langit akibat full dosis, percakapan dengan kekasih hati di awal pagi. hanya dalam waktu dua menit, dilahapnya tandas isi piring dan gelas itu kemudian mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan, meletakkannya kedalan piring dan vangkit meninggalkan kantin sambil berdendang ceria.


...*******...


Aisyah dan Aya Sofia menatap rumah baru yang diperuntukkan Haidar baginya. itu adalah satu dari sekian asrama karyawan di wilayah Dungingi. Aya Sofia menatap ibunya.


"Bunda... mengapa kita pindah kemari?" tanya Aya Sofia dengan heran.


"Karena sudah semestinya, sayang." jawab Aisyah lalu mengajak putrinya memasuki rumah itu. keduanya menenteng tas dan kopor pakaian. Aisyah membuka pintu rumah dan tersenyum.

__ADS_1


ini akan jadi awal baru bagiku, bagi Haidar dan bagi Mahreen. tidak akan ada lagi tatapan mencela gadis itu terhadapku... aku hanya harus bekerja di Buana Asparaga dengan baik dan benar... semoga Allah terus membuatku bertahan... ini semua demi putriku... semuanya demi Aya Sofia.


Aisyah menghela napas lalu menatap putrinya. "Kita akan memulai awal yang baru disini nak. kamu dan Bunda akan hidup lebih kayak ke depannya." ujarnya menatap Aya Sofia yang juga menatapnya. []


__ADS_2